
Darma dan Alisa kebetulan sudah selesai makan mie nya. Saling pandang dan terkejut.
"Kita susul ke rumahnya yu Al?" ajak Darma beranjak dari duduknya. Dan menoleh ke dorongan baby nya.
Alisa pun buru-buru berdiri, menyambar tas miliknya. "Azam kamu yang bawa Mas, dorongannya biar aku simpan ke mobil.
Darma pun. Mengambil Azam dari dorongan, lalu bergegas pergi. Sementara Alisa menyimpan dorongannya ke bagasi mobil Viona.
"Ayo, Vi kita ke rumah Fatir?" ajak Alisa tergesa-gesa.
"Ada apa sih?" tanya Viona heran.
"Adiknya sakit! Ayo." Tangan Alisa menarik kasar tangan Viona.
"Ih, nanti dulu. Minum ku, tas ku," protes Viona, kembali menyambar tas dan minumnya.
Langkah Alisa sangat terburu-buru. Membuat Viona menggerutu dan bertanya-tanya.
"Buat apa sih? buru-buru amat jalannya santai aja kali ah. Oya Mas Darma mana? kok gak kelihatan sih," ucap Viona sambil celingukan.
Rumah Fatir terletak di dalam gang yang cuma bisa masuk roda dua aja. Darma sudah duluan sampai di rumah Fatir yang tengah kalut. Adik perempuannya yang mengidap kangker otak terbaring lemah dan terus muntah-muntah.
Badannya begitu kurus sehingga terlihat tulangnya, saking kurusnya. Wajahnya sangat pucat sekali, rambut pun tipis. Mungkin kerena rontok, di sisinya seorang ibu paruh baya menangis dan terus merawat putrinya.
"Gimana ini Fatir? apa mau di biarkan, adik mu seperti ini kondisinya. Ibu gak tega lihatnya. Hik hik hik," tangis ibu paruh baya itu pun pecah. Fatir memeluknya dengan wajah yang kebingungan.
Sampai akhirnya Fatir memutuskan, kalau adiknya akan ia bawa ke rumah sakit. Gimanapun cara bayarnya nanti.
"Iya, Fatir. Bawa adik mu ke Rumah sakit segera, kasihan." Darma tak tega melihat keadaan Hesya. Adiknya Fatir.
Alisa dan Viona sungguh merasa terhiris melihat kondisi adik Fatir yang seperti itu, sungguh mengkhawatirkan. "Menyedihkan," gumam Alisa dan Viona berbarengan.
"Tapi, Fatir gimana dengan biaya--"
"Jangan pikirkan itu Bu ... yang penting Hesya bisa sembuh," sela Fatir pada sang bunda yang banjir air mata.
"Kita mau panggil ambulance dulu." Fatir mengambil ponsel jadulnya hendak memanggil ambulance.
"Al, bilang. Mobil kita ada, bawa aja pake mobil ku." Bisik Viona pada Alisa sahabatnya.
"Mas Fatir. Adiknya bawa aja, di depan ada mobil Vi. Ayo bawa aja." Jelas Alisa pada Fatir yang langsung menoleh dan mengurungkan niatnya untuk menelepon ambulance.
"Benar, cepat bawa ke mobil Viona di depan, buruan angkat." Darma menyerahkan Azam ke sang istri, sedangkan dia ingin membantu Fatir untuk mengangkat adiknya.
Namun Fatir sendiri mampu membawa sang adik dengan ringannya. "Makasih sebelumnya," ucap Fatir pada Darma.
"Sidar. Kamu jangan ikut, jagain dagangan aja." Pinta Fatir pada Sidar, adiknya.
"Ibu mau ikut," kata sang bunda.
"Ibu, beres-beres aja dulu. Nanti Fatir jemput," suara Fatir tergesa-gesa.
Keduanya berjalan dengan cepatnya. Darma yang akan bawa mobilnya, mengantar ke rumah sakit.
"Sayang kamu tunggu dulu di sini temani ibu, biar nanti aja ku jemput," Darma menoleh sang istri.
Alisa pun mengangguk, dan berdiam di rumah yang sederhana ini. Bersama Viona yang bengong dan mengamati tempat tersebut.
Ibu nya Fatir mengusap pipinya yang basah. Lalu beres-beres rumah, terutama bekas barusan Hesya muntah-muntah dan membereskan tempat tidurnya. seperti yang Fatir bilang.
__ADS_1
"Al, itu ibunya bukan?" tanya Viona pada Alisa.
"Iya, masa gak bisa menduga-duga kalau dia ibunya sih," ungkap Alisa setengah berbisik.
Viona memajukan bibirnya, lalu mendekati wanita paruh baya itu. Dan membantu beres-beres. Para tetangga pun berangsur pergi.
"Jangan repot-repot Nduk. Biar Ibu saja sendiri yang bereskan, nanti Nduk merasa jijik," ucap Ibu tersebut.
Memang iya sih,Viona merasa jijik apalagi dengan bekas muntah. Namun setidaknya ia membantu membereskan yang lainnya.
Bu Afiah ke toilet sebentar. Sementara Viona menyapukan tempat tidur bekas yang sakit tadi. Kebetulan ia tak pernah lupa bawa parfum, Viona semprotkan nya, tak pake kira-kira sehingga wanginya menyeruak dan ruangan tersebut wanginya bukan main.
"Biar gak bau!" batin Viona.
Alisa yang perhatikan tingkah sahabatnya itu, senyum-senyum sendiri sesekali mengajak balitanya mengobrol.
"Ini beneran rumahnya?" selidik Viona pada Alisa.
"Iya, kenapa?" balik tanya Alisa sambil melirik.
"Kecil amat, 3 kamar dengan ukuran toilet ku di rumah," sungutnya Viona. "Ups." Menutup mulutnya.
"Kamu ini, mentang-mentang kamu kaya, hina orang seenak jidat mu," ucap Alisa sambil menunjuk kening Viona sampai mundur ke belakang.
"Sorry."
"Siap, Bu? kalau sudah siap, baiknya kita berangkat sekarang. Bentar lagi Mas Darma jemput." Alisa langsung menanyakan kesiapan Ibunya Fatir yang baru masuk ke ruang tengah.
"Sudah, Nak Alisa. Tapi ini bau apa?" ucap bu Afiah sambil mendengus mencium bau aneh yang wangi di ruangan tersebut.
"Oh, bau minyak wangi, Bu. Biar harum," sahut Alisa sambil mengukir senyumnya.
Alisa, Viona dan bu Afiah keluar rumah. Menuju depan yang harus melewati gang terlebih dulu.
"Apa, gak ada jalan lain ya selain ini?" selidik Viona sambil berjalan di belakang Alisa dan bu Afiah.
"Nggak ada Nduk, cuma ini aja jalannya," jawab bu Afiah.
"Oh," mulut Viona membulat.
Sesampainya di dekat tempat jualan Fatir, di sana ada Sidar yang menunggui.
''Sidar, Ibu mau ke rumah sakit dulu ya?" kata bu Afiah menghampiri.
"Oh, iya Bu. Aku di suruh jualan aja sama, Mas Fatir." Jawab Sidar. Kemudian mencium tangan ibunya.
Mobil Viona yang di bawa oleh Darma sudah datang. Viona, Alisa dan bu Afiah pun segera masuk. Tanpa banyak bicara mobil pun langsung kembali ke rumah sakit.
Sebelum menuju Rumah sakit. Di tengah jalan Alisa memberikan Azam pada adiknya Alisa, karena tidak boleh membawa balita ke Rumah sakit.
Sepanjang perjalanan, tak satu pun yang mengeluarkan suara, semuanya membisu. Sampai akhirnya mobil berhenti di tempat tujuan.
Sesampainya di rumah sakit. Mereka bergegas turun, Darma sebagai petunjuk jalan. menyusuri lorong Rumah sakit, menuju dimana adik Fatir dirawat.
Fatir berdiri di depan igd. Melihat sang bunda ia langsung menghampiri. "Bu," menuntun tangan sang ibu dan di bawanya ke dalam.
Darma mengajak Alisa dan Viona berunding sangat serius. Setelah Darma bicara panjang lebar. Akhirnya Viona bicara.
"Baiklah. Semua biar aku yang tanggung, tempatkan dia di kelas satu. Obati anak itu sampai sembuh, soal biaya aku yang akan tangani." Jelas Viona.
__ADS_1
"Bener Vi? jangan-jangan ada udang dibalik bakwan nih." Alisa menatap curiga.
Kedua netra mata Viona mendelik. "Sudah lah. Usah banyak bicara dulu, sampaikan aja berita ini pada dokter yang menanganinya. Biar di tangani dengan sebaik-baiknya."
"Oke." Darma menemui dokter, diikuti oleh Viona dan sang istri. Untuk mengurus segala sesuatunya.
Setelah semua selesai. Obrolan dokter dan Viona berakhir. "Kalau ada apa-apa tentang masalah biaya. Langsung hubungi saja saja, ini kartu nama saya. Mohon bantuannya dok."
Dokter pun mengangguk, lalu berjabat tangan dengan Viona dan Darma juga Alisa.
Hesya di pindahkan ke ruang VIP, kamar yang cuma menangani satu pasien saja. Fatir mulai bingung, kenapa sang adik di tempatkan di VIP bukan di tempat biasa aja. Ia merasa tak sanggup, di tempat biasa aja membuatnya kewalahan apalagi di VIP yang jelas mahal sebab di tunjang dengan layanan yang memuaskan. Pikirnya, menjadikan pemuda itu segera bicara dengan pihak dokter yang menangani.
Dokter pun menjelaskan kalau masalah administrasi sudah beres. Dan pasien akan di rawat sampai sembuh, dan tak akan berhenti dari pengawasan dokter ahli.
Fatir semakin heran, siapa orang sudah berbaik hati pada dirinya? sementara pengobatan itu bukan sekarang aja tapi jangka panjang. "Siapa yang menanggung ini semua dok?" menatap penuh rasa ingin tahu.
"Yang menanggung ini semua dari mulai sekarang ya itu ... atas nama Viona Nurulita kawan Mas Darma," ucap dokter yang kebetulan mengenali Darma yang memang sering hilir mudik dengan Fatir.
Fatir tertegun. "Viona?" Fatir terdiam sesaat, bukannya senang ia malah bingung. Gimana cara bayarnya nanti? jelas-jelas ini akan menjadi uang yang tidak sedikit dan akan terus bertambah dan bertambah.
"Makasih dok?" Fatir menjabat tangan dokter lalu bergegas kembali ke kamar sang adik. Langkahnya kian lebar.
Setalah berada di kamar, ia mendapati adiknya tengah di rawat oleh suster, di sampingnya sang bunda yang berwajah kusut dan lesu. Sesekali mengusap air mata.
Kemudian Netra mata Fatir beralih ke sahabatnya. Ia duduk di sofa bersama mereka dengan lesunya.
"Kalian gak usah khawatir lagi, Hesya akan di rawat sampai sembuh total di sini. Soal biaya ada yang menanggungnya. Kamu bisa tetap bekerja, pasien aman meskipun tak bersama Ibu di sini," ujar Darma.
Alisa menyodorkan minuman dingin dan makanan ringan pada Fatir. Yang di sambut dengan anggukan saja.
"Justru itu yang ingin aku bicarakan. Bukannya aku tidak bersyukur, bukan. Tapi aku bingung, gimana caranya aku bisa membayarnya nanti? aku tak punya jaminan apapun, usaha ku hanya cukup untuk makan dan biaya sekolah atau pendidikan adik-adik ku, itupun aku harus memutar otak dengan keras agar keperluan mereka terpenuhi," ujar Fatir Lirih, sesekali melirik ke arah sang Ibu.
Perkataan Fatir bikin hati yang mendengarnya terenyuh. "Kamu tenang saja, itu bisa di pikirkan nanti oke?" ucap Darma sambil menepuk bahu Fatir.
Manik mata Fatir tertuju ke Darma. "Gimana aku bisa tenang Darma? bila hari ini menghabiskan uang 2 3 juta. Gimana kedepannya? yang jelas akan terus bertambah. Itu yang buat aku bingung."
Mendengar ucapan Fatir seperti itu, Alisa nimbrung. "Mas Fatir mau adiknya sehat tidak?"
Mata Fatir bergerak melihat Alisa. "Tentu aku mau adik ku sehat siapa yang tidak mau."
"Ya udah. Jangan pikirkan hutang." Timpal Alisa.
Fatir menghela napas panjang dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Wajahnya tampak sekali dalam kebingungan.
Alisa melirik sahabatnya. "Ngomong dong Vi, jangan diam aja."
Viona menoleh. "Ngomong apa? ya kalau gak mau dibantu ya sudah ... cukup sekarang aja. Ke depannya aku mundur."
Fatir terkesiap mendengarnya, lalu melihat Darma yang bersiap bicara kembali.
"Vi ... maksud Fatir, dia merasa berat untuk membayarnya nanti. Bukannya gak mau dibantu, saat ini dia ... gimana ya? kamu juga pasti faham dengan penuturan Fatir tadi." Darma menjelaskan pada Viona.
Viona mengangguk. "Oke, begini. Kalau Mas gak mau terbelit hutang dengan ku, gimana kalau aku ... ajukan satu persyaratan?"
Fatir tercengang dengan kata, satu persyaratan dari Viona dan semakin ia bingung juga penasaran ....
****
Semoga semakin banyak yang suka dengan cerita ini. Mohon dukungannya ya🙏
__ADS_1