
"Pulang yu? nanti bocil mu nyariin emak nya." Viona berdiri dan berpamitan pada bu Afiah dan Sya. Sidarto dah pulang duluan.
"Yu, Bu. Kami pulang dulu ya?" Alisa meraih tangan bu Afiah.
"Makasih kalian sudah jauh-jauh ke sini!" tutur bu Afiah. Menatap kedua wanita muda itu.
"Nak, Viona ... makasih atas kebaikan mu Nduk." Suara bu Afiah begitu lirih dan matanya berkaca-kaca.
Viona memeluk bu Afiah. "Sama-sama, Bu."
"Ibu jangan sungkan-sungkan. Kalau butuh sesuatu, bilang aja sama calon mantu Ibu ini." Timpal Alisa dengan santainya.
"Ibu, gak akan bisa membalas kebaikan--"
Viona menyela ucapan bu Afiah. "Sudahlah, Bu." Sembari menggeleng.
Keduanya pun berjalan meninggalkan ruangan Hesya. Bu Afiah mengantarnya sampai pintu saja.
Viona lebih dulu berjalan menyusuri koridor Rumah sakit, menjinjing tas nya. Tangannya yang satu lagi sibuk dengan benda pintar miliknya itu.
"Vi, Setelah ini kamu mau kemana lagi?" tanya Alisa setelah duduk di samping Viona.
"Ha? pulang. Ngapain lagi?" jawabnya sambil menggoyangkan bahunya.
"Hem," gumam Alisa. "Eh, ngomong-ngomong kalau sudah nikah mau bulan madu ke mana?"
"Apa bulan madu? bulan madu mata mu!" Viona menggeleng.
"Hei, dah nikah itu enak loh. Ada yang ngeloni. Kalau tidur ada yang membelai. Ada yang perhatikan."
"Sudah-sudah, jangan bahas itu lagi. Iy ..." ucap Viona sembari bergidik.
"Kamu ini, jangan-jangan benar yang dikatakan Dewo. Kalau kamu itu wanita dingin?" goda Alisa sambil menatap lekat sahabatnya itu.
"Tau apa sih dia? sembarangan." Viona menggeleng. Matanya Fokus ke depan melihat jalanan.
Sepanjang perjalanan. Tak ada perbincangan diantara mereka berdua. Gerungan suara mobil yang halus menghiasi perjalannya, tak selang lama kendaran yang Viona bawa sudah sampai di halaman Alisa.
"Turun dulu gak Non?" tanya Alisa setelah turun dan menutup pintu.
"Nggak ah, capek pengen istirahat lagian kayanya undangan datang sore ini deh. Bantuin dong ngisi daftar undangan?" pinta Viona dari belakang kemudi.
__ADS_1
"Kamu ini, kalau aku gak punya bocil sih siap kok. Tapi tahu sendiri gimana?" dengus Alisa.
"Iya-iya, oke. Aku pulang dulu ya?" gumam Viona sambil bersiap memutar kemudi.
Mobil Viona menyusuri jalanan, menuju arah pulang. Selang beberapa waktu akhirnya sampai juga di rumah mewah tingkat dua yang bercat putih ungu itu.
Langkah Viona gontai memasuki kediamannya tersebut. Bu Asri menyambut dengan senyuman manisnya, kemudian sang oma pun tak luput dari pandangan Viona.
"Baru pulang sayang?" bu Asri mencium pipi putrinya penuh kasih.
"Kemana dulu kamu Nduk?" sambung bu Yani. Wanita itu walau sudah tua masih tampak segar.
Viona mencium tangan omanya sambil duduk di sofa. "Dari rumah Alisa. Oya aku mau mandi dulu ya?" langsung kembali berdiri dan bergegas naik ke lantai atas.
Kini Viona sudah berada di dalam kamar, mendekati tempat tidur, menjatuhkan dirinya ke atas tempat tidur. Terlintas bayangan seseorang pernah mengisi hatinya, bahkan sampai detik ini pun ia masih mencintai.
"Mas, kamu sudah bahagia dengan wanita itu. Sudah mempunyai anak pula. Sementara aku tersiksa dengan perasaan ini, perasaan yang sulit hilang, rasa ini selalu kembali dan kembali menerpa hatiku yang sepi."
Tanpa terasa pelupuk matanya menitikkan air mata, betapa sakitnya hati Viona. Rasa sesak selalu menghiasi dada di saat mengingat sosok itu. Memeluk guling dan memejamkan mata sampai tertidur, padahal niatnya mau mandi dulu.
Tok ....
Tok ....
Tok ....
"Non, di tunggu makan malam sama oma di bawah." Suara bi Ijah dari balik daun pintu.
"Iya, Bi. Duluan aja aku belum mandi," sahut Viona dengan suara serak khas bangun tidur.
"Baik, Non." Pekik bi Ijah kembali. Terdengar suara derap langkahnya menjauh dari kamar Viona.
Dengan malas Viona turun sambil menggosok matanya. Memasuki kamar mandi. Kepalanya agak pusing, Kemudian mengisi bathtub tidak lupa membubuhkan aroma terapi.
Sekitar 15 menit kemudian, Viona keluar dengan handuk membalut di tubuhnya yang tinggi semampai. Sepuluh menit kemudian ia siap untuk turun makan malam.
Di meja makan sudah tidak ada siapa pun kecuali bi Ijah sedang beberes. "Yang lain sudah pada makan Bi?"
"Sudah Non, mereka berada di ruang tengah." Bi Ijah menunjuk ke ruang tengah dimana majikannya tengah berkumpul.
Viona bersiap makan, namun cuma di aduk-aduknya saja. Terlintas dalam bayangannya ketika bu Afiah memakan paket makan yang pesankan begitu lahapnya. Orang yang jarang bertemu makanan enak pasti sangat bersyukur, beda dengan orang kesehariannya menemukan makan enak akan lebih condong biasa bahkan tidak bersyukur.
__ADS_1
Perlahan Viona menyuapkan sendok ke mulut. Lalu menggerakkan netra matanya ke arah meja kecil yang berada dekat dinding, di sana menumpuk kartu undangan. "Kapan datangnya kartu undangan itu, Bi?"
"Oh, tadi sebelum maghrib, Non." Bi Ijah duduk tidak jauh dari Viona.
Viona menghabiskan makannya walau perut sudah kenyang, terlanjur mengambil banyak di piring. Kemudian berdiri mencuci tangannya di wastafel. Bi Ijah yang membereskan bekas makannya Viona.
Langkah Viona mendekati meja yang ada kartu undangannya, ia cek satu/satu undangan itu Viona buka, masih kosong nama penerimanya. "Huh ... harus di kerjain." Menghela napas panjang.
"Aku minta bantuan siapa nih? oya aku, kan belum tahu siapa aja pihak Fatir yang mau diundang? tanya sama siapa! masa besok harus menemui dia lagi. Tapi ... besok itu harus ngambil cincin harus sama dia juga, ck bikin repot."
Viona ngoceh sendiri sambil bi Ijah mesem-mesem mendengar mendengar Viona bicara sendiri. "Sabar, Non ... repot nya saat ini aja, nanti juga berubah nikmat."
Mata Viona mendelik. "Apaan sih Bi?" Kemudian bibir Viona tersenyum-senyum sendiri. Kalau ia sudah menikah, semua harta Yani grup akan menjadi atas namanya. Ayah dan ibunya sekalipun, tak berhak apa-apa tentang harta itu, tanpa seijin dirinya.
****
Fatir merasa lapar dan ia sempatkan pulang tuk makan. Ketika berada di dapur, netra matanya langsung mendapati gulai dan Ayam bakar di meja.
Fatir menoleh ke arah Sidar yang sedang nyetrika. "Lauk dari mana nih?"
"Oh, itu aku yang bawa dari Rumah sakit, di kasih mbak cantik," jawab Sidar. Menoleh sekilas lalu kembali memfokuskan pandangannya pada yang sedang ia kerjakan.
"Mbak Cantik?" gumam Fatir sambil mengernyitkan keningnya.
"Iya, Mas. Tadi waktu aku ke Rumah sakit ada mbak Alisa sama mbak cantik, pesankan makan buat ibu dan lauk buat dibawa pulang. Juga ada buah tuh Mas," menunjuk keresek yang ada di sebelah samping.
Fatir mengangguk. Ia mengerti yang di maksud Sidar mbak cantik itu pasti Viona, siapa lagi wanita yang selalu bersama Alisa kalau bukan Viona?
Sepi!
"Mas, mbak cantik itu baik ya? tidak seperti mbak Soraya. Dia judes, pelit lagi. Emang sih si mbak cantik juga kelihatannya agak dingin tapi baik, perhatian." Kenang Sidar. Membuat Fatir seolah berhenti mengunyah, terdiam sesaat.
"Aku mau deh punya pacar seperti dia, he he he ..." ucap Sidar nyeleneh.
Seketika Fatir menatap ke arah Sidar dengan tatapan datar.
"Mas, kan. Sudah punya mbak Soraya, ha ha ha ... bercanda Mas, mana mungkin mbak cantik suka sama aku." Sidar menggeleng sendiri.
Fatir lagi-lagi terdiam. Sidar tidak tahu kalau Viona itu akan akan menjadi kakak iparnya. Tiba-tiba ponsel jadul Fatir berbunyi, karena sedang makan ia biarkan dulu sampai makannya selesai ....
****
__ADS_1
Apa kabar reader ku semua? semoga kabar baik ya, yu dukung aku biar tambah semangat.