
"Ada apa Mas? kok masih ada di kota ini?" ulang Viona terheran-heran.
"Apa Vi, tidak kangen sama Mas? Mas kangen banget sama Vi." Hendra memeluk tubuh Viona erat.
Viona kaget dan tidak menyangka Hendra akan memeluknya seperti ini.
"Mas kangen sama kamu Vi. Kangen banget, mas tidak rela kamu menikah dengan yang lain Vi. Tidak rela," ungkap Hendra dan tidak ragu ia mencium pipi Viona kanan dan kiri sebab itu memang sudah biasa bagi mereka kalau cuma sebatas mencium pipi.
Viona bengong dalam pelukan Hendra. Jantungnya berdegup sangat kencang. Perasaannya jadi tak karuan seperti ini. Mulanya ia menikmati pelukan dari Hendra dan terhanyut dalam perasaan. Namun lama-lama ia sadar bagai manapun mereka sudah punya jalan masing-masing, tubuh Viona bergerak melepaskan diri dari pelukan Hendra yang kuat itu.
"Lepas Mas, jangan perlakukan aku seperti ini. Kita sudah punya jalan masing-masing." Viona terus berusaha melepaskan diri.
Hendra tak begitu saja memudarkan pelukannya justru semakin kuat sehingga tubuh mereka menjadi satu. Membuat Viona semakin risih. Bagaimana pun ia berstatus istri serta ada rasa khawatir. Bagaimana ini jadi konsumsi publik. Bagi hubungan ia dan Fatir mungkin gak akan ada masalah kecuali nama besarnya yang tercoreng. Tapi bagaimana dengan rumah tangga Hendra sendiri yang sudah memiliki anak.
"Vi, jangan pungkiri kalau Vi juga kangen sama Mas, kan sayang?" balas Hendra sangat pelan seakan berbisik. ''Sebenarnya Mas gak sedang tugas, aku sedang libur namun karena tahu Vi mau ke sini dan memakai maskapai tempat Mas bekerja. Aku ikut saja.''
"Oh,'' bibir Viona membulat. ''Tolong Mas, jangan begini. Aku takut--"
"Takut kenapa sayang? kita saling mencintai. Rasa ini sudah lama kita rasakan Vi sampai kita pun mau menikah, apa Vi lupa sayang hem?" suara Hendra begitu lembut.
Kalimat itu membuat hati Viona bergetar. Ada rasa sakit yang menusuk jantung. Sehingga buliran air bening menghiasi kedua pelupuk matanya, Vi terdiam dan hanya terdengar Isak tangis yang begitu memilukan hati di dalam dada Hendra.
"Menangis lah sayang di dada Mas. Sampai kau puas, buang semu rasa kecewa mu itu. Mas tahu Vi tidak mencintai suami mu itu, Cinta Vi hanya buat Mas seorang dan tidak akan ada yang menggantikan." Hendra dengan yakinnya.
Viona terus menangis di dada Hendra. Sehingga kemeja Hendra bagian dada basah dengan air mata Viona yang terasa hangat menembus kulit.
Sementara waktu mereka terbuai dengan perasaan. Berpelukan meluapkan rasa rindu yang terhalang dinding yang begitu tinggi.
"Bagai mana kalau kita melanjutkan kisah kita kembali sayang?" Hendra menempelkan dagunya di pucuk kepala Viona.
Degh!
Kata-kata itu membuat Viona terkesiap. Ia mendongak dan melangkah mundur beberapa langkah, menatap wajah Hendra yang tampak serius. "Jangan gila ya Mas? sampai kapanpun kita gak mungkin bisa bersatu Kita saudara Mas." Viona menggeleng.
__ADS_1
"Siapa bilang Vi? yang bertalian darah sama Vi itu. Adik-adik mas, Bukan Mas. Jadi apa salahnya kalau kita saling mencintai!" dalih Hendra.
"Nggak Mas, itu gak mungkin!" Viona membalikkan tubuh memunggungi Hendra.
Hendra melangkah berdiri di depan Viona. "Kita sambung kembali kisah kita. Tanpa sepengatahuan mereka, sampai kita menemukan waktu yang tepat untuk menikah. Kita akan mewujudkan impian kita untuk membangun istana cinta yang indah," ungkap Hendra.
"Ingat ya Mas! kamu itu sudah punya istri dan anak. Kasian anak mu Mas. Aku gak mau ya jadi benalu dalam rumah tangga mu."
Hendra menangkupkan kedua tangan di wajah Viona dengan tatapan yang sulit diartikan. "Sayang. Aku ndak pernah mencintainya dan lama kelamaan aku semakin muak dengan sikapnya yang terlalu otoriter. Mengatur ku ini dan itu."
"Kalau itu untuk kenaikan, apa salahnya. Setidaknya sayangi putra mu, aku cuma masa lalu untuk mu begitupun sebaliknya," ucap Viona membalas tatapan Hendra.
"Tidak. Aku tak ingin melanjutkan pernikahan ku lagi, sayang. Kamu tidak pernah mencintainya kan? hanya aku yang ada di hatimu," tanya Hendra tatapannya semakin lekat pada Viona sosok wanita yang sangat dicintainya.
Viona terdiam, tak lantas berkomentar perkataan dari Hendra. Netra matanya Viona bergerak-gerak.
"Katakan sayang, kamu sangat mencintai ku?" dengan tatapan yang semakin menghujam jantung.
"Em, em ... iya Vi sangat mencinta kamu Mas, tapi sebaiknya simpan saja rasa itu dalam-dalam. Kita tak perlu memupuk lagi rasa itu, kita sudah sama-sama punya hidup sendiri." Lirih Viona sambil memalingkan pandangannya kelainan arah.
Membuat Viona merasa gusar, was-was dan jantung semakin berdebar lebih dari normal. Wajah Hendra semakin dekat dan berniat mengambil ciuman pertamanya Viona.
Bertahun pacaran, mereka tak pernah merasakan sentuhan di bagian itu. Selin mengecup pipi dan pelukan biasa. Hembusan napas Hendra menyapu kulit wajah Viona. Ibu jari Hendra bergerak mengelus kedua pipi wanita itu.
"Kita akan banyak melewati waktu bersama, seperti sekarang ini kita lewati malam ini berdua." Suara Hendra pelan.
Dada Viona semakin berdebar. Detak jantung kian meningkat, terlintas bayangan wajah Fatir berhasil melintas di ingatannya. Terngiang dengan jelas di telinga Viona akan ucapan janji suci Fatir di saat menikahinya. Dengan cepat Viona melepaskan tangan Hendra dari wajahnya.
Hendra heran. "Kenapa Vi? aku tahu suami mu belum pernah menyentuh mu dan aku tak rela itu terjadi. Vi hanya milik Mas seorang." Lagi-lagi tangan Hendra meraih wajah Viona dan berusaha mendapatkan bibir tipisnya Viona yang belum pernah terjamah itu.
Viona terus menghindar. "Mas. Sudah malam, aku harus istirahat secepatnya. Besok segudang kegiatan menunggu ku." Segera menyeret langkahnya menuju kamar hotel. Memerangi keinginan hati yang ingin bersama dengan Hendra. Di satu Sisi ia tak ingin menolak keinginan Hendra namun di satu sisi ia sadar siapa dirinya. Apalagi kalau Handra ada niat bercerai, tentunya nama dia yang akan terseret dan jadi pemicunya.
"Vi?" Hendra menghela napas panjang, terlukis di wajahnya kekecewaan yang dalam.
__ADS_1
Viona terus mengayunkan langkahnya dan berhenti di dekat sofa dan duduk di sana dengan helaan napas yang panjang. "Kok bisa sih Mas Hendra ngajak balikan?" bibir Viona tersenyum manis.
Lantas membawa langkahnya ke kamar mandi. Sepersekian waktu Viona kembali dengan pakaian tidurnya, setelah membersihkan wajahnya Viona menaiki tempat tidur dan segera membaringkan tubuhnya. Guling kanan dan kiri, menatap ke sebelah kanan yang biasanya ada Fatir yang memunggunginya, sekarang gak ada. Perlahan kedua kelopak mata Viona terpejam yang diiringi dengan menguap. "Huam ... ngantuk."
****
Entah apa yang sedang Fatir pikirkan, sehingga dia bengong menatap kosong padahal di depannya televisi. Mau pulang ke rumah Viona, orangnya gak ada. Buat apa pulang ke sana. Waktu menunjukkan pukul 20.00 malam
Setelah salat isya, daripada suntuk dan perasaan pun terasa hampa, kosong semacam tak berteman. Akhirnya Fatir memutuskan main ke rumah Soraya sebentar.
Fatir menaiki motor lama nya. Dan segera melaju dengan cepat. Sebelumnya bilang pada Sidar kalau ia akan keluar sebentar.
Motornya Fatir terus melaju cepat. Kebetulan cuaca pun begitu indah. Di langit terlihat beberapa bintang yang sudah berkerlip menghiasi warna langit yang gelap.
Selang beberapa waktu. Fatir tiba di depan rumah Soraya, dan langsung muncul Soraya di pintu mungkin dia sudah hapal dengan suara motor Fatir.
Soraya langsung menyambut kedatangan Fatir. Tangannya langsung menari Fatir tuk masuk. Di sana bertemu dengan orang tua Soraya yang menyambut ramah kedatangan Fatir.
"Mas ngobrolnya di belakang yu?" ajak Soraya pada Fatir yang malah mengobrol dengan ayahnya.
"Udah, di sini aja ngobrol sama bapak dan ibu nonton televisi." Fatir menggeleng.
"Nggak mau ah, yu. Ke taman." langsung menarik tangan Fatir diajaknya ke teras belakang.
Mau tidak mau Fatir mengikuti Soraya. Tuk duduk di sana seperti biasa. Soraya bergelayut mesra di tangan Fatir dan menyandarkan kepala di bahunya Fatir.
"Kok gak bilang mau datang, bikin aku senang deh. Aku kangen sama kamu Mas." Soraya dengan nada sedikit manja.
"Buat apa bilang-bilang! he he he." Jawabnya di akhiri dengan tawa kecil yang dipaksakan. Ia jadi teringat kejadian kemarin bersama Viona. Terbayang jelas di matanya kejadian itu dan membuat Fatir tersenyum tulus.
"Hem ... gemes deh." tangan Soraya menjepit dagu Fatir yang berbulu halus itu.
Tangan Soraya membelai lembut pipi Fatir dengan tatapan yang sulit tuk mengartikannya ....
__ADS_1
****
Mohon dukungannya ya🙏 agar author terus semangat menulis. Selamat menjalankan puasa ramadhan bagi yang melaksanakan nya.