
"Sebaiknya kamu pulang, dan menikahlah terima dia sebagai suami mu, aku beristri dan tidak mungkin menikahi dirimu," lirih Fatir menoleh ke arah Soraya.
"Aku sangat mencintai mu Mas, saya tidak akan bahagia bila menikah dengan laki-laki lain! kamu pasti tidak ingin aku menderita, kan Mas?" Mata Soraya yang berkaca-kaca menatap lekat pada Fatir.
"Tidak bisa, pulanglah. kamu harus menikah dengan pria itu, aku yakin kamu pasti akan menemukan bahagia suatu saat nanti."
"Aku tidak mau Mas, tidak mau. Aku cuma mau kamu Mas. Hik hik hik." tangis Soraya pecah.
Fatir makin gugup gak enak dilihat orang banyak. "Jangan, jangan menangis, gak enak dilihat orang raya!"
"Hik hik hik, aku ndak perduli. Aku cuma mau kamu Mas, aku mau menikah sama kamu, Mas. tak apa walaupun di madu, aku mau." Soraya bersikeras dengan keinginannya.
Fatir menggeleng tak habis pikir, bingung harus mengatakan apa lagi tuk bujuk Soraya agar mengerti.
Soraya melihat Fatir terdiam langsung berhenti menangis. Tubuhnya merosot sedikit berjongkok dan memeluk kaki Fatir seraya memohon. "Kita saling mencintai dari lama, Mas dan sampai detik ini aku masih mencintai mu. Aku yakin kamu akan kembali mencintai ku bila kita sering bersama lagi."
Fatir terkejut melihat Soraya memeluk kakinya. "Kamu, apa-apaan Raya? gak enak dilihat orang," matanya melihat kanan dan kiri.
Soraya tak perduli dengan perkataan Fatir, ia terus memeluk sambil menangis memohon agar Fatir mengindahkan harapannya.
Kemudian Fatir mengangkat bahu Soraya agar berdiri. "Raya-Raya, kamu jangan seperti ini. Yu aku antar pulang."
Soraya berdiri. Tangannya memegangi tangan Fatir. "Kau mau menikahi ku kan Mas? kalau bukan, aku ndak mau pulang. Biar aku di sini bersama mu, sekalian istri mu tahu kalau aku ingin bersama mu."
"Ck." Fatir berdecak kesal. Tangannya menggaruk tengkuk yang tak gatal. Bingung harus membujuk dengan cara apa lagi supaya Soraya mengerti.
Viona dan Oma Yani juga Alisa sudah tiba di tempat Fatir dan Viona menangkap pemandangan yang tak biasa. Yaitu melihat Fatir berdua dengan seorang wanita berpakaian pengantin berlutut di kakinya Fatir.
Degh!
Kantung Viona seakan berhenti bernapas melihatnya. Pikiran Viona mulai jelek menyangka kalau Soraya hamil itu mungkin bener anaknya Fatir. Air bening berjatuhan membasahi pipi dan bibirnya tak bisa berkata-kata.
Oma yang tak tahu apa-apa jelas sangat kaget. Terkejut melihat melihat mantunya berdua dengan seorang wanita yang mengenakan pakaian pengantin.
"Apaan ini, Vi? jelaskan pada Oma." Suara Oma Yani sembari menggeleng.
__ADS_1
Viona tak menjawab, matanya terus memandangi ke arah Fatir. pandangannya yang tak jelas karena air mata menahan rasa sakit lagi. Menggigit bibir bawahnya, luka yang beberapa waktu lalu kini berdarah lagi.
Alisa memegangi tangan Viona. "Sabar, Vi. Kamu harus yakin kalau kenyataan tidak selalu sesuai dengan yang dilihat."
"Tapi!" suara Viona bergetar. Matanya yang terus berair mata memperhatikan ke arah Fatir.
"Alisa, apa-apaan si Fatir ini?" Oma Yani menggeleng. penasaran dan kecewa yang teramat dalam bila apa yang ada di pikirannya adalah benar.
"Yakinlah, Fatir tak seburuk yang kita pikirkan Oma." Alisa menenangkan Oma Yani dan Viona yang tampak hancur.
"Pulang ya? keluarga mu pasti menunggu. Soal lain-liannya kita pikirkan nanti." Bujuk Fatir. Otaknya terus berputar, supaya bak kata pepatah mengatakan mengambil ikan di kolam yang tetap jernih airnya.
"Beneran, kamu mau menikahi ku kan, Mas?" Soraya sangat antusias dan matanya berbinar-binar.
"Em ... aku sudah bilang. Gimana nanti saja Raya." Kata Fatir.
"Aku ndak mau kalau ndak pasti. Aku pengennya yang pasti-pasti saja Mas, aku mendingan. Bunuh diri saja kalau harus menikah dengan laki-laki lain.'' Soraya tampak sedih kembali dan kalimatnya penuh ancaman.
Kedua netra mata Fatir melihat ke arah motornya. Ia melihat mobil Viona terparkir, di dalamnya ada tiga wanita. Viona, Alisa dan Oma Yani dan seorang supir. Sorot matanya mereka sedang tertuju melihat ke arah Fatir. Betapa terkesiap nya Fatir tidak menyangka sama sekali kalau Viona akan datang ke tempat itu, bilangnya juga mau ke tempat Omanya.
''Astagfirullah ... gawat! bisa salah faham nih." Gumam Fatir yang jelas sampai ditelinga Soraya. Sehingga Soraya menoleh ke arah tempat yang Fatir pandangi.
Fatir kembali menatap ke arah Soraya. "Yu aku antar pulang?" beranjak dari duduknya.
Soraya juga berdiri dengan tak sesaat pun melepas genggamannya. Dengan senyuman selalu terlukis dari bibirnya senyuman yang menggambarkan kemenangan.
Langkah Fatir berjalan ke arah mobil Viona terlebih dahulu. Setibanya di dekat pintu mobil. "Sayang?" yang langsung mendapat palingan muka dari Viona.
"Fatir, apa-apaan ini? jelaskan pada saya?" sergah Oma.
"Nanti Fatir jelaskan Oma. Oya Pak supir. Tolong ikuti saya dari belakang." Mata Fatir beralih pada supir yang langsung di dibalas dengan anggukan.
"Pak, tolong antarkan saya pulang!" suara yang keluar dari mulut Viona yang bergetar.
Fatir melirik sang istri lalu beralih lagi pada supir dengan tatapan penuh permohonan. "Tolong ikuti saya. Agar tak ada ke salah pahaman diantara kami."
__ADS_1
Pak supir menjadi kelimpungan. Mana yang harus dia turuti? perintah Viona atau Fatir!
Sampai saat-saat naik motor Fatir, tangan Soraya tampaknya masih betah memegangi tangan Fatir. Senyumnya terus mengembang penuh kemenangan, bangga karena sebentar lagi ia akan menjadi nyonya Fatir meskipun menjadi istri kedua tak jadi masalah baginya.
Motor Fatir melaju cepat. dengan membonceng Soraya untuk mengantarnya pulang. Sesekali kepalanya menoleh ke belakang melihat mobil Viona dan memastikan apa menyusul atau tidak. Dan ternyata mobil itu mengikuti dari belakang.
Fatir berharap kalau ia tak harus menjelaskan banyak hal pada Viona khususnya. Kalau ia lihat tak semua sesuai dengan kenyataannya. Helaan napas Fatir begitu panjang.
Senyuman bahagia tak lepas dari bibir Soraya. Ia duduk manis di jok belakang sambil memegangi pinggang Fatir. Walau panas dan kena angin namun tetap membuat Soraya bahagia. Dari sekian lama baru sekarang kembali dibonceng sosok laki-laki yang sangat dia cintai itu.
Setibanya di kediaman Soraya yang ramai dengan para tamu undangan, dan terlihat sangat riuh dengan hilangnya sang mempelai wanitanya yang belum lama ini mereka sadari. Fatir turun dengan tangan tak lepas dari genggaman Soraya yang enggan melepaskannya.
Semua memandang tajam ke arah Soraya dan Fatir. Dibalik bahagia sebab sang mempelai kembali, ada juga segurat kecewa yang mendalam di hati orang tuanya. Soraya menatap cemas, pada kedua orang tua nya.
Fatir yang tampak tenang terus berjalan mendekat pada bu Siti dan suami juga calon mempelai laki-laki yang juga Fatir kenal. Yaitu Bambang teman kerja satu rumah sakit dengan Soraya.
"Ternyata kamu yang membawa kabur anak saya?" sergah bapaknya Soraya.
"Sebentar-sebentar Pak, jangan salah paham dulu. Justru saya kesini untuk mengantarnya pulang." Fatir melirik ke arah Soraya dan orang tua nya bergantian.
Bambang hanya menatap Fatir tanpa ekspresi. Kemudian mendekat pada Soraya yang geser, menghindari dari calon suaminya itu, Bambang.
"Pokonya saya tidak mau menikah dengan siapa pun selain dengan Mas Fatir." Soraya benar-benar kekeh dan tidak tahu malu.
"Soraya. Kamu itu harus sadar diri, Fatir sudah menikah dan kamu harus menikah dengan Bambang. Dan tidak ada toleransi lagi," ungkap bapaknya dengan nada tinggi.
"Mas, aku mohon nikahi aku. Biarpun harus di madu aku mau." Soraya memohon pada Fatir yang berdiri dan tangannya masih ia pegang.
"Duduklah." Dengan lirihnya Fatir menyuruh Soraya duduk.
"Aku gak mau Mas. Kamu kan yang akan menikahi ku Mas?" Soraya lagi-lagi berharap kalau Fatir yang akan mengucap janji suci itu.
"Sudahlah, duduk dengan manis, aku di sini kok," ucap Fatir sambil menggerakkan matanya pada penghulu dan Bambang.
Acara akad pun akan segera dilangsungkan. Fatir duduk manis bersama Soraya yang tampak cantik ....
__ADS_1
****
Hai, apa kabar semuanya reader ku? semoga disaat ini kabar kalian selalu baik dan tak kurang suatu apa pun 🤲