
"Hajatnya apa? masih rahasia, sebab itu masih rahasia Allah." Fatir menyahut di sela makannya.
"Hem," gumam Viona sambil menuangkan air untuk Fatir. Mengambil buat sarapannya. "Main rahasia-rahasian segala? aku marah nih." Rajuk Viona sambil duduk menemani sarapan.
Manik mata Fatir menatap intens pada Viona, sang istri. Kemudian menyantap sarapannya dengan lahap.
Fatir menyudahi sarapannya dengan meneguk segelas air putih. Kemudian berdiri dan berpamitan pada sang istri.
"Sayang, aku pergi dulu ya?" tangannya merengkuh kepala sang istri dan menciumnya.
"Baiklah. Hati-hati ya?" kedua tangan Viona merangkul pundak Fatir. Menatap lekat wajah Fatir yang kurang fit itu.
"Iya sayang, ku akan hati-hati." Cuph! mengecup singkat bibir Viona yang ranum dan menggoda.
"Malu," ekor matanya Viona melirik suasana sekitar yang ada asisten dan ibu mertua.
"Biar aja, istri Mas ini. Bukan selingkuhan."
"Awas ya, kalau seperti itu. Lihat saja nanti!" ancam Viona sembari membelalakkan bola matanya menjadikannya semakin bulat.
Fatir terkekeh mendengarnya. Lalu berjalan maju melintasi pintu utama untuk pergi ke kedai.
Viona beranjak dan bergegas menaiki anak tangga. Setelah Fatir berangkat menuju tempat usahanya.
...****...
Sekitar enam bulan kemudian, baby Vivian pun sudah besar dan lincah merangkak sana sini, lucu. Gemuk, bawel yang maunya diajak ngobrol terus. Pokoknya sangat menggemaskan. Sekarang ada baby sitter yang menjaga baby Vivian dengan intens khususnya dikala Viona ngantor atau keperluan mendadak yang tentunya berkaitan dengan kerjaan.
Viona begitu menikmati hari-hari bersama suami yang sangat sayang padanya dan sangat amat bertanggung jawab. Dia tak mau tergantung dengan sang istri dalam hal usaha, Fatir selalu bertekad kalau hidupnya harus maju dengan usahanya sendiri kerja sama dengan orang luar, tanpa melibatkan sang istri.
Dan Di beberapa bulan itu pula usaha Fatir berkembang pesat sehingga mampu membuka beberapa cabang di beberapa daerah. Kehidupan pribadi Fatir sekarang sudah lebih baik dari sebelumnya bahkan sang bunda pun ia berangkatkan umroh.
Kehidupan mereka sangat bahagia tanpa adanya kerikil-kerikil yang menghiasi rumah tangganya. Viona dan Fatir kembali menetap di apartemen yang lokasinya lebih strategis dan ke mana-mana pun lebih cepat terjangkau. Kantor pusat Viona grup dekat, ke induk nya kedai milik sang suami juga lumayan dekat.
"Sayang, kamu nampak lelah. Mau aku pijit?" suara Fatir dari balik pintu balkon. Berjalan mendekati Viona yang baru saja mendudukkan dirinya di sofa.
"Hem, boleh." Viona mengulas senyumnya.
Fatir duduk dan memegang kaki Viona yang sudah di posisikan untuk dipijat.
Viona menatap lekat pada sang suami. "Sayang, makasih ya? atas hadiahnya," ucap Viona mengingat hari kemarin Fatir memberikan sebuah kalung permata untuknya.
Fatir mengerutkan keningnya. "Sama-sama sayang." Fatir merengkuh tubuh Viona ke dalam pelukannya.
"Oya, minggu depan aku harus keluar Negeri untuk ikutan seminar tentang bisnis. Ikut yu? sambil liburan," lirih Viona yang berada dalam pelukan sang suami.
__ADS_1
"Hem, tadinya aku mau mengajak mu liburan keluar kota? tapi kalau kamu mau seperti itu aku ngikut saja. Sekalian bulan madu kan?" bibir Fatir menyeringai sambil memainkan alisnya.
"Kenapa baru bilang sekarang? kalau punya rencana begitu." Viona menatap lekat pada sang suami.
"Baru sempet sayang ... gak pa-pa aku ngikut kamu saja." Tatapan Fatir begitu lekat dan mendekat, menangkap bibir Viona yang menggoda membungkamnya tanpa cela.
Tuk beberapa saat pun mereka menikmati sentuhan yang sengaja untuk menaikan hormon atau gairah bercinta. Tak berhenti di situ saja, Fatir memberikan kecupan yang intens di area bahu dan tengkuk Viona yang mulai terbakar api hasrat nan membara sehingga tangannya aktif membelai tubuh Fatir.
Sedang asik-asiknya menuju lembah surgawi milik Viona yang baru terlihat letaknya. Mereka baru saja melepas kain yang melekat di tubuhnya sehingga kedua polos.
"Oe, oe Oe ..." pekik baby Vivian. "Mam, mam. Mam, oee! oee. Aaa😭."
Membuat keduanya menggelinjang. Baru aja Fatir mau masuk gerbang, dengan spontan Viona menutup jalannya dan melonjak bangun. Menyambar pakaian yang tergeletak di lantai.
Mengambil baby Vivian yang terbangun dan menangis. "Cup-cup sayang, ini Ibu ya? lapar hem?" Viona menyibakkan rambutnya ke belakang agar tak menghalangi dada sebelah kanannya.
Fatir terduduk di sofa menatap kecewa ke arah Viona yang tengah memberi asi baby Vivian. Bukan apa? hasrat yang membuncah terabaikan begitu saja, hasratnya pun tak tersalurkan. Dengan lesu memakai pakaiannya lalu mendekat ke arah Viona yang berada di atas tempat tidur.
Tangan Fatir terulur pada rambut Viona yang terurai dan mengikatnya. Viona tersenyum manis pada Fatir yang kini duduk di samping belakang menghujaninya dengan kecupan disekitar tengkuk tanpa henti dan penuh nafsu.
"Geli, Mas ... sabar kenapa?" rajuk Viona.
"Ck!" Fatir menghempaskan tubuhnya di atas ranjang. memandang langit-langit sesekali melirik ke arah Viona dan mengusap punggungnya.
Viona berbalik dan merangkak naik ke atas tempat tidur. Memandangi sang suami yang sedang berbaring. Ia tatap dengan intens dari ujung kepala sampai ujung kaki, naik lagi dan berhenti di tempat adek kecil yang tampak terbangun itu. Senyum Viona mengembang dan terus melihatnya lucu, dia bergerak meminta keluar dari kandangnya.
Mata Fatir yang mengamati sang istri ikut tersenyum penuh arti, menarik tangan Viona agar membelai adiknya dengan lembut membuat kelopak mata Fatir merem melek dibuatnya.
Setelah itu terjadilah sesuatu yang selalu jadi candu bagi mereka berdua. Jarum suntik milik Fatir mengoyak milik Viona sehingga sang empu memekik nikmat. Keduanya bertukar peluh yang membasahi tubuh keduanya.
"Sayang, aku mencintaimu." racau Fatir setengah berbisik.
"Aku juga sayang." Suara parau Viona mewarnai suara-suara aneh yang menghiasi ruang tersebut. Tangan Viona melingkar di punggung Fatir seakan pergulatan itu tak ingin segera berakhir.
Setelah melalu waktu sekitar dua jam lebih berenang di atas sagar cinta dan menyelami lautan madu. Fatir merasa capek dan lelah, tubuh Fatir ambruk di atas dada Viona yang juga kelelahan melayani suaminya.
"Ah ... terima kasih sayang? kamu sudah melayani ku dengan baik," suara Fatir bergetar. Kemudian mengecup mesra kening sang istri.
Viona mengangguk dan memeluk erat penuh kehangatan. Keduanya dan cinta. Sesaat kemudian mereka terlelap dan memasuki alam mimpi.
...****...
Saat ini Viona dan Fatir sudah berada di luar Negeri dalam urusan kerjaan + liburan. acara bulan madu yang yang tak pernah mereka lakukan setelah pernikahan. Biarpun bulan madu tak harus dilakukan di mana-mana sih, di rumah juga jadi dan penuh kenikmatan. Tak perlu suasana yang istimewa yang penting ada rasa saling membutuhkan di antara keduanya.
Sekalian juga memboyong keluarga ke sana liburan. Kecuali Bu Afiah yang tidak ikut dengan alasan belum lama ini dia baru pulang ibadah haji. Jadi yang ikut serta anak-anaknya saja, Adam. Sidar dan Sya.
__ADS_1
Bu Asri, Oma Yani dan satu lagi baby sitter nya baby Vivian juga Viona ajak untuk menjaga Vivian selama di sana, sebab Viona tidak mau terlalu membebani yang lain selama liburan.
Kini mereka berkumpul di sebuah restoran Jepang dengan penuh kebahagiaan, canda dan tawa selalu menghiasi bibir mereka, wajah yang ceria, sumringah tak dapat di uangkapkan dengan kata-kata.
"Mas, kalau tiap hari makan makanan Jepang, apa kita akan pandai bahasanya ya?" tanya Sidar pada Adam.
"Bisa, asalkan kamu telan dengan mangkuk-mangkuknya. Di jamin--"
"Mati? lah makan mangkuk nya sih bikin mati, bukan pandai bicara bahasa Jepang nya." Sidar memotong ucapan Adam.
"Lah, itu tau. Kalau pengen pandai bahasa Jepang berarti harus belajar bukan cuma makan doang." Adam menggeleng.
"Ya, kali aja." Sidar meneruskan makannya.
Viona dan Fatir duduk berdua dan agak jauh dari yang lainnya. Vivian pun bersama baby sitter nya. Sambil makan, melihat pemandangan di sekitar restoran.
''Aku sangat bahagia sekali deh, Mas. Akhirnya kita bisa berbulan madu juga." Suara Viona dengan wajah yang sangat sumringah dan bersandar di dada Fatir.
"Aku juga bahagia bila kamu bahagia, Vi." Balas Fatir dengan tangan membelai rambut Viona. "Maaf. Kalau aku belum bisa jadi suami yang sempurna buat kamu."
Viona menegakkan posisi duduknya "Kok bilang gitu?" menatap tajam ke arah Fatir dengan heran.
"Iya, sebab aku sadar diri. Bukan pria yang seperti kamu harapkan awal mulanya." Tambah Fatir.
"Bukan suami harapan maksud nya? itu kan dulu, sebelum aku sayang sama kamu. Jangan bicara gitu ah," ucapnya Viona sambil menggerakkan tangan membelai rahang Fatir yang berbulu halus itu.
"Tapi, tetap saja aku suka minder, gak percaya diri--"
"Sett ..." telunjuk Viona menempel di bibir Fatir. "Jangan bicara gitu lagi. Aku gak mau dengar itu. Sebaiknya kita fokus tatap ke depan. Masa depan kita, putri kita."
"Iya sayang, aku akan lebih giat bekerja buat masa depan kita. Mas gak mau di bilang hanya numpang hidup pada istri. Jadi aku akan buktikan kalau aku bisa menghidupi kalian."
Viona mengalungkan tangannya di leher Fatir dengan tatapan sangat lekat. "Aku sangat beruntung mempunyai suami seperti kamu, Mas. Kamu sosok laki-laki yang lebih dari yang aku bayangkan. Aku sangat mencintai mu."
"Aku juga sangat menyayangi mu." Lirih Fatir dengan tatapan yang sangat lekat. Viona membalas tatapan sang suami penuh cinta, kemudian mereka saling peluk dengan erat.
Semua mata memandangi ke arah Fatir dan Viona yang tampak bahagia tersebut. Semua keluarga turut berbahagia dan saling menikmati liburannya.
Pernikahan yang dulunya tak didasari cinta pun kini berakhir bahagia yang sangat, apalagi di tambah dengan kehadiran baby Vivian yang menjadi pelengkap kebahagiaan mereka.
...Tamat...
****
Makasih aku banyak-banyak ucapkan. Kepada reader ku yang baik hati dan terus mendukung ku dalam berkarya. Terima kasih🙏
__ADS_1