
"Tuh, kan? suara itu!" Viona memegang tangan Fatir ketakutan.
"Ck, Nona ... itu tikus di langit-langit. Mungkin sedang menari India atau bercanda dengan pasangannya. Atau juga mungkin sedang mengejar anaknya yang nakal."
"Ih, jorok banget sih. Nggak kecoa. Tikus, nanti apalagi?" gerutu Viona sambil mesem juga mendengar penjelasan dari Fatir.
"Mungkin sebentar lagi akan muncul biawak he he he." Gumam Fatir.
"Iiiy ... apa lagi tuh?"
Netra mata Fatir tertuju pada tangannya yang di peluk Viona. Viona pun mengikuti gerak mata Fatir dan segera menjauh. "Ya sudah, aku tidur di sini juga. Kemudian berbaring di tempat tidur.
"Ta-tapi jangan di situ, kan sempit." Lanjut Viona. Sebab tempat tidur itu kalau di pake berdua pas dan susah bergerak.
"Kalau gak boleh di sini. sendiri saja, aku balik ke sofa." Mata Fatir menatap ke arah Viona yang masih berdiri.
"Nggak mau," sahutnya sambil menggeleng.
"Kalau begitu aku tidur di lantai saja." Fatir bangun dan menarik bantal ia simpan di lantai.
"Jangan. Jahat banget bila saya membiarkan kau tidur di situ, sudah. Di atas saja." Suara Viona lesu sambil naik ke atas tempat tidur.
Fatir menarik bibirnya tersenyum penuh kemenangan. Seakan tidak membuang kesempatan Fatir menarik kembali bantalnya lalu naik dan berbaring dengan seenaknya.
"Geser dikit kenapa sih? aku di pinggir banget nih," keluh Viona.
Dengan perlahan Fatir bergeser memberi tempat pada Viona. Jangankan menyimpan guling di tengah sebagai jarak, geser sedikit saja badan sudah ke pinggir.
"Sempit amat nih kamar. Eh Tempat tidurnya." Gumam Viona sambil membalutkan selimutnya.
"Sini, sedikit geser lagi," titah Fatir, memberi tempat lagi.
"Tidak mau," ucap Viona seraya menggeleng.
Fatir sedikit mengangkat kepalanya, melihat Viona yang tak terlihat sehelai rambut pun. Kemudian mengarahkan tangan melayang di udara.
Geph!
Tangan Fatir menarik pinggang Viona, supaya berpindah ke tengah biarpun merapat dengan tubuhnya. Sontak Viona kaget dan terbangun membuka selimut di bagian kepalanya.
Hati Viona berdebar. "Jangan macam-macam ya?" matanya melotot dengan sempurna.
Fatir tidak merespon, hanya tersenyum dan menarik sarung tuk menutup kepalanya. Viona mengerucutkan bibirnya, kemudian kembali membaringkan diri di tempat semula.
Memang sedikit menempelkan punggungnya ke tubuh Fatir, sehingga hawa-hawa hangat terasa ke punggungnya. Dadanya terus berdebar was-was, takut kalau Fatir berbuat yang macam-macam terhadap dirinya.
Malam yang larut terlewati dengan begitu saja. Sekitar jam 03.00 Fatir terbangun, ia bengong dan terpana menatap wajah cantik yang begitu dekat dengannya. Bahkan hembusan napasnya pun terasa hangat menyapu kulit wajah Fatir. Fatir begitu anteng menatap raut wajah itu, perlahan tangannya pun bergerak tuk menyingkirkan helaian rambut yang menghiasi pipi.
Berkali-kali Fatir menelan Saliva nya. Hatinya berperang melawan bisikan yang menyuruhnya untuk menyentuh Viona. "Ayo lakukan Fatir! dia sudah halal bagimu."
__ADS_1
"Jangan. Kalian menikah itu tidak di dasari cinta, bahkan sampai sekarang pun belum ada cinta."
"Dia halal bagimu Fatir dan memberi nafkah sebuah kewajiban bagimu. Wajar jika kau menyentuhnya saat ini."
"Sabar, jangan dulu, tahan! sampai dia menyerahkan nya sendiri padamu. Jangan sampai dia merasa di paksa Fatir, kamu cuma pria bayaran dan bukanlah suami yang dia harapkan."
"Jangan dengarkan dia Fatit, bagaimanapun kau itu pria normal Fatir. Emangnya kamu gak tergiur apa dengan kemolekan tubuhnya. Cantik parasnya, kekasih mu saja tak sesempurna istri mu ini."
Sungguh hati dan pikiran Fatir tidak sinkron. Alias antara hati dan otaknya tidak sejalan. Ia menggeleng-geleng kepalanya serta menggercapkan matanya.
"Tidak. Jangan lancang Fatir, dia istri kamu hanya status dan hati kalian itu masih belum bertemu. Sadar kamu. Kamu cuma pria bayaran menjadi suaminya." Akhirnya Fatir turun, menapakkan kakinya ke lantai mau mandi dulu. Apa lagi entah kenapa merasa ada yang lengket tidak seperti biasanya. Buru-buru berlari ke kamar mandi.
Setelah itu, Fatir langsung pergi ke pasar tuk belanja barang jualannya.
Sekitar sebuah menjelang. Viona pun terbangun. Melihat ke tempat Fatir dah kosong, Viona menggeliat nikmat dan tangannya membersihkan matanya. Turun membukakan jendela, dari jauh terdengar suara adzan yang mengalun merdu.
Sebelum ke kamar mandi, Viona mengambil sapu tuk bersih-bersih di kamar Fatir dan bagian rumah juga dapur.
Usai menyapu ia biru buru-buru masuk kamar mandi, tadinya mau sekalian mandi namun tak berani. Adalagi tak ada Fatir. Langsung kembali ke kamar lantas mendapati secarik kertas yang berisi tulisan.
"Aku pulang dari pasar pukul Enam. Jangan pulang dulu, nanti aku antar kau pulang. Ku harap ketika membaca ini kau sudah bangun."
"Iya lah, sudah bangun! kalau belum bangun mana ada membaca surat ini. Aneh." Gumam Viona sambil menggeleng. Bibirnya mengukirkan senyuman.
"Oh iya bajuku." Viona hendak ke tempat jemuran. Namun baru menghadap pintu netra matanya mendapati bajunya tergantung dan kering di dinding.
"Mbak cantik mau sarapan?" tanya Sidar. Ketika melihat Viona membuat teh manis.
"Nggak ah, biasanya Mas mu jam berapa pulang dari pasar?" selidik Viona pada Sidar yang tengah membuat sarapan itu. Sementara Adam mencuci dan menyapu halaman.
"Sebentar lagi juga pulang Mbak cantik, kangen ya? Nggak lama kok," sahut Sidar sambil menunjuk jam dinding yang menggantung.
Viona membawa teh nya ke sofa ruang tengah. Menunggu Fatir pulang, Tidak lama kemudian terdengar suara motor Fatir pulang. Namun Fatir tak muncul juga, rupanya dia masuk jalan dapur membawa belanjaannya.
"Mau pulang sekarang?" suara Fatir mengagetkan Viona.
"Ha? iya. belum mandi nih, ntar keburu siang." Jawab Viona.
"Kenapa gak mandi dulu tadi?" Fatir berjalan mengambil helm baru.
"Takut. Nggak ada pintunya," sahut Viona pelan.
"Ya sudah. Pakai motor ya biar cepat sampai." Menatap ke arah Viona yang masih duduk.
"Emang kenapa kalau Akai mobil?" membalas tatapan Fatir yang langsung mengalihkan pandangan.
"Biar lebih cepat, nanti ke kantor juga saya antar. Itupun kalau gak keberatan," sambung Fatir.
"Em ... gak pa-pa mau jualan?" tanya Viona lagi. Mengingat Fatir mau siapkan dagangan.
__ADS_1
"Nggak pa-pa." Fatir dan Viona berjalan keluar. Fatir membawa motor baru untuk mengantar Viona pulang.
Kemudian Viona naik ke motor yang sudah Fatir hidupkan. Sebelumnya memakai helm, mau pegangan pada bahu Fatir namun ia ragu.
"Pegangan aja ke pinggang. Motornya mau kenceng nih." Fatir menoleh ke belakang.
Dengan ragu-ragu Viona melingkarkan tangan di pinggang Fatir. Satu lagi berpegang ke belakang motor. Motor pun melaju dengan sangat cepat.
Keduanya terdiam hanya suara motor saja yang menghiasi, suasana jalanan pun masih sepi. Dikarenakan masih pagi.
Selang beberapa waktu. Motor pun berhenti di depan gerbang yang langsung disambut scurity, Motor masuk. Viona bergegas masuk rumah dan langsung mandi, Fatir mengikuti Viona dari belakang. Bertemu dengan orang tua Viona di ruang tengah.
Melihat Viona sudah ke atas. "Semalam Vi nginep di mana?" selidik Bu Asri.
Fatir meraih tangan Bu Asri seraya menjawab. "Iya, Mam. Vi sama aku dari kemarin dan menginap di gubuk ku."
Detik kemudian. Fatir mencium tangan pak Rusadi yang selalu di tekuk wajahnya kalau bertemu dengan Fatir.
"Kok bisa dia menginap di tempat mu? emang bisa menampung Viona di sana? saya jadi penasaran dan ingin melihat tempat mu itu," ujar pak Rusadi dengan nada sinis.
Fatir menunduk. Percuma di balas juga omongan pak Rusadi memang selalu terdengar pedas di telinga Fatir.
"Eeh ... Vi mana? apa kalian bersama dari kemarin?" Bu Yani nyelonong menyeruak menggeser pak Rusadi.
"Apa kabar Oma? iya, Vi bersama saya." Fatir mencium punggung tangan Oma Yan penuh hormat.
"Nginep di mana?" selidik Oma Yani kembali.
"Em ... itu Oma di rumah butut saya." Fatir menggaruk tengkuknya tampak kebingungan.
"Ooh ... Oma kira di apartemennya Vi, ya sudah di mana saja yang penting nyaman. Sudah, sana susul Vi."
Fatir mengangguk lalu menaiki anak tangga. Menyusul Viona ke kamarnya, sekalian ia harus mengganti pakaiannya agar lebih rapi sebab mau mengantar Viona ke kantor. Takut bikin malu.
Di dalam kamar Vi sedang sibuk menyiapkan pakaian untuk Fatir, dan ia sendiri masih handukan di kepalanya. Kalau pakaian sih dah rapi.
"Pakai kemeja ini. Aku gak mau ya kamu bikin malu bila kelihatan rekan-rekan ku yang lain selain. Alisa. Oya, tolong dong kasih pesan pada Alisa kalau aku gak bisa jemput, eh gak usah. Biar aku sendiri saja." Viona tampak sibuk.
Tok!
Tok!
Tok!
Suara ketukan pintu dari luar. Viona melihat ke arah Fatir yang sedang mengganti pakaiannya ....
****
Jangan lupa dukung aku ya, tinggalkan jejak mu.
__ADS_1