Bukan Suami Harapan

Bukan Suami Harapan
Tuan putri


__ADS_3

"Nanti saja ah," sahut Viona. "Eh iya, aku pengen mandi tadi di Rumah sakit belum mandi. Kamu juga."


"Iya, sih. Yu mandi bareng?" bisik nya Fatir.


"Mam, Al. Vi mau mandi dulu ya titip baby," ucap Viona pada sang bunda dan Alisa yang lebih dekat padanya.


"Oke," sahut Alisa.


"Yu bro, tak tinggal. Mau mandi dulu." Fatir menepuk pundak Darma yang tengah duduk dan makan sajian yang banyak di meja. Sebab banyak tetangga juga yang datang untuk menjenguk baby Vivian.


"Iya, pantas bau." Darma melirik sekilas.


Fatir dan Viona berjalan pelan namun setelah di depan tangga. Tubuh Viona dibuat melayang oleh Fatir sebab dipangkunya dan dengan cepat tubuh Viona dibawanya ke atas menuju kamarnya.


Dengan cepat tangan Viona merangkul leher Fatir. "Langsung ke kamar mandi ya, Mas ...."


"Siap tuan putri. Apa sih yang nggak buat tuan putri?" gumamnya Fatir sambil menarik bibirnya menyeringai.


Sesuai permintaan, Viona langsung dibawa ke kamar mandi di dudukkan di tepi bathub. Lantas Fatir mengisi bathub dengan air hangat dan aroma terapi.


Tanpa nunggu waktu. Viona langsung membuka semua yang melekat di tubuhnya. Membuat Fatir beberapa kali menelan saliva nya yang tercekat di tenggorokan, melihat sang istri dengan polosnya masuk bathub. Rambut disanggul memperlihatkan leher yang jenjang dan mulus.


Viona sudah mulai memainkan air dan menggosok kan busa ke tangannya. Fatir mulai melucuti pakaiannya lalu masuk ke bathub yang sama.


Setelah Fatir masuk ke bathub. Viona membelakangi dan meminta Fatir untuk menggosok punggungnya. Tentu dengan senang hati Fatir mengindahkan permintaan sang istri.


Bukan cuma itu saja. Telapak tangannya meraba apapun yang ada, tubuh keduanya mendekat dan kini punggung Viona menempel di dada Fatir. Dagu Fatir diletakkan di dekat leher sebelah kanan Viona.

__ADS_1


Sehingga napasnya menyapu sekitar kulit leher Viona. Membuat keduanya merasakan suatu getaran yang menyeruak dalam tubuh keduanya.


Tangan Fatir menarik tubuh Viona agar semakin mendekat dan duduk di atas pangkuannya. Hidungnya mulai mengendus ke seluruh permukaan leher dan wajah Viona yang terjangkau. Lalu tangan Fatir bergerak mengusap puncak gunung Himalaya yang tinggi membuat pemiliknya memejamkan mata.


Fatir semakin leluasa bereaksi. Namun dia pun sadar gak akan melakukan lebih sepertinya biasanya. Fatir cukup sadar kalau sang istri baru saja lahiran.


Perlahan Fatir memutar sang istri supaya berhadapan dengan dirinya. Agar semakin leluasa dalam bertindak, wajah Fatir mendekati wajah Viona yang tampak pasrah itu. Akhirnya kecupan kecil dan mesra mendarat di pipi dan kening lam ... lalu berakhir di bibir Viona yang lembut. Fatir meraup dan membungkamnya, mereguk manisnya.


Jantung Viona berdebar sangat kencang, Dag dig dug bagai suara bedug. Napas saling bersahutan bergemuruh riuh. Viona saat ini terbakar dengan hasrat yang menggebu, rasa pengen dan was-was menjadi satu. Namun Viona yakin ini hanya sebatas cumbuan saja sebab Fatir tidak akan melakukan yang lebih.


Setelah sekian lama memadu kasih di bathub dan sudah merasa cukup puas, Fatir dan Viona membersihkan diri di bawah kucuran air shower.


Pas keluar dengan mengenakan kimono handuk dan Fatir cuman terlilit handuk di pinggang. Dalam kamar sudah ada beberapa orang mengantar baby Vivian yang rewel kehausan.


"Vi, sayang ... baby nya haus nih, laper dah mulai rewel nih." Kata Bu Asri setelah Viona mendekat.


"Lama amat mandinya, berapa bulan gak mandi Vi?" goda Alisa sambil mesem.


"Sayang ... kamu kaya gak ngerti saja, sekalian minum air lah. nyusuin dulu bapaknya ha ha ha ..." Darma tertawa lepas.


Fatir membuang wajahnya ke sembarang tempat, merasa malu dengan ucapan Darma. begitupun Viona tersipu menunduk malu.


"Mas, bikin orang malu deh." Protes Alisa mendelik pada sang suami. "Tak apa-apa Vi. Nanti juga akan terbiasa mengurus dua baby sekaligus."


"Duduknya menyandar ke bantal, Nduk ... sini tak Ibu tumpuk bantalnya," ucap Bu Afiah dengan cepat menumpuk bantal dan Viona meringsut mundur menyandarkan punggungnya ke tumpukan bantal.


"Makasih, Bu." Viona tersenyum simpul.

__ADS_1


"Oya, Vi. baby nya mau di sini apa mau di pisah? di kamar sebelah, biar di renov," tanya Bu Asri menatap putrinya.


"Ha? ndak ah. Biar di sini saja sama Vi, kenapa mesti dipisah?" Viona menggeleng.


"Nggak kali saja, mau di pisah dan menggunakan baby sitter," sambung sang bunda.


"Em, biarpun menggunakan baby sitter. Baby harus tidur dengan ku Mah ... boleh di bereskan di renov boleh, buat siang aja. Kalau malam wajib sama aku." Jelas Viona.


"Em ... baiklah, akan mama carikan tukang." Balas bu Asri kembali.


''Sayang, aku pergi ke kedai ya? sudah beberapa hari ini aku gak ke sana," ucap Fatir setelah berada di sana dengan penampilan rapi.


Viona menatap ke arah sang suami yang duduk di sampingnya. "Oke, hati-hati."


"Iya, sayang." Cuph! mengecup kening sang istri dengan mesra lalu berpamitan pada semua.


"Mas, Sya boleh ya nginep di sini?" Sya menatap ke arah Fatir yang sudah mulai melangkah.


Fatir menoleh pada Sya dan sang istri bergantian. "Boleh." Lalu Fatir kembali berjalan keluar dari kamar Viona menuruni anak tangga menuju pintu utama.


Sesaat kemudian Fatir pergi membawa mobil Viona sebab motornya di apartemen. Fatir membawa mobil Viona dengan nyetir sendiri tanpa supir.


Mobil melaju dengan sangat cepat dengan tujuan kedai tempatnya usaha. Mencari nafkah tanpa membebankan istrinya yang seorang CEO atau kaya raya yang punya harta banyak. Dia harus menunjukkan kalau dirinya mampu menghidupi keluarganya sendiri dengan hasil usaha sendiri ....


****


🤫 jangan lupa dukungannya.🙏

__ADS_1


__ADS_2