Bukan Suami Harapan

Bukan Suami Harapan
Baby Vivian


__ADS_3

Lalu bu Asri menerima telepon dari Su. Asisten Viona yang bilang akan ada banyak relasi dan staf yang akan datang ke rumah sakit untuk menjenguk Viona dan baby nya.


"Ada apa, Mah?" tanya Fatir menatap ke arah ibu mertua.


"Ini, akan ada relasi, staf mau menjenguk Vi dan baby nya." Balas ibu mertua.


"Nggak-gak. Di Rumah sakit gak menerima tamu kecuali kelurga. Dari pihak kantor nanti saja kalau sudah pulang dari Rumah sakit, mohon maaf yang sebesar-besarnya. Di Rumah sakit ini biarkan. Pasien bisa istirahat dengan sempurna." Jelas Fatir yang dapat dimengerti oleh ibu dan Oma nya.


Apalagi Fatir yang lebih berhak atas Viona, selagi itu bagus untuk kebaikan Viona dan baby nya apa salahnya? jadi hanya keluarga dekat yang bisa menjenguk Viona di Rumah sakit ini. Kalau orang lain nanti saja akan ada waktunya.


Siang hari, bu Afiah dan anak-anaknya datang ke rumah sakit untuk menjenguk Viona dan menyambut kehadiran sang cucu yang lucu.


"Assalamu'alaikum ..." Bu Afiah langsung masuk diikuti oleh Adam, Sidar dan Sya. Mereka membawa wajah yang penuh bahagia menyambut hangat keponakan yang baru lahir ini.


"Wa'alaikum salam ..." jawab semah serempak.


"Aduh ... besan sini, lihat cucu mu sangat lucu. Cantik menggemaskan." Oma menarik tangan Bu Afiah.


"Selamat ya, Mbak cantik, Mas?" Adam mengulurkan tangan pada Viona dan Fatir.


"Sama-sama, terima kasih Dam." lirih Viona dengan senyuman tipisnya, dia baru bangun tidur.


"Gimana kedai? ramai dan aman?" tanya Fatir tentang kedai yang mereka tinggalkan.


"Aman terkendali, Mas. Banyak yang nanyain mie ayam, aku bilang mie ayam libur dulu," sahut Sidar. Sebab Adam segera pergi sudah tidak sabar untuk bertemu keponakan.


"Hem," Fatir mengangguk.


Sidar menghampiri kembali pada baby Vivian. "Lucu sekali keponakan ku, hem ... baunya wangi khas baby."


"Wah, mirip aku. Coba lihat alisnya." Adam menunjuk alis baby Vivian.


"Mirip aku, Mas. Hidungnya," Sidar tak mau kalah.

__ADS_1


"Enak saja, wajahnya mirip Sya, manis." Pada akhirnya Sya ikut bersuara.


"Huus! kalian kenapa sih? malah ribut, berisik. Ini Rumah sakit," ucap Bu Afiah. Melerai keributan anak-anaknya.


"Ini, Bu. Mas Adam." Tunjuk Sidar pada Adam.


"Sidar, Bu." Adam balik nunjuk.


"Sudah, sudah ... nanti Mas mu marah." Bu Afiah menggendong baby Vivian yang terbangun. "Masya Allah ... semoga menjadi anak yang Solehah ya, Nak ..."


"Aamiin," semua yang ada di sana mengaminkan doa bu Afiah.


"Vi, Mas mau ke pihak administrasi dulu ya?" ucap Fatir pada Viona yang memandangi ke arah baby Vivian.


"Ha! oh dompet aku dibawa gak?" tanya Viona sambil menggerakkan netra nya mencari tas atau dompet miliknya.


"Nggak, yang dibawa dompet dan ponsel, Mas saja itupun mama yang bawakan." Balas Fatir.


"Nggak, aku aja sekiranya apa yang aku bisa tentunya akan aku lakukan dan bila mentok baru aku akan meminta tolong sama istri Mas ini." Fatir beranjak dari duduknya dan segera membawa langkah kakinya meninggalkan tempat tersebut.


Viona menatap punggung Fatir yang menurutnya keras kepala. Sebenarnya sih bukan keras kepala melainkan bentuk tanggung jawab sebagai suami yang harus dia emban.


Fatir membawa langkahnya ke pihak administrasi untuk mengurus semua biaya lahiran sang istri. Setelah terjadinya perbincangan, Fatir pun membayar semua biaya dan rawat inap nya sampai dua hari ke depan dia bayar dan lunas. Ia berdiri dan mengulas senyum, berjabat tangan lalu pergi.


"Ya Allah ... semoga baby Vivian membawa rejekinya yang berlimpah, uang yang ku pakai barusan uang modal sebagian. Semoga ada rejekinya lagi." Gumamnya dalam hati.


Fatir berjalan kembali ke ruangan istrinya, Namun sebelum ke sana Fatir belok mencari buat makan siang, perutnya sudah lapar dan cacing-cacing berdemo minta jatah.


Dengan waktu sebentar Fatir sudah membawakan buat makan siang untuknya dan keluarga. Di tengah perjalanan, bertemu dengan Alisa dan Darma yang sengaja datang untuk menjenguk Viona dan baby nya.


"Selamat ya Fatir. Akhirnya kamu menjadi seorang ayah juga, makin tua aja nih." Darma menepuk pundak Fatir yang sedang berjalan.


"Terima kasih, iya nih sudah tua. Ha ha ha ..." balas Fatir.

__ADS_1


Kemudian mereka lanjutkan perjalanannya menuju kamar inap Viona. Setibanya di sana Alisa langsung memeluk Viona.


"Akhirnya ... jadi ibu juga, gimana enak gak yang namanya lahiran?" Tanya Alisa pada Viona.


"Sayang, di mana-mana juga yang enak itu bikinnya. Bukan lahirannya gimana sih?" Sela Darma pada sang istri.


"Iih ..." mata Alisa mendelik pada suaminya. Kemudian bercengkrama lagi dengan Viona tentang melahirkan.


"Sumpah, sakit banget Al, semalam aku ke sini periksa. Kata dokter lahirannya masih lama, sekitar Minggu depan katanya, lah kita pulang kan! pas tadi pagi-pagi kontraksi hebat banget."


"Oya, kata dokter masih lama? emang belum ada pembukaan gitu semalam?" selidik Alisa.


"Lah, belum katanya, makanya di suruh pulang. Ya Kami pulang, tapi yang bikin aku cemas setengah mati! ada satu hal yang bikin kita benar-benar takut setelah aku kontraksi hebat--"


"Apa tuh? Alisa penasaran.


Viona melihat kanan dan kiri. Kebetulan orang-orang tengah mengerubungi baby Vivian persis gula dikerumuni semut. Lalu Viona melanjutkan ucapannya. "Eeh ... sepulang dari Rumah sakit, aku merasa pengen ... banget, akhirnya hubungan lah kita. Pas pagi aku gak kuat pengen brojol gitu."


"Ooh ... aku ngerti, jadi semalam kalian melakukan itu dulu? dan akhirnya lahiran cepat, hebat. dulu saja gak mau nikah! sekarang malah ketagihan ehem-ehem dasar, Vi. Vi," Alisa menggeleng.


"Makanya, gak kenal maka gak sayang. Coba dulu, rasain dulu! keenakan kan sekarang? he he he" sambung Alisa sambil tertawa.


"Settttt .... jangan kenceng-kenceng, malu." Viona menempelkan jarinya di bibir.


Lalu mereka makan bersama di sana, apalagi Fatir lapar benget sesekali menyuapi sang istri.


Suasana di sana. Begitu ramai dan menghangatkan, jauh dari kata sepi sunyi. Adam dan Sidar kedua adik Kaka itu ada aja bahan buat kekonyolan sehingga yang berada di situ tertawa.


Sore-sore. Semua pamit pulang. Bu Afiah dan semua adik Fatir pulang. Apalagi Adam dan Sidar berkewajiban mengelola kedai. Bu Asri besok mau ngantor dan Oma sudah tua bila harus lama-lama di rumah sakit. Lagian Viona suruh pulang juga ....


****


Apa kabar reader ku semuanya? semoga kabar baik ya Aamiin🤲

__ADS_1


__ADS_2