Bukan Suami Harapan

Bukan Suami Harapan
Anak kemarin sore


__ADS_3

Dengan ditemani supir, Viona pergi ke kantor tempat sang ayah bekerja. Tidak akan di perjalanan Mobil Viona sampai juga di area parkiran khusus staf Dan Viona bergegas memasuki kantor dengan sambutan ramah scurity dan karyawan. Dan dengan mudah pula Viona masuk menemui sang ayah.


"Kapan kamu pulang, Vi?" tanya sang ayah yang sedang membuka berkas yang ada di depannya.


Viona yang sudah duduk di hadapan sang ayah. Menatap tajam dan penuh kekecewaan. "Semalam."


"Oya, ada apa kamu menemui Papa di sini? tumben-tumbenan." Selidik sang ayah dengan santainya.


"Ada yang ingin aku bicarakan dengan mu Pah." Viona tampak mulai menelan saliva nya yang mulai tercekat di tenggorokan.


"Apa itu?" masih bertanya dengan gaya santainya.


Viona mulai mengeluarkan taringnya. Dan membuka ponselnya namun tak segera ia perlihatkan isinya pada sang ayah, melainkan berbicara dengan sangat serius. "Apa maksud papa mengkhianati mama?"


Pak Rusadi sontak menoleh dan merasa heran, spontan wajahnya berubah pucat dan gugup. "Ma-maksud kamu apa, Vi?"


"Kenapa Papa tega? khianati mama seorang wanita yang sudah menemani Papa puluhan tahun dan mengarahkan Papa dari nol sampai punya jabatan penting di perusahaan oma." Viona berujar dan menghakimi ayahnya yang ia rasa tak bersyukur.


"Ngomong itu yang jelas, Vi. siapa yang mengkhianati mama mu?" Rusadi bersikeras berpura-pura nggak ngerti dengan yang Viona katakan.


Viona menggeleng dan kemudian memperlihatkan semua bukti perselingkuhan sang ayah dengan wanita muda tersebut.


Reaksi pak Rusadi semakin gugup melihat itu semua dan tak bisa berkata-kata hanya netra mata yang bergerak-gerak melihat foto-foto dirinya dengan pasangan yang seharusnya tak terpublikasikan.


"Apa Papa masih mau pungkiri kalau itu bukan Papa? atau mau mengelak kalau itu cuma editan? kerjaan orang yang tak bertanggung jawab yang ingin menjatuhkan Papa?" tatap Viona kian tajam seiring menetesnya cairan bening dari sudut matanya yang tak dapat di bendung lagi.


"I-iya, itu ... bu-bukan Papa, itu mungkin kamu salah lihat, Vi." Pak Rusadi kekeh berusaha mengelak walau bukti sudah berada di tangan Viona.

__ADS_1


"Apa? aku salah lihat Pah? salah dari mananya? jelas-jelas ini Papa ku sendiri. Asli, aku tak menyangka kalau Papa yang seharusnya memberi contoh yang baik terhadap anak-anaknya, ternyata kelakuannya sangat menjijikan," ujar Viona sembari menggeleng.


"Bu-bukan, Vi--"


"Bukan apa Pah? semua bukti sudah ada di tangan ku. Bahkan akan terus datang bukti-bukti yang lain yang akan membuat Papa terpuruk dan keadaan berbalik, aku minta. Tinggalkan wanita itu sebelum mama tahu dan bertindak yang akan membuat Papa hancur," pinta Viona dengan tatapan sangat tajam dan menghunus jantung.


Tatapannya Viona yang penuh dengan intimidasi membuat Rusadi menciut. Terbayang kalau saja karirnya anjlok dan tidak punya apa-apa lagi sementara di usianya yang sekarang jelas akan sulit untuk mencari pekerjaan.


"Sebaiknya Papa itu kalau ada masalah, bicarakan baik-baik sama mama. Bukan seperti ini! apa sih kurangnya mama? karena faktor usia? Papa juga tidak muda lagi, sadar gak? Papa harus tahu kalau wanita itu cuma mengincar uang Papa saja, yang kalian kejar cuma napsu sesat--"


"Tapi!" Rusadi memotong perkataan Viona.


"Tapi apa, Pah? jangan bertindak bodoh hanya mengejar napsu semata. Pikirkan kalau ada Sebab dan akibat. Hidup hanya sementara Pah, jabatan. Harta yang Papa miliki sekarang juga hanya titipan, dengan sebab yang Papa bangun ini kemungkinan akan menghancurkan yang Papa miliki sekarang--"


"Kamu jangan mengajari ku mengajariku tentang kehidupan, Vi. Kamu hanya anak kemarin sore yang tahu arti kehidupan. Saya tahu dan tak perlu kamu peringati, saya tahu mana yang terbaik dan mana yang buruk. Urus saja suami mu yang pedagang mie ayam itu, suami yang tak layak kamu jadikan suami. Hanya jadi benalu untuk mu saja." Perkataan Rusadi merapat ke kehidupan pribadi Viona.


"Pah, yang aku bahas adalah masalah Papa. Bukan tentang aku, Pah sekarang Papa pikirkan permintaan ku yang tadi tanggalkan wanita itu. Kalau tak ingin kehilangan semuanya," ucapan Viona semakin mengintimidasi sang ayah.


Rusadi mencengkram dagu Viona, ia tidak suka diancam-ancam oleh anaknya sendiri. "Heh, kamu itu cuma anak saya. Jangan mengancam ku karena itu tak berarti apa-apa bagi Papa mu ini, mama mu sangat percaya padaku jadi jangan buang-buang energi untuk meracuni otak ibumu sebab itu percuma."


Mata Viona terbelalak dengan sempurna, terkejut mendapat perlakuan itu dari papanya. Seumur hidup baru kali ini Viona menemukan sikap arogan sang ayah dan bukan cuma pedas di bibir tapi juga kasar dengan perlakuan tangan.


Setelah Rusadi menghempaskan cengkeramannya. Viona berdiri dengan tatapan mata yang seakan menghunus jantung. "Seumur hidup, baru kali ini aku mendapat perlakuan kasar dari Papa. Setalah Papa punya wanita baru, hebat! hebat sekali ya? wanita batu itu mampu merubah Papa menjadi seorang ayah yang berperilaku buruk, buruk sekali." Tangan Viona bertepuk sejenak. Lalu dengan lelehan air mata yang berjatuhan di pipi Viona mengayunkan langkahnya meninggalkan ruang pak Rusadi.


Pak Rusadi menatap punggung anaknya, Viona seraya mencerna omongan Viona barusan. Kemudian tubuhnya terhempas ke sofa dengan memegangi dadanya yang terasa nyeri dan sesak.


****

__ADS_1


Di lain tempat dan waktu yang sama. Bu Asri mencari dan mendatangi wanita selingkuhan suaminya yang kalau di kontak bernama Malini.


Bu Asri berdiri di depan pintu sambil menekan tombol bell yang ada di samping kiri pintu.


Tidak lama menunggu pintu terbuka dan muncullah seorang wanita yang persis dengan yang ada di kontak suaminya. Keduanya saling tatap dengan tatapan yang sama-sama tajam.


Bu Asri menatap intens wanita muda tersebut yang memang tampak segar dan menawan. Dari ujung kaki sampai ujung kepala nyaris sempurna.


Tidak kalah intensnya dengan bu Asri, wanita itu juga memandangi bu Asri dengan pandangan mencibir. Wanita tua kulit sudah keriput walau masih tampak cantik dan tak kalah segar maklumlah rajin perawatan.


"Maaf, Malini ya?" pada akhirnya bu Asri mengeluarkan suara juga. Menunggu di tegur pun kayanya sia-sia sebab yang punya rumah cuma berdiri dan menatap tanpa interogasi.


"Iya saya, ada perlu apa ya?" ketus Malini. Netra matanya tak lepas dari Bu Asri yang nyelonong masuk mengamati isi rumah dan tanpa di suruh Bu Asri duduk di sofa ruang tamu.


"Rumahnya nyaman ya. Kenalkan saya Asri, istrinya Rusadi. Tentunya kau mengenalnya dengan baik." Tangan Bu Asri mengulur di hadapan Malini.


Namun Malini membiarkan begitu saja tanpa sambutan yang ramah. Ia memilih duduk di seberang Bu Asri. "Ada perlu apa kau datang ke sini?"


Asri tersenyum sinis. "Saya ... cuma ingin memastikan saja apa benar anda yang menggoda suami orang dan sudah berapa lama?" Bu Asri to the point tak ingin membuang waktu.


"Saya rasa itu hak saya, mau lama atau sebentar sebab itu urusan saya." Ketus Malini. Tatapannya begitu menghantam dada Asri. "Oh, ini istrinya! pantas suaminya berpaling. Sudah tua toh, mungkin sudah tidak menarik lagi ketika di ranjang kali ya? makanya berpaling sama wanita lain." Malini senyum mengejek.


Bu Asri menelan saliva nya. Tangan mengepal di balik kursi, mendengar ucapan Malini membuat emosinya tersulut namun ia berusaha tenang untuk menghadapinya. "Iya benar, saya sudah tua dan sudah tidak sedap di pandang mata--"


"Itu nyadar ya, Bu! bagus wajar dong kalau suami mu itu tergila-gila padaku." Tersenyum bangga ....


****

__ADS_1


Tidak bosan-bosannya aku meminta dukungan dari reader ku semua jangan lupa like, komen beserta vote nya juga. Makasih🙏


__ADS_2