Bukan Suami Harapan

Bukan Suami Harapan
Dapat cucu


__ADS_3

Oek, oek. Oek, Viona menumpahkan semua isi perutnya di sana sampai ke pahit-pahitnya keluar dari mulut Viona. Fatir memegangi bahunya dan sedikit memberi pijatan di ceruk lehernya.


"Mbak cantik kenapa, Mas?" tanya Adam yang ditimpali oleh Sidar. "Iya kenapa Mbak?"


Fatir segera memapah Viona ke rumah. "Masih kuat berjalan gak?"


"Masih!" sahut Viona sambil menyeret langkah kakinya. Namun belum lima langkah Fatir sudah menggendongnya.


Tubuh Viona melayang dan sontak berpegangan ke lehernya Fatir. "Aku bisa jalan sendiri kok."


"Gak pa-pa biar cepat. Kamu tampak lemah." Fatir membawa Viona dengan cepat ke rumahnya.


"Waw ... so swet ... ah bikin iri aku saja, Mas dan Mbak ini." Gumam Sidar.


"Iri-iri, aku aja yang labuh tua dari kamu belum punya pacar, kamu lagi. Aku duluan." Timpal Adam.


"Yeyy siapa juga yang mau pacaran? kerja, cari duit yang banyak, pacaran dipikirin," balas Sidar sambil melanjutkan niatnya ke tempat jualan.


Adam tak berkutik lagi setelah kalah telak dari sang adik. Bener juga masih mending kalau dapatnya wanita seperti Viona bukan cuma kaya, cantik dan baik hati. Kalau sebaliknya Yo ribet lah!


Setibanya di rumah, disambut oleh Bu Afiah dan Sya. Mereka penasaran melihat Viona di gendong dan tampak pucat.


"Dek, ambilkan air putih hangat ya?" pinta Fatir pada Sya.


"I-iya, Mas." Sya langsung ngeloyor ke belakang mengambil air minum yang sang kakak pinta.


Mereka duduk di ruang tengah. Bu Afiah sangat heran dengan kondisi sang mantu.


Sesaat kemudian Sya datang dengan segelas air putih anget dalam nampan. "Ini Mas?"


Dengan segera Fatir mengambil dan meminumkan ke mulut Viona. "Biar anget sayang."


Viona pun meneguk sebagian dan meminta Fatir tuk menyimpannya buat nanti. Rasa eneknya agak berkurang kalau minum air hangat.


Bu Afiah menatap intens pada sang mantu. "Nak Vi. Gak ke napa-napa kan, Ibu khawatir."


Fatir menarik bibirnya tersenyum sangat bahagia dihadapan sang ibunda. "Bu, kami ada kabar baik buat ibu--" Fatir menggantung perkataannya.

__ADS_1


"Berita apa?" Bu Afiah dihinggapi rasa penasaran dan menatap sangat lekat pada Fatir.


"Sebentar lagi ... Ibu akan mendapatkan ... cucu," sambung Fatir sambil menunjukkan wajah yang penuh bahagia.


"Ha?" mulut Bu Afiah menganga tak percaya. Kalau putranya akan memberikan cucu? padahal dulu ragu untuk menikah. "Masya Allah."


"Serius, Mas?" selidik Sya ikut bertanya. Menatap ke arah Fatir dan juga Viona.


Viona mengangguk dengan senyumnya meyakinkan. Dia suka dengan ekspresi Ibu dan adik iparnya itu.


"Hore ... aku mau punya ponakan, hore ..." Sya berjingkrak kegirangan menyambut kehamilan Viona. "Aku akan mengasuhnya, Mas, Mbak boleh ya? aku yang mengasuhnya?"


Viona tak berhenti tersenyum melihat Sya yang sangat antusias. "Ndak boleh! Sya harus sekolah. Karena Sya sudah sehat jadi harus seperti yang lain sekolah."


"Tapi, Mbak ... sepulang sekolah boleh kan?" Sya memohon pada Viona seraya melipat kedua tangan di depan dagunya.


"Em ... kalau sepulang sekolah atau dalam waktu senggang. Boleh dong." Jawab Viona seraya menggeleng pelan.


"Hore ... senengnya ..." ungkap Sya.


"Sudah-sudah. Sya kamu riweh, belum lahir juga dah ribut pengen ngasuh," sambung Fatir menatap sang adik perempuannya sembari menggoda.


"Iih, biarin! ponakan ku kok. Aku gak mau pas nanti waktunya aku di larang--"


"Ndak, kecuali Sya sibuk sekolah dengan pelajaran. Jangan dulu mengasuh nanti saja kalau Sya tidak sibuk. Oke?" Viona memotong kalimat dari Sya.


"Terima kasih Mbak cantik," ucap Sya lalu memeluk erat tubuh Viona.


"Ibu sangat-sangat bahagia, Nak ... selamat ya semoga kandungan nya sehat selamat nanti lahirannya, menjadi anak yang saleh dan salehah. Pokonya Ibu ndak tahu lagi harus berkata-kata apa. Saling ikut senang dan bahagianya hati Ibu." Bu Afiah berpindah duduk ke dekat Viona dan mengelus perut sang mantu yang masih rata namun terasa kalau berisi.


"Makasih ya, Bu?" Viona memeluk sang ibu mertua yang sangat kentara bahagianya. Sekilat terbayang sosok sang bundanya yang mungkin kini hatinya tengah terluka.


"Kalian pasti belum makan ya? Ibu siapkan ya?" kata Bu Afiah setelah pelukannya terlepas dari Viona.


Viona melirik ke arah Fatir yang duduk bersandar ke bahu sofa dengan matanya terpejam. "Ndak usah, Bu. Kami berdua sudah makan di kantin kantor sebelum perjalanan ke sini."


"Beneran sudah makan?" selidik Bu Afiah lalu mendudukkan kembali dirinya di tempat semula.

__ADS_1


"Sudah, Bu." Viona kembali meyakinkan.


"Ya sudah, istirahat di kamar gih. Kamu pasti capek ya Nduk." Bu Afiah menunjuk kamar Fatir.


"Iya, Vi pengen ikut istirahat dulu sebentar," kepala Viona mengangguk.


"Iya, Mbak cantik di luar cuaca begitu panas. Bikin gak nyaman deh," Sya melirik ke luar yang memang panas.


Viona beranjak dari duduknya mendekati pintu kamar Fatir. Namun sebelum melangkah masuk menoleh ke arah Fatir yang terpejam di sofa. Kemudian masuk memperhatikan setiap sudut raung itu yang beberapa lama tak ia kunjungi.


Perlahan Viona naik merangkak ke atas tempat tidur dan membaringkan tubuhnya di sana.


Memandangi langit-langit dengan tatapan kosong. Ketika baru terpejam dengan refleks membuka mata kembali sebab merasakan ada pergerakan di sampingnya. Yaitu Fatir berbaring di sampingnya dengan memeluk perut Viona.


"Lho, kapan datangnya sih?" gumam Viona sambil memandangi wajah Fatir langsung memejamkan mata.


"Aku pengen tidur sebentar. Sebentar ... saja, nanti balik lagi jualan." gumamnya Fatir.


Viona tak merespon, melainkan kembali memejamkan matanya yang tinggal 5 wat itu.


Selang beberapa waktu. Viona terbangun dengan pelan membuka matanya mengarah pada tempat yang tadi ada suaminya. Namun tempat itu kosong dan Fatir, mungkin sudah balik ke tempat jualan.


Viona menyanggul rambutnya, lalu mengambil handuk dari lemari Fatir. Niatnya mau mandi badan terasa panas alias gerah.


Langkahnya Viona terus berjalan ke arah pintu kamar mandi. Berpapasan dengan ibu mertua.


"Mau mandi, Nduk?" tanya Bu Afiah." Dan akan Ibu siapkan airnya.


"Ndak-ndak Bu, biar aku sendiri saja." Viona mengangguk hormat lalu segera masuk ke amar mandi dengan segera.


Blugh!


Pintu kamar ditutup dan dikuncinya dari dalam. Takutnya tengah asik-asiknya mandi. Eh ... eh ada yang masuk, kan jadi risih ....


****


Masih menunggu ya? semoga kabar baik buat kalian semua. Dan semoga dilancarkan di setiap urusannya. Aamiin🤲

__ADS_1


__ADS_2