
Keesokan harinya. Viona ke kantor dan memulai aktifitas seperti biasa berkutat dengan tumpukan berkas dan laptop yang sudah mulai menyala tanda siap digunakan. Kemudian Viona meminta laporan keuangan pada asisten pribadinya.
"Saya minta sekarang juga pembukuan itu dibawa ke meja saya." Tegas Viona dengan tatapan yang penuh wibawa.
"Baik, akan saya bawakan sekarang juga. Mohon sebentar menunggu," ucapnya sambil memutar badan dan mengundur diri keluar dari ruangan Viona.
Viona mengangguk dan menatap kepergian asisten itu, dalam pikirannya sudah mulai membayangkan kalau pembukuan pasti eror.
Beberapa sat kemudian asisten dan sekretarisnya datang membawa map ke hadapan Viona.
"Saya minta data pembukuan atau laporan keuangan dari setiap perusahan termasuk anak cabang. Secepatnya!" pinta Viona sambil menggeser kursi agar lebih dekat dengan mejanya.
Asisten dan sekertaris nya merasa heran. Kenapa secara tiba-tiba Bos nya minta laporan keuangan sampai dari semua perusahaan? tapi mereka tetap mengangguk walau ketidak mengertian mereka melonjak di dada masing-masing.
Viona langsung memeriksa dengan secara detail dan hasilnya mulai ketara bahwa banyak kejanggalan. Alias banyak laporan yang tidak tau mengalirnya itu uang ke mana? Berulang-ulang Viona periksa takutnya ada yang kelewat atau ia salah lihat.
Namun tetap hasilnya sama. Banyak pengembalian uang yang tidak jelas ke mana mengalirnya. Viona menggeleng dan memijat pelipisnya yang mendadak pening.
Kemudian datang pesan mail. Yang mengirimkan pesan semua data tentang laporan finansial yang Viona tunggu. Viona semakin menjelaskan perhitungan dan penglihatan pada laptop yang semakin lama semakin terlihat, kejanggalannya.
Hingga akhirnya terjawab sudah kemana uang itu mengalir dan siapa yang bertanggung jawab, ternyata itu sang ayah yang menjadi dalangnya.
"Huuh ..." Viona melepas napasnya dari mulut dan hidung.
...****...
Pak Rusadi sedang berada di showroom mobil bersama Malini memilih mobil yang Malini sukai.
"Aku mau yang warna putih itu, sayang. Boleh ya?" sambil bergelayut mesra di tangan pak Rusadi.
"Boleh, sayang ... apa sih yang tidak boleh buat kamu," ucap pak Rusadi sambil menoleh dagu Malini.
"Uuhh ... makasih? sayang ... aku makin sayang deh ma kamu." Memeluk dan mencium singkat pipi pak Rusadi.
"Heh ... kalau bukan demi mencapai maksudku." Batin Malini sambil memutar bola matanya, acuh.
"Saya ambil yang ini," ucap pak Rusadi pada pihak showroom.
"Oh itu. Toyota Corolla Altis harga Rp 440,9 juta. Baik, pembayarannya kes atau mau transfer?" tanya pihak showroom.
__ADS_1
"Transfer saja. sebutkan saja no rekeningnya."
"Em, mari kita transaksi di kantor saja." pihak showroom menhuk ruang kantor.
Pak Rusadi dan Malini mengekor dari belakang. Mata Malini diam-diam memperhatikan pria muda yang entah pegawai entah pemiliknya, yang jelas tampak muda dan tampan.
"Bahagianya kalau bisa menggaet tuh cowok. Sangat ganteng. Andai aku bisa mendekatinya, dari pada nih laki! dah tua walau masih ... kuat sih hi hi hi." Bermonolog sendiri dalam hati Malini.
Setelah melewati serangkaian transaksi, namun pengiriman gagal terus. Akhirnya Rusadi mengecek isi saldo. Namun apa yang dia lihat! isi saldo cuma 5,5 juta saja membuat Rusadi tercengang bukan main.
Ketika pak Rusadi tertegun, kelimpungan. Malini merengek.
"Coba rekening atau ATM yang kian sayang, masa gak dibayar?" rengek Malini dengan wajah cemasnya.
Pak Rusadi menurut dia menggunakan kartu lain dan yang terakhir menggunakan kartu kredit. Namun tetap hasilnya nihil dan kartu kredit sudah di blok. Rusadi tidak tau kalau istri dan juga putrinya sudah menutup semua akses keuangannya.
Pak Rusadi stres. Wajahnya pucat Paseh, tidak menyangka akan seperti ini. harus menanggung malu semalu-malunya, transaksi di kertas sudah terjadi dan tinggal bayar, namun bayar pake apa?
Beberapa pekerja di sana saling pandang. Lalu mereka menaikturunkan bahunya.
"Gimana Tuan? atau gimana kalau saya tagih ke perusahaan saja--"
"Tapi ini sudah selesai transaksi Tuan dan wajib di bayar. Kalau tidak, kami mengalami kerugian."
"Saya kensel aja dulu pembayarannya. Kalau bisa, atau saya batalkan saja," ungkap pak Rusadi pelan dan suaranya bergetar. Lalu melihat ke arah Malini.
Malini marah. "Apa! batal, tidak bisa, kamu sudah janji untuk memberikan ku mobil yang aku mau."
"Begini Tuan. Kalau di kensel pembayarannya berati sistim kredit dong dan harganya berkali lipat tentunya. Seandainya mau di batalkan oke, tapi anda tetap harus membayar sebagai ganti rugi. Dengan nominal yang sudah kamu tentukan," ujar pegawai di sana.
Pak Rusadi semakin panik dan tak habis pikir, mulai curiga pada sang istri dan putrinya dan mereka pasti yang mengatur semua agar dia kere mendadak.
Dalam hatinya Rusadi membara api kemarahan pada anak dan istrinya. Kemudian pak Rusadi beranjak pergi dari tempat tersebut tanpa permisi dan kata apapun.
Malini mengejar pak Rusadi sambil menggerutu. "Mas kok malah pergi sih? gimana nasib mobil ku? jangan main pergi saja."
"Apa kau tak lihat kalau akses keuangan ku terblokir? yang ada pun cum 5 juta. Pengertian dong jadi perempuan."
"Apa? apa kamu bilang?" Malini menghadang tepat di depan pak Rusadi. "Kamu bilang aku harus pengertian? eh tua bangka, kalau kamu mau sama wanita muda seperti saya harus berani mengeluarkan modal." Mendorong dada sebelah kiri Rosadi dengan telunjuknya.
__ADS_1
"Heh, perempuan matre, sudah berapa banyak uang yang sudah saya keluarkan buat kamu hah? gak nyadar lho." Rusadi dengan nada tinggi ia pun tersulut emosi, sudah jelas masala yang sekarang dihadapi. Ditambah lagi dengan Malini bikin dia tambah pusing.
"Heh, cowok tua! cuma laki-laki kere yang bilang wanita matre. Kau pikir saya cantik begini tanpa modal ha? semua dengan modal, kalau gak mau mengeluarkan kocek jangan cari wanita seperti saya Tuan ... cari saja wanita yang kucel dan lusuh," sergah Malini dengan percaya diri.
"Mau ikut pulang gak?" tanya Rusadi yang tak kalah telak dengan omongan Malini. Wanita cantik dan muda tak mau kalah.
"Tidak, saya mau belikan saya mobil sekarang juga! kalau tidak?"
"Kalau tidak apa? jangan bikin saya pusing bisa gak? saya harus mencari cara untuk mengembalikan semua akses saya. Ah." Rusadi membawa langkahnya mendekati mobil dan membuka pintu lalu masuk tanpa menghiraukan lagi Malini.
Mobil berlari meninggalkan Malini yang berdiri di pinggir jalan. Namun setelah jauh, Malini teriak memanggil Rusadi sambil melambaikan tangan. "Hi ... tunggu aku gimana?"
Namun mobil Rusadi tak pedulikan Malini yang sedikit mengejar.
Malini mengumpat. "Dasar pria tua, kere! kau pikir saya mau lagi sama kamu, ogah. Mending cari mangsa lain saja yang jelas-jelas lebih tajir, hah ... masih mending lah aku dah dapat rumah dan sudah atas nama ku juga ha ha ha ..." tertawa licik.
Rusadi terus melarikan mobilnya. menuju rumah, yang sebelumnya mendatangi BANK untuk menanyakan masalahnya. Pihak BANK membenarkan adanya pemblokkan beberapa rekening atas nama dirinya. Kebetulan suasana sudah sore dan Asri pasti sudah pulang dan berada di rumah.
Benar saja. Asri sudah bersantai di rumah dengan cara duduk bersantai ria depan kolam renang ditemani segelas air jus.
Brak!
"Apa maksud mu ha? memblok rekening ku? kau mau bikin saya jatuh miskin ha?" Rusadi menggerak meja dengan ada tinggi.
Mulanya Bu Asri terkejut dan hampir saja jantungan, ia melonjak naik. "Kenapa? apa Papa butuh uang buat selingkuhan kamu itu? Hem ... iya?"
Melihat bu Asri tampak tenang malah bikin pak Rusadi makin naik darah. "Kalau iya kenapa? kamu iri dengan dia ha? sehingga kamu memblok kartu ku dan menyisakan nya tak seberapa? kartu kredit juga di blok apa-apaan kamu?"
Bu Asri terdiam sejenak. Dia merasa tak memblok kartu kredit, cuma menarik uangnya saja hingga tersisa 5 juta. Apa Viona sudah tahu? Bu Asri menatap tajam. "Soal kartu kredit aku ndak tahu." Sambil menyesap minuman jus nya.
Dukh!
Prek!
Gelas minuman bu Asri yang menempel di mulut, dihempas tangan Rusadi sampai jatuh ke lantai dan bukan hanya tumpah namun juga pecah ....
****
Terima kasih, sudah selalu menunggu ku untuk ups. 🙏
__ADS_1