Bukan Suami Harapan

Bukan Suami Harapan
Memberi kabar baik


__ADS_3

"Dasar penipu, tega kamu ya, Mas menipu Akau dan mengkhianati ku, siapa dia siapa? bang-sat, kamu tega mencampakkan aku begitu saja setelah kamu dapat semuanya dari ku!" teriak Rumi dan dia terus menyerang dan mencekik leher Dewo yang tubuhnya lebih tinggi. Sehingga dengan mudahnya Dewo mendorong tubuh Rumi sampai tersungkur ke belakang.


Rumi segera bangkit dan lagi-lagi menyerang Dewo yang sedang mengenakan celana. Sementara wanita itu sembunyi di balik selimut.


Rumi menyerang dengan membabi buta mencakar dan menendang tubuh Dewo. Dewo yang jadi tersulut emosi berbalik menyerang dan menampar r


Rumi sehingga sontak Rumi memegang pipinya yang panas kena tampar telapak tangan Dewo, tertegun.


"Kamu yang kurang ajar masuk ke kamar orang tanpa permisi, mengganggu orang saja. Ingat ya? mulai saat ini kita putus." sergah Dewo sambil mendorong bahu Rumi agar keluar.


"Mas, aku tidak peduli kamu putuskan. Tapi aku pinta kembalikan uang ku semuanya! kau sudah menipu ku mentah-mentah, kamu bilang uang itu buat modal usaha. nyatanya cuma omong kosong. Balikan uang ku," teriak Rumi.


Mendengar ada keributan di kamar tersebut, membuat datangnya dua scurity untuk mengamankan.


"Seret wanita gila itu Pak, mengganggu saja." perintah Dewo dengan mengibaskan tangan ke luar.


"Apa, aku gila? kamu yang gila. Bukan aku!" pekik Rumi sambil menolak di seret keluar.


Blugh!


Dewo menutup dan mengunci pintu, lalu kembali meneruskan acaranya yang tertunda tadi.


Rumi terus berontak dan mengumpat scurity itu. Rumi begitu frustasi dengan nasibnya saat ini. Dia kecewa dan terluka ditambah rasa malu yang teramat sangat. Tidak tahu harus beralasan apa pada keluarganya.


Rumi menangis sejadi-jadinya di dalam mobil terdengar begitu pilu, air mata tumpah ruah membasahi wajahnya yang kusut, kemudian menjalankan mobilnya menyusuri jalanan yang sepi di bawah kolong langit yang gelap gulita tanpa cahaya bintang ataupun bulan. Hanya berhias lampu-lampu jalan yang berjejer di tepian.


****


Sore ini Viona sudah kembali dari Rumah sakit dan kini dia sudah berada di unit apartemennya bersama sang suami yang masih setia menemaninya.

__ADS_1


Viona berdiri di balkon menikmati sunset di sore ini yang tampak indah. Pandangannya tertuju pada sunset yang berada di cakrawala, kedua tangannya memegangi pagar balkon. Angin yang semilir menyapu tubuhnya dan menerbangkan helaian rambut yang ia biarkan tergerai.


"Sedang apa sayang?" sebuah pertanyaan yang keluar dari mulut suaminya dari belakang dan tangannya menyelinap memeluk perutnya.


"Sedang mencuci." Jawab Viona sekenanya.


"Ha ha ha ... mana ada cucian sayang," dagu Fatir ditempelkan ke pundak samping Viona.


"Makanya! kalau nanya itu yang wajar aja dong. Gak mungkin kan aku mencuci tanpa air dan cucian?" sahut Viona, memindahkan tangannya memegang tangan Fatir yang melingkar di perutnya itu.


"Hem, istriku lagi sensi. Nggak bisa diajak basa-basi." Cuph! mengecup kecil tengkuk Viona.


Menjadikan Viona merinding seketika dan merindingnya bukan cuma di tempat itu saja melainkan menjalar ke sekujur tubuhnya. Membuat Viona terdiam merasakan tubuhnya yang meremang.


Tidak cuma sampai situ aja yang Fatir lakukan, dia pun menelusuri leher Viona dengan gerakan bibirnya yang lembut. Viona mendongak seakan memberi jalan buat yang lewat, tangan Fatir juga tak ayal bergerilya menyusup ke dalam piyama Viona dan berhenti di buah melon dan mengusapnya dengan sangat halus.


"Ah, jangan di sini, Mas malu kalau di lihat orang." Lirihnya Viona depan telinga Fatir yang nyaris tak terdengar.


"Boleh, kan?" suara Fatir sangat pelan berbaur dengan suara napasnya yang terdengar berat. Rupanya hasratnya mulai naik dan tanpa menunggu persetujuan, jemarinya langsung eksekusi kancing piyama yang Viona kenakan.


Sehingga isinya menyembul keluar dan tampak indah. Dengan pelan mengusap-ngusap nya bergantian. Sementara bibirnya menghujani pipi, kening dan berakhir di benda kenyal dan tipis milik Viona. Di s**** nya lembut dan l****** kecil terus menghiasi geraknya.


Kedua tangan Viona melingkar di pundak Fatir dan sesekali meremas rambutnya penuh kasih sayang. Wajah Fatir bergerak turun ke leher sang istri yang jenjang tersebut serta membuat tanda kepemilikan di sana sehingga sang empu menggeliat serta merasakan tubuhnya merinding dan bergetar hebat.


Setelah puas menari-nari di bawah wajah, kini wajah Fatir semakin turun lalu berhenti di depan milik Viona yang begitu indah. Netra matanya menatap dua buah segar tersebut dengan tatapan gemas, telapak tangannya lagi-lagi bermain m*****s keduanya bergantian lanjut ia *******p seperti baby sedang meminum asi.


Tangan Viona meremas rambut sang suami dan menarik menenggelamkan diantara kedua milik nya itu. Menenggelamkan puncak miliknya di mulut Fatir yang tak kalah sangat menikmati aktifitasnya kali ini. Jantung Viona berdegup lebih kencang, Jiwanya melayang terbang bersama kehangatan yang Fatir berikan.


Setelah merasa cukup bermain-main di sana Fatir kembali ke atas dengan secara lembut menaikan kembali mood Viona yang mulai turun. Beberapa saat kemudian setelah semuanya polos, mereka melakukan hubungan yang seharusnya. Pergulatan yang panas di dalam selimut bermotif bunga mawar tanda cinta dan kasih sayang.

__ADS_1


Suara Fatir dan Viona bersahutan dan menghiasi hening nya ruang kamar tersebut. "Ooh ... oh ...."


Sinar sunset yang masuk ke dalam kamar tersebut. Menjadi saksi bahwa di kamar itu ada sepasang pasutri sedang memadu kasih menumpahkan segala rasa, rasa rindu dan rasa cinta dan rasa kasih yang semakin tumbuh di benak mereka berdua.


Fatir terus menjalankan aksinya naik turun tangga. Sambil menengok calon baby nya, keduanya saling berbaur keringat yang bercucuran menghiasi aktifitas yang mereka lakukan saat ini.


"Uuh ... ooh ... aku mencintaimu." lenguhan panjang dari Fatir yang merasakan tumpahnya sesuatu atau semua benih dari dalam dirinya. Tubuhnya tumbang akibat kelelahan. Jatuh ke tubuh Viona yang akhirnya berbaring di sisi Viona. Viona meringsut ke dada Fatir sambil menjepit selimut di ketiaknya.


Hening!


Hanya suara napas yang masih bersahutan dan belum terkontrol dengan baik, tangan Fatir memeluk bahu Viona dan mengusapnya lembut. Wajah Viona menyusup di dada Fatir yang sedikit berbulu itu.


Sesaat kemudian keduanya membersihkan diri sama-sama di bathtub yang sama dan air shower yang sama pula. Saling menggosokkan sabun satu sama lain.


Walau kadang merasa risih dan geli, namun mereka tetap melakukannya. Membubuhkan shampo juga.


Kini keduanya berada di kamar dengan penampilan rapi dan bersih. Viona memungut baju yang berceceran di lantai kemudian di serahkan pada Fatir di bawanya ke kamar mandi dan langsung direndam.


Sesaat Fatir kembali. "Sayang. Besok ke rumah ibu ya? kita belum memberi kabar baik ini pada ibu dan yang lain, sekalian aku mau jualan! ndak enak aku libur terus."


Viona menatap ke arah sang suami dengan tatapan teduh. "Aku harus ngantor besok, sore aja aku ke sana nyusul ya?"


Jari Fatir menyelipkan anak rambut Viona ke belakang kupingnya. "Bukankah harus istirahat dulu? jangan kecapean sayang ... kamu baru pulang dari Rumah Sakit lho!"


Viona memeluk tubuh Fatir dan menempelkan pipinya di dada Fatir. "Mas, sayang ... aku kuat kok, jangan khawatir. Aku bisa jaga diri dan aku tahu mana yang baik dan mana yang tidak baik."


Fatir membalas pelukan sang istri dan mengeratkan pelukannya. Cuph! mengecup pucuk kepalanya sangat mesra ....


****

__ADS_1


Ayo, siapa yang sudah membaca? jangan lupa meninggalkan jejaknya ya 🙏


__ADS_2