Bukan Suami Harapan

Bukan Suami Harapan
Tante berondong


__ADS_3

"Anda bukan siapa-siapa dan tidak tahu apa-apa, jadi jangan berasumsi yang macam-macam tentang saya!" Viona menatap tajam ke arah Dewo.


"Ha ha ha ... saya tidak menyangka kalau Viona Nurulita menjadi tante-tante berondong," ucap Dewo penuh penekanan dengan menyebut nama lengkap Viona.


Viona tambah kesal. "Saya tak ada waktu untuk melayani mu." Langkahnya bersiap meninggalkan Dewo. Namun lagi-lagi diraih tangan Dewo dan langsung Viona tepis.


"Dengar cantik, kalau kamu butuh belaian. Datang padaku, dan kamu gak perlu belanjakan apa-apa seperti pada mereka! bahkan kamu bisa mendapatkan kepuasan dariku." Suaranya pelan.


Viona tambah marah, tangannya dah gatal ingin menampar mulut pria yang ada di hadapannya itu. Namun ia masih berusaha sabar, Menghela napasnya seraya berkata. "Terserah kata anda. Saya gak perduli."


"Datanglah padaku, yang akan menyambut hangat dirimu cantik." Bisik nya lagi. Dengan mata melihat sekitar yang ramai. "Atau mungkin sekarang juga boleh." Menatap Viona dengan pandangan nakal.


Semakin lama Viona semakin geli dan menyesakkan dada. Viona berjalan meninggalkan Dewo walau Dewo berusaha menghalangi.


"Mbak tidak apa-apa, kan?" tanya Sidar dan Adam tampak khawatir.


"Tidak," Viona singkat. Kemudian berjalan diikuti oleh kedua pemuda itu.


Mereka bertiga memasuki mobi Viona. Waktu pun sudah mulai senja, menyambut sang malam yang akan menggantikan siang.


"Yang tadi itu siapa Mbak? pacar Mbak cantik ya?" tanya Sidar melihat ke arah Viona yang tengah fokus menyetir.


Viona tak lantas menjawab, sementara Adam dan Sidar menunggu jawaban dengan rasa penasaran yang lumayan tinggi. Ingin tahu siapa laki-laki itu.


"Bukan siapa-siapa, cuma orang yang iseng aja." Jawab Viona sambil tetap Fokus ke depan.


Tiba di pangkalan, pas Maghrib dan Fatir sedang ke masjid sebelah. Dan dia pesan kalau Viona jangan pulang dulu, nanti saja ia antar.


"Mbak, mendingan ke rumah yu? aku buatkan teh hangat." Ajak Sidar.


"Iya, Mbak. Kebetulan jualan pun dah habis, kami mau beres-beres," sambung Adam.


"Em ... baiklah." Viona turun dari mobil dan mencabut kunci. Kemudian bawakan paper bag, sebab kedua pemuda itu membawa barang yang mesti di cuci di rumah.


Ini kali kedua, Viona masuk rumah Fatir. Adam langsung masuk dapur dan menanak nasi. Sidar membuatkan teh hangat seperti yang dia bilang buat Viona.


Viona duduk di lantai, kebetulan gak ada kursi di sana. Netra mata Viona terus bergerak mengamati setiap sudut rumah tersebut.


Sidar muncul dengan wajah yang segar. Sepertinya habis salat. "Beginilah temat tinggal kami Mbak cantik."


"Oh, saya mau ikut ke toilet sebentar?" Viona berdiri dan menjinjing tas nya.


"Boleh, Mbak silakan."


Viona masuk ke toilet yang harus melewati dulu dapur, karena cuma ada satu kamar mandi di rumah itu. "Uuh ... gerah. Mana belum mandi."


Kebetulan tadi dari kantor langsung menjemput ke tempat Fatir, tak pulang dulu apalagi ganti baju, riel baju kantor yang ia kenakan saat ini. Ia berdiri di dapur, melihat recucer yang nyala. Mendekati meja, kosong belum ada lauknya.

__ADS_1


Adam masuk dengan mengenakan sarung. "Sedang apa Mbak di sana?"


"Em ... itu. Dari toilet, oya lagi masak nasi ya?"


"Iya, Mbak. Belum ngantar buat makan Ibu," sahut Adam.


"Kok, belum ada lauk nya?" Viona menatap ke arah Adam.


"Mas, Fatir sekarang belanja."


"Oh, em ... buat Ibu, biar Mbak aja pesankan, nanti langsung diantar ke sana."


"Tapi, Mbak. Biar nanti aja Adam atau Sidar yang ngantar. Jangan repot-repot," tolak Adam merasa gak enak hati terlalu merepotkan Viona.


"Nggak, pa-pa, sudah. Jadi kalian malam ini gak usah nganterin makanan buat ibu. Oke?"


"Makasih, Mbak!" Adam menunduk malu.


Fatir yang sudah berada di dekat pintu dapur mendengarkan percakapan Viona dan Adam, adiknya. Kemudian masuk menyimpan kantong kresek isi lauk di meja.


Viona melirik Fatir. Lalu berjalan melintasi Fatir kembali duduk bersimpuh di ruang tengah, nyeruput teh hangat.


Fatir pun menyusul dan duduk di hadapan Viona. "Saya kira kamu masih di mobil."


"Mereka mengajak ku ke sini." Jawab Viona. Tanpa menoleh dan memilih memainkan ponselnya.


Fatir melihat sang adik, lalu ke arah Viona yang sama menoleh. "Siapa? laki-laki yang waktu itu!"


"Iya, dia," balas Viona.


"Anda tidak apa-apa?" tanya Fatir kembali.


"Tidak,"


"Itu, Mas. Memaksa memegang tangan Mbak cantik," ucap Sidar lagi.


Manik mata Fatir bergerak dari Sidar ke tangan Viona. Entah kenapa ia merasa kesal dan tidak suka mendengarnya cerita Sidar barusan.


Hening!


Setelah tak ada pembicaraan diantara keduanya. Fatir membuka sarung dan melipatnya. "Mau pulang sekarang?"


"Ha? iya, tapi sendiri aja. Gak perlu merepotkan," Viona sedikit mengangkat wajahnya.


"Kalau mau sendiri, buat apa saya suruh tunggu?" jelas Fatir.


Viona tak menjawab lagi, selain berdiri dan meraih tas nya. Mengikuti langkah Fatir yang lebih dulu keluar, namun baru saja mau mengenakan sendal. Hujan turun, walau tak begitu deras tapi lumayan akan basah bila menembusnya.

__ADS_1


Fatir kembali mengambil payung. "Payungnya cuma ada satu bukan?"


"Iya, Mas. Satu lagi rusak." Suara Sidar.


Viona hanya melirik sekilas. Lalu manik matanya tertuju pada air hujan yang membasahi bumi. Setelah Fatir kembali dengan payung di tangan. Viona memakai sepatunya yang Fatir sodorkan. "Makasih!"


Fatir mengangguk. Viona pun turun dari teras, berjalan di bawah air hujan. Fatir berjalan di samping Viona memayunginya.


Keduanya terlihat kaku, jalan berdempetan pun gak berani memegang. Seperti Fatir dia begitu kikuk, padahal bisa aja ia gandeng pinggangnya atau bahunya. Toh namanya juga sepayung berdua, namun tidak mereka lakukan.


Kedua tangan Viona menyilang di dada. Dan sedikit menggigil, ketika tiba dekat mobil. Tiba-tiba ada sebuah motor melewati air kubangan pinggir jalan dan menyemburkan airnya, sehingga mengotori kaki jenjang dan mulus Viona.


Begitupun celana panjang Fatir tak luput dari percikan air itu.


"Iih ..." ucap Viona sembari menghentakkan kakinya ke tanah.


Fatir bengong sesaat. Melihat kaki Viona yang kotor, lalu Fatir membukakan Pintu.


Viona pun masuk dengan hati kesal. Mengambil tisu dan membersihkan kakinya sambil menggerutu. "Ada-ada saja. Gatal lagi." mengusapkan minyak angin ke kakinya.


Di luar hujannya semakin deras. Netra mata Fatir melihat ke luar kilatan-kilatan merah pun mewarnai, bagaikan percikan api yang menyambar-nyambar.


"Mengerikan!" gumamnya Viona.


Tanpa membuang waktu. Fatir melajukan mobil Viona menyeruak menerjang hujan. Jalanan terlihat sepi menambah Fatir bersemangat untuk melaju dengan cepat, melesat bak anak panah yang terlepas dari busurnya.


"Oya, makasih sudah membelikan ponsel pada adik-adik ku?" suara Fatir diantara derasnya hujan.


Viona yang anteng melihat jendela dengan tatapan kosong. Bergerak melihat ke arah Fatir. "Sama-sama."


Selang beberapa waktu, mobil pun tiba di depan gerbang. Menunggu pintu gerbang terbuka. Fatir menoleh ke arah Viona yang tampak melamun sambil memeluk dadanya.


"Nggak bosan setiap hari bertemu? tiap malam nganterin, pulangnya ngojek! Sebentar lagi kalian menikah bukan?" suara pak Rusadi mengagetkan keduanya yang hendak turun dari mobil.


"Papah!" Viona menatap tak suka dengan ucapan sang ayah.


"Maaf, Om. Saya cuma mengantar saja, gak enak bila membiarkan putri Om pulang sendiri," sahut Fatir menunduk.


"Apa salahnya kalian itu menahan diri, toh bentar lagi juga menikah!" ketus pak Rusadi.


"Pah ... kami bukan anak kecil, kami juga punya batasan. Kami tidak melakukan apapun kok." Bela Viona, menatap sang ayah.


"Setiap hari pulang malam, diantar laki-laki pula. Tahan diri napa?" ucap pak Rusadi kembali dengan nada marah ....


****


Hi ... semoga suka ya dengan cerita Viona dan Fatir ini🙏 jangan lupa like dan Komennya.

__ADS_1


__ADS_2