
"Ini juga pelan, Mas." Kata Viona merasa tak tega melihatnya. "Yang mana lagi yang sakitnya?" pertanyaan Viona hanya dibalas dengan jarinya yang menunjukan ke arah Dada.
Mata Viona bergerak turun melihat yang Fatir tunjukan. Kemudian Viona membuka kancing baju Fatir hingga bertelanjang dada, tepat di dada Fatir ada luka tonjokan membuat Viona merasa miris dan segera mengompres nya dengan batu es.
Setelah mengolesinya dengan salep, Viona membersihkan dirinya di kamar mandi. Lima belas menit kemudian Viona keluar dari kamar mandi namun tidak menemukan Fatir yang tadi berbaring di atas kasur.
Namun ia berada dekat pintu mendorong meja makanan yang kebetulan mereka belum sempat makan malam. Viona yang mengenakan lingerie berwarna biru tua membuat mata Fatir tak mau berkedip.
Viona meneliti penampilannya kali aja ada yang salah mengingat kedua mata Fatir begitu intens menatap kearah dirinya. Tapi biasa aja lalu mengayunkan langkah demi langkahnya mendekati sofa dimana Fatir berada. Menebar bau wangi tubuhnya yang menggoda.
Tangan Viona bergerak tepat di depan wajah Fatir yang tak bergeming menatapnya. "Mas, kenapa sih? aneh bukan kok gitu pandangannya?"
Suara Viona seketika membuyarkan fantasinya yang terlalu jauh. "Ha, apa?"
"Ngelamun, makan?" ucap Viona sambil menunjuk ke arah makanan di meja.
"Em ... makannya cepat ya?" jawabnya sambil menggerakkan mata ke arah meja yang Viona tunjuk dengan dagunya.
"Cepat? kenapa?" Viona heran.
"Iya ... biar bisa cepat itu!"
"Itu apa?" Viona semakin dibuat heran.
"Itu, sudah ndak tahan nih ...."
Viona mengernyitkan keningnya. "Ndak tahan apaan sih? ndak jelas banget deh!"
"Sayang ... masa ndak ngerti sih. Ini." Munjul sesuatu yang bangun." Kenapa sih? perempuan selalu bikin lawan jenisnya penasaran dan tak tahan?"
Viona mesem setelah melirik yang Fatir tunjuk. "Masih mending lah membuat lawan jenis tergoda, dari pada sesama jenis, hayo gimana tuh?" sambil menjulurkan lidahnya.
"Sudah. Ndak usah makan aja!" merangkul pinggang sang istri agar lebih merapat dengan dirinya.
"Ndak-ndak," tangan Viona menjauhkan tangan Fatir dari bagian tubuhnya. "Aku lapar, kamu juga harus makan. Nanti kamu sakit." Mengambil piring dari meja yang berisi beberapa menu.
"Argh ... ndak tahan nih!" matanya enggan berpaling dari salah satu yang Viona punya.
"Lihat, setelah menikah dengan ku tubuhmu lebih berisi tampak sehat lagi," sambung Viona sambil memulai makannya yang diawali dengan membaca doa. Ia tampak lebih santai tidak seperti Fatir yang mulai merasa gusar. Gelisah pengen segera latihan menembak.
"Emangnya aku pernah menikah sama yang lain? kan nggak. Perasaan dulu juga ndak kurus-kurus amat nih badan. Makanya istri aku mau." Fatir memainkan mata genitnya.
"Ih, siapa bilang. Terpaksa!" ucap Viona sok ketus.
"Iya dulu, tapi sekarang malah bucin banget--"
"Kamu juga, lebih malah. Ayo ... bener kan?" Viona tak mau kalah.
__ADS_1
Fatir dengan cepat menghabiskan makan malamnya yang diakhiri dengan segelas air minum. Ketika Viona selesai, Fatir langsung mendekat sehingga tak ada jarak lagi diantara mereka berdua sehingga pun nyamuk tak bisa melewati diantara keduanya.
Tangan Fatir langsung beraksi merangkul dan membawa Viona ke atas tempat tidur yang ukuran king size, luas untuk ukuran mereka berdua. Viona menggelinjang dari kungkungan suaminya lantas duduk bersandar.
Fatir merasa heran dan sedikit kecewa. "Kenapa?" ikut duduk di samping sang istri dan menggenggam tangan sang istri.
"Ndak, kamu kan masih sakit." Menyentuh luka di pelipis dan sudut bibirnya Fatir.
Tangan Fatir membawa tangan Viona dan lantas mencium punggungnya. "Yang sakit itu kan di situ. Kalau di sini kan nggak.'' Menunjuk miliknya yang sudah tegang.
"Hem," gumam Viona seraya memajukan bibirnya ke depan.
"Ayo dong sayang?" tajuk Fatir.
"Apaan sih?" Viona malah mengambil dan membuka laptop nya.
"Ayo!" rajuk Fatir dengan wajah yang memelas.
"Aku, ada tugas sebentar," ucap Viona.
Napas Fatir mulai memburu, bahu dan pipi Viona dihujani dengan ciuman kecil. Hasratnya sudah naik ke ubun-ubun.
"Iih ..." desis Fatir kembali meraih tangan Viona ke dalam pangkuannya. "Sayang, lihat aku lah. Kenapa sih? cewek itu suka menggantung sesuatu yang--"
"Bukannya kebalikannya ya?" menarik tangan dari genggaman Fatir.
Viona yang fokus dengan layar laptop, akhirnya menoleh. "Siapa yang menggoda mu? aku tidak menggoda kok."
"Itu, apa namanya kalau bukan menggoda pakaian kurang bahan gitu?" menunjuk tonjolan di tubuh Viona dengan dagunya.
Viona menggerakkan netra mata ke arah bagian tubuhnya sendiri yang mengenakan lingerie. Tebal sih cuma ... gak memakai dalaman membuat dengan jelas menyembul ke depan. Kemudian matanya bergerak melihat ke arah Fatir.
"Gimana bener kan? masih ndak mau ngaku juga? kaya gitu ndak menggoda!" sinis Fatir.
Bibir Viona menunjukan senyumnya. Senyum simpul dan menyentuh rahang Fatir yang berbulu halus.
"Ah." Fatir berbaring memunggungi Viona dengan hati kecewa. Kecewa sebab Viona tidak menghiraukannya.
Viona menutup laptop dan mematikan lampu menjadi temaram lalu berbaring di dekat Fatir dan memeluk dari belakang.
"Jangan meluk ah, gerah." Tangan Fatir menjauhkan tangan Viona yang memeluk nya.
Viona terdiam sesaat lalu kembali memeluk Fatir dan mengusap dada Fatir yang tanpa kaos. Merapatkan tubuhnya dengan punggung Fatir.
Kini Fatir tak menolak lagi. Dia terdiam dengan sentuhan dari Viona yang mencoba merayu dengan gerakan halus. Ingin rasanya berbalik dan membalas pelukannya. Namun entah kenapa hati Fatir terlalu kesal, semangatnya terpatahkan dengan suka cuek Viona.
Viona memeluk erat dan menciumi bahu dan leher belakang Fatir yang tak bergeming hanya napasnya terdengar berat. Viona menarik bahu Fatir sehingga berbalik menghadap langit-langit dan Viona langsung nemplok di atas dada Fatir yang pura-pura terpejam. "Kenapa sih marah begitu? ih ... ndak asik nih."
__ADS_1
"Sayang, jangan pura-pura tidur napa? katanya tadi mau, sekarang malah pura-pura tidur." Suara Viona merajuk.
"Ngantuk," gumamnya Fatir tanpa membuka matanya. Padahal gak ngantuk sih, kesal aja.
"Em ... bohong! yu," sembari memberi kecupan kecil di bibir Fatir.
Fatir tetap terpejam pura-pura tak merasakan apa-apa, mengesampingkan keinginannya dengan rasa marah. "Ah. Sakit dada ku." Sedikit menggeser posisi Viona.
Viona menjauh dengan wajah cemberut. Matanya menatap lekat wajah sang suami yang tak bergeming memejamkan matanya, ia menggigit bibir bawahnya sambil mencari akal supaya Fatir gak marah lagi. Hatinya jadi sedih melihat Fatir berlaga marah padanya.
"Ya sudah, kalau marah. Aku beneran ndak mau kalau lain kali kamu mau! Viona makin merajuk. "Atau kita pisah tempat tidur aja." Viona menghentakkan kakinya ke kasur.
Fatir menyembunyikan senyumnya mendengar Viona merajuk.
Viona mendapat ide brilian untuk menghentikan kemarahan Viona. Viona mendekat kembali. "Sayang, beneran marah ya?"
"Ndak, ngantuk sayang." Jawab Fatir kembali.
"Bohong!" balas Viona yang wajahnya cuma beberapa Senti saja dari Fatir.
"Bener. Ngantuk," sambung Fatir lagi.
Jari lentik Viona menyentuh kedua rahang Fatir dan membelainya. Lalu membuka mulut Fatir hingga terbuka dan leph! Viona tanpa ragu memasukan putik buah miliknya ke mulut Fatir sehingga sang empu dengan spontan membuka mata ketika merasakan ada sesuatu yang kenyal ke dalam mulutnya. Bola matanya terbuka dengan sempurna.
Namun tak bisa berkata-kata selain menikmati dan men***** nya kuat-kuat membuat Viona merasa aliran darahnya begitu deras merinding ke sekujur tubuhnya.
Tangan Fatir memeluk punggung sang istri sangat erat selanjutnya tak dapat dielakkan lagi pergulatan panas terjadi menghiasi suasana malam yang dingin dan dibawah syahdunya lampu yang temaram. Suara-suara aneh pun menghiasi seluruh ruangan tersebut. Erangan nikmat terdengar saling bersahutan.
Keesokan harinya. Viona dan dan manajer hotel tengah menghadapi seorang laki-laki paru baya yang menatap tidak suka pada keduanya
"Saya bisa saja membeli hotel ini buat putra saya, kalau saya mau. Kenapa cuma hal sepele kalian membuat anak saya masuk sel? saya minta cabut laporan kalian saat ini juga." Jelas laki-laki paru baya tersebut.
Sang manajer dan Viona saling tatap, lalu Viona berkata dengan tenangnya. "Maaf, hasil laporan yang saya dapatkan. Putra anda bukan cuma sekali membuat onar dengan alasan mabuk di lokasi hotel ini. Apalagi kemarin ketika saya sedang meeting mereka datang membuat keributan. Bukan cuma barang yang mereka rusak tapi juga mengganggu saya dan akhirnya terjadi pengeroyokan. Bukti sudah dikantongi polisi."
"Itu benar," sambung manajer Li.
"Saya bisa menggantinya. Bahkan hotel ini mampu saya beli." Dengan sombongnya. "Sekarang mana pemilik hotel ini? jangan cuma manajer nya saya yang menghadapi saya."
"Saya pemiliknya. Oke, barang mungkin harga tak seberapa bagi anda sehingga hotel ini pun bisa anda beli. Tapi sayang, saya tidak ingin menjual nya apalagi sama anda, Tidak. Saya cuma ingin mereka di hukum agar merasa jera, sebab saya tahu kelakuan mereka di luar sana selalu meresahkan. Saya tahu itu," jelas Viona.
"Ooo, jadi kau keluarga dari Yani grup? pantas wanita itu menurunkan sifat angkuhnya dan keras kepalanya padamu Nona. Tapi jangan senang dulu Nona, suatu saat nanti kau akan kena batunya. Oke! saya tak butuh bantuan kau untuk mencabut laporan putra saya, saya akan pastikan putra saya akan bebas sekarang juga." Ancam pria paru baya itu.
Kedua netra mata Viona menatap tajam. "Silakan, karena anda memang berkuasa di daerah ini. Tapi saya juga akan pastikan jika satu saat putra anda berbuat ulah terutama berkaitan dengan saya! maka ... tak ayal dia akan meringkuk selamanya di dalam penjara, sebab saya memegang kunci kesalahan fatal putra anda di masa lalu." Viona tak kalah gertak dengan ancaman orang tersebut ....
****
Sudah membaca bukan, mohon like dan komennya. Serta vote nya bila berkenan. Makasih🙏
__ADS_1