
"Aduh, jangan panggil saya Aden, Bi. Saya bukan kalangan bangsawan jadi panggil nama saja." Fatir merasa gak enak hati dengan panggilan Aden.
"Tak apa Den," balas bi Ijah sambil mencuci.
"Saya lihat-lihat kamu cakep juga ya, nemu di mana sih si Viona. Biarpun kata papa cuma pedagang, tapi ganteng juga." Suara Rumi. Membuat yang ada di sana menoleh ke arahnya.
"Den, naik ke atas. Jangan ladenin Non Rumi," suruh bi Ijah. Suaranya pelan.
Fatir yang sebelumnya memberi senyuman. Menuruti kata bi Ijah, dengan langkahnya yang lebar ia menaiki anak tangga menuju kamar Viona.
Rumi mendelik pada bi Ijah. Menatap tidak suka, kemudian melengos entah kemana.
Klik!
Handle pintu Fatir putar dan masuk, netra matanya langsung mendapati Viona di depan cermin sedang menyisir rambutnya.
"Baju mu sudah ku siapkan tuh, di atas kasur. Mandi sana ntar masuk angin." Suara Viona tanpa menoleh sebab ia melihat Fatir dari pantulan cermin.
"Oh, iya." Fatir mengangguk dan membawa langkahnya ke kamar mandi. Satu menit kemudian muncul lagi dari balik pintu. "Ada sabun cuci gak?"
Viona menoleh menatap ke arah Fatir yang cuma terlihat wajahnya saja. Ia menautkan alisnya yang cantik. "Buat apa sabun cuci?"
"Eh ... buat cuci muka! he he he ... buat nyuci Non." Fatir menarik bibirnya tersenyum.
Terlihat Viona menghela napas panjang, kemudian berkata. "Pakaian kotornya simpan di tempatnya. Nanti di cuci di mesin sama Bibi."
"Tapi--"
"Jangan tapi-tapi. Di sini ada asisten, bila perlu di laundry." Jelas Viona, lalu meneruskan memakai body losion di kaki jenjang dan mulus itu.
Fatir menggaruk tengkuknya. "Apa-apa asisten. Apa salahnya di kerjakan sendiri."
Mendengar ucapan Fatir, Viona kembali melirik. "Siapa bilang? pekerjaan di kamar ini saya yang kerjakan sendiri gak pernah nyuruh asisten buat membereskannya." Sedikit mendelik.
Fatir mengulum senyumnya. Kemudian kembali menutup pintu. Di tempatnya sudah terpisah pasta gigi lengkap dengan shampo nya, tersedia pula keperluan khusus buat laki-laki seperti pencuci muka, seperti gillette foamy dan alat cukurnya.
Fatir mengamati satu persatu, ia merasa heran sebab tadi pagi semua ini gak ada. "Tadi pagi, perasaan gak ada ini semua."
Sekitar lima belas menit kemudian Fatir keluar dengan handuk di pinggang. Air dari rambut tampak menetes. Manik matanya mendapati Viona duduk bersandar di bahu tempat tidur dengan laptop di pangkuan.
Fatir mengambil pakaiannya yang sudah disediakan di atas tempat tidur, lalu kembali ke kamar mandi. Viona cuma melirik dengan ekor matanya saja.
Lagi-lagi di ingatan Fatir terbayang kaki mulus Viona yang tadi memakai body losion dan body sintal yang memperlihatkan lekuknya. "Ah ... ngapain sih harus terbayang itu?" berkali-kali menggelengkan kepalanya. Bagaimanapun ia pria normal, apalagi yang ia lihat istrinya sendiri.
__ADS_1
Ketika keluar dari kamar mandi. Fatir melihat Viona sedang tertidur bersandar, ia mendekat dan naik. "Non?" lirihnya.
Namun tak ada respon sedikit pun dari Viona, hanya suara napas saja yang teratur dari hidungnya.
Fatir menggeleng. "Baru saja masih melek, tiba-tiba sudah tidur lagi." Perlahan mengambil laptopnya Fatir tutup dan di simpan di atas meja. Matanya terus menatap wajah Viona. Sampai-sampai kantuk pun kembali menyerang kedua mata Fatir.
Siang sudah berlalu dan bergantian malam yang gelap dan sunyi. Seharian ini tak ada hal penting yang di lakukan Viona dan Fatir selain tiduran saja.
Saat ini Oma sedang berkumpul dengan pegacara dan seorang notaris, menyiapkan berkas untuk penandatanganan hak waris yang akan di serahkan pada Viona sebagai hak tunggal dari semua kekayaan Yani grup.
Keluarga yang lain pun sudah mulai tampak hadir di sana.
Viona yang masih berada di kamar, sedang menyiapkan diri. Sementara Fatir duduk sofa menonton televisi.
"Ayo, turun?" Viona mengajak Fatir tuk ikut bersamanya.
Fatir menoleh. "Buat apa?"
"Buat saksi aja, udah deh jangan banyak tanya. Ngikut aja kenapa sih?" gerutu Viona.
"Banyak tanya gimana Non? orang sekali. Terus kalau kamu ke jurang! harus saya ikuti juga tanpa mencegah gitu?"
"Iih ... banyak ngomong ya lama-lama, oh iya." Viona tampak kesal.
Viona memutar bola matanya, merasa kesal pada Fatir yang makin ke sini tampak bawel. "Bisa diam gak?" Sedikit menunjuk.
"Ups! garang juga! jadi takut." Fatir mendahului jalan dan membuka pintu.
"Tunggu?"
Fatir berdiri tanpa membalikan badannya. Viona berjalan lantas berdiri di depan pria yang jadi suaminya itu, mengamati penampilan Fatir yang agak kusut. Dengan refleks ia merapikan penampilan Fatir.
Fatir hanya memandangi saja dengan tingkah Viona.
"Harus tampak bersih dan rapih. Gak boleh kelihatan lusuh, apalagi kucel. Aku gak suka." Melihat bagian belakang.
Fatir tak menanggapi omongan Viona, selain berdiri tegak.
"Sudah, yu jalan?" Viona berjalan lebih dulu. Fatir mengikuti dari belakang.
Semua sudah berkumpul menunggu Viona sang pewaris tunggal, setelah Viona duduk di sana dengan tidak membuang waktu lagi, langsung saja melakukan penandatanganan. Sebagai penyerahan semua aset milik Yani grup berpindah ke tangan Viona.
"Mbak, apa tidak salah semuanya di atas namakan Viona? saya tidak setuju." Tanya pak Suryo sebagai adik laki-laki Bu Yani dan mengungkapkan ketidak setujannya.
__ADS_1
"Kenapa salah? dia cucu ku! kamu sebagai adik saya sudah punya bagian sejumlah aset dari saya, terus dimana salahnya?" menatap tajam sang adik.
"Saya adik satu-satunya laki-laki, Mbak--"
"Tapi anda sudah mendapat hak dari Nyonya Yani, jadi jadi anda tidak ada hak lagi tuk melarang Nyonya Yani tuk mewariskan semua hartanya pada sang cucu. Tapi seandainya anda tak dapatkan hak sama sekali baru anda punya kekuasaan untuk meminta hak sebagai adik laki-laki. Lagi pula semua harta, semua aset milik Nyonya hasil kerja kerasnya sendiri, bukan dari hasil peninggalan orang tua. Bukan begitu Nyonya?" sang pengacara menoleh pada bu Yani.
Bu Yani langsung menanggapi nya dengan anggukan.
Netra mata Viona menyapu memperhatikan adik dari Omanya dan anak-anaknya. Ia sudah tahu kalau harta Omanya akan menjadi rebutan satu saat nanti.
Sebagai kakak saya sudah memberikan bagian pada adik-adik saya, tinggal kalian tandatangani saja. Jangan banyak protes kalau tidak mau saya ambil kembali." Jelas bu Yani menatap adik-adiknya.
Dengan hati yang tetap protes. Mereka membubuhkan tanda tangannya. Di berkas yang sudah dipersiapkan.
Setelah selesai, semuanya berkumpul di meja makan tuk makan malam bersama. Fatir tetap setia menemani Viona. Sedari tadi mata Viona menangkap sikap aneh Rumi kepada Fatir. Walaupun gak ada perasaan namun tetap saja ada rasa tidak suka, hadir di lubuk hati Viona.
Rumi bersikap menggoda, sementara Fatir sendiri lebih banyak menundukkan wajahnya. Viona menatap Rumi dengan tatapan tidak suka.
Usai makan. Sebagian pulang termasuk pengacara dan notaris, tinggal keluarga Rusadi saja yang berkumpul di ruang keluarga.
Dikarenakan Fatir masih asing di keluarga itu. Menjadikannya merasa tidak nyaman, ia melirik ke arah Viona seraya berbisik. "Mau cari angin dulu ke taman." Dan Viona menanggapinya dengan anggukan.
''Mau ke mana?'' tanya Rumi. ketika melihat Fatir keluar dari kumpulan.
''Cari angin ke taman,'' sahut Fatir.
''Ikut dong ...'' Rumi bergegas beranjak dari duduknya mengikuti langkahnya Fatir.
Viona menatap kepergian Fatir yang di susul oleh Rumi.
Di taman, Fatir mengambil sebatang rokok. Menatap langit yang hitam pekat tanpa satupun bintang bersinar di sana.
"Perokok ya?" tanya Rumi yang duduk di dekat Fatir.
"Iya, tapi gak banyak kok Mbak." Fatir melirik sekilas ke arah Rumi.
"Oh, tapi tetap saja perokok namanya." Rumi tersenyum dan dengan beraninya mengambil rokok dari jari Fatir.
Fatir bengong melihat Rumi bersikap kaya gitu yang dengan beraninya mengisap rokok miliknya.
Derap langkah terdengar dari dalam mendekati ke arah mereka ....
****
__ADS_1
Hi ... siapa yang sudah baca cerita ini? jangan lupa dukung aku ya.