Bukan Suami Harapan

Bukan Suami Harapan
Jangan sombong


__ADS_3

"Gimana Mas? kok makin rumit, sebenarnya Mas mela--"


"Tidak," sahut Fatir yang langsung menyela pertanyaan Adam.


Adam tidak berkata-kata lagi, ia percaya pada Mas nya yang tidak mungkin melakukan di luar batas. Adam percaya lalu Mas nya pasti mempertanggung jawabkan apapun yang di lakukan.


"Makanya, kalau kamu pacaran jangan sampai menodai anak orang sekalipun atas dasar suka sama suka. Akan berakibat fatal dan kasihan juga anaknya nanti jadi tidak bernasab ayahnya. Tidak mendapat hak waris dan wali, hormati wanita mu seperti kamu menghormati ibumu." Fatir menepuk pundak sang adik.


"Iya, Mas." Adam mengangguk pelan.


Huuh ... Fatir membuang napas dari mulutnya dan kemudian melanjutkan aktifitasnya yang sempat tertunda.


****


Viona baru saja selesai meeting, berjalan menuju ruangannya. Ia berdiri di dekat jendela dengan tatapan jauh ke depan.


Tok ....


Tok ....


Tok ....


Suara pintu di ketuk dari luar. Sontak Viona menoleh. "Masuki"


"Nyonya, ada Rumi di luar." Kata sekertaris Viona sambil mengangguk.


"Ck, ada apa sih? datang ke sini segala?" gumam Viona dengan malasnya. "Suruh masuk."


Sebelum sekertaris Viona keluar, Rumi sudah duluan muncul nyelonong masuk. Dan langsung duduk tanpa dipersilakan. terlebih dahulu membuat sekertaris Viona melongo.


"Kenapa melongo, baru lihat orang cantik ya?" ketus Rumi ketika melihat sekertaris Viona melongo melihatnya.


Namun sekertaris tersebut tidak menjawab melainkan pamit pada Viona.


Setelah pintu ditutup dan dalam cuma berdua. Viona yang baru menduduki kursinya menatap ke arah Rumi yang duduk tumpang kaki. "Ada apa Mbak Rumi ke sini?"


"Emang ndak boleh gitu, bukankah ini perusahaan kamu yang masih ada hak papa? boleh dong!" jawab Rumi dengan sok nya.


Tatapan Viona yang tajam dan tanpa ekspresi itu tertuju pada Rumi. "Aku sibuk, jadi cepat katakan maksud kedatangannya apa?"


"Oke, aku butuh uang 400 juta untuk tambah modal," akhirnya Rumi To thu poin tanpa basa-basi lagi.


Viona yang sedang mengecek berkas, spontan menoleh pada Rumi. "Mbak, uang segitu bukan uang sedikit lho. Buat apa?"


"Sudah ku bilang buat tambah modal!" timpal Rumi membalas tatapan Viona.


"Waktu itu aku sudah pinjamkan seratus juta lho. Masa buat nambah modal aja masih ndak cukup juga? kan nambahin!" Viona terheran-heran.


"Ndak cukuplah, makanya aku mau pinjem lagi," sambung Rumi kembali.


"Mbak, itu bukan uang sedikit. mending kalau usahanya lancar dan modal kembali. Kalau nggak, bangkrut. Gimana sedangkan uang itu uang perusahaan bukan uang pribadi."


"Ya, jangan doakan gitu dong. Kamu sama aja tak ingin orang lain maju, kalau gitu caranya." Rumi kesal.


"Gimana aku ndak ragu Mbak, orang itu, modal ratusan juta itu aja terus kelola namanya juga dari nol, bukannya kemarin Mbak pegang sekian juta terus aku tambahin seratus juga dan sekarang masih kurang juga? kan aneh. Seharusnya yang segitu terus diputar dulu," ujar Viona menatap sang kakak.

__ADS_1


"Sudah, cukup. Aku tidak butuh ceramah atau seminar bisnis dari mu oke? yang aku mau mau ngasih atau tidak, itu saja kok repot sih?" Rumi mengibaskan tangannya.


"Ndak," tegas Viona sambil mengarahkan netra matanya ke layar laptop.


"Masa ndak sama sekali? uang mu banyak gak akan jatuh miskin aku pinjami segitu Vi." Menatap kesal.


"Itu uang perusahaan Mbak, lagian masih mendingan kalau cuma sekarang saja, gimana kalau lusa dan lusanya lagi Mbak datang pinjem lagi, apa itu gak akan membuat bangkrut Mbak? Sama aja. Apalagi orangnya kurang bersyukur seperti Mbak Rumi, yang bilangnya buat modal padahal aku ndak tahu tuh itu uang dipakai apa?" ujar Viona yang diakhiri dengan sinis.


"Tega kamu Vi, jangan sombong kamu. Ini semua warisan. Bukan hasil kerja keras mu. Tapi dari Oma." Jelas Rumi kecewa.


"Iya, itu benar. Justru itu kita harus pandai mengelolanya jangan sampai raib di tangan orang yang tak bertanggung jawab," ungkap Viona lagi. "Aku cuma bisa ngasih pinjaman 50 juta saja, ndak lebih. Itupun aku mau cek lokasi besok."


"Boleh, siapa takut. Cek lokasi sana tapi kalau semua memenuhi syarat kau harus mengeluarkan sejumlah yang aku pinta--"


"Aku ndak janji," ucap Viona tanpa menoleh lagi.


Rumi menyambar cek yang 50 juta tersebut. Kemudian berdiri meninggalkan Viona yang tampak asyik dengan tugasnya, tanpa pamit atau permisi. Rumi melintasi pintu dengan hati kurang merasa puas banyak.


Viona menghela napas lega. Namun apa yang terjadi? baru saja helaan napas Viona selesai pintu sudah di ketuk kembali.


Tok ....


Tok ....


Tok ....


Muncullah sekertaris Viona bersama Soraya. Membuat Viona terkejut buat apa Soraya datang ke kantor? bikin pusing.


"Kamu, ada apa datang ke sini?" lalu Viona menoleh ke arah Sekretarisnya. "Silakan keluar?"


Tatapan Viona kini mengarah pada Soraya yang masih berdiri. "Silakan duduk?" menunjuk sofa dan Viona pun berpindah duduknya.


"Makasih," sahut Soraya sambil mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan tersebut. "Ternyata gak sulit ya mencari gedung ini? sungguh CEO muda. Wanita yang hebat, pantas bisa membeli suami." Sedikit bertepuk tangan.


Viona menggeleng. "Maaf, ada apa datang ke sini? tak ada hujan tak ada angin tiba-tiba ada di sini!" Viona menatap tanpa ekspresi.


Soraya sedikit tersenyum. Dan menatap ke arah Viona. "Saya ke sini tentu ada sebabnya dong. Saya hanya ingin mengatakan sesuatu padamu."


"Apa itu?" Viona penasaran.


"Seperti yang kamu tahu, kalua Fatir adalah kekasih ku dan itu sudah bertahun-tahun, hubungan kami cukup lama dan kami saling memahami satu sama lain, tidak seperti kalian yang baru saja kenal sudah menikah yang belum mengenal karakter masing-masing," ujar Soraya.


"Terus, apa masalahnya?" Viona tampak serius menanggapi ke mana arah tujuan omongan Soraya.


"Kami saling mencintai, saling menyayangi wajar dong kalau kami ingin lebih dari sekedar kekasih. Wajar dong kalau kali saling menumpahkan rasa yang ada," sambung Soraya.


"Sebaiknya langsung saja ke intinya. Aku sibuk kebetulan kerjaan ku numpuk, jadi janganlah berbelit-berbelit." Pinta Viona yang malas mendengar perkataan yang bertele-tele dari Soraya.


"Hem," Soraya tersenyum kecut. "Aku dan Mas Fatir mau menikah. dia harus mengakui yang aku kandung.


Degh!


Sudah Viona duga, kalau Soraya akan membicarakan tentang itu. hati Viona mulai meradang, panas seolah terbakar api. "Oya?"


"Itu, benar. Saya harap kamu mau melepaskan Fatir buat saya seseorang yang sangat dia cintai." Soraya begitu percaya diri.

__ADS_1


"Kamu, meminta saya untuk melepaskan Fatir buat menikahi kamu? saya sih terserah sama Fatir mu itu saja, sebab yang punya keputusan itu dia bukan aku." Jelas Viona sambil menelan saliva nya ada rasa sesak di dada, serta sakit yang kini ia rasakan.


"Saya sudah menemui dia tadi--"


"Terus apa keputusan dia?" Viona langsung memotong perkataan Soraya.


Soraya menarik bibirnya tersenyum masam. Melihat Soraya tampak penasaran. "Tentu dia bersedia menikahi ku, secara dia sangat mencintai aku sebagai kekasihnya."


Degh!


Kenapa omongan Fatir tak sesuai dengan yang dikatakan pada dirinya. Bertolak belakang dengan yang diomongkan pada Soraya! Membuat Viona tambah kecewa. Napasnya terasa sesak dan ruangan yang luas ini serasa begitu sempit.


"Oh, ya sudah. Silakan pergi? saya sibuk dan bicarakan dengan Fatir. Tak ada gunanya kau bicarakan ini dengan saya." Viona menunjuk pintu.


Manik mata Soraya melihat arah yang Viona tunjukkan. "Sekali lagi, lepaskan Fatir. Tapi ... kehadiran mu itu gak akan mampu memisahkan kami berdua kok sebab aku sedang mengandung--"


"Cukup! silakan. Pintu masih di tempat yang sama." Lagi-lagi Viona menunjuk ke arah pintu.


Soraya senyum kecut merasa puas dengan ekspresi wajah Viona yang sepertinya terbakar cemburu. "Kamu gak perlu marah. Sebab kalian kan menikah cuma status, tanpa saling mencintai. Tapi baiklah. Aku pulang dulu, aku akan menunggu Fatir datang untuk menikahi ku."


Soraya berdiri menatap Viona yang terdiam. Membawa langkahnya menuju pintu keluar.


Tangan Viona meremas kertas yang ada dihadapannya.


"Oya, aku ada foto kami berdua, yang begitu mesra. Mau melihatnya ndak?" suara Soraya yang tiba-tiba kembali di hadapan Viona. Tangannya dengan gerakan cepat memperlihatkan sebuah foto.


Mulanya Viona gak mau melihatnya namun hati kecilnya penasaran juga. Akhirnya perlahan melirik dan dengan jelas ia lihat gambar Fatir sedang memeluk mesra Soraya, sementara di belakangnya sebuah tempat tidur.


Degh!


Jantung Viona berdebar tak menentu, ruang dadanya begitu sesak untuk bernapas. Kemudian Soraya menarik ponselnya lalu memutar badan berjalan keluar.


Kedua netra mata Viona memandangi punggung Soraya, giginya mengerat, marah dan juga kecewa, merasa dikhianati oleh Fatir. Tak kuasa air matanya mengalir yang sebelumnya ia usahakan untuk tidak keluar. Beberapa kali lengannya mengepal meremas kertas sampai rusak tak beraturan.


Kepalanya sampai pusing, waktu makan siang pun sudah terlewatkan begitu saja. Viona bangkit dan berjalan mendekati pintu tuk menutupnya.


Huuh ... berkali-kali membuang napasnya yang berat. Mendongakkan wajah ke langit agar air mata tak sampai jatuh lagi. Mencoba mengendalikan hatinya yang marah, kesal dan kecewa. Saat ini pikiran Viona sangat kacau dan tak bisa meneruskan kerjaannya sebab hilang konsentrasinya.


Akhirnya Viona memutuskan untuk pulang dengan menggunakan taksi. Hatinya tak bisa diajak kompromi meskipun masih jam kerja.


Setelah bilang sama sekretarisnya Viona pulang ke apartemen Membawa hati gundah dan luka. Sungguh omongan Soraya terngiang-ngiang di telinganya kalau Fatir bersedia menikahi Soraya.


Sepanjang perjalanan Viona melamun dan sesekali menghela napas panjang. Setibanya di apartemen Viona langsung menjatuhkan tubuhnya di atas sofa, dalam hati terus beradu argumen. Kecewa pada Fatir yang telah mempermainkan perasaannya.


Di bawah guyuran air shower bercampur dengan air mata yang jatuh melintasi pipinya. "Kenapa ini harus terjadi ketika aku sudah merasa nyaman, kenapa gak dari dulu sebelum aku memberikan semua milik ku? hik hik hik."


****


Fatir yang menjemput Viona tepat waktu ke kantor tak membuahkan hasil yang memuaskan sebab Viona sudah tidak ada di tempat. Kata karyawannya sudah pulang lebih dulu sebelum waktunya.


Membuat pikiran Fatir melayang ada apa? apa dia sakit atau kemana! sementara no ponselnya berkali-kali tak dapat dihubungi. Hati Fatir gusar di sepanjang perjalanan, khawatir kalau Viona ke napa-napa. Wajahnya tampak gelisah sekali ....


*****


Hi ... apa kabar hari ini reader ku. Semoga kabar baik ya? gimana apa kalian menunggu novel ini up? makasih🙏

__ADS_1


__ADS_2