
Di balik itu Fatir tersenyum bangga kalau istrinya sangat menyukai permainannya di bukit-bukit tanpa tumbuhan itu. Saking bersihnya semut pun kalau lewat bisa terpeleset.
Viona membuka matanya ketika lawan mainnya menghentikan aksinya itu. Menatap kecewa wajah sang suami yang tepat di depan muka, sedang memperhatikan dirinya dengan lekat.
Netra mata Viona bergerak melihat piyama yang masih Fatir kenakan. Tangannya mengarah ke tubuh bagian depan dan membuka kancing satu demi satu. Suasana sangatlah hening yang terdengar hanyalah suara napas keduanya yang bergemuruh dan merasakan keinginan yang belum tersalurkan.
Sementara Viona sendiri yang sudah mempersiapkan nya sedari tadi tinggal tarik sudah lepas. Gak susah lagi tak seperti Fatir yang segalanya masih lengkap membuat butuh waktu yang lama tapi memang keduanya tak suka yang grasak-grusuk sih. Lebih suka santai, pelan-pelan dan penuh kelembutan.
Fatir kembali membungkam mulut Viona dengan bibirnya. Menaikan lagi hasratnya agar semakin bergejolak dan kian memanas, lalu turun dan membenamkan wajahnya diantara buah segar yang menggantung indah itu, sesekali melahap dan menyedotnya habis membuat sang empu kian memekik dan bergelinjang hebat.
"Sayang ..." desisnya sambil menggigit bibir bawahnya. Yang ia dapat bukan cuma r****** saja namun juga sedotan yang begitu kuat, kalau saja di dalamnya ada es batu pastinya akan langsung meleleh dan mencair begitu saja saking kuatnya
Hingga keduanya merasa benar-benar berada pada puncaknya. Malam yang kian beranjak semakin membawa mereka ke alam nirwana yang penuh dengan keindahan laksana syurga. Terbuai dengan gelora rasa dan hasrat yang bergelora, Semua berlangsung begitu lama hingga dua jam terlewat begitu saja. Saling bertukar peluh yang bercucuran.
Pada akhirnya Fatir tumbang menghantam tubuh Viona yang penuh dengan keringat dan lelah akibat terus mengimbangi sang suami yang terlalu perkasa dan bernafsu tinggi.
"Huuh ..." berkali-kali Fatir membuang napasnya dari mulut. Sehingga menyapu kulit leher Viona yang tak bergeming.
Setelah juniornya tenang barulah Fatir mengeluarkannya dari tempat semedi yaitu kawah cinta yang jadi tempat favorit nya bermain. Apalagi melihat sang istri tampak sangat kelelahan, cuph! mendaratkan kecupan hangat di kening sang istri lalu menjatuhkan tubuhnya di sisi tubuh Viona. Viona meringsut ke pelukan sang suami.
"Capek!" gumam Viona sambil memejamkan matanya.
Cup! kecupan hangat kembali mendarat di pucuk kepala Viona sambil membelai rambutnya. "Bobo sayang."
Tangan Fatir satu lagi membenarkan selimut agar menutupi tubuh dengan benar. Detik kemudian keduanya tertidur lelap dihiasi deru napas yang masih memburu.
Matahari mulai terbit memberi kehangatan pada setiap mahluk yang hidup di muka bumi ini. Sinar mentari menyelinap di sela gorden menyusup ke dalam kamar yang penghuninya sudah sibuk dengan aktivitas nya.
Viona menyiapkan sarapan buat berdua dan sebentar lagi Fatir akan pulang buat sarapan dan mengantarnya ke kantor. Setiap pagi memang sekarang Viona menyempatkan membuat sarapan tuk Fatir. Dan pun Fatir selalu menyempatkan pulang dulu ke apartemen tuk sekedar sarapan dan mengantar sang istri.
Sarapan dah siap di meja. Kedua mata Viona melihat ke arah jam dinding sesaat, lalu berjalan menuju kamar tuk menyiapkan diri. Sebentar lagi Fatir pulang.
Saat ini Viona duduk di depan cermin riasnya, menatap pantulan dirinya di sana sambil berhias. Sebentar menyentuh bibirnya dengan telunjuk dan akhirnya tersenyum sendiri entah apa yang dia pikirkan.
Sedang asik menata rambutnya tiba-tiba ada tangan yang merangkul bahu dan mencium pipinya. Siapa lagi kalau bukan Fatir yang makin hari makin bucin saja sama Viona yang manja dan ngangenin.
"Ih ... bau keringat, mandi dulu sana bau." Mendorong Fatir yang bau keringat.
"Kan sudah mandi sebelum berangkat sayang, males ah mandi mulu." Fatir dengan malasnya.
Viona berdiri dan melipatkan tangan di dada. "Ya sudah, kalau gau mau mandi jangan dekat-dekat dengan ku," jelas Viona.
Seringai Fatir yang ngeyel, mengayunkan langkahnya maju mendekati Viona. Dengan tangan direntangkan siap memeluk sang istri.
Namun Viona mundur dan menjauh. "Ndak mau, mandi dulu." Menunjuk pintu kamar mandi.
"Ah, sayang ... lapar nih," ucap Fatir menurunkan tangannya.
"Iya, mandi dulu sana!" Viona mendorong punggung Fatir ke kamar mandi. "Cepetan!"
__ADS_1
"Baiklah, ratu ku. Cinta ku dan permaisuri di hatiku." Gumamnya Fatir penuh rayu.
"Gombal!" Viona mesem-mesem.
"Tapi suka kan ..." balas Fatir yang kepalanya mentok di pintu.
"Iih ... cepetan ... nanti kesiangan." Viona kesal.
Fatir masuk dan menyalakan shower. Mulutnya komat-kamit. "Sudah mandi juga! ndak tau apa waktu nih ... siang."
"Yang di dalam, jangan menggerutu ya? mandi yang bersih dan cepat-cepat. Dah tahu siang." Suara Viona dari balik pintu.
Fatir tertawa mendengar suara Viona yang mungkin mendengarkan nya menggerutu. "Ha ha ha ... kok dengar sih!"
"Dasar. Orang wangi buat dia sendiri kok." Lirih Viona bicara sendiri.
Dengan cepat kilat, Fatir mandi dan segera keluar yang sudah ditunggu oleh Viona dengan pakaian di tangan. Menyambut Fatir di tariknya ke dekat kaca rias mengambil parfum untuk menyemprotkan ke tubuh Fatir. Sehingga baunya memenuhi ruang kamar tersebut.
Viona bak seperti ibu yang mengurus anaknya berpakaian. Bibirnya sambil tak henti mengomel. "Awas ya jangan nakal kalau sama pembeli cewek. Jangan genit-genit jaga mata dan jaga hati--"
"Jadi kalau sama pembeli laki-laki boleh ya?" goda Fatir.
"Emangnya kamu mau berubah haluan ya?" menatap tajam sang suami sambil merapikan kerah kemejanya Fatir.
"Ndak sih! habis gak boleh genit-genit sama cewek, emangnya bicara juga ndak boleh? aku harus membisu gitu?" ucap Fatir sambil merapikan rambutnya.
"Iih ... bukan gitu, udah ah malas berdebat. Yu makan?" Viona melengos keluar kamar. Diikuti oleh Fatir dari belakang dan sesampainya di meja makan Viona langsung menuangkan nasi goreng kesukaan sang suami.
"Sayang?" panggil Fatir pada sang istri.
"Hem, apa?" jawab Viona dengan refleks menoleh ke arah Fatir.
"Kalau di pikir-pikir, piring dan sendok ini seperti aku dan kamu ya?" sambung Fatir sambil mesem. Otaknya berfantasi liar.
Viona mengernyitkan keningnya. "Maksudnya?" Viona tak mengerti.
"Iya, piringnya kamu dan sendok nya aku!" Fatir lagi-lagi menyeringai nakal.
Viona sementara waktu mencerna maksud dari Fatir, lalu berkata. "Apaan sih ... dasar mesum."
"Bukan mesum sayang, kenyataan lho." Timpal Fatir lagi.
"Ndak tahu Akhh. Makan!" Viona menggeleng sambil mesem menatap piring dan sendok yang di tangannya.
Viona mengakhiri makannya dengan meneguk segelas air putih dan tersisa setengahnya. Begitupun Fatir dengan cepat menghabiskan makannya lalu meneguk minumannya sampai tandas.
Viona sudah siap berangkat dengan penampilan formal. Fatir menatap sang istri begitu lekat.
"Lho, bukannya mau ke luar kota?" selidik Fatir sambil menghampiri.
__ADS_1
"Iya, ini aku bawa tas keperluan ku selama di sana. Berangkatnya nanti agak siangan," jawab Viona sambil menunjuk tas di atas sofa.
"Ooo." Fatir membulatkan mulutnya. "Aku jadi kangen!" merangkul tubuh sang istri rasanya berat untuk membiarkannya ke luar kota. Berat rindu.
"Iidih ... masih di sini wo! dah bilang kangen aja?" sahut Viona.
"Emangnya gak boleh gitu kangen?" Fatir menghujani wajah Viona dengan ciuman.
"Boleh sih, tapi yang masuk akal aja." tangan Viona mengusap rahang Fatir dan mengecupnya penuh rasa sayang.
Kedua netra mata Fatir menatap wajah Viona. "Kau mencintai ku?"
"Tidak!" jawab Viona seraya menggeleng.
"Menyayangi ku?"
"Tidak juga!" tetap menggeleng.
"Membenci ku?"
"Iya!" balas Viona sambil mengulum senyumnya.
"Pantas. Maunya makan aku terus!" Fatir melepaskan pelukannya dan menuntun tangan Viona, yang sebelahnya menjinjing tas barang Viona.
"He'em. Emang benar sih, tapi suka bukan kalau kamu aku makan terus?" sambil berjalan.
"Banget, pengen tiap waktu malah--"
"Gila apa?" Viona menghentikan langkahnya.
Fatir menoleh ke arah sang istri yang berada di belakangnya. "Kok Gila?" menautkan dahinya. Heran.
"Ya ... gila dong, masa tiap waktu? emangnya ndak ada aktifitas lain apa selain itu. Bosan tahu ..." sedikit mencubit pinggang Fatir.
"Aduh, sakit sayang ..."
Setelah di luar, tepatnya depan pintu apartemen tempat nya tinggal Viona kembali berdiri. "Gendong, ndak mau jalan ke lift."
Fatir menunjukan senyumnya pada sang istri. Tanpa protes ia menggendong tubuh Viona mendekati lift dan memasukinya.
Viona menatap dengan tatapan bahagia. Fatir tak protes kalau lagi manja gini padahal tangannya bukan cuma mengangkat beban tubuhnya saja tapi juga membawa tas nya walau cuma isi baju 3 setel saja.
"Makasih sayang?" tak lepas menatap wajah sang suami. Tangan nya dengan erat merangkul leher Fatir.
"Sama-sama sayang," dengan senyuman yang penuh bahagia dan masih juga sempat-sempatnya mengecup kening Viona.
Selama perjalanan di area apartemen, banyak mata yang memandangi mereka dengan heran dan pertanyaan sakit atau sengaja? tak sedikit juga yang tersenyum dan mengakui so sweet ....
****
__ADS_1
Sudah membaca? jangan lupa meninggalkan jejak agar aku tambah semangat lagi dalam menulisnya.