Bukan Suami Harapan

Bukan Suami Harapan
Perjalanan


__ADS_3

"Siang, bu? ini kunci mobil Ibu." Kata satpam tersebut.


"Emang siapa yang bawa ke sini Pak?" tanya Alisa penasaran.


"Iya, Pak!" Viona mengambil kuncinya.


"Kurang tahu Bu, saya rasanya baru melihatnya--"


"Apa pria yang tadi membonceng ibu ini?" Alisa menunjuk ke arah Viona ....


"Kurang tahu, Bu. tadi bukan saya yang tugas." Satpam tersebut mengangguk hormat, mundur dan kembali ke tempat.


"Sudah, ngapain di pikirin. Masuk, mau pulang ndak?" Viona masuk duluan.


"Mau lah Non!" Alisa pun segera masuk dan mendudukkan bokong di sebelah Viona.


Viona segera melajukan mobilnya setelah memasang sabuk pengaman. Langit begitu cerah berselimut awan putih, tampak indah namun panasnya terasa sangat menyengat.


Alisa menekan tombol penyejuk yang tersedia di mobil tersebut. "Kamu bilang dong sama Fatir kalau kamu akan perginya jam berapa sama dia, mungkin dia akan bela-belain buat mengantar mu!"


"Buat apa Al ... dia juga punya kesibukan kok, dan aku bisa sendiri. Asisten pun ada. Sudah lah jangan macam-macam macam, bukan orang penting juga."


"Hei ... ingat ya bagaimanapun dia itu suami mu Vi, ingat dong janji yang ia ucapkan di hari pernikahan kalian! aku rasa dia sendiri akan selalu mengingat itu. Dia, kan sosok orang yang cukup bertanggung jawab." Tambah Alisa dengan mata melihat ke depan.


"Tau, dia juga tempo hari ngasih uang belanja bulanan--"


"Apa? serius!" Alisa memotong kalimat yang Viona beri.


"Bener, 3 juta. Katanya buat belanja 1 bulan, aku juga gak nyangka loh Al," sambung Viona.


"Hem ... tuh, gambaran kaki-laki yang bertanggung jawab Vi. Buktinya biarpun kamu itu berkecukupan, tetap saja ia memberi uang belanja. Setidaknya untuk membantu, kan? kalau yang lain! Hem ... mungkin mana perduli toh istrinya kaya raya. Iya kan."


Mobil Viona sudah tiba di halaman rumah Alisa. "Kau mau mampir ke rumah Fatir--"


"Nggak, pulang saja lagipula jauh lagi. Yu ku pulang." Viona langsung memutar mobil yang ia kendarai. Sementara Alisa masuk ke dalam rumahnya.


Tatapan Viona lurus ke depan. Fokus dengan kemudinya, terngiang perkataan Alisa tentang Fatir tadi. Kalau Fatir Sosok pria yang bertanggung jawab.


Pernikahan yang baru terhitung hari, yang ia sendiri bingung mau di bawa kemana? tapi biarlah semua mengalir seperti air. Pasrah mau seperti apa juga nantinya.


Sesampainya di Rumah, Viona langsung bersiap-siap tuk ke bandara. Mengemas pakaian ke koper.


Oma Yani menaiki anak tangga, dengan tujuan ke kamar Viona cucunya. Kreet ... suara pintu yang di buka. Tampak Viona tengah berlutut di lantai mengemas pakaian. "Sedang bersiap Vi?"


Viona menoleh. "Iya Oma. Doakan semoga cepat selesai urusannya."


"Tentu dong sayang. Oma doakan, nanti kalau ada yang kamu tak mengerti telepon saja Oma."


"Siap Oma, semoga aku bisa selesaikan dengan baik di sana," lirih Viona.

__ADS_1


"Ngomong-ngomong, suami mu tahu kamu mau ke luar kota? atau ajak saja biar menjaga mu selama di sana."


"Tidak Oma, dia punya kerjaan. Lagian ada asisten juga yang ikut, bilang sih sudah." Viona menyimpan koper dan tas di dekat sofa.


"Nggak pa-pa ikut juga biar lebih leluasa menjaga mu. Asisten itu ... cuma sebatas pekerjaan Vi," sambung Oma Yani.


"Oma ... Vi ini sudah dewasa loh, bisa menjaga diri. Oma jangan khawatir begitu." Menggenggam tangan oma Yani lembut.


"Yakin?" dengan tatapan cemas.


"Yakin lah Oma." Viona menunjukkan senyumnya.


Sekitar pukul empat sore Viona bersama asisten kepercayaan yang bernama Sau Xan, dengan panggilan So akan menemani Viona selama di luar kota. So itu keturunan Cina yang sudah menjadi warga negara Indonesia. Dari mulai ayahnya sampai dia sendiri, masih setia menjadi orang kepercayaan Yani grup sampai sekarang ini.


Viona berangkat diantar supir dan Bu asri. "Mama, doakan Vi ya? semoga di sananya urusan Vi lancar."


"Tentu sayang. Mama pasti doakan kami sayang. Kalau menurut Mama sih, Nak Fatir diajak. Ada yang menjaga mu sayang."


"Tidak apa-apa Mamah, Vi bisa jaga diri kok." Bantah Viona. Keduanya berpelukan.


"Nona tunggu sebentar. Saya mau ke toilet dulu." Pamit So pada Viona.


Viona hanya membalas dengan anggukan. Kemudian netra matanya bergerak menemukan sosok seseorang yang ia kenal.


"Mas, Hendra. Katanya dia deh." Batin Viona. Matanya terus mengarah ke arah pria tersebut yang memakai seragam dan berbincang dengan rekannya.


Wanita yang lebih suka memakai pakaian formal pendek ini menyoren tas dan menyeret langkahnya dibarengi dengan Sau Xan. Menuju lapangan tuk naik pesawat yang sebentar lagi mau tak-up.


Sepanjang penerbangan. Viona tertidur nyenyak, pas bangun. Viona mendapat sebuah buket bunga Roos merah. Jelas Viona heran dan melirik ke arah Sau Xan. "Punya siapa nih?"


"Punya anda Nona. Dari seseorang," sahut Sau Xan.


Viona sangat penasaran. "Siapa sih?" menatap lekat pada So.


"Itu, Nona. Seorang pilot tampan."


Hati Viona sudah menduga itu pasti Hendra. Masih saja bersikap romantis, ngasih bunga segala. Bikin suasana hati Viona terus berbunga-bunga. Bibirnya pun tak berhenti tersenyum.


Dengan perhatian seperti ini saja mampu menumbuhkan rasa yang pernah ada dan tetap terjaga di sanubari yang terdalam.


Pesawat dah landing di bandara tujuan. Para penumpang pun turun dan Viona sedang mengambil tas nya.


"Vi, Kau di sini juga?" sapa seorang pria yang memakai seragam pilot itu.


"Mas, apa kabar!" balik tanya Viona dengan senyuman yang merekah.


"Baik, Vi sekarang tambah cantik!" balasnya.


"Makasih ya atas bunganya? kaya di rencanakan deh, bikin hati aku berbunga aja." Tatapan Viona begitu dalam.

__ADS_1


"Sebelum nya Mas melihat bidadari Mas naik pesawat ini, jadi Mas pesankan bunga itu, sama-sama," ucap Hendra begitu lembut dan penuh perhatian.


Membuat hati Viona bergetar dan bahagia. Mereka berjalan menuruni tangga berbarengan.


"Vi di sini ada urusan apa? mana suaminya!" selidik Hendra basa-basi.


"Urusan kerja Mas, nggak. Dia gak ikut," sahut Viona.


Kemudian mereka terpisah ke berlainan arah, Viona sama So menuju hotel yang sudah di pesan sebelumnya.


Viona menjatuhkan tubuhnya ke tempat tidur yang super empuk itu. Perjalanan ini lumayan melelahkan, ingin istirahat sebentar sebelum melakukan pertemuan nanti malam.


Sekitar pukul 18.30 Viona sudah bersiap untuk pertemuan. Ia sudah rapi dengan penampilannya yang elegan, di dampingi oleh So yang super rapi.


Keduanya berjalan menuju lobby yang bersebelahan dengan restoran. Dan kebetulan pertemuan pun di adakan di sana.


"Maaf saya terlambat?" ucap Viona sambil mengangguk hormat.


"Oh, ini ya wakil dari Yani grup itu, sangat cantik nan elegan. Senang bertemu dengan anda dan semoga kerja sama kita berkepanjangan," ungkap salah seorang pria sambil berjabat tangan.


"Sama-sama Tuan." Mereka pun berbincang santai tentang bisnis mereka yang baru di pimpin oleh CEO wanita yang relatif masih muda.


Satu jam kemudian. Pertemuan pun selesai dan berujung dengan sangat baik. Viona menghela napas lega. Akhirnya ia bisa menjalankan tanggun jawabnya tanpa sang Oma.


Sebelum pergi, Viona mengucapkan banyak terima kasih pada semua rekan-rekan yang sudah membantu pertemuan malam ini.


"Kami pun mohon maaf, kemarin tak bisa memenuhi undangan Nyonya, dalam acara pernikahan anda," ucap direktur Handi.


"Iya, kebetulan saya juga sedang ada acara keluarga," timpal meneger Pram.


"Oke, no problem. Kami pun mengerti dengan kesibukan masing-masing." Viona mengangguk.


Jamuan makan pun berakhir. Viona pamit tuk meninggalkan meja tersebut. Di lobby berdiri seorang pria tampan dengan senyuman manisnya menyambut Viona yang di belakangnya Sau Xan.


"Loh, Mas kok ada di sini bukannya tadi sedang tugas?" Viona heran. Melihat Hendra kok masih ada di Jakarta.


"Iya, Vi. Mas sengaja gak tugas lagi, mas kangen sama kamu," ucapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Maksud Mas apa nih?" Viona mulai merasa risih. Walau hati kecilnya mengakui menyimpan perasaan yang sama.


Mata Hendra mengarah pada Sau Xan yang berada beberapa langkah dari Viona. Netra mata Viona pun mengikuti tatapan Hendra ke mana.


"So, duluan aja ke kamar. Saya mau bicara dulu sama Saudara saya." Viona menoleh So yang menenteng laptop.


Dia mengangguk dan berlalu ke atas, menuju kamarnya.


"Gimana kalau kita berbincang ya di sana." Hendra menarik tangan Viona ke luar hotel yang ada bunga-bunganya.


Viona merasa heran, apa maksudnya Hendra masih ada di Jakarta. Padahal setau Viona dia itu sedang tugas ....

__ADS_1


****


Jangan lupa tinggalkan jejak ya, makasih🙏


__ADS_2