
Ngiung-ngiung, ngiung .... ngiung-ngiung, ngiung ....
Suara ambulance terus bersuara terdengar begitu nyaring. Membelah jalanan yang gelap berhiaskan lampu-lampu jalan yang menghiasi di tepi-tepi.
Korban dibawa ambulance yang melaju begitu cepat menuju Rumah sakit. Sesampainya di ruang UGD pasien langsung diperiksa, namun dokter menatap suster yang berusaha membantunya. ''Hubungi keluarganya. Pasien sudah tidak terselamatkan."
Perawat pun keluar mencari mungkin saja ada keluarganya di luar atau barang yang bisa memberi petunjuk untuk menghubungi keluarganya.
"Maaf apa ada keluarga pasien yang kecelakaan barusan?" selidik perawat. Menatap orang-orang yang berada di sana.
Namun semua menggeleng dan perawat hendak kembali namun dokter keluar membawa sebuah kartu nama dan kartu tanda pengenal juga ponsel.
Dengan cepat pekerja terkait menghubungi kontak dari panggilan terakhir yang ada di ponsel pasien.
Tidak lama munculah Sita, Rumi dan istrinya Hendra. Berjalan cepat ke ruang UGD.
"Dok gimana kakak saya?" tanya Sita menatap cemas. "Saya adiknya dan ini istrinya."
"Maaf. Pasien meninggal di perjalanan." Lirih dokter seraya menghela napas yang panjang.
Tubuh ketiganya melemas dan berlarian masuk ke ruangan yang ada tubuh tertutup kain kafan. Istrinya menjerit setelah melihat kondisi Hendra yang banyak luka tersebut.
"Mas? Mas bangun ... jangan tinggalkan aku dan anak kita Mas." Sesal istrinya sambil menangis terisak.
Sita dan Rumi memeluk jasad sang kakak yang terbujur kaku setalah memastikan apa benar itu sang kakak. Tangis keduanya pun pecah. Rumi memanggil nama sang kakak laki-lakinya.
Tangis istri Hendra semakin keras, kecewa dan sedih. Menyesali kenapa harus berakhir seperti ini? Sita yang sedikit lebih kuat dan tenang. Segera menghubungi keluarga yang lainnya. Termasuk Viona sebagai adik bungsunya.
****
Sekitar pukul 02. lewat dini hari Fatir dan Viona sudah bangun bahkan sudah bersih-bersih. Fatir membuatkan teh hangat buat Viona yang terlihat menggigil kedinginan.
"Teh hangat sayang." Menyimpan cangkir itu di atas laci kecil. Samping tempat tidur.
"Hem, makasih!" Viona melirik dan mengambil lalu meneguknya.
Fatir mendekat dan memeluknya erat. Masih ada waktu satu jam lagi untuk pergi ke pasar. "Sini ku peluk."
Viona menyembunyikan wajahnya di dada Fatir. Namun saat hening begini ponsel Viona berdering, dibiarkan pun lagi dan lagi berdering.
"Angkat dulu, siapa tau penting." Titah Fatir sembari memberi kecupan hangat di kening Viona.
"Siapa sih jam segini? waktunya tidur juga." Gumamnya Viona dengan malas beranjak dari pelukan Fatir yang memudar.
"Iya, angkat saja dulu!"
"Halo? apa?" Viona tampak sangat terkejut, ponsel lepas dari genggaman. Bibirnya menganga tak berkata-kata lagi.
"Ada apa Vi?" menatap sang istri yang tertegun dan membatu.
Manik mata Viona berembun dan akhirnya buliran air jatuh juga menyusuri pipi Viona yang putih itu. Fatir heran namun ia tak lagi mengajukan pertanyaan melainkan memberi rangkulan di bahu Viona dipeluknya penuh kasih sayang dan mengecup keningnya berulang-ulang.
Viona menangis terisak kecil dalam pelukan Fatir. "Antar aku ke Rumah sakit." Akhirnya Viona bersuara.
"Buat apa hem?" tanya Fatir tanpa melepas pelukannya.
"Mas-Mas Hendra kecelakaan dan nya-nyawanya tak tertolong." Suara Viona terputus-putus.
Deg!
Fatir terdiam sejenak. Kemudian memudarkan pelukan nya. "Ayo. Pakai jaketnya."
__ADS_1
Viona mengangguk dan mengambil jaketnya dari lemari. Kemudian mereka bergegas meninggalkan apartemen menaiki mobil Viona yang akan Fatir pegang setirnya.
Selang beberapa puluh menit mobil Viona tiba di tempat tujuan dan bergegas berjalan melewati lorong rumah sakit. Tangan Fatir terus menuntun lengan Viona yang berwajah sedih. Sesampainya di ruang UGD Viona langsung masuk dan di sana ada istri Hendra dan Rumi.
Plak!
Tamparan bersarang di pipi Viona. "AW," desis Viona.
Fatir terkesiap. "Apa-apaan nih Mbak?" Fatir menari Viona sedikit menjauh.
"Gara-gara kamu suamiku lari dari tanggung jawab dan luntang-lantung tanpa tujuan. Dan sekarang lihat-lihat suami ku tak bernyawa lagi. Kau puas ha? puas." Istri Hendra ngamuk dan terus meronta mau menyerang Viona. Namun Rumi memegangi kakak iparnya.
"Mbak, tentu ini tak ada hubungannya dengan Viona. Ini takdir Mbak." Timpal Fatir sambil memeluk Viona yang memegangi pipinya yang terasa panas dan juga air matanya terus berjatuhan.
Lalu Viona berjalan mendekati Jenazah Hendra dan kemudian membukanya melihat wajah Hendra untuk yang terakhir kalinya. "Astagfirullah." Viona menutup mulutnya. Wajah Hendra hampir saja tak bisa dikenali akibat banyak luka akibat insiden tersebut.
Viona tak kuasa melihatnya. Langsung menutup kembali, kakinya melangkah mundur sampai punggungnya membentur dada Fatir yang merangkul pinggangnya.
Viona tak dapat membendung air matanya lagi, ia menangis di pelukan Fatir. Tangan Fatir mengusap punggung sang istri yang tengah menangis.
"Maut itu sudah Allah yang atur, gimana dan dalam keadaan apapun. Sang malaikat maut akan menjemput, tak bisa di tunda apalagi di tolak," lirih Fatir pada Viona yang tersedu.
Pak Rusadi dan Bu Asri masuk, dan langsung menghampiri jenazah dan menangisinya.
"Vi, dari kapan di sini Nak?" tanya Bu Asri mendekati Viona.
"Baru aja, Mah." Fatir yang menjawab kan sebab Viona tak merespon sapaan sang bunda.
Sita kembali dari mengurus-ngurus administrasi Rumah sakit. Untuk kepulangan jenazah Hendra.
"Pa, Mah ... kalian sudah datang?" sapa Sita mengedarkan pandangan pada orang tuanya.
"Baru saja," sahut Bu Asri.
"Sudah, Pah. Semua sudah selesai dan sebentar lagi akan diantar pulang." Jawab Sita.
Istri Hendra yang terus menangis histeris. Sesekali pingsan saking shock nya dengan kejadian ini.
"Mau disemayamkan di mana?" tanya Bu Asri pada Sita.
"Di rumah ku," balas Sita sambil mengusap pipinya yang basah.
Viona yang berada dalam pelukan Fatir dan terus ditenangkan nya. Kini mulai berhenti menangis, memang dulu pernah sangat ia cintai namun itu biarlah menjadi masa lalu dan kini Fatir lah yang akan menjadi masa depan Viona saat ini.
"Sudah jangan menangis lagi," tangan Fatir menyodorkan minuman mineral yang langsung Viona sambut.
Kini mereka sudah berada di rumah duka, Viona dan Fatir ikut serta ke sana. Mengikuti acara sampai disemayamkan nya ke tempat peraduan terakhir.
Setelah itu Fatir dan Viona kembali pulang ke apartemen. Viona yang masih Shock berdiam diri di kamar.
Fatir menghampiri dan naik ke tempat tidur dan merangkul. "Jangan sedih, jangan murung gitu! mending ikut aku yu?"
Viona menoleh dengan wajah yang basah. "Kemana?"
"Ke tempat ibu ya? ikut." Membelai rambut Viona yang bergelombang.
"Hem ..." gumamnya.
"Yu?" Fatir menarik tangan Viona.
"Tapi, gendong!" suara Viona manja dan merentangkan kedua tangannya.
__ADS_1
"Ah, Tuan ratu mau ku gendong? boleh, siapa takut." Fatir menggendong tubuh Viona dengan mudahnya.
Viona melebarkan senyumnya. dan merangkul pundak Fatir dengan erat ketika tubuhnya melayang. Fatir menggendong ke luar apartemen dan membawanya ke tempat parkiran.
Tubuh Viona ia dudukan di jok depan samping setir. Fatir berjalan mengitari mobil dan duduk di samping Viona.
"Mobil siap meluncur." Fatir melirik pada Viona yang sedang menatapnya sehingga pandangan mereka bertemu.
"Kalau gak salah orang yang mengalami insiden tunggal semalam itu aku lihat lho."
"Lihat di mana, di koran sekarang ini? ha ha ha ... iya lah saya juga lihat sekarang."
"Bukan. Semalam aku lihat di melintasi parkiran ini dua kali malah, mulanya sih wajahnya begitu sumringah gitu. Namun ketika kembali wajahnya berubah kusut, penuh kekecewaan." Obrolan dua orang scurity di sana yang didengar oleh Fatir dan Viona.
Viona mengarahkan pandangan ke arah dua orang tersebut. Lalu melihat ke arah Fatir yang menaikkan kedua bahunya.
"Jalan yu sayang!" Fatir menyalakan mesin dan langsung tancap gas meninggalkan area tersebut.
Viona menjadi bengong. "Apa benar semalam mas Hendra ke apartemen?" batin Viona. "Tapi menemui siapa ya?"
"Kenapa lagi Non?" tanya Fatir ketika melihat Viona melamun dari kaca spion.
"Ndak sih," menggeleng. "Tapi ... apa benar mas Hendra ke apartemen, menemui siapa? setau aku dia tidak punya kenalan di situ."
"Mana ku tahu Non." Jawab Fatir singkat.
Viona menggigit kukunya sambil melamun. Tak habis pikir dan merasa heran kalau benar Hendra ke apartemen semalam.
Sesampainya di jalan parapatan tempat Fatir menyimpan roda jualannya. Fatir sangat terkejut, melihat semuanya yang berantakan, dua roda miliknya sudah terjungkal dan pada rusak. Untungnya perabotannya suka di bawa pulang kalau jualan selesai kecuali mangkuk dan sisi bumbu yang biasanya terkemas rapi.
"Astagfirullah ... kenapa ini?" lirih Fatir sambil mengangkat rodanya namun kakinya pincang sebelah.
Pun Viona turun, merasa heran dengan semua ini. "Siapa yang melakukan ini?"
Fatir berjongkok, sedih. Kesal, marah. Kok tega orang itu menghancurkan tempat jualannya hartanya yang menghasilkan uang perharinya. Tangannya mengambil pecahan mangkuk yang berserakan di pinggir jalan.
Viona ingin membantu tuk membereskan pecahan itu. Ia berjongkok dan memungut pecahan.
"Jangan. Nanti jarimu terluka," cegah Fatir pada sang istri.
Seiring itu. "Au," desis Viona mengangkat tangannya. Jarinya terluka kena serpihan kaca.
"Tuh, kan ku bilang apa?" dengan cepat Fatir menghampiri dan menarik tangan Viona yang kena luka tanpa basa-basi jari Viona yang berdarah itu ia masukan ke mulut dan ia hisap lalu ia buang. Hisap lalu buang lagi sampai darahnya tak keluar lagi.
Viona hanya menatap Fatir dengan tatapan sendu dan merasa simpati mendapat perhatian dari Fatir.
"Fatir, tadi ada orang memborak-barikkan roda kamu. Menghancurkan semuanya, kami sudah berusaha mencegahnya. Namun malah kami yang mau jadi sasarannya." Suara tetangga Fatir yang menyaksikan kejadian itu.
Fatir berdiri dan memandangi orang itu. "Kapan kejadiannya Paman? seperti belum lama ini."
"Benar, baru saja. Yang lain baru ke sana memberi tahukan ibumu. Sepertinya adik-adik mu gak ada," sambung seorang pria tua itu.
"Adam juga Sidar, sedang sekolah." Fatir melamun.
Viona yang merasa penasaran mencoba bertanya. "Apa Paman kenal siapa orangnya yang merusak semua ini?"
"Eh ... paman sih gak tahu. Tapi mungkin yang lain punya rekamannya sebab tadi ada yang sempat video." Timpalnya.
"Ada apa ini?" Bu Afiah tampak shock. Ketika sempat melihat semua berserakan. Viona merangkul sang ibu mertua.
Fatir dan paman itu membereskan semuanya. Dengan masih berpikir siapa yang melakukan ini ....
__ADS_1
****
Ayo mana dukungannya nih. Bantu aku dong ... supaya bisa populer seperti SKM dulu🙏