
Setelah selesai dengan aktifitasnya. Viona langsung pulang ke kamar hotel. Selepas mandi sehingga tampak segar, rambut yang masih basah dibiarkan terurai bebas. Dan hanya mengenakan kimono saja, Viona tengkurep di atas tempat tidur memeluk guling serta netra matanya menatap ponsel di tangan.
"Dasar. Gak ada niat tuk mencari ku apa? tapi ... kenapa aku ingin dia mencari atau perduli padaku? mungkin saja dia senang-senang sama kekasihnya ketika aku tak ada!" gumam Viona. "Em ... aku hubungi Sidar ah."
Viona mencoba chat Sidar. Biasanya, Sidar itu suka mengatakan sesuatu yang tidak dipertanyakan sekalipun.
Viona: "Hi?"
Ting!
Sidar: "Mbak cantik ada apa?"
Viona: " Nggak cuma mau tanya kabar kalian saja."
Ting!
Sidar: "Kangen ya mbak cantik? kabar kami baik-baik saja. Oya Mbak cantik. Mas Fatir seperti malam ini tidur di Rumah sakit menemani Ibu dan Sya. Kapan Mbak cantik pulang? Mas Fatir sudah rindu."
Viona: "Oh. Entah kapan, mungkin satu atau dua hari lagi."
Lama Viona tunggu tak ada balasan lagi dari Sidar. Mungkin dia ketiduran atau entah apa.
"Berarti, selama aku gak ada dia gak pernah pulang? huuh ... kalau rindu kenapa gak mencari ku. Ah Sidar ada-ada saja." Viona bicara sendiri, manik matanya menatap sebuah cincin. Ia lepas, ia tatapi di dalamnya terukir nama Fatir. Bibir Viona pun mengulas senyuman senangnya.
Tok!
Tok!
Tok!
Viona menoleh ke arah pintu, lalu melangkah ingin membukanya. Ketika pintu di buka, blak! tampak seorang pria memegangi sebuket bunga hingga menutupi wajahnya.
Viona heran. Nggak merasa pesan bunga apalagi malam-malam begini, ia mengerutkan kening seraya bertanya. "Em ... mau bertemu siapa ya? saya tidak memesan bunga kok."
"Anda memang tidak memesan Nona. Tapi saya yang pesan buat wanita cantik yang ada di hadapanku, ucapnya sambil perlahan menurunkan bunga tersebut.
"Mas Hendra?" Viona langsung mengenali suara itu. "Ngapain ke sini sih? dah malam juga."
"Vi, sayang Mas ke sini cuma mau ngucapin selamat malam dan selamat bobo sayang. Nggak boleh ya?" memicingkan matanya.
Intensnya perhatian Hendra terhadap Viona. Semakin membuat Viona merasa risih, bukan gak senang tapi takut akibat dari sebab yang di buat Hendra sendiri.
Viona menghela napas dalam dan menatap ke arah Hendra yang tersenyum riang menatapnya.
"Ini, bunganya masa gak di terima? sedih dong ... nanti layu percuma bunganya." Dengan nada memelas.
Perlahan tangan Viona mengambil bunga tersebut lantas dicium wanginya.
"Gitu dong dong Vi, kan Mas senang. Gak mau di suruh masuk nih?" menaik-turunkan alisnya.
"Nggak. Pulang sajalah." Tangan Viona mendorong dada Hendra ke belakang pelan.
"Teganya wanita ku! ya udah, mau pulang saja lah. Selamat malam dan met bobo sayang." Hendra mendekat dan berniat mencium pipi Viona, namun Viona segera menghindar beberapa langkah mundur ke belakang.
__ADS_1
Tampak ada kekecewaan pada Hendra. Namun segera berubah dengan senyuman. "Mas pulang dulu ya!"
Viona menanggapi dengan anggukkan. Kedua matanya menatap punggung pria yang bertubuh tinggi besar itu sampai hilang dari pandangan khawatir kembali lagi.
Setelah memastikan Hendra sudah jauh. Viona segera masuk. Mengunci pintu dan menyimpan bunga itu di atas meja. Berkali-kali menguap pertanda rasa kantuk dah mulai menghinggapi kedua matanya.
****
Di hari ke 6 Viona di luar kota. Fatir barulah berinisiatif tuk pulang ke rumah sang istri mau berkunjung keluarga Viona.
Kedatangan Fatir langsung mendapat omelan dari Oma Yani. Wanita itu mengomel karena Fatir karena kecewa sebab Fatir selama ini tidak pernah pulang mentang-mentang istri gak ada, lupa sama keluarga istri.
"Maaf Oma, bukan bermaksud seperti itu. Aku sibuk jualan dan menemani ibu di Rumah sakit, sama sekali tidak Oma." Fatir menyentuh tangan oma lembut.
"Saya kecewa sama kamu Nak Fatir. Sekalipun Vi sedang tidak di rumah, pulang saja. Ini rumah Viona jangan merasa canggung sama kami," lanjut oma Yani.
"Sudah Oma. Jangan diomelin terus Fatir nya baru datang loh oma kasian, mungkin dia mau istirahat," timpal bu Asri dengan lirihnya.
"Oya, papa ke mana?" tanya Fatir celingukan tumben aja pak Rusadi tak menampakkan batang hidungnya.
"Papa belum pulang," sahut bu Asri.
"Oh, Oma. Boleh aku naik pengen mandi." Fatir beranjak dari duduknya yang berada diantara dua wanita itu.
"Iya, sana. Istrinya gak ada, dia pun ikut menghilang. Aneh saya." Gerutu oma Yani bibirnya terus komat-kamit.
Fatir cuma tersenyum dalam menanggapinya. Ia terus berjalan mendekati tangga.
Sementara Bu Asri menerima telepon dari sang putri. "Iya sayang nanti ada kami jemput ke sana."
Bu Asri menoleh ke arah Fatir yang masih menaiki anak tangga. "Nak Fatir kebetulan sekali. Kita ****** Vi ya ke bandara."
Fatir hentikan langkahnya setelah mendengar suara bu Asri.
"Ibu ikut!" Oma Yani berdiri.
"Sudah malam Bu. Istirahat saja di rumah." asri menatap sang bunda.
"Ndak apa-apa. Sambil jalan-jalan." Oma kekeh.
"Nak Fatir mandi aja dulu, masih ada waktu kok," sambung bu Asri ketika langkah Fatir kembali turun.
Helaan napas Fatir dilepas kasar dan bergegas membalikkan badan melanjutkan langkahnya menuju kamar. Mengambil pakaian ganti lantas masuk kamar mandi mau bersih-bersih. Viona paling gak suka mencium bau-bau aneh. Parfum pun harus kesukaannya.
Lima belas menit kemudian Fatir, segera menyelesaikan mandinya. Kini ia dah siap dah wangi pula. Tatapan matanya tertuju pada tempat-tempat favoritnya Viona duduk, kemudian menggeleng pelan dengan seulas senyuman di bibir.
Ia bergegas hendak kembali ke bawah. Namun langkahnya ia urung melihat Bu Asri naik dan hampir setengahnya menuju lantai atas.
"Nak Fatir. Bawa mobil Vi aja, kuncinya di laci samping kanan tempa tidur.
"Oh, iya Mah." Fatir berbalik arah ke kamar mengambil kunci mobil Viona. Lalu bergegas turun menemui bu Asri dan oma Yani yang sudah siap sedari tadi.
Kemudian. Mereka memasuki mobil yang Fatir panaskan sebelumnya, mata Fatir melirik ke arah ibu dan Oma yang sudah mengenakan sabuk pengaman.
__ADS_1
"Bismillah ..." Fatir melajukan mobil dengan kecepatan sedang.
"Suami kamu ke mana sih Asri? jam segini belum pulang juga." Akhirnya Oma Yani angkat suara tentang sang mantu yang belum pulang juga.
"Entah lah, Bu. Biar saja nanti juga pulang." Jawab Asri tanpa menoleh sang ibu.
"Oya, gimana di kantor tadi?" sambung oma.
"Biasa aja Bu. Tak ada kendala apapun. Ya ... paling sedikit, biasalah." Bu Asri mengibaskan tangannya.
Perusahan yang di bawah naungan Yani grup terdiri dari textile dan kosmetik. Ada juga real estate. Dan semua kepemilikan sudah di antas namakan Viona. Bukan ibunya apalagi ayahnya Viona.
Fatir cuma mendengarkan saja obrolan mereka. Tanpa nimbrung atau bersuara apapun. Selang beberapa waktu Fatir memasukan mobil ke area bandara. Ketiganya berjalan sedikit cepat memasuki tempat dimana penumpang muncul dari pintu yang sudah disediakan.
"Oma, Mama?" panggil wanita muda nan cantik sambil melambaikan tangan.
"Eh ... cucu Oma ..." Bu Yani menyambut hangat sang cucu.
"Vi. Mama kangen Nak," ucap Bu Asri. Ketiganya berpelukan bergantian.
"Vi kangen sama kalian." Viona mengeratkan pelukan pada oma dan sang ibunda.
"Oma juga kangen sama kamu."
Usai kangen-kangenan. Viona menoleh ke arah Fatir yang berdiri dan bengong, Viona menghampiri lalu berdiri di depannya. Saling bersitatap dengan tatapan yang sulit diartikan dengan kata-kata.
"Apa kabar kamu?" Akhirnya Viona membuka suara. Menunggu Fatir dia cuma diem dan memandangi ke arahnya dan sesekali menunduk.
Fatir cuma tersenyum. Tidak menanggapi dengan serius, ia pandangi penampilan Viona yang selalu menarik nan ilegan. Tak ada yang berubah.
''Kenapa? apa ada yang aneh dengan penampilanku ini?" Viona melihat penampilannya sendiri yang cuma memakai setelan formal pendek.
"Nggak. Biasa aja, cuma ... ada yang aneh sih." Fatir kembali memandangi ke arah Viona.
"Apa?" kata-kata Fatir mampu membuat Viona penasaran.
"Em ..." menaikan alisnya sebelah. "Wajahnya tampak lebih berseri dan seperti dapat durian runtuh apa?"
Deg!
Viona berubah agak gusar, khawatir Fatir curiga kalau ia bertemu dengan seseorang. "Oma, Mama. Wajar dong ... kalua ku tampak lebih bahagia! aku itu habis menyelesaikan tugas ku dengan maksimal."
"Iya, selamat ya cucu Oma. Oma bangga padamu." Bu Yani tersenyum bangga.
"Mama juga bangga sama kamu sayang." Timpal Bu Asri mengusap punggung sang putri.
"Gimana, mau pulang sekarang?" tanya Fatir.
"Nggak Mas, nanti saja kalau sudah lebaran kucing." Viona mendelik sambil menarik kopernya.
Netra mata Fatir mendapati sesuatu yang melintasi agak jauh namun cukup membuat hatinya bertanya-tanya ....
****
__ADS_1
Mohon dukung aku ya semoga semua berkah.