Bukan Suami Harapan

Bukan Suami Harapan
Belanja


__ADS_3

"Bilang saja sama dia, dari pihak ku gak ada yang mau aku undang, satupun," ujar Fatir di ujung teleponnya.


Darma: "besok siang kamu harus siap-siap, sebab mau di jemput tuk ngambil cincin!"


"Oke," akhir kata yang Fatir ucapkan.


Setelah menyimpan ponselnya di saku, Fatir menoleh Sidar yang masih nyetrika. "Mas kembali jualan. Belum beres-beres!"


"Iya, Mas." Sidar sekilas melirik Mas nya.


Keesokan harinya. Sekitar pukul dua, Fatir sudah bersiap pergi ke tempat yang sudah di tentukan Darma yang menyampaikan pesan dari Viona.


Sidar baru datang bahkan masih untuk menggantikan, Mas nya jualan. Ia menatap penuh rasa penasaran. "Sebenarnya, Mas mau ke mana sih?"


"Ada urusan, layani saja pelanggan dengan baik. Mas pergi dulu!" ucap sang kakak sambil menepuk pundaknya.


"Nggak bawa motor Mas?" tanya Sidah lagi menatap langkah Fatir.


Fatir terdiam, lalu menoleh ke belakang. "Motornya di pake Mas mu ngantar pesanan, Mas ngojek aja. Sudah ya!" langkah Fatir kembali menyusuri jalan mencari ojek.


"Hati-hati Mas." Sidar mendekati gerobak mie ayam, mau mencuci mangkuk kotor.


Fatir sudah di atas ojek dengan helm di tangan. "Jalan xx Mas?"


Tukang ojek mengangguk. Sesampainya di tempat tujuan, Fatir turun dan membayar ongkosnya. Lantas nyebrang memasuki Sebuah Mall.


Di depan Mall, Viona sudah berdiri menunggu. Menatap kearah Fatir yang penampilan nya sangat sederhana, jauh dari kata elegan.


"Maaf, sudah lama menunggu ya?" ucap Fatir sambil berjalan menghampiri.


"Nggak pa-pa. Yu masuk ikut saya?" Viona masuk duluan dan Fatir mengikuti dari belakang.


Keduanya berjalan menuju konter cincin yang Viona pesan. Tidak lama langsung transaksi dengan Fatir. Kemudian Viona masuk konter pakaian pria.


Netra mata Viona mencari Fatir yang ternyata cuma berdiri di luar saja. "Ck. Ngapain sih berdiri di sana?" akhirnya tangan Viona melambai pad Fatir menyuruhnya masuk.


Fatir pun masuk. Menghampiri Viona yang memilih kemeja-kemeja pendek.


"Ukuran baju mu berapa?" tanya Viona dengan mata tetap melihat pakaian yang menggantung.


"Saya? L." Fatir begitu singkat.


Setelah mendengar jawaban dari Fatir, Viona memilih beberapa potong kemeja pendek termasuk baju sapari buat kondangan.


"Celana ukuran berapa?" tanya Viona melirik ke arah Fatir.


"Dua delapan," sahut Fatir.

__ADS_1


Tangan Viona memilih celana panjang dan celana pendeknya juga.


Manik mata Fatir hanya memandangi Viona yang terus memilih pakaian pria. Ia pandangi dari belakang, terlintas omongan Sidar. Kalau Viona itu baik.


"Mas, baju ukuran dua adik mu?" menatap menunggu jawaban.


"Ha?" Fatir bengong, itu baju yang di pilih sudah banyak dengan warna-warna kalem. Masih juga nanya ukuran kedua adiknya. "Hampir sama ukurannya. Tapi, buat apa Mbak?"


"Beli baju buat adik mu lah." Jawab Viona dengan tatapan datar.


"Itu, yang sudah Mbak pilihkan sudah banyak Mbak." Jari Fatir menunjuk pakaian yang sudah di pegang pegawai wanita di sana.


"Oh, itu punya anda. Adik-adik mu pasti mau hadir kan? di acara nanti. Pasti belum punya bajunya, apa salahnya sekarang di belikan." Viona tetap berjalan dan fokus memilih beberapa setel pakaian buat Adam dan Sidar. Bahkan kaos-kaos nya.


Fatir cuma mengikuti langkah Viona yang begitu asik memilih pakaian.


"Mbak, pakaian dalam pria di sebelah mana ya ?" tanya Viona melirik penjaganya.


"Oh, di sebelah sini Bu," mengajak ke tempat pakaian dalam pria.


Viona tanpa bertanya lagi ukuran, ia dapat kira-kira saja. Tak segan atau apa Viona langsung mengambil beberapa pak, lengkap dengan boksernya.


Ketika Viona berdiri di etalase khusus pakaian dalam Itu, Fatir menghampiri. "Mbak, gak malu ya mengambil pakaian dalam pria?" suara Fatir pelan.


"Kenapa mesti malu? aku beli bukan mengambil gratis."


Viona terdiam sesaat dan menatap intens pria yang akan menjadi suaminya itu. "Tidak, tidak malu."


Kemudian mendekati kasir tuk membayar dengan total Rp 4,887800, Fatir bengong. Mendengar totalnya.


Fatir mengambil dompet dan mengeluarkan uang satu juta pada Viona yang mengeluarkan ATM nya. "Ini buat nambahin." Dengan suara pelan.


Dengan suara pelan juga. "Simpan saja, biar aku yang bayar. Aku bawa kartu kok." Tolak Viona.


Fatir menghela napas panjang, di balik itu bibirnya mengulas senyuman. "Terus Mbak sendiri gak belanja?"


Viona tak menjawab. Setelah membayar, dan barangnya sebagian Fatir yang bawa. Melangkahkan kakinya meninggalkan konter tersebut lalu masuk ke konter pakaian khusus wanita. Namun ia bingung, perasaan gak butuh apa-apa. Akhirnya mengambil piyama aja satu setel.


"Mbak, sini?" panggil Fatir.


Viona pun barjalan maju mendekati Fatir yang berdiri di suatu tempat. "Apa?"


Fatir menunjuk etalase. "Ini pakaian dalamwanita, cantik-cantik deh Mbak."


Manik mata indah Viona menoleh ke arah etalase tempat pakaian dalam wanita. Wajah Viona berubah merah merasa malu.


"Kenapa Mbak malu? cantik-cantik loh Mbak. Tadi waktu membeli pakaian pria gak malu, kenapa sekarang malu?" suara Fatir pelan.

__ADS_1


Viona tidak merespon. Ia menunduk dan menjauh dari Fatir. "Iya-ya, tadi aku biasa aja mengambilkan pakaian dalam mereka kenapa sekarang cuma di tunjuk aja aku malu?" batin Viona.


Fatir tersenyum nakal. Melirik mbak penjaga. "Maaf Mbak. Kira-kira ukuran em ... sebesar dia, aduh." Fatir jadi serba salah dan menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Untungnya si panjaga, mengerti yang Fatir maksudkan. "Oh, saya mengerti," lalu menujukan ukuran yang sekiranya pas di tubuh Viona.


Fatir pun memilih beberapa setel pakain dalam, yang berenda bahan berukat dengan warna yang tidak mencolok.


"Buat kekasihnya ya Mas?" selidik si penjaganya dengan ramah.


"I-iya, Mbak calon istri." Jawab Fatir dengan jelas. Segera Fatir bawa ke kasir, membayarnya sendiri. Sementara Viona masih mencari-cari entah apa.


"Mbak. Aku mencari pakaian buat ibu-ibu," ucap Viona pada si penjaga.


Setelah ditunjukkan. Viona pun membeli dua gamis dan kerudungnya buat bu Afiah. Tidak lupa buat Hesya juga, baju yang termasuk masih abg.


Akhirnya Fatir dan Viona berjalan menuju mobil, menenteng banyak belanjaan di paper bag. Semuanya sudah Fatir masukan di belakang mobil Viona. Sekarang Fatir mengitari mobil tersebut untuk membukakan pintu buat Viona.


Kini keduanya sudah berada di dalam mobil. "Sekarang mau kemana lagi mbak?" tanya Fatir sambil memegang setir.


Mata Viona tertuju ke kaki Fatir yang bersiap tancap gas. "Ya ampun lupa," ucap Viona menepuk keningnya.


"Apa lagi?" tanya Fatir heran.


"Alas kaki, sendal. Sepatu, Kan belum beli. Balik lagi yu?" Viona kembali turun dan bergegas memasuki Mall tersebut.


Fatir hanya menggaruk tengkuknya yang tak gatal itu, kemudian mengikuti Viona dari belakang.


Viona memilihkan sepatu, sendal untuk Fatir dan anggota keluarga yang lainnya.


Fatir melihat jam di ponselnya. "Maaf, saya mau ke mushola dulu. Sudah maghrib."


Viona mengangguk. Kebetulan ia sedang datang bulan, ia lanjutkan membayar belanjaannya.


10 menit kemudian Fatir kembali, Viona mengajak makan lebih dulu. Namun Fatir menolak dengan alasan jangan di resto tapi di kaki lima aja.


"Kenapa? aku yang bayar kok." Viona mengalihkan pandangan dari jendela ke Fatir.


"Saya yang malu, di bayarin terus." Tanpa menoleh, matanya fokus ke depan melihat jalanan. Suasana yang gelap hanya dihiasi lampu jalanan saja.


"Aku haus," ucap Viona ketika melihat tukang asongan.


Fatir menghentikan mebil di pinggir. Viona membeli minuman akua, namun ketika membuka dompetnya. Tidak ada uang kes. akhirnya Fatir yang bayar ....


****


Hi ... Reader ku yang aku cintai. Dukung terus novel ini ya? jangan lupa like dan komen, karena itu salah satu penyemangat ku dalam menulis.

__ADS_1


__ADS_2