
Para tamu khususnya wanita jomblo ribut dan rebutan satu buket bunga pengantin. Terselip senyuman di bibir Fatir dan Viona, suara MC kembali terdengar. Menyuruh kedua mempelai pengantin memotong kue tar yang menjulang tinggi nan indah itu. Viona dan Fatir berdiri dan lagi-lagi tangan mereka berpegangan, berjalan menghampiri kue yang mau di potong.
Setelah memotong kuenya. Kedua mempelai menyuapi walau dengan sikap yang masih kaku, ketika ada sisa kue di bibir Viona belepotan. Fatir langsung membersihkannya dengan tisu secara lembut, Viona tidak menyangka itu. Sesaat Viona menatap ke arah Fatir yang fokus dengan gerakan tangannya membuang tisu bekas .
Dengan kejadian itu ada sekeping hati yang terluka. Namun tak ada yang bisa dilakukan, selain mengelus dada sebab Viona bukan kekasihnya lagi, melainkan pertalian darah dengan kedua adiknya saja.
Semua undangan pun ikut mencicipinya, termasuk keluarga Fatir. Adam dan Sidar yang sedari tadi menunggu akhirnya bisa makan juga kue tar nya.
"Ibu mau pulang sekarang aja, kasian Sya di Rumah sakit," tutur Bu Afiah pada Fatir.
"Kok buru-buru Bu?" Fatir memegang tangan sang bunda.
"Kasian Sya, Ibu pamit ya? tunaikan tanggung jawab mu dengan baik ya Nak!" keduanya berpelukan sangat erat. "Sekarang tanggung jawab mu bertambah Nak."
Bu Afiah menoleh pada Viona. "Nduk, Ibu pamit dulu. Maafkan atas segala kekurangan putra Ibu, mohon di maklumi kalau dia bukanlah pria kaya ataupun bertitel atau jabatan yang tinggi. Dia cuma pedagang kecil, yang hanya cukup buat makan sehari-hari," ungkap Bu Afiah dengan suara parahnya, tak kuasa menahan tangisnya.
"Kenapa Ibu bilang begitu? aku tahu itu semua. Tidak perlu Ibu bahas lagi," Viona mengusap punggung bu Afiah yang kini telah resmi menjadi ibu mertuanya.
Viona curiga, apa ada yang ngomongin tentang Fatir di belakangnya sehingga Bu Afiah bicara seperti itu. "Biar Ibu di antar mobil ya Langsung ke Rumah sakit, oya bawa kue buat Sya. Sampaikan salam Vi sama Sya, mungkin besok atau lusa Vi berkunjung ke sana."
"Ibu biar pulang sama Adam aja. Pamannya Fatir sudah pada pulang juga," ujar bu Afiah lirih.
"Tidak, anak-anak masih betah di sini Bu, lagian mereka bawa motornya?" Viona melirik ke arah Fatir dan Fatir pun membalas dengan anggukan.
"Mas Darma dan Alisa juga gak pulang dulu. Mereka lagi temu kangen dengan teman-teman," sambung Viona, detik kemudian Viona memanggil seseorang dan menyuruh supir untuk mengantarkan bu Afiah. Tidak lupa dengan oleh-oleh buat Sya yang disediakan bi Ijah.
Setelah kepulangan bu Afiah. Viona dan Fatir bergabung dengan Darma dan juga Alisa berbincang dengan kawan-kawan Viona. Meski Fatir tidak mengenal mereka dan bingung harus bicara apa? namun Fatir tetap berada di sana untuk menghargai Viona.
"Sungguh aku sakit hati Vi, kamu sudah membuat semua patah hati. Hik hik hik," ucap seorang laki-laki dengan ekspresi lucunya namun ngena di hati.
"Jangan sakit hati, jodoh, rejeki. Maut sudah ada yang ngatur." Viona tersenyum manis.
"Tetap aja hati ini sakit kit-kit, kit ..." jawab yang lainnya.
"Eh, denger ya? di kejar gimanapun kalau bukan jodoh ya susah." Timpal Alisa.
"Kamu beruntung banget. Bisa mendapatkan Viona, kami harap kamu bisa jagain Viona dengan segenap hati dan perasaan," ungkap salah satu pria yang berdiri dekat Darma.
Fatir mengangguk." Insya Allah." Sebenarnya Fatir merasa bosan dan ingin keluar dari kumpulan itu.
Fatir menoleh ke arah Viona seraya berbisik. "Saya pengen ke toilet sebentar."
__ADS_1
Balasan dari Viona dengan anggukan, Fatir berjalan dengan niat ke lantai atas.
"Saya sungguh kecewa. Kita tidak jadi besanan, putri mu lebih memilih laki-laki lain." Kata rekan bisnis nya apak Rusadi dengan wajah sangat kecewa.
"Saya yang lebih kecewa. Kok putri saya bisa kepincut laki-laki yang bukan dari kalangan kita." Pak Rusadi menggeleng frustasi.
"Iya, putri mu itu termasuk wanita angkuh yang sulit di luluh kan. Padahal kurang apa sih kami ini? semua kemewahan akan dia dapatkan dengan mudahnya. Lagi pula kan sebanding sama-sama kaya."
"Itulah, bikin hati saya gedek, dongkol uh ... kalau saja mertua saya tidak merestui, saya malas menikahkan mereka. Cuma pemuda pedagang kecil-kecilan. Dengan pede nya melamar anak saya," sambung pak Rusadi.
Itulah perbincangan pak Rusadi dengan rekan-rekannya yang sempat Fatir dengar.
Deg!
Hati Fatir sakit, dadanya terasa sesak.Ternyata pernikahan ini hanya membuahkan perih baginya, dan inilah awal dari hinaan yang akan ia terima dan menyakitkan.
Fatir bergegas naik ke atas, tujuannya istirahat adalah balkon ruang tamu, ia ingin melepas penat nya di sana dengan sebatang rokok yang mungkin akan menjadi teman di saat ini.
"Huuh ..." Fatir membuang lepas napas yang dibarengi asap rokok dari hidungnya.
"Mas? Mas Fatir!" panggil seseorang yang terdengar suara dari sang adik, Adam.
"Adam mau pulang, besok gimana Mas. Mau jualan gak?" tanya Adam menatap sang kakak.
Sebelum menjawab, Fatir membuang asap rokoknya ke langit-langit terlihat dari mulutnya. "Sepertinya besok, libur dulu lah, lagian besok kalian masuk sekolah, kan?"
"Iya, Mas." Adam mengangguk. Memang hari esok ia masuk kuliah pagi, begitupun Sidar masuk sekolah. "Siang sih sebenarnya bisa dagang. Tapi siapa yang mau menyiapkannya? Kalau kata Mas seperti itu sih. Oke lah."
"Iya, libur saja lah. Mungkin lusa Mas siapkan semuanya," sambung Fatir.
"Yo wes ... kami pulang dulu lah." Adam membalikkan badannya hendak keluar dari kamar tersebut.
Fatir terdiam sesaat, lalu memanggil sang adik. "Dam? Adam."
Adam yang hampir melintasi pintu menoleh. "Iya, Mas?" menatap Fatir yang menghampirinya.
"Di rumah kan, ada motor. Jadi itu tinggal saja buat kalau Mas pergi, kalian pulang dengan mobil Mas Darma saja." Menatap lekat sang adik.
Adam menggaruk tengkuknya. "Baiklah, Mas." suaranya lesu. Keduanya berjalan turun ke pekarangan dan tamu nya berangsur pulang.
Langkah lebar Fatir mendekati Darma. Seraya berbisik. "Kamu kapan pulang?"
__ADS_1
"Kenapa? pengen buru-buru aja berduaan. Ha ha ha ..." ucap Darma.
"Bukan gitu. Saya mau titip Adam dan Sidar, sebab motor nya biar di sini aja. Agar kalau aku mau keluar gampang," sambung Fatir. menyenggol tangan Darma.
"Ooh ... kirain sudah tak tahan?" celetuk Darma.
"Apaan sih? sembarangan. Bisa-bisa aku habis di gebukin orang banyak karena gangguin anak orang, ha ha ha ..." Fatir tertawa kecil.
"Eh, sadar ... dah halal nih. Kalau kamu gak bisa masukin gawang. bisa minta ajarin aku aja, nanti aku ajarin deh." Darma nyengir.
"Pusing ah." Fatir menggeleng.
"Iya-iya, ini juga mau pulang." Darma menghampiri sang istri.
"Kalian pamit dulu sama mbak Viona." Perintah Fatir kepada sang adik.
Adam dan Sidar menghampiri Viona dan berpamitan. "Mbak cantik, kami pulang dulu ya? kalau Mas ku nakal getok aja kepalanya pake gayung, bila perlu pake palu--"
"Apa kau bilang? kamu pikir kelapa ku paku? di getok pake palu segala." Fatir memotong perkataan Sidar.
"Bener, bila perlu suruh tidur di luar. Jangan suruh masuk sekalian, kalau nakal. Terkecuali." Timpal Darma.
"Bener itu." Alisa juga menimpali perkataan sang suami sambil mengangguk pelan.
Fatir jadi garuk-garuk tak gatal dibuatnya. Viona cuma tersenyum simpul mendengarnya, sebenarnya acara resepsi sudah selesai. Namun teman-teman dekat Viona masih betah aja di sana.
"Ya, udah. Kalian tunggu di mobil dan ini kuncinya." Darma memberikan sebuah kunci pada Adam.
"Vi, aku pulang dulu ya? kasian baby di rumah. Gak perlu aku temenin kan malam pengantinnya?" goda Alisa.
"Nggak usah Ibu, aku bisa sendiri dan silakan pulang aja. Aku juga dah bosan melihat kalian terus."
"Sialan, Ibu mentang-mentang dah punya teman tidur beraninya mengusir kami. Yu Mas. Kita pulang, orang sudah di butuhkan lagi di sini juga he he he ..." Alisa memeluk Viona sangat erat.
"Selamat menempuh hidup baru Vi, sekarang Vi sudah menjadi istri." Bisik Alisa. Tak terasa air matanya jatuh serta merasa haru bahwa sahabat yang amat ia sayangi akhirnya menikah juga.
Derap langkah dari ruang keluarga terdengar jelas menuju tempat yang tengah mereka berkumpul ....
****
Hai ... reader ku semoga kabar kalian semua baik dan sehat-sehat ya? makasih banyak telah mampir di sini🙏
__ADS_1