Bukan Suami Harapan

Bukan Suami Harapan
Aku terjatuh


__ADS_3

Sebelum subuh, Fatir terbangun dan segera pergi ke kamar mandi untuk bersih-bersih. 15 menit kemudian Fatir kembali lalu berpakaian rapi. Memandangi wajah sang istri yang masih terlelap dibawah selimut.


Fatir mengambil dan menghampar sajadahnya menunaikan salat subuh. Usai itu ia membereskan bekas salatnya, lalu menghampiri sang istri yang masih tak bergeming.


Tangan Fatir bergerak mengarah ke bahu Viona. "Non, bangun? sudah subuh nih."


Viona tak bergerak sekalipun. Ia tetap nyenyak bahkan mungkin masih di alam mimpi.


"Sayang ... bangun," cuph! kecupan hangat di pipi Viona.


Barulah tubuh Viona bergerak namun malah memeluk selimutnya dan tak membuka matanya sedikitpun. Fatir menggeleng lalu mendekatkan. wajahnya ke wajah Viona, napas hangat pun menyapu kulit wajah sang wanitanya. Fatir menyentuh bibir sang istri dan mengecup dengan sangat mesra.


Viona yang masih dibawah alam sadar, merasakan ada yang lembab di bibirnya spontan bergerak dan mendorong dada Fatir. "Apaan sih?" terbangun dan memicingkan matanya.


Bibir Fatir tertarik membentuk senyuman. "Sudah subuh, Non. Bangun!"


"Tapi jangan mencium segala dong, kan bisa bangunkan dengan cara lain?" ketus Viona sambil memicingkan matanya.


"Sudah, dengan cara lainpun. Ndak bangun gimana. Jadi cara terakhir ya ... seperti itu." Dengan santainya.


"Tau gak sih, aku masih marah sama kamu." Timpal Viona.


"Marah? tapi semalam mau bercinta dengan ku! ehem, kenapa ndak nolak? sambung Fatir sambil berdehem.


Kedua netra mata Viona melotot dengan sempurna, lalu menggerakkan penglihatannya pada tubuhnya yang memang polos dan hanya ditutupi selimut saja. Ekspresi wajahnya kaget dan mengingat-ngingat kejadian semalam. Yang kata Fatir bercinta itu, mendadak wajah Viona bersemu merah. Menahan malu yang teramat sangat, hati dan mulut mengatakan marah tapi tubuh begitu merespon dan terhanyut di dalamnya. "Ah ... sial, kok pikiran dan tubuh ku ndak sejalan sih?" umpat Viona dalam hati.


Fatir menunjukan senyumnya melihat Viona bengong. "Baru nyadar kali semalam melakukan apa dengan ku!"


Kemudian Viona turun dengan selimut menggulung di tubuhnya. Baru aja mau melangkah.


Gubragh!


Tubuh Viona tersungkur disebabkan kakinya menginjak selimut sang justru menggulung tubuhnya. Fatir tersentak dan bergegas turun mengangkat tubuh Viona yang ia rangkul bahunya. "Kenapa Non?"


"Ndak lihat apa? aku terjatuh! malah nanya, gimana sih?" ketus Viona.


Membuat Fatir tertawa kecil, lalu mengangkat tubuh Viona diantarnya ke kamar mandi. Viona terkesiap Namun dengan refleks mengalungkan kedua tangannya ke leher Fatir. Kemudian Fatir dudukkan tubuh Viona di bibir bathtub yang lalu kemudian dia mengisi airnya dan tidak lupa membubuhkan aroma terapi favorit Viona.


Viona terdiam melihat yang Fatir lakukan untuknya. Mengagumi kesabaran dan tanggung jawabnya sebagai suami terhadap dirinya. Fatir menoleh dan Viona langsung membuang muka ke sembarang tempat. Pun Fatir mengulum senyumnya melihat tingkah sang istri.


"Sudah, keluar saja? aku bisa sendiri!" pinta Viona sambil menunjuk pintu dengan dagunya.


"Kalau ndak mau gimana?" Fatir berdiri memandangi Viona.


"Sudah, pergi saja ... urus gerobak mu itu, cepat perbaiki," sambung Viona kembali.


"Kau mengusir ku, Nona?" Fatir memicingkan sebelah matanya pada Viona.


"Bu-bukan mengusir, tapi memang benarkan? sudah, aku mau mandi!" tangan Viona mendorong dan membalikan tubuh Fatir supaya keluar.


"Sayang ... aku belum dikasih sarapan, dari semalam belum makan nih?" keluh Fatir sambil berjalan mendekati pintu.


Viona bengong. Lalu menoleh pada Fatir. "Iya, tunggu saja nanti aku bikinkan sarapan."


Fatir tersenyum dan terus melangkahkan kakinya dan mendekati gorden membuka-bukanya. Kemudian membawa langkahnya ke balkon.

__ADS_1


Menatap suasana luar yang masih gelap dan udara yang masih segar. Belum tercemar asap kendaraan.


Setelah beberapa saat kemudian Fatir kembali masuk kamar dan melihat Viona baru selesai salat subuh. Membaca doa.


Menoleh ke arah Fatir. "Aku bikinkan sarapan ya?"


Fatir menatap dan akhirnya mengangguk pelan. Kemudian keluar kamar dan duduk di sofa sambil menyalakan televisi.


Detik kemudian Viona berkutat di dapur membuatkan sarapan buat berdua. Yang gampang-gampang saja seperti mie goreng dan telor ceplok. Sekitar 15 kemudian hidangan pun tersaji di meja makan.


"Hem ... wanginya!" Fatir langsung mendekati meja' makan.


Viona menyodorkan mie goreng lengkap dengan telor mata sapi nya. Di rumah, mana bisa Viona memasak! taunya makan doang tapi setelah tinggal di apartemen Ia jadi bisa masak.


Tanpa basi-basi Fatir melahap hidangan yang tersaji untuk nya. Begitupun Viona fokus dengan sarapannya tak ada yang mengeluarkan suara selain suara bertemunya sendok dan piring. Masing-masing sibuk dengan pikirannya sendiri-sendiri.


Sampai akhirnya sarapan selesai, Fatir mengakhiri dengan meneguk segelas air putih. Kemudian membereskan dibawanya ke wastafel dan mencucinya.


Sementara Viona ke kamar untuk mengambil tas dan ponselnya. "Aku pergi sama suami ku, jadi Ndak usah di kawal. Kalian cari saja orang yang sudah merusak gerobak suami ku. Oke?" gumam Viona dengan mengenakan earphone di telinganya.


Viona berjalan dengan menenteng tas nya. Mengenakan pakaian formal berwarna hitam putih. Span panjang dengan belahan di belakang sampai atas lutut belakang.


Fatir memperhatikan sang istri dengan seksama dan bibir menunjukkan senyuman manisnya.


"Kenapa?" tanya Viona ketika netra matanya mendapati Fatir memandangi dengan intens.


"Ndak, Vi. Cantik!" sambil menyambar kunci mobil Viona.


Viona menggelengkan kepala pelan dan menyembunyikan senyumnya. Padahal Hatinya masih merasa kesal dan dongkol dengan tuduhan keluarga Soraya yang sudah menuduh Fatir yang menghamili Soraya.


Degh!


Setelah berada di dalam mobil Viona memasang sabuk pengaman yang kayanya macet.


Fatir yang baru saja masuk dan bersiap menyalakan mesin, menoleh ke arah Viona yang tampaknya kesusahan memasang sapety belt. "Sini ku bantu!"


"Ndak usah, aku bisa sendiri." Ketus Viona sambil melanjutkan gerak tangannya.


"Kenapa sih ... sebentar manis. Sebentar ketus? satu sat nanti ... Nona akan tahu siapa yang salah dalam hal semalam--"


"Kamu, begitu santai dan seolah tidak ada apa-apa?" sela Viona sekilas melihat ke arah Fatir.


"Emangnya aku harus gimana? aku gak salah! aku yakin itu."


"Kali aja khilaf!" Viona memajukan bibir bawahnya. Mencibir ke depan.


"Ha ha ha ... khilaf nya cuma sama kamu aja Vi ... yang lain ndak ada khilaf nya."


"Siapa tahu aja, kan bisa aja. Namanya juga laki-laki dihidangkan sajian bagus masa gak tergoda!" kemudian menggerakkan netra matanya keluar jendela.


"Tergoda dong, secara body Soraya tidak jauh dari istri ku yang membuat ku candu ini," seraya tersenyum.


Sontak manik mata Viona melotot dengan sempurna. Kata-kata Fatir membuat hatinya panas.


"Em ... maksud ku, iya pasti tergoda tapi aku sama sekali tak ada niat untuk menodainya. Aku masih sadar, di rumah istri ku lebih cantik dan halal kapan pun ku mau," ujar Fatir sambil tetap fokus ke depan.

__ADS_1


"Mau apa? mau makan?" tanya Viona dengan nada sedikit lembut.


"Apa aja di kasihnya sama istri. Aku mau. Paha, dada. Aku suka, ha ha ha ...."


"Mesum!" sambung Viona menyembunyikan senyumnya.


"Mesum boleh dong ... asal sama istri sendiri! sama istri orang jangan," sambung Fatir lagi.


Setibanya di halaman kantor, Viona bersiap turun dengan mendorong pintu namun tangan Fatir menggenggam tangan Viona.


Kedua netra mata Viona bergerak dan mengarah pada tangan yang memegangnya.


"Apa gak ada kiss pagi buat ku?" menatap lembut.


"Ndak ada," seraya menarik tangan yang Fatir kunci.


"Hem, ya udah aku aja yang kasih." Wajah Fatir mendekat membuat Viona memejamkan mata.


Bibir Fatir melukis senyuman. Melihat Viona memejamkan matanya, sementara tangan Fatir menekan tombol kaca yang terbuka agar tertutup.


Jantung Viona dag Dig dug serr menunggu apa yang Fatir lakukan terhadapnya. Namun sementara waktu tak ada pergerakan yang signifikan sama sekali, sehingga kelopak mata Viona terbuka dan menemukan wajah Fatir yang cuma berjarak beberapa senti dari wajahnya. Menatap lekat dengan bibir tersenyum yang Viona rasakan senyuman penuh ejekan.


Viona hendak mendorong dada Fatir dari hadapannya. Namun dengan cepat bibir Fatir menangkap bibir Viona yang basah menggoda.


"Em ... lep--" Desis Viona yang tak Fatir hiraukan. Ia asyik m****** dan memperdalam sehingga napas Viona tak beraturan.


Setelah puas. Barulah Fatir melepaskan kecupannya yang entah kenapa makin hari makin candu saja, candunya melebihi rokok yang sering ia hisap dan sekarang Fatir mulai meninggalkan kebiasaan buruknya. Ya itu merokok sudah mulai ia tinggalkan, berganti dengan apa yang dimiliki sang istri namun parahnya sehari saja jika tak menemukan itu. Kepala Fatir menjadi makin pusing atas bawah, Parah.


Keduanya terdiam sesaat menormalkan degup jantung dan napas yang tersengal-sengal itu. Dada Viona tampak naik turun, bersandar ke belakang jok.


Fatir membukakan sapety belt di tubuh Viona. Yang memang sudah mulai rusak dan sedikit susah buka tutupnya.


Viona hanya menatap gerakan suaminya, apa yang di rasakan Fatir tidak jauh beda dengan yang Viona rasakan. Sentuhan Fatir secara tidak sadar selalu Viona rindukan. Seperti yang barusan saat-saat menegangkan namun mengasyikan.


"Aku naik ojek saja, ini kuncinya." Fatir menyerahkan kunci mobil pada Viona.


"Bawa aja," gumamnya Viona. "Kalau aku mau keluar gampang aja kok," sambung Viona dan mengembalikan kunci tersebut.


"Tapi, takutnya aku gak sempat jemput gimana?"


"Emang mau ke mana ndak sempet jemput aku? mau menemui Soraya ya?" dengan nada kesal.


"Bu-bukan, aku mau ikut perbaiki gerobaknya. Biar cepat kelar sayang," ralat Fatir dan cuph! mengecup hangat kening sang istri yang bikin ia gemas.


"Temui saja dia ndak pa-pa kok, hak kamu itu," kata Viona sambil berjalan meninggalkan Fatir yang berdiri.


Fatir menggelengkan kepalanya pelan. "Nanti bilang saja pulangnya jam berapa? agar aku jemput tepat waktu!"


"Ndak usah, bisa pulang sendiri." Pekik Viona tanpa menoleh lagi.


Jari tangan Fatir menggaruk tengkuknya. "Merajuk lagi dia, Hem ...."


Viona masuk ke dalam kantor, Fatir masuk ke dalam mobil kembali dan memutar arah tuk pulang ke rumahnya. Sudah tidak sabar untuk segera memperbaiki tempat jualannya yang rusak dan entah siapa juga yang merusaknya. Sebab dari hasil tangkapan kamera tetangganya, Fatir tak kenal sama sekali.


Fatir dengan gesit memutar kemudi dan melaju dengan pesat supaya segera sampai tujuan ....

__ADS_1


****


Terima kasih pada reader ku yang menunggu BSH up🙏 jangan lupa tinggalkan jejak ya!


__ADS_2