
"Ya, itu wajar." Bu Asri mengangguk dan mengulas senyum tipisnya. "Setidaknya saya ini adalah istrinya dia yang telah mendampingi puluhan tahun. Saya tahu, kamu tidaklah mencintai suami saya melainkan yang diharapkan itu cuma uang. Kau masih muda dan cantik jangan sia-siakan waktu mu Nona. Usiamu tidak jauh dari putri ku jalanmu masih panjang dan kamu bisa mendapatkan laki-laki yang lebih baik dari suamiku bahkan menghormati mu sehingga menjadikanmu seorang istri, bukan simpanan!" ucapan bu Asri tak kalah telak dari Malini.
"Kurang ajar kau wanita tua, secara tidak langsung kau menganggap ku pelacur? eh dengar ya? wanita tua, sebentar lagi aku pasti akan menjadikan ku istrinya, kamu benar. Siapa sih yang cinta sama sama laki-laki tua renta seperti dia? udah bau tanah juga, namun setidaknya dia menjadi mata pencarian ku. Ha ha ha ... terima saja kekalahan mu, Ibu Asri yang terhormat." Jelas Malini sambil memicingkan matanya.
Kata-kaya wanita tua amatlah menyakiti hati seorang bu Asri, perih. Terluka direndahkan wanita yang usianya jauh lebih muda darinya. Air benih seolah meronta meminta keluar dari bendungannya namun sekuat tenaga ia tahan.
"Oke, saya minta, tinggalkan suami saya. Sebab semakin jauh hubungan kalian, semakin kamu yang akan merasa rugi dan tidak mendapatkan apapun dari suami saya," tegas Bu Asri sambil berlalu melenggang meninggalkan Malini.
Setelah beberapa langkah, Bu Asri hentikan langkahnya dan kembali menoleh ke arah Malini. "Oya satu lagi. Jangan biarkan martabat mu sebagai wanita semakin jatuh di mata masyarakat. Kau pasti tau kan? siapa saya dan keluarga saya. Yang kerap berhubungan dengan media, pikirkan itu baik-baik!"
Malini tertegun mendengar perkataan Bu Asri, namun tak membuat gentar niatnya yang ingin meraup harta pak Rusadi. Malini tersenyum licik sambil menutup pintu rumahnya.
Bu Asri dengan segera memasuki mobilnya, duduk bersandar sembari menarik napas yang panjang. "Jalan?"
Supirnya mengangguk tanpa bertanya kemana, langsung saja melajukan mobil meluncur ke jalan raya menelusuri jalan yang penuh dengan pengendara lainnya.
Tatapan bu Asri jauh ke depan dan kosong. Tak terasa buliran air bening tumpah ruah membasahi pipi yang sudah tidak kencang lagi, wanita berpakaian formal itu menangis sejadi-jadinya. Tangisnya terdengar sangat menyayat hati.
Supir bu Asri kelimpungan, tidak mengerti dengan apa yang terjadi menimpa majikannya. Mau bertanya namun merasa sungkan, gak enak hati dalam keadaan begini bertanya. Akhirnya beradu argumen dalam hati namun tak tega juga melihat sang majikan yang tampak terpuruk. Suara tangisnya begitu memilukan.
Namun itu tak berlangsung lama, Bu Asri segera menghentikan tangisnya, mengeluarkan tisu dari tas mengusap wajahnya yang basah itu. Kemudian menoleh ke arah supir. "Bawa saya ke BANK xx." Pintanya dengan masih mengeringkan wajahnya.
"Baik, Nyonya." Supir mengangguk dan menuruti permintaan sang majikan.
Tidak selang lama bu Asri tiba di sebuah BANK ia mengurus rekening pak Rusadi, suaminya. Bu Asri berniat mem blok semua aset Rusadi namun bagaimanapun ia masih punya hati sehingga tidak jadi memblok melainkan menarik sebagian dan menyisakan seperempatnya saja lagian sudah terbukti kalau belum lama ini Rusadi menarik uang dari perusahaan sekian ratus juta. Mungkin yang dia belikan rumah selingkuhannya itu.
Bu Asri hanya menggeleng. "Apa sih yang dia punya? cuma tabungan saja. Mobil masih atas namaku. Rumah apalagi sudah menjadi hak milik Viona, apalagi yang mau di banggakan? pantas saja dia mengambil uang perusahaan juga, hem. Mungkin Viona belum mencium bau-bau hilangnya uang perusahaan."
Setelah menyisakan beberapa juta di rekening sang suami. Setidaknya kini ia merasa sedikit lega dan bernapas ringan. Bibirnya sedikit menyunggingkan senyuman. Sebuah senyuman puas bahwa suaminya tak akan leluasa lagi dalam keuangan sebab Bu Asri yakin putrinya, Viona akan segera mengetahui itu.
__ADS_1
"Mampus kau suamiku. Kau tidak akan bisa macam-macam lagi, silakan kau bersenang-senang dengan wanita manapun. Tapi keuangan mu sangat-sangatlah terbatas dan aku pastikan siapa pun wanitanya tak akan mau sama pria tua yang kere!" monolog Bu Asri.
Kemudian berjalan membawa langkahnya ke arah mobil, memasuki dan duduk dengan santainya lantas menyuruh supirnya kembali ke kantor.
****
Sepulang dari kantor menemui sang ayah. Viona langsung ke rumah mewahnya menemui sang Oma. Tadinya mau langsung ke tempat Alisa dan juga ke tempat Fatir namun ingat sama Oma yang ingin bermain ke sana juga makanya Viona meminta supir membawanya ke rumah terlebih dahulu.
Selang Beberapa puluh menit. Mobil yang di tumpangi Viona sampai juga halaman rumah mewahnya yang tidak ia tinggali melainkan ia lebih memilih tinggal bersama suami di apartemen saja.
"Oma ... Vi datang ..." Viona setengah berlari memasuki teras dan Oma Yani menyambutnya dari dalam.
"Ho'alah ... cucu Oma yang cantik dan pinter. Nduk ... Oma kangen." Keduanya berpelukan erat. Melepaskan rasa rindu yang beberapa waktu ini tidak bertemu.
"Gimana kabar oma?" Viona melepas pelukan dan memandangi kondisi sang Oma yang tampak segar dan cantik.
"Em, diet sih Oma ... cuma ya seperti gini aja. Hi hi hi ...."
"Mata kamu sembab, kenapa gak ada masalah kan sama Fatir?" ungkap Bu Yani sambil menuntun tangan Viona masuk dan duduk di sofa.
Viona terkejut mendengar ucapan sang Oma. "Ndak lah Oma, aku gak ada masalah sama Fatir, aku tuh habis ketiduran saja di mobil." Akunya Viona sambil tersenyum bahagia.
"Tapi, ya sudah. Mama mu ke kantor jadi Oma sendiri di sini, ajak Oma ke tempat suami mu ya? kamu mau ke sana kan?" tanya Oma Yani sambil memegangi tangan cucunya ini.
Viona mengangguk dan bersiap pergi dan kini Viona menuntun tangan Omanya mendekati mobil.
"Oya, Vi. kamu gak mau masuk ke kamar mu dulu yang lama gak kamu tinggali." Omanya melirik sang cucu.
"Eh ... ndak Oma. Nanti saja sekalian menginap dan sekarang kita ke tempat Fatir terlebih dahulu terus ke tempat Alisa ya oma?"
__ADS_1
"Terserah kamu saja, Vi." Oma Yani memasuki mobilnya Viona.
Sebelum masuk ke dalam mobil, kedua netra mata Viona menatapi rumah mewah itu. Kemudian duduk di samping Omanya. Pun supir segara menjalankan mobilnya menuju tempat Fatir berada.
Di dalam pikiran Viona teringat bayang-bayang kelakuan sang ayah yang menurutnya tak etis. Selingkuh dengan wanita lain mengkhianati sang istri, yaitu mamanya.
Viona pikir sang bunda tidak tahu apa-apa tentang kelakuan suaminya itu. Viona berniat biar semuanya ia pendam dan berusaha menyadarkan sang ayah bahwa yang dia lakukan nya itu salah.
Melihat Viona melamun dan pandanganya jauh menerawang membuat Omanya bertanya. "Kamu mikirin apa, Vi?"
Suara Oma Yani membuyarkan lamunan Viona. "Ha, ndak Oma. Oya Oma, Vi kepengen beli rujak deh, rasanya kepala ku pening enak kali ya makan yang pedas-pedas."
Viona meminta supir tuk berhenti di depan, tepatnya depan tukang rujak dan Viona membeli rujak pedas yang berasa sudah di lidah.
"Kamu hamil, Vi?" selidik Omanya yang sudah melihat tanda-tanda Viona ngidam.
"Hamil? ndak tahu juga tapi ... Vi belum lama ini datang bulan kok Oma," aku Viona sambil memasukan potongan buah ke mulutnya.
****
"Mas, tolong bawa aku kabur Mas! aku ndak mau menikah dengan laki-laki lain selain mu," rajuk Soraya pada Fatir sambil menangis tersedu. Penampilannya mengenakan kebaya pengantin putih.
Hari ini dimana Soraya menikah dengan Bambang, namun Soraya malah kabur ke tempat Fatir, merajuk dan merayu kalau ia tak ingin menikah dengan Bambang pria yang sudah menghamilinya itu.
Soraya terus merajuk agar Fatir membawanya pergi, bagus-bagus mau menikahinya. Acara akad akan digelar nya itu pukul 14.00. Dan masih ada beberapa jam lagi untuk itu ....
****
Terima kasih sampai saat ini kalian masih menunggu karya ku ini up, makasih reader ku🙏
__ADS_1