
Dengan mata sedikit terbuka dan bibir mengulas senyumnya. Viona mengulas senyum dan berkata. "I love you Too." Tangannya merangkul pundak Fatir si pria penjual mie ayam yang kini mulai sukses dengan usahanya sendiri.
"Benarkah kau mencintai ku?" goda Fatir. Menatap lekat.
"Em ... banget." Gumamnya dan mengeratkan pelukannya. "Kamu jahat bilang gitu." Suara Viona begitu parau.
"Nggak sayang, aku bercanda dan jangan marah." Cuph! mencium kening Viona penuh cinta.
Dari luar terdengar begitu riuh. Fatir dan Viona saling tatap dalam hati bertanya ada siapa ribut benget?
Keduanya menajamkan pendengarannya, dan lama-lama terdengar jelas suara Oma Yani dan Bu asri yang sedang berbincang dengan bu Afiah.
"Aduh sayang ... kepala Vi makin pusing kalau mereka ada, ribut terus, beda pendapat lain faham dan apalah. Pusing ...."
Fatir terkekeh. "Ha ha ha ... ndak sayang. Ada aku yang akan menjaga mu dan menenangkan mu hem?"
Fatma menatap lekat sang suami yang tampak sabar.
"Mau apa, minum atau apa? aku ambilkan?" tanya Fatir pada sang istri yang sekarang lebih rileks.
"Nggak mau, pengen minum itu aja," menunjuk air minum di meja dekat tempat tidur.
Tangan Fatir segera meraih dan memberikannya. Viona segera meneguk minumnya.
"Vi, ke rumah sakit yu? Oma khawatir sayang, nanti kamu keburu melahirkan di sini berabe." Suara Oma yang mendadak masuk membuat Viona tersedak.
"Uhuk, uhuk. Uhuk." Viona terbatuk-batuk sambil menggeleng.
"Hati-hati sayang ..." Fatir mengambil gelas dari tangan Viona.
"Aduh, Vi ... kalau sudah kontraksi ke Rumah sakit aja ya?'' ucap Bu Asri sambil merangkul bahu Viona. Di wajahnya yang sudah tidak muda lagi tergurat rasa cemas.
"Ma, menurut dokter masih beberapa Minggu lagi Mama. Masih lama," balas Viona.
"Tapi kamu kontraksi kan? Vi kamu kesakitan kan?" sambung oma Yani menatap cemas.
Viona tidak menjawab melainkan kembali meringis, namun kali ini sakitnya agak berkurang tidak seperti tadi lagi.
"Tuh, kan?" sang bunda semakin cemas melihat sang putri menderita.
__ADS_1
Tangan Fatir bergerak mengusap lembut pinggang sang istri. "Ya sudah. Kita periksakan aja dulu, mau ya? nanti kita pulang lagi." Fatir merangkul kepalanya Viona dengan bibir menempel di kening sang istri.
"Nanti ... Vi. Mau pulangnya kemana hem?" suara Fatir sangat lembut ditelinga Viona.
Viona mengangguk. Pada akhirnya menyetujui saran dari suaminya. "Pulang ke apartemen aja ya?" wajahnya mendongak sebentar menunggu jawaban dari Fatir.
"Nah ... gitu dong, kan biar kami gak terlalu khawatir." Timpal Oma Yani.
"Iya," bu Asri sangat setuju.
"Iya, boleh. Yu!" Fatir melepas pelukannya di tubuh Viona. Kemudian memangku tubuh Viona dibawanya keluar dan menuju Rumah sakit.
Bu Asri, Oma Yani dan Bu Afiah menyusul dari belakang. Setibanya di dekat mobil viona.
Supir segera membukakan pintu buat Viona dan Fatir.
"Hati-hati," suara Oma Yani dari belakang.
"Jangan ngebut? Pak bawa mobilnya yang santai aja." Bu Asri menoleh pada supir Viona yang langsung membalas dengan anggukan.
"Ibu, mau ikut?" tanya Fatir pada sang bunda setelah diri berada di dalam mobil bersama Viona.
"Ikut aja, duduk di depan. Mama sama Oma kan bawa mobil sendiri," ucap Fatir sambil melirik ke arah mertuanya.
Bu Afiah bergegas masuk dan mobil segera melaju dengan cepat. Sementara Bu Asri dan Oma Yani menyusul dengan mobil pribadi.
"Aduduh, duh ... keram! perutku keram, Mas ... sakit ..." desis Viona sambil memegangi perutnya.
"Iya, sabar sayang, sebentar lagi nyampe." Kata Fatir sambil mengecup kepalanya Viona lama.
Viona menggigit bibirnya. Keramnya makin menjadi merambat ke punggung.
Selang Beberapa puluh menit akhirnya tiba juga di Rumah sakit Harapan Bunda, Fatir bergegas turun mengitari mobil dan mengangkat tubuh Viona ke dalam dan langsung dipindahkan ke kursi roda.
Viona langsung ditangani oleh dokter ahli yang memang sudah dipersiapkan untuk menangani Viona.
"Gimana dok?" tanya Fatir setelah melewati serangkaian pemeriksaan selesai.
"Jangan khawatir, ini kontraksi biasa dan ini masih lama, paling cepat 1 mingguan lagi." Jawab dokter tersebut.
__ADS_1
"Ooh. Terus untuk mengatasi rasa sakitnya gimana dok?" tanya Fatir lagi ia tak tega melihat sang istri menahan nyeri.
"Iya, nanti diberi resep untuk itu." Sambung dokter sembari mengangguk dan memasukan alatnya, stetoskop ke sakunya.
"Terima kasih dok." Fatir mengangguk hormat. Kemudian menghampiri sang istri yang sudah bersama tiga wanita yang menyayanginya.
"Belum waktunya sayang, jadi kita bisa pulang lagi." Kata Oma Yani yang diberi anggukan oleh sang bunda dan Bu Afiah mengulas senyumnya.
Tangan Fatir menyentuh pipi Viona diusapnya lembut. "Iya sayang, kita pulang lagi. Mulai besok jangan ngantor dulu ambil cuti ya? lagian semua bisa dipantau dari rumah juga. Kalau jenuh! ikut aku aja ke kedai ya?"
Viona mengangguk dan memposisikan duduknya dengan tegak. "Ya sudah, kita pulang sekarang."
"Yaps!" Fatir memegangi tangan Viona untuk turun dan duduk di kursi roda.
Fatir berjalan menuju apotek untuk menebus obat. Sementara Viona dan ketiga wanita lainnya menunggu di tempat yang tidak jauh.
Usai mendapatkan obatnya Fatir kembali pada Viona dan mendorong kursi roda menuju mobilnya. Semua berjalan mengekor dari belakang mengikuti langkah Fatir.
"Ibu gak capek? ikut kami gini?" tanya Bu Asri sedikit melirik sang bunda.
"Ndak lah. Gak lihat, aku segar begini? masih kuat begini?" sahutnya Oma Yani yang terus berjalan.
"Kali saja, Bu." Asri sedikit bergumam.
"Oma sangat terlihat sehat, Bu Asri. Biarpun sudah sepuh tapi masih segar bugar." Timpal Bu Afiah nimbrung.
"Oya dong, harus itu." Oma Yani tersenyum mendengar sanjungan dari Bu Afiah.
Di luar sudah ada Adam dan Sidar. Menunggu. "Mbak cantik belum melahirkan?" sapa Sidar yang tatapannya tertuju pada Viona.
"Belum Nak, kalian kesini juga?" Bu Afiah menatap kedua putranya.
"Iya, Bu kami penasaran ingin melihat keponakan kami lahir ke dunia." Kata Adam.
"Belum, Mas. Mungkin dia takut melihat kamu jadinya gak mau keluar sekarang." Sidar nyablak sekenanya ....
****
Ayo mana dukungan nya?
__ADS_1