
“El...El... Elva!”. Maria gelagapan menyebut nama sahabatnya. Dan ia reflek langsung mematikan ponselnya.
“Hayoo... Teleponan sama siapa tuh, kayaknya senang sekali nerima panggilannya. Ucap Elva sambil memegang pundak sahabatnya dari belakang.
“Kamu ngagetin aja deh. Tadi telepon dari temanku”. Jawab Maria.
“Teman tapi mesra yaa....”. Goda Elva .
“Ah, kamu bisa saja Elv. Sejak kapan kamu berdiri di belakangku?”. Tanya Maria.
“Sejak kamu teleponan”. Jawab Elva.
Deghh!
apa dia mendengar obrolanku?. Batin Maria.
“Tapi bohong. Hehehehe.... Aku baru datang kok langsung pukul pundakmu”. Tutur Elva.
Huh... Berarti dia tidak mendengar kan?. Batin Maria.
“Yuk, lanjut makannya”. Ujar Maria.
Mereka melanjutkan makan siangnya. Gado-gado dan Es teh manis menjadi makanan dan minuman favorit mereka di jam makan siang.
Setelah makan siang selesai, Elva kembali ke kelas menunggu mata kuliah selanjutnya. Sedangkan Maria keluar area kampus menggunakan mobilnya.
Di rumah Ayudia sedang melakukan aktivitas di dapur. Meskipun keluarga Hermawan termasuk memiliki banyak harta. Namun ia tak memakai jasa Pembantu Rumah Tangga untuk memasak. Pembantu hanya diberikan tugas membersihkan rumah dan halamannya.
“Bunda sedang buat apa?”. Tanya Elza sambil berjalan menghampiri bundanya.
“Tadi pagi ayah pesan minta dibuatkan cheescake untuk pulang kerja”. Jawab Ayudia.
“Lama dong jadinya, padahal Eza mau makan cheesecake nya sekarang”.
“Hadeehhh.... Bunda saja baru tuang bahan-bahannya. Oh ya, perutmu sudah baikan?”. Tanya Ayudia.
“Sudah Bun, tadi kan sudah minum obat”. Jawab Elza.
“Oh iya, tadi bunda sudah telepon ke sekolah kan minta izin aku sakit?”. Tanya Elza.
“Waduh, bunda lupa za”.
“Ah, bunda bohong aja. Orang tadi pagi Eza dengar kok bunda lagi telepon guru sekolah”.
“Lagian kamu sudah tahu nanya”. Ucap bunda.
“Hehehe. . Iseng saja. Bun, Eza pergi dulu ya!”.
“Mau kemana?. Kamu kan masih sakit nak!”. Bunda menghampiri Eza melarangnya untuk pergi.
“Bentar saja Bun, ada urusan penting banget. Eza sudah tidak sakit lagi kok perutnya”. Elza tetep kekeh untuk pergi.
“Ya sudah hati-hati. Jangan lama-lama takut sakitnya kambuh nanti”.
“Bunda tenang saja, Eza kan laki-laki. Jagain bunda sama Mbak Elva saja bisa. Masa jaga diri sendiri Eza tidak mampu”.
“Ah, kamu ini bisa aja. Hati-hati bawa mobilnya”.
“Iya Bun”.
Eza pergi menuju kamarnya terlebih dahulu untuk mengambil Hoodie, kunci mobil, dompet dan ponselnya serta kacamata hitam yang langsung ia pakai. Lalu ia keluar dengan berjalan sedikit cepat menuju garasi.
Dibukanya pintu mobil, dan ia langsung duduk di belakang kemudi sambil memasang seat belt terlebih dahulu. Mesin mobil menyala ia tancapkan gas dan keluar dari area halaman rumahnya.
Musik klasik menggema di salah satu restoran yang cukup mewah dengan nuansa romantis nan klasik. Pengunjungnya tidak begitu banyak hanya ada beberapa meja yang terisi di restoran tersebut.
Disudut kiri tepat samping jendela yang view nya pelataran sejuk dan rindang dipilih seorang pria dengan pakaian casual untuk menikmati hidangan restoran tersebut. Sepertinya ia sedang menunggu seseorang. Sambil menunggu, ia sesekali menscroll ponselnya. Tidak lama kemudian ia berdiri terlihat mencari keberadaan seseorang.
“Maria!”. Richard melambaikan tangan kanannya memanggil orang yang ditunggunya.
“Richard”. Maria pun melambaikan tangan sambil tersenyum kemudian datang menghampiri Richard.
“Sudah lama menunggu?”. Tanya Maria.
__ADS_1
“ Sekitar lima belas menit”. Jawab Richard.
Mereka pun duduk kembali. Richard memanggil pelayan untuk memesan makan dan minum.
“Kamu mau pesan apa?”. Tanya Richard.
“Aku orange jus dan smoothies bowl saja deh”.
“Lagi diet?”. Tumben amat biasanya makannya banyak.
“Idih, aku tadi sudah makan gado-gado dengan Elva”. Jawab Maria.
“Pesan smoothies bowl sama dendeng balado dan ayam mevrouw lientje pakai nasi ya. Dan minumannya orange jus 3”. Ucap Richard pada pelayan.
“Baik tuan, permisi”. Pelayan pergi meninggalkan meja Richard dan Maria.
“Alasan apa lagi kamu ke dia”. Tanya Richard.
“Aku bilang mau antar mama besuk temannya yang kecelakaan. Kalau kamu?”.
“Aku antar papa ikut meeting bareng kliennya”. Jawab Richard.
“HahhahahahHa....”. Mereka tertawa ria bersama.
Mereka terus melanjutkan obrolannya, banyak hal yang mereka bicarakan sambil menunggu pesanannya siap.
“Rich, mau sampai kapan kita backstreet seperti ini?”.
“Entahlah, aku belum siap untuk mengatakannya pada Elva. Sepertinya dia sangat mencintaiku”. Tutur Richard.
“Kamu memikirkan perasaan Elva , apa kamu tidak mikirkan perasaanku”. Jawab Maria
“Tidak begitu honey, kamu kan tau meskipun kita bersahabat lebih dulu tapi cinta kita tumbuh setelah aku menjalin kasih dengan Elva”.
“Sepertinya kamu juga sangat mencintainya”. Tanya Maria dengan wajah masamnya.
“Kalau aku sangat mencintainya untuk apa aku mencintai wanita lain dan berhianat dibelakangnya”.
“Terus kamu akan memakai alasan apa untuk mengakhiri hubunganmu dengannya?. Jangan buat aku menunggu lama Rich. Aku pun sakit melihat kalian bermesraan di depanku”.
“Terus bagaimana?. Aku tidak mau terus-terusan seperti ini”.
“Mungkin....”. Ucapan Richard tergantung saat pelayan datang membawa pesanan mereka.
“Permisi, ini pesanannya sudah siap. smoothies bowl dan dendeng balado serta ayam mevrouw lientje pakai nasi. Dan minumannya 3 orange jus”. Pelayan meletakkan makanannya di meja Richard dan Maria.
“Terimakasih”. Ucap Richard dan Maria. Pelayan hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Setelah itu pergi meninggalkan meja mereka.
“Mungkin apa Rich?”. Tanya Maria kembali melanjutkan obrolan mereka yang terpotong.
“Mungkin aku akan memakai alasan ayahnya”.
“Ayahnya? Maksudnya?”. Tanya Maria penasaran.
“Ayah Elva sepertinya tidak menyukaiku. Entah aku pun tidak tahu. Sebelumnya ayah Elva hangat denganku. Setahun setelahnya beliau sangat dingin".
Byurr...... Wajah Richard dan Maria tersiram minuman dingin yang di pesannya. Mereka sangat terkejut dengan kejadian ini. Mereka marah dan memaki-maki orang yang menyiramnya.
“JADI SEMUNAFIK INI KALIAN DIBELAKANGKU!”. Elva melepas kacamatanya dan kupluk yang menyatu dengan hoodie nya.
Richard dan Maria tercengang dengan kehadiran Elva saat ini. Rasa takut, malu dan bingung menyatu. Entah apa yang ingin mereka jelaskan.
“Elva!”. Ucap Richard dan Maria bersamaan.
“Iya, ini aku!. Kenapa? Kalian terkejut?. Aku tidak pernah menyangka dengan perilaku brengsek kalian seperti ini.
“Sayang, kita bisa bicarakan ini baik-baik di tempat lain”. Richard memegang lengan Elva mengajak untuk keluar restauran.
“DIAM KAMU!”. Elva menepis tangan Richard lalu “BUGHH” ia menghantamkan tinju tepat di pipi kirinya hingga Richard mengaduh kesakitan.
“Rasakan itu untuk balasan kesetiaanku padamu yang kamu hianati”.
Dan “PLAKK”. Elva melempar tamparan keras pada pipi kanan Richard.
__ADS_1
“Dan beraninya kamu akan menjadikan ayahku sebagai alasanmu ingin putus. Asal kamu tahu ayahku tidak akan pernah merestui hubungan kita sampai kapan pun karena ayah sudah mengetahui sejak awal kalian berhubungan di belakangku. Hanya saja ayah ingin aku mengetahuinya sendiri. Ternyata benar ya, kalian sangat-sangat murahan”. Elva menunjuk sengit Maria dan Richard.
“Elv... Maafkan aku”. Kini Maria memberanikan diri untuk berbicara.
“PLAKK”. Tamparan keras kali ini mengenai pipi kiri Maria.
“APA? HA? MINTA MAAF!. SAHABAT MACAM APA KAMU YANG TEGA MENYAKITI SAHABATNYA. KAMU ORANG YANG SANGAT AKU PERCAYA TAPI KAMU MALAH MENIKAMKU DARI BELAKANG!. KAMU SEORANG WANITA HARUSNYA KAMU PAHAM BAGAIMANA RASANYA JIKA KAMU BERADA DI POSISIKU. JIKA KAMU MENYUKAI RICHARD KENAPA KAMU TIDAK UNGKAPKAN PERASAAN MU SEBELUM DIA BERSAMAKU!”. Elva hilang kendali ia berapi-api hingga ia merasakan sedikit nyeri di bagian dadanya.
Maria menangis sejadi-jadinya. Ia sadar yang ia lakukan salah. Wajar saja jika Elva sangat murka padanya karena memang semua ucapan Elva tidak ada yang salah. Ia hanya bisa mengucapkan kata maaf saja.
“CUKUP ELVA!”. Bentak Richard.
“Kamu membentakku Rich?”. Buliran air mata kini mengalir dikedua sudut mata Elva. Ia menangis ketika Richard membentaknya. Ia sangat sakit mengetahui dua orang yang ia sayang dan ia cintai ternyata berhianat kepadanya. Kali ini Elva sangat lemah kaki nya sudah tidak kuat lagi menopang badannnya. Kepalanya mulai terasa pusing yang hanya ia lihat adalah sebuah ruangan yang berputar-putar setelah itu hanya gelap dengan suara bising yang memanggil-manggil namanya.
“Elva!”. Richard langsung meraih tubuh Elva sebelum jatuh.
“Bangun Elv, maafkan aku”. Ucap Richard dan Maria.
“Jangan sentuh kakakku berengsek!”. Elza datang mengambil alih kakaknya dari dekapan Richard.
“Aku tidak menyangka dengan kalian, selama ini dekat baik dengan kakakku tapi kalian tega seperti ini”. Ucap Elza.
“Kalian memang pasangan serasi. Sama-sama munafik sama-sama murahan”. Lanjut Elza. Kemudian ia pergi menggendong kakaknya keluar dari restoran tersebut.
Flashback
Elva berjalan keluar kantin menuju toilet terdekat. Sesampainya di toilet ia langsung mengambil ponselnya dan langsung menghubungi seseorang.
“Hallo, Pak Ridwan bisa jemput aku ke kampus sekarang tidak?”. Elva menghubungi supir keluarganya namun sepertinya tidak bisa menjemput Elva.
“...........”
“Waduh, sakit pak?. Ya sudah semoga lekas sembuh ya pak”. Elva tampak kebingungan Ia harus menghubungi siapa. Tidak lama kemudian terlintas wajah bayangan adiknya.
“Sepertinya Eza bisa diandalkan”. Gumam Elva. Tapi ia ingat betul pagi tadi adiknya pun sakit.
“Ah, aku coba hubungi saja siapa tau dia sudah baikan”. Elva langsung mencoba menghubungi adiknya.
“Hallo, Za perut kamu sudah baikan?”.
“.............”.
“Mbak mau minta tolong bisa jemput ke kampus sekarang?”. Tanya Elva.
“...............”.
“Penting Za, tentang Richard”.
“.............”.
“Bawakan Hoodie dan kacamata hitam ya!”.
“...........”.
Elva mematikan sambungan teleponnya. Sebenarnya ia sangat takut dan gemetar karena belum pernah melakukan pengintaian seperti ini sebelumnya. Khawatir takut ketahuan juga khawatir tidak bisa menerima kenyataan bahwa mereka memang memiliki hubungan spesial dibelakangnya. Setelah itu Elva kembali menuju kantin dilihatnya dari jauh Maria sedang tersenyum dibalik ponselnya. Sepertinya ia sangat bahagia menerima panggilan telepon tersebut.
Makan siang dikantin selesai Elva pura-pura berjalan menuju kelasnya. Sedangkan Maria pulang menuju parkiran. Diam-diam Elva mengikuti Maria. Dilihatnya Maria masuk ke dalam mobilnya menyalakan mesinnya lalu keluar parkiran kampus. Elva langsung bergegas menghampiri mobil yang sudah menunggunya sejak tadi. Ia mengikuti mobil Maria dari kejauhan sampai ke tempat tujuan.
Ternyata tujuannya adalah restoran mewah yang tak jauh dari kampusnya. Dilihatnya Maria keluar mobil dan berjalan masuk kedalam restauran. Elva langsung mengenakan Hoodie dan kacamata hitam milik Elza.
“Za, mbak masuk dulu ya. Doakan mbak ya semoga berhasil”. Ucap Elva.
“Mbak yakin tidak mau ditemani?”.
“Tidak perlu Za, mbak akan baik-baik saja, kamu tidak usah khawatir”.
“Iya, aku tunggu di mobil saja. Ya paling nanti aku juga bakal masuk lah memastikan keadaan. Eza takut nanti mbak kenapa-kenapa lagi”. Tutur Elza.
“Oke!. Mbak kesana dulu ya”.
“Hati-hati mbak”.
Elva berjalan memasuki restoran. Ia melihat sekeliling tempat tersebut mencari keberadaan Maria dan benar saja ia melihat Maria duduk bersama seorang pria yang belum terlihat wajahnya. Dari postur tubuh pria tersebut seperti Richard kekasihnya. Hatinya semakin bergetar menahan sakit dan sesak. Ia mencoba kuat dan mengambil posisi duduk yang sangat dekat dengan mereka supaya obrolan mereka bisa di dengar.
__ADS_1
Bersambung