Bukan Suami Harapan

Bukan Suami Harapan
Bimbang


__ADS_3

Jantung keduanya dag Dig dug tak menentu. Diantara sentuhan-sentuhan yang cukup menebarkan. Tangan Fatir mengunci tengkuk Viona untuk memperdalam sentuhannya.


Fatir m****** dan m******* dengan sangat lembut. Viona pun sangat menikmatinya sehingga napas kedua sama-sama memburu. Tubuh Fatir menyeret tubuh Viona ke kamar dan mendekati tempat tidur. Sehingga berbaring berada di bawah tubuh Fatir yang mencumbunya.


Hidung Fatir terus mendengus menikmati dan mencium baunya tubuh sang istri yang wangi menyegarkan. Tangannya pun bergerilya ke mana-mana. Kemudian kembali melahap bibir Viona yang merona dan terus melambai tik dinikmati.


Perlahan Viona menahan dada Fatir sehingga wajah Fatir pun sedikit menjauh dan Viona menempelkan telunjuknya di bibir Fatir seraya menggeleng. Viona was-was takut kebablasan, sementara ia belum yakin kalau hatinya mencintai pria yang kini jadi suami nya itu. "Makan, lapar."


Fatir menatap ke arah Viona penuh kecewa, namun apa daya memang ia pun merasa lapar. Sehingga ia pun bangun menjauh dari Viona. Beranjak pergi ke dapur.


Viona terbangun dan tertegun. Menatap Fatir yang berlalu meninggalkannya. Kemudian ia segera turun dan menyusul Fatir ke dapur. Netra mata Viona mendapati Fatir tengah meneruskan memasak dan lalu menuangkan ke mangkuk di bawanya ke meja makan.


Viona duduk dan menatap ke arah Fatir yang menuangkan nasi ke piring Viona. "Jangan banyak-banyak."


"Biar gemuk!" ucap Fatir seraya tersenyum.


Mereka pun langsung melahap makan malamnya. Di selang dengan obrolan yang ringan dari keduanya. Viona menyudahi makannya dengan segelas air putih.


Fatir pun sama dan meneguk minumnya sampai tandas. Lalu Viona membereskan bekas makan mereka dibawanya ke wastafel.


Viona bersiap mencucinya. Namun Fatir mencegahnya.


"Biar aku saja yang nyuci." Fatir mengambil alih.


"Tapi."


"Sudah." Fatir menggeser tubuh Viona dari wastafel.


Saat ini waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam. Fatir dan Viona bersiap untuk tidur sambil berpelukan.


"Kenapa gak mau ngasih?" tiba-tiba pertanyaan itu keluar dari mulut Fatir yang kini berbaring.


Kepala Viona yang berada di dada Fatir mendongak. "Ha?"


"Kenapa gak mau ngasih? gak pengen apa?" ulang Fatir kembali.


Viona bukannya menjawab malah semakin menyembunyikan wajahnya di dada Fatir. Ia bingung harus menjawab apa? dan ia pun masih mencerna maksud Fatir.


"Masih sakit apa? nanti juga kalau ke seringan gak akan sakit lagi. Jadi harus dibiasakan." Telapak tangannya mengusap lembut punggung Viona.


Viona tetap diam dan hanya sedikit pergerakkan tubuhnya yang berada dalam pelukan Fatir. Ia berpikir kalau hatinya masih bimbang, apa benar sudah mencintai pria ini atau cuma sekedar terbiasa aja menghabiskan waktu bersama! Yang jelas terkadang bayangan wajah Hendra masih menari-menari di kelopak matanya.


Fatir mendaratkan kecupan nya di pucuk kepala Viona. "Kita menikah sudah beberapa bulan dan kita baru melakukannya satu kali. Salah ya kalau aku mendambakannya lagi hem? semakin lama kita semakin terbiasa bersama dan jangan bilang kalau Vi gak membutuhkan ku. Begitupun aku!" cuph! mencium punggung tangan Viona.

__ADS_1


Yang terdengar dari mulut Viona hanya helaan napas yang panjang saja yang berhembus melalui hidung yang terasa hangat di dada Fatir. Kata Fatir benar secara tidak langsung ia membutuhkan kehadiran Fatir, ada rindu bila ia berada jauh dari Fatir.


Apalagi kejadian semalam yang begitu membayang diingatan Viona saat ini. Bahkan masih juga terasa setiap sentuhan yang Fatir berikan, termasuk penyatuan yang masih membekas terasa. Viona memejamkan matanya sedikit menggeleng.


Fatir mencium tangan Viona dan puncak kepalanya. "Katakan padaku, bolehkah aku mengulangnya lagi? aku berjanji akan lebih hati-hati dan percayalah gak akan merasakan sakit lagi." Bisik Fatir.


Hening ....


Suara napas Viona teratur. Membuat Fatir penasaran dan mengangkat wajah Viona yang ternyata sudah tidur. Sesak rasanya dada Fatir, kecewa dan marah. Padahal kepala dah mulai pusing. Namun memaksa pun rasanya tak tega.


Akhirnya mengeratkan pelukannya dan mencoba tuk terpejam dan tidur. Mulanya sulit namun lama-lama juga kedua mata Fatir pejamkan mata juga dan menjemput mimpinya.


****


Sudah sebulan dari kejadian itu. Dimana Viona dan Fatir merasakan jadi suami istri yang sesungguhnya. Hari-hari yang mereka lewati semakin dekat dan mesra saja walau untuk melakukan itu dan mengulang kembali nikmatnya beribadah berdua, alias hubungan badan Viona seolah menghindar. Entah trauma atau masih meyakinkan hati pada Fatir? entahlah yang jelas Viona enggan tuk melakukannya lagi.


Terkadang Fatir terlihat uring-uringan. Maklum lah sesuatu yang sudah di mulai satu kali aja, tak ayal akan menjadi candu dan ingin kembali merasakannya. Begitupun Fatir sebagai pria normal yang sudah sekali mereguk manisnya berhubungan dengan seorang wanita akan terus terngiang dan ingin lagi merasakannya, Di tahan-tahan pun kadang gak kuat dan ingin rasanya memaksa.


Sedangkan yang diinginkan selalu ada di depan mata. Terkadang kalau ada hasrat itu rasanya ingin saat itu juga menyalurkannya, meluapkan segala keinginannya. Tapi Fatir sekuat tenaga menekan niatnya dan mengalihkan pada sesuatu yang lain. Rokok misalnya, padahal sebenarnya merokok itu sudah ada niat berhenti, tapi sekarang malah menjadi pelarian dari hasratnya.


Sering Viona melihat Fatir lebih banyak merokoknya. Padahal sebelumnya paling satu kadang gak habis, lain dengan sekarang. Habis makan merokok dan sebelum tidur merokok pula. Sebagai orang yang tidak suka dengan asapnya. Jelas Viona sering menegurnya dan meminta berhenti namun tak Fatir hiraukan sama sekali. Paling ia menyendiri di balkon tuk menikmati rokoknya.


Seperti sekarang ini. Fatir merokok di depan Viona yang sedang sibuk dengan laptopnya. Menoleh ke arah Fatir yang membuang asap rokoknya. yang putih itu.


Sambil menghela napas Viona berkata. "Bisa gak berhenti merokok. Ndak baik buat kesehatan. Aku pun yang ndak menikmati kena asap nya."


"Iih, yang aku pinta itu berhenti, bukan keluar!" ucap Viona dengan nada kesal.


Langkah Fatir terhenti dan berbalik. Menoleh ke arah Viona. "Di sini aku salah. Berarti aku keluar."


"Ck. Terserah lah." Ketus Viona sambil beranjak membawa laptopnya ke kamar.


"Vi?" panggil Fatir. "Kok dia yang marah sih?" akhirnya Fatir mematikan rokok yang di sela jari. Terus segera menyusul Viona ke dalam kamar.


Tampak Viona sudah meringkuk di dalam selimut. Fatir naik dan mendekat. "Kok marah sih Non?" tangannya memegang bahu Viona dan mengecupnya.


Viona menggerakkan bahunya menolak dipegang oleh Fatir. Hatinya entah kenapa merasa kesal banget dibuatnya.


"Jangan marah dong sayang? masa gitu aja marah, gak etis ah." Rayu Fatir sambil kembali mengecup bahu Viona.


Viona tidak menjawab melainkan memejamkan matanya dan pura-pura tidur, membuat Fatir geram dan gemas. "Istri aku merajuk nih," bisik nya.


Fatur masuk selimut dan memeluk erat meskipun Viona menolak namun Fatir tidak perduli hingga akhirnya Viona terdiam juga membuat Fatir tersenyum penuh kemenangan.

__ADS_1


Mereka melewati malam tanpa melakukan apapun selain pelukan hangat yang Fatir berikan.


****


Hendra, setelah pertemuan itu dia gak lagi bekerja di maskapai. Dia memilih untuk resign dan meninggalkan pekerjaan yang selama ini ia geluti. Sehari-hari ia menjadi luntang-lantung begitu saja.


Istrinya marah-marah melihat sang suami cuman bengong dan luntang-lantung tanpa tujuan. Di rumah pun tak ada kehangatan pada sang istri.


"Mas, kamu tuh gimana pikirannya sih? sudah enak kerja malah berhenti. Kamu sudah gila apa?"


Hendra menoleh pada sang istri. "Yang penting kebutuhan rumah masih tercukupi. Jangan banyak bicara deh."


"Mas?" bentak istrinya. Dengan hati kesal dan marah. "Dengar ya Mas? harta segunung pun kalau terus di pake dan berdiam diri tanpa ditambah itu bisa habis."


"Ha? ngomong Mulu, nanti juga ku cari kerja lain." Sambil beranjak pergi meninggalkan Istrinya yang ngoceh.


"Kapan? setelah tabungan habis dan kita tinggal di kolong jembatan. Iya?" pekik sang istri.


Hendra tak perduli, ia terus membawa langkahnya ke kamar pribadinya. Berdiam diri di sana, kepalanya pusing mendengar ocehan sang istri. Detik kemudian Hendra keluar dari kamarnya dan membawa kunci mobilnya.


Sang istri mengikuti dari belakang. "Kamu mau kemana Mas?"


"Pusing, mau keluar," sahut Hendra seraya memasuki mobilnya.


"Mau kemana?" tangan sang istri memegangi pintu mobil tersebut.


"Kenapa sih? di rumah terus, kamu ngoceh. Ke luar, banyak tanya. Apa sih mau mu ha?" menatap tajam dan ucapan yang bernada kesal.


"Bagaimana aku gak ngoceh, Mas. Sedang enak-enak kerja eh ... kamu resign. Terus kamu gak cari kerja lagi, sementara kita hidup dari mana sehari-hari? dari tabungan yang sebentar lagi habis." Jelas sang istri.


"Aku tuh, pengen istirahat." Timpal Hendra.


"Istirahat? dalam sebulan itu kamu tidak terus-terusan kerja, Mas. Kamu bisa banyak istirahat juga, jangan dijadikan alasan lah." Tegas istri Hendra. "Kita punya anak lho, bukan hidup berdua saja. Banyak biaya yang harus dikeluarkan."


"Cukup, aku tahu itu! awas. Aku mau pergi." Menyalakan mesin dan memutar kemudi.


Sebelum mobil berlalu, istri Hendra menendang kesal roda mobil tersebut. "Sekalian gak usah pulang." Dengan bibir monyong.


Hendra terus melajukan mobilnya dengan cepat. Matanya tak lepas dari tengok kanan dan kiri, melihat kendaraan-kendaraan yang lain.


Entah mau kemana, ia sendiri bingung. Yang jelas pengen keluar aja dari rumah, hawa di rumah itu bawaannya panas dan gersang. Bikin gak betah.


Setelah sekian lama perjalanan. Akhirnya mobil Hendra berhenti di depan sebuah rumah yang tampak sepi ....

__ADS_1


****


Fatir dan Viona mengucapkan Selamat hari raya idul Fitri 1 syawal 1443h mohon maaf lahir dan batin🙏


__ADS_2