
Mereka duduk di kursi yang panjang. "Mas, selama ini kita pacaran. Belum pernah kita melakukan berciuman seperti kebanyakan orang pacaran." Suara Soraya malu-malu.
"Ha?" Fatir kaget mendengarnya. "Sebenarnya ... pacaran itu gak boleh kan? pegangan. Pelukan itu gak boleh sebab itu mendekati zina."
"Terus kenapa Mas mau pacaran?" tanya Soraya menatap lekat pada wajah Fatir yang di bawah sinar remang-remang.
"Lho ... kan Mas sudah bilang, kita putus saja jangan pacaran lagi--"
"Ah ... kok gitu sih ngomongnya? nggak mau ... nggak apa sih kita putus."
"Bagus itu." Timpal Fatir langsung merespon.
"Dengar dulu. Asalkan kita secepatnya menikah, ya?" menggenggam kedua tangan Fatir di atas pahanya.
Fatir terdiam sesaat. "Tidak, Mas belum siap." Menggeleng pelan.
"Mas, orang tua ku sekarang pasrah. Mau berapa pun Mas bawa uang tuk nikah kita yang penting kita halal dulu katanya." Soraya lirih.
Mendengar omongan Soraya, Fatir jadi tertegun. Mengingat kalau uang yang dulu terkumpul untuk menikah itu sekarang habis buat beli mas kawin dan cincin kawin buat Viona. Belum lagi nabung buat belanja bulanan. Belum keperluan keluarganya, gak mungkin juga ia membebankan semua pada Viona. Gengsi lah ia, terkecuali biaya Rumah sakit.
"Mas, kok bengong? mikirin apa sih!"
"Ah, nggak. Uang yang dulu ku bilang buat nikah itu, sekarang gak ada, ke pakai keperluan yang lain dulu," ucap Fatir seraya melihat ke arah yang jauh.
"Lho, Mas ... itukan katanya tabungan buat kita menikah?" raut wajah Soraya terlintas kecewa.
"Mau gimana lagi Raya ... Mas butuh." Sambil menghela napas panjang.
Soraya pun menghembuskan napasnya dengan kasar. "Yo wes ... Mas. Aku mau dong?"
Fatir menoleh. "Mau apa?" penuh rasa penasaran.
Soraya mengalungkan tangannya ke pundak Fatir sambil senyum-senyum. "Mau ... ini." Mengusap bibir Fatir.
Fatir terkesiap, menerima sentuhan dari Soraya. "Nggak-gak. Apaan?" Fatir segera menjauh.
"Kenapa sih? cuma itu doang ... masa orang yang pacaran baru aja ngerasain itu. Lah kita bertahun-tahun tahun pacaran. Paling cium pipi, itu bisa di hitung jari. Itupun aku yang ngasih, Mas gak pernah ngasih ke aku.'' Bibir Soraya cemberut.
"Mas takut." Sambil menelan saliva nya.
"Takut kenapa?" Rajuk Soraya.
"Takut kebablasan. Dan jangan samakan Mas sama pria lain dong Raya ... Mas gak berani. Yang namanya pacaran aja dosa apa lagi sebebas itu." Fatir bergidik.
"Ih, cemen ..." sahut Raya.
"Bukan cemen. Tapi takut dosa, sudah banyak dosa Mas, mau ditambah lagi! aduh ... tobat deh." Menepuk jidatnya.
"Ah, sok suci kamu Mas." Soraya kesal.
"Terserah kamu aja lah--"
__ADS_1
"Kalau terserah aku, ayo dong?" Soraya memotong kalimat dari Fatir lalu mendekat.
"Bu-bukan itu, terserah kamu mau ngomong apa, Mas mau pulang." Ngeloyor pergi.
Membuat Soraya semakin kesal. "Mas? iih ... dasar minta gitu saja gak mau!"
Fatir pamit pada orang tua Soraya sebagai tanda hormat. Bu, Pak. Saya pulang dulu."
"Oh, gak nginep Nak?" balas Bu Siti.
"Nggak Bu. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam. Kemudian mendekati sepeda motornya dan memakai helm.
Soraya berdiri di samping Fatir. "Eh, Mas. kok aku baru ngeh ya? cincin kamu cantik sekali." Seraya mengangkat tangan Fatir dan ia perhatikan dengan lebih dekat.
Fatir baru sadar kalau cincin kawinnya dengan Viona tak pernah ia lepas, hatinya jadi tak karuan.
"Aku pinjem ya Mas? kata cukup deh di jari manis ku!" kata Soraya sambil berniat melepas cincin tersebut dari jari manis Fatir.
"Jangan." Fatir secepat mungkin menarik tangannya. "Jangan, ini dari teman lama ku sebagai ... sebagai kenang-kengan. Iya bener." Fatir menyakinkan Soraya.
"Huuh ..." Fatir membuang napasnya. Takut diambil Soraya, sementara di bagian dalam terukir nama Viona. Bisa panjang urusannya kalau ketahuan. Sedangkan ia belum siap tuk mengungkap semua.
"Dari siapa sih? perasaan aku tahu semua kawan mu Mas." Soraya
Menelusuri jalanan yang cuma kena sinar lampu di pinggiran. Namun tujuan dia bukan rumahnya tapi Rumah sakit. Dimana sang bunda dan adiknya di sana.
"Assalamu'alaikum ... Bu!" ucap Fatir sambil membuka pintu. Tampak sang ibu sudah berbaring di tempat tidur yang satu lagi. Sya juga tampak dah tidur.
"Wa'alaikum salam. Tumben malam-malam ke sini Nak? sendiri ya?" sahut sang bunda sambil menggosok matanya.
"Iya, Bu. Sendiri." Fatir mencium punggung tangan sang bunda.
Fatir mendekati ke arah Hesya yang tampaknya dah lebih baik. Kemudian mengulurkan tangannya mengelus rambut sang adik. Lalu berjalan dan duduk di sofa.
Bu Afiah heran, tumben Fatir datang malam-malam. "Tumben ke sini malam-malam, meninggalkan istri di rumah. Apa ada masalah sama Nak Viona? sampai tak pulang," tanyanya lirih.
"Ha? nggak Bu. Gak ada masalah. Malas pulang juga, Viona gak ada di rumah."
"Nggak ada ke mana?" Bu Afiah terkesiap kaget.
Fatir berbaring di sofa tangannya memeluk guling. "Dia sedang ada urusan ke luar kota."
"Ooh ... keluar kota toh ... tak kira ke mana! urusan kerjaan?" menatap lembut sang putra.
"Hem ... iya." Singkat. kedua matanya menatap langit-langit.
"Yu wes. Kalau begitu, tidur saja. Tapi sudah makan belum Nak?" selidik Bu Afiah.
"Sudah Bu." Menoleh ke arah sang ibu yang berbaring kembali, Lantas Fatir melihat cincin yang melingkar di jari manisnya, iya lepas dan iya pandangi memang terlihat indah. Sebuah nama Viona pun terselip indah di sana, ia ajak senyum merekah dan sekilas ia mencium cincin itu.
__ADS_1
Malam semakin larut dan wajah Viona seolah menari-nari di pelupuk matanya. Membuat mata Fatir sulit tuk terpejam.
****
Tengah malam Viona terbangun sontak melihat ke sampingnya kosong. "Fatir?" panggil Viona.
Netra matanya terus mencari keberadaan Fatir. Namun ketika mengamati kamar yang ia tempati barulah sadar kalau dirinya sedang di luar kota dan Fatir tidak ikut serta.
Viona menghela napas dalam-dalam. Mengusap wajah dengan kedua telapak tangan. "Astagfirullah. Aku kan tidak sedang di rumah.
Manik matanya mengarah ke putaran jam yang sudah menunjukkan pukul 02.00 dini hari. Kemudian menarik tangannya dan memperhatikan cincin pernikahan yang melingkar indah. Bibirnya tertarik menunjukkan senyuman.
"Huuh ..." menghela napas panjang, dan menapakkan kakinya ke lantai. Menuju kamar mandi dan detik kemudian kembali meneruskan tidurnya.
Ke esok harinya. Viona sudah mulai menjalankan tugasnya, mengunjungi tempat tujuan ya itu perusahan Omanya. Meeting pun menanti Viona.
Sekarang bebannya bertambah, mengemban tanggung jawab yang besar demi berjalannya perusahaan yang menjadi hak warisnya. Bersiap dengan saingan bahkan mungkin mengancam keselamatannya.
Makanya dari kejauhan ada bodyguard yang mengawasi Viona dan menjaganya. Agar Viona selamat.
Setelah beberapa hari Viona di kota ini, Hendra selalu menemui Viona di waktu senggang. Terkadang Viona merasa risih, khawatir kalau akan timbul masalah dalam rumah tangga Hendra.
Kali ini mereka berdua tengah berada di sebuah restoran. "Ngapain sih Mas, menemui ku terus? nanti jadi fitnah. Istri Mas bisa curiga dan akhirnya yang akan jadi sasarannya, Mas gak kasihan sama aku?" Keluh Viona.
"Biar aja Vi, justru bagus biar nanti minta cerai." Jawab Hendra dengan ringannya.
"Mas, justru mas harus pikirkan aku juga. Aku akan jadi bulan-bulanan istri mu dan Mas harus ingat. Kalau kita tidak akan pernah bersatu." Jelas Viona sambil menyedot minumnya.
"Kita akan bersatu Vi sayang ... kita akan menikah dan tinggal jauh dari Negara ini. Kamu harus percaya itu." Menggenggam tangan Viona.
Viona menarik tangannya. Menghindar dari tangan Hendra. "Itu nggak mungkin Mas."
"Tak ada yang tidak mungkin kalau kita berusaha. Semuanya mungkin saja terjadi. Pasti kita bisa menikah. Bagaimanapun caranya." Hendra terus meyakinkan.
Viona menggeleng. Tak menyetujui dengan pendapat Hendra, Selesai makan. Viona beranjak Begitupun Hendra mengantar ke mobil yang Viona gunakan selama di Kota ini.
Hendra membukakan pintu mobil Sampai Viona masuk. "Makasih Mas! aku balik ke kantor."
"Ya, hati-hati." Sambil melambaikan tangan.
Mobil yang Viona tumpangi melaju dengan cepat meninggalkan pria yang terus tersenyum dan melambaikan tangan.
Pandangan Viona lurus ke depan. Menghela napas kasar. "Huuh ...."
"Nona. Anda tidak ke napa-napa?" tanya So menoleh ke belakang dimana sang Bos duduk di sana.
"Tidak." Jawab Viona menggeleng. Perjalanan pun hening kecuali suara mesin yang menghiasi gendang telinga. Ia mengambil ponselnya melihat layar di penuhi chat dari Hendra yang penuh dengan kata cinta yang membuat Viona tersenyum sendiri. Tak satu pun pesan yang datang dari Fatir selaku suaminya. Karena memang dia tidak tahu nomor Viona aja yang tahu nomornya dari Alisa tak sekali pun ia mencoba menghubungi ....
****
Semoga kalian suka dengan apa yang aku tulis ini. Mohon dukungannya.
__ADS_1