
Viona baru selesai membersihkan dirinya dan menghampiri sang suami yang masih terbaring di bawah selimut yang tebal. Mendekatkan diri menatap wajah sang suami yang rahangnya ditumbuhi dengan bulu-bulu halus.
Sedikit meniup wajahnya yang tampak masih lelap. Belaian punggung jarinya tak mampu membangunkan Fatir, kedua netra mata Viona menatap lekat wajah tersebut. Kemudian tangannya turun ke dada sang suami lalu menari-nari di sana.
Viona mulai gemas. Meskipun tubuhnya di gelitik tapi Fatir tak bangun juga. "Hem ... hi ... bangun? jam berapa nih!"
Fatir yang tak bergeming. Akhirnya bergerak juga. "Hem ... jam berapa nih?" dengan suara parau dan mata memicing.
Viona menoleh jam di dinding. "Tuh ... pukul 05 cepetan bangun dan bersih-bersih."
"Em ... nyenyak banget tidur ku." Menggosok matanya. "Sudah salat belum?"
"Sudah! bangun nanti kesiangan." Balas Viona yang betah dengan posisinya.
Jari Fatir mencolek hidung Viona. "Gimana bangun nya nih? kalau kau nemplok di atas tubuh ku, yang ada nanti junior ku bangun dan minta main lagi," suara berat Fatir membuat Viona melonjak.
"Ndak-ndak, mau ngantor nih." Duduk di tepi tempat tidur.
Fatir terbangun dan duduk. "Kan masih pukul 05. Masa mau berangkat jam segini?" goda Fatir sambil mengibaskan selimutnya.
Viona beranjak dan mendekati lemari. Mau bersiap-siap. "Cepetan mandi. Setelah itu kita sarapan di bawah."
Tangan Fatir mengambil celana bokser dan memakainya. "Tapi, aku kan gak bawa pakaian ganti?" menoleh sang istri yang masih berdiri dekat lemari. Ia baru sadar kalau dirinya ke sana cuma bawa badan saja.
Kepala Viona muncul dari balik pintu lemari. "Butuh apa Mas? sarung, peci. Pakaian ganti, ada nih." Menunjuk dalam lemari.
"Oo." Fatir membulatkan bibirnya. Lalu menurunkan kakinya dan menyeret langkah ke kamar mandi.
Sekitar 15 menit kemudian. Fatir selesai bersih-bersih lalu menunaikan salat subuh, lalu bersiap turun untuk sarapan bersama sang istri.
Viona mendekat dan merapikan pakaian Fatir. "Ada yang ingin aku bicarakan dengan mu."
"Tentang apa?" selidik Fatir sambil mengernyitkan keningnya.
"Nanti saja, sambil sarapan." Balas Viona sambil memeluk tubuh Fatir sebentar.
Fatir membalas pelukan Viona. Pun kecupan hangat mendarat di kening sang istri. "Yu." Memudarkan pelukannya dan menuntun.
"Oke." Balas Viona. Keduanya berjalan keluar unit apartemen nya. Menuju lobby dan sebelahnya restoran.
Di sana sudah ada asisten nya menunggu. Dan memesankan buat sarapan Viona dan Fatir, saat ini mereka sudah duduk di meja yang sama dengan Su.
Karena sarapan sudah tersedia, mereka langsung melahap sarapannya masing-masing.
"Ada kerjaan buat mu Mas." Tiba-tiba Viona bicara seperti itu.
"Kerjaan apa?" selidik Fatir sambil mengernyitkan keningnya di sela mengunyah makanan di mulutnya itu.
"Kamu, kan di sini meninggalkan jualan mu di sana. Jadi ... selama di sini, aku kasih kamu kerjaan. Gimana?" tawar Viona sambil menaik turunkan alisnya.
__ADS_1
Fatir meneguk minumnya dan setelah itu ia berujar. "Em ... kerjaannya apa dulu?" Fatir tampak penasaran. "Kalau bertolak belakang dengan bidang ku, jelas aku ndak mau."
Su. Menatap bergantian Bos nya itu. "Tuan, bisa membuat makanan yang Tuan bisa. Di resto sebelah untuk jamuan semua karyawan dan juga staf, selebihnya buat konsumen." ujar Su. Dan akhirnya mengarahkan tatapannya pada Fatir.
Fatir mengalihkan pandangan pada Viona seolah penuh pertanyaan dan Viona balas dengan anggukan sembari menunjukan senyumnya.
Fatir merasa tak percaya. "Tak percaya?"
"Mas. Kamu di bayar lho. Bahan memang disediakan oleh resto. Tapi kamu akan dibayar mahal sebab itu kan resep kamu. Pokoknya. Kamu tak kehilangan mata pencarian yang kamu tinggalkan," sambung Viona lalu menyuapkan sendok ke mulutnya.
"Oke, aku setuju kalau begitu!" Fatir langsung menyetujui yang Viona tawarkan, yang penting kerjaan itu masih di bidangnya dan ia sendiri mendapatkan uang walau sambil menemani sang istri.
"Beneran mau?" tanya Viona meyakinkan diri.
"Tentu, Vi ... aku mau. Di mana resto nya?" selidik Fatir seakan tak sabar lagi tuk segera terjun ke lapangan.
Selesai makan. Mereka berjalan menuju resto terdekat yang rencananya Fatir akan terjun di dapurnya. Letak resto yang tidak jauh dari hotel tempatnya menginap membuat tidak membutuhkan waktu lama di jalan.
Setibanya di lokasi Viona dan Su, mengajak Fatir langsung ke dapur. Netra mata Fatir mengitari tempat tersebut yang luas dan bersih.
"Sekarang, kamu mau bikinkan kami apa Mas?" tanya Viona sambil memegang tangan Fatir.
Fatir menghela napas panjang. Kemudian ia memutuskan kalau hari ini akan membuat mie ayam dan es buah. "Hari ini, aku akan buat mie ayam dan minumnya Soo buah."
"Oke, Su. Meeting sebentar sama semua pegawai." Viona mengalihkan pandangan pada asisten nya.
"Baik," balas Su. Lalu mengumpulkan semua pekerja.
Fatir mendekati Viona sebum Viona memuai meeting nya. Fatir seakan berbisik. "Apa mereka sudah tahu kalau aku suami mu?"
Viona menggerakkan manik matanya. "Tidak. Kenapa?"
Fatir menggeleng. Tidak berbicara lagi dan hanya mengangguk serta senyuman pada semua yang berada di situ.
Viona membuka meeting nya pagi ini. "Selamat pagi, semuanya?"
"Pagi, Bu?" sahut semuanya serempak.
"Semoga kabar kalian di hari ini baik ya dan semangat selalu dalam bekerja. Saya mau kenalkan ini su--" Viona menggantung ucapannya ketika Fatir menyentuh tangannya dan menggeleng.
"Kenalkan, nama saya Fatir. Saudaranya Ibu Viona," ucap Fatir sambil melirik ke arah Viona yang menatapnya.
"Ini. Orang mau dikenalkan sebagai suami, kok malah ngaku saudara sih? aneh deh." Batin Viona.
"Dikarenakan saya di sini dalam beberapa hari lagi, Mas ini akan membantu kalian untuk menyajikan menu andalannya di sini. Jadi menu andalan di sini di simpan aja dulu, mohon kerja samanya dengan baik," ujar Viona.
"Oo. Jadi mulai sekarang resto ini akan menggunakan menu andalan Mas ini? dan menu kita di simpan sementara waktu!" tanya kepala bagian menu di resto tersebut.
"Iya, semoga konsumen suka dengan menu Mas Fatir ini," sambung asisten Viona, Su.
__ADS_1
"Dan itu berlaku sifat nya sementara, selama saya berada di sini saja. Setelah itu menu lama keluarkan lagi," jelas Viona. "Saya rasa cukup sekian meeting pagi ini, sekali lagi mohon kerja samanya."
Viona menarik tangan Fatir ke sebuah ruangan tertutup. "Mas, apa-apaan sih? sudah jelas aku akan mengenalkan kamu itu suami ku, kok malah memperkenalkan sebagai saudaraku! aneh kamu ini."
Bibir Fatir menyeringai kecil. "Sayang. Kalau kamu kenalkan aku adalah suami kamu, otomatis mereka akan mengalami cemburu sosial! dan aku sendiri akan merasa canggung dengan mereka, karena apa? karena dengan otomatis mereka akan menghormati ku seperti mereka menghormati kamu dan aku gak mau seperti itu. Biarlah mereka tahunya aku ini saudara kamu, sudah," ujar Fatir panjang lebar dengan alasannya.
Membuat kepala Viona menggeleng. Tak mengerti dengan alasan Fatir.
Kedua tangan Fatir membingkai wajah Viona serta tatapan yang lembut, kemudian netra matanya bergerak melihat kanan dan kiri depan dan belakang. Khawatir ada orang lain, setelah memastikan tidak ada siapa-siapa. Fatir kembali menatap wajah Viona.
Hati Viona jadi deg degan dibuatnya dengan tingkah Fatir kali ini. Kedua manik mata indah Viona membalas tatapan sang suami.
"Baiklah, aku kerja dulu ya?" kedua ibu jarinya Fatir mengelus pipi Viona dan Cuph! mengecup mesra bibir Viona yang selalu menantang itu.
Kemudian Fatir berlalu, kembali ke dapur meninggalkan Viona yang masih mematung dan menyentuh bibirnya, seperti anak gadis yang baru melepas ciuman pertamanya saja.
Fatir menemui kepala bagian menu. Untuk membicarakan pembelanjaan.
"Hari ini, Saya mau membuat menu Mie ayam dan minumnya sup buah. Jadi saya akan buat catatan bahan yang harus di belanjakan," ucap Fatir.
"Oke. Catat saja Mas." Kata orang itu.
''Oya, Mas, biasanya perhari habis berapa porsi? menu andalan di sini kira-kira?" selidik Fatir.
"Biasanya ... habis sekitar 500 porsi, ini kan khususnya buat staf dan karyawan. Selebihnya baru buat konsumen," sahutnya lagi.
"Oke." Fatir membuat catatan bahan yang tidak tersedia di resto tersebut.
Hari ini Fatir berkutat di resto, membuat menu andalannya. Ketika waktu makan siang tiba semua staf dan karyawan sudah berdatangan. Ada yang makan di tempat ada juga yang di bawa ke tempat lain yang misalnya tempat kerja.
Semua yang makan di tempat mengatakan kalau menu ini enak. dan dan nikmat. Dan ada juga yang minta buat di kirim ke rumahnya. Sehingga pukul 17. sore, mie ayam yang dibuat 600 porsi lebih itu ludes tak tersisa. Tak ada lagi sajian buat makan malam.
Fatir duduk di kursi yang berada di ruangan staf. Ruangan tadi ketika ia ditarik oleh Viona, bersandar dan memejamkan mata.
"Teh, Mas. Biar rileks." Suara seorang wanita yang mungkin usia nya tak beda jauh dengan Viona.
"Oh, makasih." Fatir melonjak dan duduk.
Wanita itu duduk di hadapan Fatir. "Mas, jenengan nya siapa toh?" tanya nya dengan logat Jawa yang kental.
"Saya! Fatir, Mbak." Balas Fatir sambil mengangguk.
"Panggil saja saya Wulan, Mas biar lebih akrab," sambungnya wanita tersebut.
Kemudian mereka berbincang. Wanita itu begitu ramah dan baik.
Tiba-tiba terdengar suara yang berdehem dari balik pintu. "Ehem!"
Membuat keduanya refleks menoleh ke arah sumber suara ....
__ADS_1
****
Mohon dukungannya ya? reader ku semua, like. Komen dan vote nya juga. Makasih🙏