Bukan Suami Harapan

Bukan Suami Harapan
So sweet


__ADS_3

Fatir dan Viona saling pandang. Viona yang mau menyisir rambut, beranjak mau membuka pintu.


Blak!


"Kakek? kapan datang, dan ... ada apa?" sapa Viona menatap sang kakek. Kakek yang di maksud Viona adalah adik dari Oma Yani.


"Baru saja datang, sengaja ada perlu denganmu." Menatap datar.


"Oh, silakan duduk kek?" Viona menunjuk sofa yang ada di depan kamarnya.


Keduanya duduk di sana. Viona menghela napas. Mana dah siang, belum sarapan mau kerja. "Ada apa Kek?" langsung Viona memberi pertanyaan kepada pria tua tersebut.


"Kenapa bagian bulan ini belum keluar, belum masuk ke rekening saya?" selidik pria tua tersebut.


"Oh, itu. Maaf Kek, perusahaan sedang ada masalah dan sore ini Vi mau tinjau ke sana."


"Tumben banget tanggal segini belum masuk juga ke rekening saya," sambungnya.


Helaan napas Viona kian berat. "Kek ... perusahaan di sana sedang ada masalah dan menghambat pada keuangan. saya akan urus secepatnya, kakek tenang saja. Lagian kakek ini kan tinggal terima hasilnya. Nggak harus capek-capek dulu, uang masuk."


"Jangan kurang ajar ya kamu anak masih bau kencur. Saya ini sesungguhnya hak waris yang sesungguhnya dari Oma kamu. Kamu itu anak dari perempuan, gak kuat untuk menerima semuanya." Kedua mata pria itu menatap tajam.


Viona berdiri dari duduknya. "Maaf Kek, aku gak ada waktu untuk berbincang lama. Aku mau ke kantor, dan soal itu tenang saja dan aku akan segera mengurusnya."


Langkah Viona bergegas kembali ke kamar, setelah menutup pintu. ia berdiri dan bersandar di daun pintu sembari menghembuskan napasnya. Fatir yang muncul dari kamar mandi. Menatap heran.


"Ada apa?"


"Nggak, nanti sore aku harus ke luar kota, ada yang harus saya urus soalnya." Viona bergegas menyisir rambutnya dan menyemprotkan parfum ke tubuhnya.


Fatir bengong, mendengar Viona mau ke luar kota. "Berapa lama?"


"Ha? beberapa hari," ucap Viona sambil meraih tas nya. "Yu, siang nih." Viona berjalan keluar kamar. Di susul oleh Fatir yang merasa kurang suka kalau Viona pergi jauh.


"Sarapan dulu Vi ..." suruh Oma dan mamanya.


Di meja makan semua berkumpul tengah sarapan termasuk adiknya Oma Yani.


"Dah siang, Oma. Vi gak sempat sarapan." Viona mencium tangan semua yang ada di sana.


"Nak Fatir sarapan dulu?" kata Oma pada Fatir ketika dia mencium hormat tangannya.


"Nanti saja Oma. saya harus mengantar Vi ke kantor. Assalamu'alaikum."


Fatir menyusul Viona yang sudah keluar meninggalkan tempat tersebut.


"Pakai dulu helmnya." Fatir pun membantu Viona memakai helm.


Mata Viona memandangi ke arah Fatir yang menguncikan helm di kepalanya. "Makasih!" Viona segera naik memegang bahu Fatir.


"Ya. Pegangannya ke pinggang, yang kuat ya?" Kemudian dengan tidak membuang waktu. Fatir melajukan motornya begitu cepat. Melesat membelah jalanan yang ramai itu. Fatir begitu lihai selip-selip diantara kendaraan lainnya. Demi segera sampai di tempat tujuan Viona.

__ADS_1


Kebetulan Fatir pernah melihat Viona di kantor tersebut. Sehingga ia tak harus bertanya lagi lokasinya di mana!


Selang beberapa waktu yang terhitung begitu cepat. Motor sudah nangkring di depan sebuah gedung yang bertuliskan BANK swasta.


"Kok tahu? aku kerja di sini." Viona heran. Membuka helmnya.


"Tahu, sudah masuk! nanti kesiangan." tangan Fatir mengambil helem dari tangan Viona.


"Nanti aku kirim paket makanan buat sarapan." Viona berlalu.


"Nanti aku antar mobil ke sini," ucap Fatir menatap punggung Viona.


Viona membalikkan tubuhnya. "Nggak usah. Biar supir aja yang ngambil."


Viona melanjutkan langkahnya, sementara Fatir pulang dengan motornya yang melaju cepat.


Semua mengangguk hormat. Viona hanya menanggapi dengan senyuman. Alisa yang sepertinya baru duduk di kursinya, berdiri kembali mengikuti langkah Viona masuk ruangannya.


"Tumben banget. Diantar ayang? pake motor sosis nya ... eh salah, so sweet nya." Kata Alisa sambil duduk di kursi depan Viona.


"Apaan? biar bisa nyelip katanya, Biar bisa cepat sampai tujuan." Akunya Viona.


"Oya?" ucap Alisa seraya berpangku tangan.


"Bayangin aja, jam enam aku tuh masih di rumah Fatir. Pulang ke rumah, belum mandi, belum berdandan. Mana ada opa, yang protes uang dari perusahaannya belum masuk, wah ... bikin pusing. Masih mending jam segini aku dah sampai juga di kantor, kalau saja aku sendiri bawa mobil mungkin akan telat deh." Sambil menghela napas.


"Berarti Fatir hebat dong ya bisa mengantar mu tepat waktu?" lanjut Alisa.


"Hem, ha? nggak juga sih. Belum sempat sarapan soalnya." Timpal Viona dengan wajah datar.


"Iya, dari kemarin. Niatnya mau ke rumah mu Al ... malas di rumah ada benalu yang bentar-bentar TF dong." Bibir Viona mencibir. "Eh, ingat kamu itu sedang ke rumah orang tua mu. Bablas deh ke rumah Fatir, orangnya gak ada. Ketemu kekasihnya kali--"


"Kamu cemburu?" selidik Alisa lagi sambil menyangga dagunya di meja, penasaran dengan cerita Viona.


"Cemburu? nggak lah. Masa bodoh. Lagian gak ku lihat juga."


"Ooh ... berarti kalau lihat baru akan cemburu gitu? terus!"


"Nggak bakalan. Aku ke rumah nya. Beres-beres sama Sidar, ku ganti semua furniture nya. Sore mau pulang hujan dan malas pulang, eh ada gak ada aku di rumah sama aja. Tetap saja dari rumah minta TF. Bikin kesel kan! akhirnya nginep."


"Em ... kerasan gak di sana? biarpun sempit yang penting sama ayang. He he he ...."


"Sempit ... tempat tidur sempit, segitu aku dah ganti dengan yang aga gede dikit. Banyak tikus, kecoa. Mana kamar mandinya cuma satu. Umum lagi gak ada pintunya juga, huuh ..." Viona hembuskan napas dengan halus.


Alisa tertawa. "Emangnya habis bulan madu apa? hingga harus mandi pagi-pagi?"


"Apaan sih, gak ada! mandi pagi sudah kebiasaan ku." Netra mata Viona mendelik. "Sudah pergi sana? mulai kerja."


"Em ... jangan gitu Non. Kasian, itu kewajiban loh." Alisa pergi ke tempatnya bekerja.


Sesaat Viona bengong. "Kewajiban? ah kalau dia mau bisa ceraikan aku kapan saja kok. Toh aku sudah dapat hak waris dari Oma sekarang."

__ADS_1


Viona memulai aktifitasnya. Tidak lupa memerintahkan seseorang untuk pesan tiket buat keberangkatan nya ke luar kota.


Kini Viona sedang bertemu dengan beberapa orang koleganya. "Makasih atas kerja samanya. Dan semoga betah kerja sama dengan pihak kami."


"Sama-sama Bu Viona. Semoga semoga jalinan kerja sama kami membuahkan hasil dengan maksimal," balas seseorang yang berjas hitam tersebut.


Pertemuan pun berakhir, Viona mengantar ke pintu. Setelah itu melihat ke arah tempat rekannya yang ada cuma Alisa.


"Makan yu Non. lapar nih? terlambat pula." Alisa berdiri dan berjalan maju ke arah luar.


Viona pun mengikuti dari belakang. Ke resto terdekat dan langsung memesan makanan. Sekalian memesan buat beberapa orang dan minta di kirim ke dua tempat yang berbeda.


Alisa tersenyum bangga punya sahabat baik dan perhatian. Meskipun kadang cuek sok tak perduli gitu, padahal hatinya baik banget.


"Oya Al, nanti sore aku mau ke Jakarta mungkin sekitar beberapa hari. Mau ngurus perusahaan Oma yang di sana. opa ku pengen harta warisan tapi tak pandai mengurus. Pengen duitnya aja tapi ndak tahu cara mengelolanya, pas duit telat ribut." Viona menepuk keningnya.


"Berati ndak masuk kantor sini dong?" selidik Alisa sambil menyuap.


"Ya ... ndak lah, emangnya aku bisa dibelah dua apa?"


"Sudah bilang sama Fatir?" tanya Alisa lagi.


"Sudah tadi," sahut Viona disela makannya.


"Apa katanya? melarang kah atau ingin ngantar kah!"


"Ha? nggak ah. Ngapain larang-larang? ini sudah tanggung jawab ku sebagai CEO. Dia juga punya kerjaan kok." Tangannya mengambil gelas berisi minuman.


"Ya ... kali aja gitu pengen ngawal. Oya nganterin kan? ke bandara!"


"Ndak tahu. Aku gak bilang jam berapa berangkatnya Al." Viona menggeleng.


"Kasih tahu dong, nganterin atau tidak sih terserah," sambung Alisa.


"Nggak tahu no nya."


Plak!


Alisa tepuk jidatnya. "Ya Tuhan ... kamu sebagai istrinya gak tahu nomor dia? ndak nyimpen?"


Viona menggeleng. Lalu menyuapkan makanan ke mulutnya dengan santai.


"Non, kenapa gak minta! biar mudah komunikasinya, mana handphone mu?" Alisa menggeleng dan meminta ponsel Viona.


Viona mengambil ponselnya dari tas. Alisa menyimpan nomor Fatir dan si kasih nama my husband. "Nah, sudah ku simpan nomornya."


Selesai makan, mereka kembali ke kantor dan melanjutkan kerjaannya yang sempat tertinggal, sekitar jam dua Viona dan Alisa keluar untuk pulang, Mobil Viona sudah terparkir dengan manis di tempat biasa.


"Itu, mobil mu Vi. Siapa yang ngantar? gak ada orangnya juga."


"Em, supir kalau yang ambil dari tempat Fatir. Kuncinya mana ya?" gumam Viona, kemudian satpam datang memberikan kuncinya ....

__ADS_1


****


Hi ... ketemu lagi dengan kisah Viona dan Fatir. Semoga suka, jangan lupa tinggalkan jejak ya🙏


__ADS_2