Bukan Suami Harapan

Bukan Suami Harapan
Penipu


__ADS_3

Saat ini Viona dan Fatir berbaring di tempat yang sama, Viona menempelkan kepalanya di dada sang suami dengan manjanya. Melewati malam ini di Rumah Sakit.


****


Di meja salah satu restoran. Seorang wanita cantik dengan tatanan rambut tergerai, tengah duduk memainkan ponselnya. dari arah samping datang seorang pelayan resto. Membawa nampan berisi gelas minuman ke meja Rumi. Namun entah kenapa gelas itu lepas dari tangan si pelayan dan tumpah tepat ke pangkuan Rumi.


"Ah ... basah! ceroboh amat sih jadi pelayan tuh. Gunakan mata bukan dengkul. Dah tau orang Segede gini!" pekik Rumi sambil berdiri memandangi baju sampai rok nya yang basah kuyup.


"Ma-maaf, Bu. Maaf, saya tak sengaja dan tangan saya licin," ucap pelayang tersebut sambil menunduk gugup.


"Maaf-maaf, maaf pala mu. Enak saja bilang maaf setelah baju mahal saya basah begini! heh uang gaji mu aja gak akan cukup untuk mengganti baju ku ini. Mudah sekali bilang maaf. Maaf gundul mu." Rumi bertolak pinggang memperlihatkan keangkuhannya.


Wanita itu menelan saliva nya. "Saya tidak sengaja Bu?" kemudian mengambil mengambil gelas dimasukan kembali ke nampannya.


"Dasar ndak punya etika. Kamu tahu siapa saya? saya ingin Alon istri dari pemilik resto ini." Suara Rumi begitu nyaring.


Pelayan lain menghampiri. "Maaf ada apa ya?" dengan ramah dan melihat ke arah teman dan costumernya bergantian.


"Ini Mbak. Dia sengaja menumpahkan minuman ke baju saya, lihat nih basah semua--"


"Bu-bukan sengaja kok, lagian saya sudah minta maaf." Pelayan yang tadi membela diri.


Pelayan baru menghela napasnya panjang dengan pandangan kepada keduanya dia berkata kembali dan mengarahkan pandangannya pada Rumi. "Sekali lagi ... kami meminta maaf atas ketidak nyamanan ini? soal minuman akan segera kami ganti ya! mohon duduk kembali dengan tenang."


"Bukan soal minumnya Mbak, saya bisa membeli semuanya kok, masalah nya baju saya yang basah ini."


Pelayan yang baru itu. Menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Terus kami harus gimana, Bu?"


"Saya ingin bertemu dengan pemilik restoran ini, Mbak." Seru Rumi sambil duduk bersilang kaki dengan gaya bos besar.


"Maaf, ada apa ya?" menatap heran.


"Ini setoran pak Dewo, kan? calon suami saya, suruh ke sini sekarang juga!" titah Rumi dengan penuh rasa percaya diri.

__ADS_1


"Tapi, pemilik resto ini bukan yang bernama Dewo, Bu. Tapi pak Depan.


"Depan? tempat ini Dewo yang punya. Jelas-jelas saya juga menanam saham kok." Rumi kekeh dengan pendapatnya. "Sudah. Panggilkan saja ke sini! jelas-jelas Dewo calon suami saya kok."


Walau kebingungan, pelayan yang baru itu mengundur diri dan mengayunkan langkahnya ke dalam. Yaitu ruang kantor pemilik resto tersebut.


Rumi terdiam, sekilas melirik pelayan yang tadi menumpahkan minumnya yang baru mulai melangkah pergi. Ia melamun sambil menunggu Dewo yang ia maksud.


Terdengar langkah kaki mendekati dan Rumi segera menoleh ke arah pelayan tadi yang ia suruh memanggil pemilik resto tersebut. Dia bersama pria yang usianya di atas Dewo dan digandeng seorang perempuan dengan gaya elegan.


"Ada apa ingin bertemu suami saya? dan mengaku calon istri dia segala?" selidik wanita yang elegan tersebut menunjuk pria yang berada di sisinya.


"Ha?" Rumi celingukan, sebab yang ia maksud bukanlah pria ini. "Ma-maaf. Dia siapa? sa-saya tidak kenal."


"Lho, tadi anda menyuruh saya memanggilkan pemilik resto ini, nah ini Tuan Depan." Balas pelayan itu.


"Ta-tapi, yang saya maksud adalah Dewo calon suami saya yang beberapa waktu lalu membeli tempat ini." Rumi merasa heran.


"Sebentar! mungkin kamu maksud Dewo Stio? yang--"


"Dia itu, bukan membeli tempat ini. Melainkan membayar hutangnya pada saya dan itupun belum lunas Mbak. Bahkan dia juga membawa kabur mobil saya."


Rumi betapa terkejutnya. Mulutnya menganga dan matanya melotot ke arah pria itu. "Ap-apa be-benar? bukan karangan sema-ta--"


"Buat apa kami bohong? dan apa gunanya kami berbohong? yang ada kami rugi besar oleh orang yang kamu maksud." Timpal wanita yang mengaku istri Depan.


"Tapi, saya yakin kok--"


"Yakin, bahwa Dewo mu itu pe ni pu." Timpalnya lagi.


Rumi langsung shock, apa mungkin Dewo menipunya juga? mana uang yang dia keluarkan juga bukan uang sedikit lagi hampir mencapai 8,5 juta itupun dapat pinjem sebagian dari Viona.


Rumi pergi membawa perasaan yang sangat malu semalu-malunya. Muka juga berasa hilang dari tempatnya. Kaki pun yang melangkah berasa melayang begitu saja saking menahan malu, semua yang menyaksikan dari awal seolah mencemooh dan mencibir dirinya.

__ADS_1


Rumi berlari menuju mobilnya. Segera membuka pintu mobil dan bergegas masuk.


Dugh!


Memukul pegangan setir. "Sial. Kalau itu benar. Terus?"


Beberapa kali Rumi telepon Dewo, namun tidak juga diangkatnya yang ada malahan di rijek. "Sial-sial, sial ...."


Rumi membanting setirnya. Dia marah-marah, mengumpat sendiri dan melarikan mobi dengan tujuan ke kantor tempat Dewo bekerja.


Tidak selang lama, Rumi tiba di kantor yang dia tuju. Namun orang yang dia maksud tak ada di tempat, kata orang sana Dewo sudah resign dari kantor dari beberapa Minggu lalu.


Rumi tidak habis pikir dengan semua ini? akhirnya dia memutuskan datangi rumah orang tuanya Dewo kali saja Dewo berada di rumah.


Namun setelah sekian lama perjalanan, Rumi tiba di rumah Dewo tapi hasilnya nihil dan Dewo tidak ada, kata orang rumah sudah beberapa Minggu ini tak ada pulang. Bikin Rumi frustasi mendengarnya.


Rumi kembali melarikan mobilnya menuju hotel yang biasa mereka datangi berdua. Dan waktu itu sudah mulai gelap. Setibanya di hotel tersebut, Rumi membawa langkahnya dengan tergesa-gesa. Mendatangi pihak resepsionis tuk menanyakan apa ada atas nama Dewo yang menginap.


Pihak resepsionis bilang, ada atas nama pak Dewo. Namun dengan pasangan wanitanya membuat Rumi makin tersulut emosi dan cemburu. Ia langsung mencari kamar yang resepsionis sebutkan.


Dengan hati kecewa. Marah, kesal merasa ditipu, dikhianati. dipermalukan. Semua perasaan itu bercampur aduk menjadi satu. Giginya mengeras sorot matanya tajam dan manik matanya berubah merah. Langkahnya kian lebar mendekati pintu kamar nomor xxx di hotel tersebut.


Tangannya bersiap untuk mengetuk namun Rumi urung. Ia memasang daun telinga dengan tajam kali aja ada sesuatu yang bisa ia dengar dari balik pintu tersebut. Benar saja ada sayup-sayup suara pria dan wanita saling bersahutan des-ahan liar dan kata-kata rayuan yang membakar hati Rumi saat ini. Semakin lama, semakin terdengar makin asyik aja tuh di dalam.


Rumi sudah tidak sabar untuk masuk dan berbuat sesuatu pada orang-orang yang ada di dalam. Ingin rasanya mencekik lehernya sampai tak bernapas lagi, tak perduli dengan apa yang akan terjadi menimpanya nanti.


Tangan Rumi mendorong pintu yang kebetulan tak di kunci. Perlahan Rumi dorong sampai kedua netra matanya melihat sepasang pria dan wanita sedang bergumul menikmati satu sama lain.


Alangkah terkesiap nya Rumi sebab yang ia lihat itu memang benar Dewo sedang asyik kuda-kudaan dengan pasangannya.


Tak kalah terkejutnya Dewo ketika melihat Rumi berdiri di sana. Dia melonjak bangun dan Belum sempat berkata-kata. Rumi menendang benda pusaka nya hingga terhuyung ke depan dan menangkupkan tangannya ....


****

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya agar aku tambah semangat. makasih🙏


__ADS_2