Bukan Suami Harapan

Bukan Suami Harapan
Gak Khilaf


__ADS_3

"Sudah, makasih." Viona membalikan badannya.


Suara Viona menyadarkan lamunan Fatir seketika. "I-iya, sama-sama." Fatir menunduk sambil mengusap tangannya, berasa nyata sekali menyentuh kulit Viona. Ia berusaha menyembunyikan senyumannya.


"Kenapa? mesem-mesem begitu, jangan punya pikiran ngeres ya? biarpun kita sudah menikah dan tidur pun satu tempat, bukan berarti kita bisa--"


"Kita campur?" tanya Fatir menatap tajam.


"Iya. Jangan pernah sentuh aku!" ulang Viona.


"Kalau gak khilaf." Bibir Fatir menyeringai.


Mata Viona mendelik, melotot sempurna. Namun ia tak berucap lagi apa pun melainkan ngeloyor pergi ke wardrobe.


Fatir kembali berbaring. melanjutkan rehatnya yang terganggu barusan. Sementara Viona berganti baju dan kemudian membersihkan wajahnya di kamar mandi.


Lalu duduk di depan cermin. Melihat punggung Fatir yang berbaring. "Huuh ..." helaan napas Viona begitu berat. Terbayang kejadian seharian tadi. Dimana ia bisa bertemu dengan Hendra dan memeluknya dengan erat. Bikin hati tenang dan nyaman.


Antengnya lamunan Viona. sampai tak sadar kalau waktu sudah menunjukan pukul 23.00, kemudian Viona beranjak dan mendekati tempat tidur. Tangannya mengambil guling dan ia simpan di tengah-tengah antara Fatir dan dirinya.


Malam terlewati begitu saja dengan tertidur nyenyak. Mungkin akibat terlalu capek siangnya. Menjadikan Tidur keduanya begitu lelap dan nikmat.


Tubuh Fatir menggeliat nikmat. Matanya memicing melihat tempat sekitar di bawah lampu yang remang-remang kedua matanya menangkap sosok wanita cantik tengah tertidur lelap. Aura cantiknya sangat terlihat, Sesaat ia pandangi wajah wanita yang kini menjadi istrinya itu. Berkali-kali Fatir menelan Saliva nya sendiri.


Sayup-sayup terdengar suara adzan subuh yang mengalun dengan merdu. Fatir menyingkap selimutnya. "Perasaan semalam gak pakai selimut," gumamnya Fatir.


Detik kemudian ia turun berniat ke kamar sebelah tuk mengambil pakaian yang tersimpan di sana. Namun setelah sampai di kamar tamu itu pakaian Fatir dah raib, ia kebingungan. "Kemana paper bag punya ku?"


Fatir kembali menyeret langkahnya balik ke kamar Viona. "Itu sarung ku, yang lainnya di mana ya?" Namun Fatir gak ambil pusing ia bergegas memasuki kamar mandi tuk bersih-bersih lebih dulu. Lagian handuk pasti di kamar mandi juga ada.


Selepas salat. Membuka-buka gorden dan melihat-lihat ke balkon sebentar menghirup udara segar dan belum tercemar itu. Di sana Fatir menghabiskan sebatang rokok menemani kesendiriannya, setelah membuang kuntung nya.


Fatir kembali membawa melangkahnya masuk ke dalam kamar. Berdiri di depan pintu, menatap ke arah Viona yang tak berubah sama sekali dari posisi tidurnya semula. Perlahan ia mengayunkan langkah kakinya yang lebar itu lantas duduk di tepi tepat tidur. Dekat Viona berbaring.


"Hi ... Mbak, bangun? jam berapa nih, gak salat subuh apa?"


"Hem ..."Viona menggeliat. Melihat ke arah jendela yang sudah terbuka. "Siapa sih yang masuk tanpa ijin dan membuka gorden segala? semua pekerjaan di kamar ini ... biar aku kerjakan sendiri," ucap Viona sambil menyembunyikan wajahnya di balik bantal, ia gak nyadar kalau yang membuka jendela adalah Fatir.


"Bangun Mbak, gak salat subuh apa?" ulang Fatir.


"Ha? kamu." Viona terperanjat bangun sambil menggosok kedua matanya. Lantas memeluk selimutnya dan baru nyadar kalau malam tadi adalah malam pertamanya setelah menjadi istri.


Viona menatap punggung Fatir yang duduk memunggunginya. detik kemudian melihat tubuhnya yang masih berpakaian lengkap.

__ADS_1


"Kenapa? di tengok? takut kalau saya khilaf ya, hi hi hi," ucap Fatir di akhiri dengan tawa kecil.


"Nggak. Siapa bilang saya takut?" Viona menyingkapkan selimutnya hendak turun.


Fatir menyeringai. "Kalau gak takut, yu kan kita dah halal boleh dong kalau saya meminta hak dan menunaikan kewajiban saya." Goda Fatir.


Viona yang menapaki lantai membelalakkan matanya pada Fatir. "Jangan macam-macam ya? awas aja." Sambil mengepalkan tangannya ke udara. Bergegas membawa langkahnya ke kamar mandi.


Fatir tersenyum melihat langkah Viona yang memasuki kamar mandi. "Mana berani aku menyentuh mu Nona."


Seusai salam. Viona mendapati Fatir tertidur di sofa, kemudian ia pun bangkit dan kembali merangkak menaiki tampar tidur berbaring dan memejamkan mata indahnya.


Sekitar pukul sepuluh, Viona terbangun dan mendapati sofa yang tadi Fatir merebahkan diri sekarang kosong. Viona bangun untuk beres-beres kamar. "Kemana orang itu?" Gumamnya. Lalu Viona memanggil bi Ijah.


"Iya, Non ada apa?" tanya bi Ijah berdiri dekat tangga.


"Fatir kemana ya? kok aku gak lihat dia." Tanya Viona menatap ke arah bi Ijah.


"Em, maksud Non, Den Fatir ya? ada di bawah sedang mencuci mobil." Jawab bi Ijah.


"Nyuci mobil?"


"Iya, Non. Di bawah," lanjut bi Ijah kembali.


"Tadi. Cuma minum teh hangat saja. Oma sudah menyuruhnya sarapan, tapi jawabnya Non juga belum sarapan."


"Kok saya? jelas-jelas saya belum bangun tadi." Viona menggeleng lalu turun ke lantai bawah.


"Pengantin baru, baru bangun," sapa Oma Yani dan sang bunda yang tengah bersantai.


"Huam ... Oya Oma, ngantuk," sahut Viona sambil menguap.


"Kamu ini gimana sih? suami dah bangun dari tadi belum sarapan juga. Maklum dia itu kan baru di sini, kalau lapar belum berani makan sendiri, jadi Vi yang harus perhatian. Kasian loh," ujar Oma Yani.


"Biarkan saja mau makan atau tidak, biarin saja bukan anak-nak ini." Timpal pak Rusadi sinis.


"Pa, gak boleh gitu. Vi ajaklah dia makan sayang, bareng kamu juga. Kalau gak salah di punya riwayat lambung, ya Oma"? Bu Asri menatap sang bunda.


"Iya bener itu," Oma Yani mengangguk. "Tadi Oma dah suruh sarapan tapi menolak."


"Ya udah deh, Vi hampiri dia dulu." Viona beranjak dari duduknya di sofa membawa langkah menuju pekarangan.


Benar saja, Fatir sedang asik mencuci mobil tinggal membersihkan saja.

__ADS_1


"Dah jam berapa nih? kenapa belum sarapan, kalau nanti kamu sakit saya juga yang repot." Jelas Viona berdiri gak jauh dari Fatir.


Kepala Fatir menoleh seraya menjawab. "Saya gak berani, khususnya di sini mendahului kamu."


"Saya kan, jelas-jelas masih tidur. Kalau saya gak ada seharian, apa kamu gak makan juga seharian?" lanjut Viona.


"Kalau kamu gak ada di rumah, saya juga pergi. Lagian hari ini saja saya libur, mulai besok saya akan berjualan lagi. Paling pulang malam ke sini atau bila perlu saya tinggal di sana," ujar Fatir tanpa menoleh lagi.


"Iih." Viona sedikit menghentakkan kakinya ke lantai. "Buruan sarapan dulu, nanti jatuhnya makan siang bukan sarapan lagi."


Kedua netra mata Fatir menatap kepergian Viona yang berharap ia susul untuk sarapan. Fatir pun membawa langkahnya setelah membereskan peralatan mencuci mobil barusan.


Viona menghangatkan masakan yang sudah dingin itu. Fatir duduk di kursi, Viona pun menyuguhkan nya tepat di depan Fatir.


"Anggap saja rumah sendiri, Jangan nunggu saya dulu. Gimana kalau saya gak ada?"


"Kan tadi sudah ku bilang. Kalau kamu gak ada, saya juga gak ada di rumah ini. Apalagi ketika saya jualan," sahut Fatir sambil memasukan makanan ke mulutnya.


"Terserah kamu lah, setelah makan mandi. Itu baju mu basah." Viona melihat pakaian Fatir yang basah.


"Hehe, saya sudah mandi tapi baju ganti saya entah ke mana? yang ada cuma sarung aja."


"Kenapa gak nanya?" tatapan Viona mengarah ke Fatir yang sedang makan.


"Apa yang sedang tidur bisa jawab? lagian semalam paper bag ku simpan di kamar tamu," sambung Fatir lagi.


"Aku simpan di lemari, sedikit banget bawa pakaiannya? waktu itu aku belikan banyak," ucap Viona seraya mengunyah.


"Di sini saya paling malam saja. Jadi aku pikir buat apa bawa banyak-banyak."


Viona terdiam sambil menikmati makannya. Ia lebih dulu selesai, usai meneguk minumnya. Viona pergi seraya berkata. "Bi, tolong nanti bereskan ya? saya mau mandi dulu, gerah." Mempercepat langkahnya menaiki anak tangga.


"Iya, Non." Bi Ijah mengambil piring bekas Viona.


Fatir pun selsai, langsung ia bawa ke wastafel dengan maksud mau di cuci.


"Den, jangan. Biar Bibi saja, Aden istirahat aja di atas." Bi Ijah mengambil alih.


"Ups, kalau di lihat-lihat ganteng juga kamu, kekar tubuhnya," gumam seorang wanita yang berdiri dan menggigit bibir bawahnya, mengagumi sosok Fatir yang memang tampan ....


****


Apa kabar reader ku semua, semoga kabar baik ya? jangan lupa dukung aku ya🙏

__ADS_1


__ADS_2