
"Asri, ada apa ribut-ribut?" suara bu Yani dari balik pintu kamar Asri.
Bu Asri menghela napas panjang sebelum akhirnya mendekati pintu. Tety ....
"Ada apa Bu?" Asri berdiri dihadapan sang ibu.
"Tadi, ada ribut-ribut? kenapa?" menatap heran sambil celingukan melihat ke dalam.
"Ndak ada Bu. Ndak apa-apa!" jawabnya lagi sambil ikut melihat-lihat ke belakang.
Wajah bu Yani menatap curiga. Namun ia tak lagi berbicara melainkan membalikan tubuhnya turun kembali dan menuju kamarnya.
"Hati-hati Bu," ucap Asri menatap punggung sang ibu yang berjalan menuruni tangga.
Bu Asri kembali berjalan setelah menutup pintu.
Ting.
Ting.
Ting.
Ponsel pak Rusadi bunyi hati bu Asri terpancing tuk mengambilnya. Setelah ia buka dan membaca isi pesan tersebut alangkah tercengang dan sakitnya hati bu Asri.
Isi pesan yang memanggil sayang dan berterima kasih karena sudah di belikan tempat tinggal. Dan terlihat jelas siapa yang memberi pesan, wanita muda yang tidak jauh dari usia Sita, putri sambungnya.
"Tega kamu Mas, tega kamu khianati rumah tangga yang sudah kita bina puluhan tahun ini." Wanita paruh baya ini patah hati. Dadanya sesak dan sakit sampai ke ulu hati, lagi-lagi lelehan air bening menetes dan meluncur begitu saja.
Tidak pernah ia menyangka kalau suaminya melakukan sesuatu akan membuat goyah kokohnya rumah tangga yang selama ini di bina. Tak pernah terbesit sedikitpun akan mengalami seperti ini di saat usia mereka sudah tidak muda lagi.
Bu Asri segera menyimpan ponsel sang ke tempat semula sebelum Rosadi keluar dari kamar mandi. Buru-buru dia membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur dan menutup tubuhnya dengan selimut yang tebal sampai menutupi kepala.
Air mata turus saja mengalir membasahi pipi tanpa di undang dan sulit dihentikan. Bu Asri menangis tanpa suara luapan luka yang tak berdarah. Kemudian terdengar suara langkah kaki mendekati tempat tidur dan berhenti tidak jauh dari tempat bu Asri berbaring.
Rusadi baru saja selesai membersihkan dirinya dan mencari keberadaan baju ganti yang biasa sang istri sediakan. "Baju ku mana? kenapa tak kau siapkan?" suara Rusadi terdengar kesal.
Suara Rusadi jelas terdengar ditelinga Bu Asri, namun bu Asri enggan menjawab apalagi mengambilkan barang yang di butuhkan suaminya. Kali ini ia benar-benar merasa patah hati, sakit. Kecewa bercampur aduk.
"Asri, baju ku mana?" dengan suara nada tinggi.
Sebelum menjawab, Bu Asri menarik napas berat namun dengan. masih dalam posisi yang sama ia berkata. "Ambil saja sendiri. Kepala ku mendadak pusing. Ingin istirahat."
"Alasan. Tadi kau baik-bauk saja, kenapa tidak disiapkan dulu?"
__ADS_1
"Kamu, Mas bisa ambil sendiri. Kepalaku pusing. Sudahlah aku ingin istirahat." Bu Asri menggigit bibir bawahnya. Sekuat tenaga menahan tangisnya, jangan sampai pecah.
"He ... h, tak berguna!"
"Ya, ampun Mas ... baru kali ini aku tidak siapkan keperluan mu. Kau bilang aku tak berguna. Terus selama ini yang melayani mu siapa? siapa? terus kenapa tak kau hargai!" batin Bu Asri. Air matanya terus berjatuhan ke bantal dan terasa begitu hangat.
Rusadi kini sudah rapi dan wanginya begitu semerbak memenuhi ruang kamar tersebut. Mengambil ponsel dan mengecek chat nya. Tanpa curiga kalau itu sudah dibuka sebelumnya oleh sang istri. bibirnya senyum-senyum sendiri membayangkan wanita itu saja sudah bikin hati pak Rusadi berbunga-bunga. Apalagi mengingat servis nya yang masih agresif, mesinnya masih bagus dan body nya juga masih kencang tak seperti istrinya yang sudah kendor serta sudah turun mesin. Bikin kurang mood menurutnya.
Dari balik selimut, hidung Bu Asri mendengus mencium wangi parfum suaminya yang semerbak. Ingin melihat apa orang nya ada atau sebaliknya? tak niat itu ia urung. Lagian gak ada suara langkah yang keluar melintasi pintu, berarti Rusadi masih berada di dalam kamar tersebut.
Pria tau itu duduk di sofa seakan lupa pada istrinya, yang dia lakukan hanya memandangi gambar perempuan muda pujaan hatinya yang masih segar dan body aduhai, tak bosan-bosannya ia pandangi dengan senyuman yang begitu mengembang.
Hingga sampai-sampai tertidur di tempat sambil memeluk dadanya.
Bu Asri perlahan keluar dari selimutnya. Melihat kanan dan kiri kemudian manik matanya tertuju pada suaminya yang tertidur di sofa dengan bibir menyunggingkan senyuman. Hatinya bu Asri kian sakit, pikirnya pasti pak Rusadi tengah diliputi semua tentang wanita itu.
Kelopak bu Asri tampak sembab dan manik matanya merah. Dadanya kembali sesak mengingat pengkhianatan suaminya itu.
****
Viona dan Fatir baru sampai di unit apartemen Viona, mereka terlihat lelah setelah beberapa hari di luar kota. Viona sedang berlutut membuka kopernya mengeluarkan semua barang dan mau ia pindahkan ke lemari.
Fatir yang baru muncul dari kamar mandi selesai membersihkan diri. Melihat sang istri tengah merapikan pakaian langsung ia bantu.
Viona menarik bibirnya ke samping. Melihat perlakuan sang suaminya yang selalu perhatian padanya. Tangan Viona menjulur dan sedikit menarik handuk yang melilit pinggang Fatir menutupi daerah intinya.
"Jangan dong sayang, nanti lepas lho!" ucap Fatir sambil menyingkirkan tangan Viona.
"Biarin," balas Viona sambil kembali tarik-tarik handuk Fatir.
"Mandi sana, katanya tadi buru-buru waktu aku masih mandi. Sekarang malah main-main." Fatir mendekati lemari menyimpan pakaian dari koper.
"Kenceng banget ih. Handuknya susah melorot. He he he." Viona berdiri hendak ke kamar mandi, tangannya sibuk membuka kancing kemeja yang melekat di tubuhnya.
Ketika mau melangkah. Kakinya Viona tersandung koper sehingga tubuhnya oleng dan menabrak tubuh Fatir sehingga keduanya terjatuh.
Brugh!
"Au!" pekik Viona, tubuh keduanya terjatuh tepat ke atas tempat tidur. Tangan Fatir memeluk tubuh Viona yang menindihnya.
"Hati-hati dong Vi ..." sementara waktu mereka bersitatap begitu dalam. Dengan jantung yang dag dig dug ser. Berdebar tak karuan.
Viona tersadar ketika merasakan ada yang mengganjal diantara keduanya dan sesuatu itu bergerak di bawah sana. Ia bergelinjang bangun, gugup dan geli dengan yang barusan bergerak atau meronta. Kedua bahunya bergoyang dan segera turun menapakkan kedua kakinya membawa langkahnya ke kamar mandi.
__ADS_1
Fatir masih di posisi yang sama dengan memicingkan mata ke arah Viona yang terburu-buru memasuki dan hilang dibalik pintu. "Sayang, jangan lama-lama ya? tanggung jawab nih!"
"Ndak mau!" pekik Viona dari balik pintu.
Fatir terbangun dan menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Turun dan menyeret langkahnya mendekati pintu kamar mandi yang ada Viona di dalamnya.
Klik!
Kebetulan pintunya tak terkunci dari dalam sehingga Fatir perlahan masuk dan Viona tak menyadarinya. Viona anteng berendam memunggungi arah pintu. Fatir ngendap-ngendap mendekati sang istri, berdiri di dekatnya.
"Au! u-ular. Be-besar." Viona tersentak kaget ketika melirik ke kanan, yang ia lihat pertama kali bukanlah tubuh Fatir melainkan kepala ular yang nongkrong di depannya. Menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan.
Dengan teriakan Viona pun Fatir ikut kaget dan segera menutupi tubuhnya dengan handuk. "Sayang, ini aku. Ndak ada ular." Memegangi kedua tangan Viona yang menutupi wajah cantiknya itu.
Perlahan Viona mengintip dari celah jarinya. Melihat ke arah Fatir yang berjongkok di dekatnya. Lalu Viona memukul air hingga menyembur. "Kenapa harus ngendap-ngendap sih? bikin orang kaget aja. Gimana kalau aku jantungan coba? ada-ada aja deh.
"Iya, maaf sayang maaf." Fatir merangkul kepala Viona lalu di kecup nya berkali-kali.
"Nih, jantung ku masih berdebar kaya gini." Tangan Viona memegang dadanya yang tampak naik turun.
"Kan, sudah minta maaf sayang." Kemudian Fatir ikut mengusap dada bagian atas sang istri.
"Jahat banget." Gumamnya Viona, manik matanya menatap lekat wajah Fatir yang mengulum senyumnya.
Fatir memang merasa lucu dengan tingkah sang istri. Lagaknya kaya baru lihat saja padahal itu, kan mainan dia!
"Kenapa senyum-senyum?" ketus Viona. Melihat Fatir terus tersenyum.
"Lucu aja sayang, kamu kaya baru pertama kali lihat saja, ha ha ha ...."
"Masalahnya itu, kaget. Aku gak lihat orangnya. Tiba-tiba yang muncul kepalanya. Ya aku shock lah, gimana coba kalau yang masuk itu bukan suami ku melainkan orang lain? iiy ..." bergidik.
"Jangan dong Vi, jangan orang lain." Cuph! mendaratkan kecupan hangat di kening sang istri. Sementara tangannya masih betah mengusap buah yang menggantung indah di pohonnya.
Akhirnya Fatir masuk ke dalam bathub yang sama dengan Viona dan berendam bersama. Sebelumnya melempar handuk ke gantungannya. Lalu tangan Fatir merengkuh tubuh sang istri dibawanya ke dalam pelukan.
"Aku sayang sama kamu." Bisik Fatir tepat ditelinga Viona.
Sontak bisikan itu membuat tubuhnya meremang. Lalu merasakan sesuatu yang lembab me-nye-sap lembut alias kecupan-kecupan kecil mendarat di ceruk leher. Naik ke atas pipi kening dan berakhir di bibir, sepertinya pergulatan panas akan terjadi di dalam bathtub tersebut ....
****
Apa kabar reader ku semua, jangan lupa tinggalkan jejaknya ya🙏
__ADS_1