Bukan Suami Harapan

Bukan Suami Harapan
Di rawat


__ADS_3

Semua mata tertuju ke arah pintu. Dari balik pintu muncullah sosok Fatir yang baru balik dari mushola. Melihat mama mertua berada di dalam, Fatir tersenyum ramah.


Fatir berjalan menuju ke dalam ruangan itu. ''Mama, kapan datang?" tanya Fatir sambil meraih tangan Bu Asri lantas diciumnya.


"Belum lama ini, selamat ya? tolong jaga istrimu. Jangan dibuat capek atau stres, apalagi kehamilan Vi masih sangat muda." Bu Asri mengusap bahu Fatir lembut.


"Insya Allah. Ma!" Fatir mengangguk hormat. Kemudian melirik ke arah Viona.


"Saya titip Viona ya sama kamu." Bu asri menatap penuh harap, direspon dengan anggukan dari Fatir.


Kemudian Fatir duduk di dekat Viona. Menggenggam jemari Viona di usapnya lembut. "Gimana? sudah agak baikan?"


"Lumayan," ucap Viona Sembari tersenyum manis dan menatap wajah Fatir yang sumringah dan nampak segar.


Detik kemudian Alisa dan Darma datang membawa makanan. Fatir segera menyuapi Viona makan. Dia tak mau makanan rumah sakit.


"Vi, kamu rawat inap dulu di sini? baguslah istirahat dulu di sini sampai kau benar-benar fit," ucap Alisa pada Viona.


"Iya. Al terpaksa deh, padahal aku pengen pulang." Viona melirik ke arah Alisa di sela makannya.


"Istirahat aja dulu. Lagian suami tercinta ada kok pasti setia menemani. Kalau ndak sih pecat saja--" Alisa menggantung kalimatnya.


"Eh, kau pikir aku karyawan apa? dipecat segala?" Fatir memotong perkataan Alisa.


"Iya, istri ku ada-ada saja. Yang ada di tendang. Jius ..." Darma menggerakkan tangan nya ke udara.


"Ini lagi, emangnya saya bola? kau tendang." Fatir menggelengkan kepalanya pelan sambil tertawa.


Oma dan Bu Asri saling melempar senyum. Mendengar Darma, Alisa dan Fatir saling lempar obrolan.


Kemudian Fatir melirik ke arah Bu Asri dan Oma Yani. "Sebaiknya kalian pulang saja. Biar Vi, aku yang nungguin."


"Oma sih ingin di sini menemani Viona, ya Asri? kita berdua di sini juga!" balas Oma Yani sambil melirik Bu Asri.

__ADS_1


Asri menghela napas. Bukannya gak senang dan bukan juga gak ingin menemani sang putri. Namun hatinya terlalu capek dengan keadaan yang menimpanya saat ini. Namun kasihan juga sama Viona. "Iya, Mama juga di sini saja ya?"


"Em, ndak Mah, Oma. Vi gak pa-pa juga cuma butuh istirahat satu malam aja di sini. Besok juga pulang ke apartemen, sebaiknya Mama pulang dan istirahat. Mama pasti capek juga kan? Oma juga istirahat di rumah. Suasana di rumah sakit kurang baik untuk kesehatan Oma," ujar Viona, menatap dua wanita itu.


Bu Asri melihat sang bunda yang tampak enggan pulang dan duduk dengan santainya di sofa. "Yo wes. Kita pulang saja bu. Sekarang dia sudah punya Fatir jadi gak butuh kita lagi. Sebaiknya kita pulang saja, Bu."


"Bu-bukan gitu Mam ... maksud Vi, cuma tak ingin merepotkan Mama dan Oma saja." Balas Viona seraya menggeleng.


Oma Yani tersenyum dan mengangguk. "Baiklah. Tapi janji ya Fatir. Kau jaga cucu ku baik-baik."


"Iya, Oma siap!" tangan Fatir diangkat hormat.


"Aku juga pulang dulu bro!" Darma berpamitan.


"Iya nih, kasihan putra ku di rumah. Kalau sempat nanti malam aku ke sini lagi atau besok pagi, cepat pulih ya? Vi. jaga kesehatannya. Jangan terlalu capek dan hindari stres. Oke?" Alisa memeluk Viona dengan erat.


"Makasih Al, maaf sudah merepotkan mu. Sehingga kamu meninggalkan putra kalian. Dan kalau repot! jangan paksakan diri tuk ke sini, aku akan baik-baik saja kok. Mohon doanya saja!" seru Viona. Masih memeluk Alisa.


"Aku gak merasa kamu repotkan kok, ya sudah! kami pulang dulu ya?" pamit Alisa yang di balas anggukan oleh Viona.


"Ya, sudah. Kalau kalian tak ingin kami di sini!" Bu Asri meraih tas nya. Begitupun Oma Yani yang pada akhirnya berdiri dibantu Bu Asri.


"Ma-maaf Oma, Mama. Bukan maksud Vi--"


Bu Asri mengayunkan langkah nya mendekati Viona. "Sudah, Vi. Tak apa kok. Besok Mama balik lagi ya." Mengusap kepala Viona dan memeluknya penuh hangat.


Lalu Oma Yani memeluk bahu Viona. "Istirahat ya sayang. Cepat pulih agar bisa segera pulang, mengelus punggung Viona lembut.


Keduanya keluar diantar Fatir sampai depan pintu. Kemudian Langkah Fatir kembali ke arah Viona yang duduk bersandar. Di tempatnya. Fatir duduk di depan Viona. Menggenggam jari Viona kuat.


"Sudah, makan dulu kamu, Mas belum makan juga? makan dulu sanah." Perintah Viona pada sang suami.


"Iya, nanti aku makan. Sekarang kamu dulu makannya." Tangan Fatir kembali meraih piring dari meja dan menyuapi kembali Viona yang menggeleng.

__ADS_1


"Cukup, Mas. Aku sudah kenyang. Kamu aja yang makan. Nanti kamu sakit." Tatapan Viona begitu intens pada wajah Fatir.


"Beneran sudah kenyang?" selidik Fatir membalas tatapan sang istri yang menatap lekat.


Viona mengangguk tanpa beralih pandangan sedikitpun dari Fatir. Tatapannya terkunci pada satu titik. Begitupun Fatir. Dia hanya menyimpan piring tersebut, kemudian mendekatkan wajahnya ke wajah Viona yang menyambut hangat.


Tanpa permisi, Fatir menyatukan. bibir keduanya dengan sangat lembut. Tangan Fatir memeluk tubuh Viona dan menguncinya. Mulanya biasa aja namun lama-lama saling menikmati sentuhannya itu. Dalam beberapa saat keduanya terbawa perasaan.


Kemudian Fatir memudarkan dan melepas pelukan nya. "Aku bahagia, sebentar lagi akan ada benihku di sini." Mengusap perut Viona yang masih rata itu.


"Hem ... Mas akan menjadi ayah, siap emang punya anak?" tanya Viona sambil menyandarkan kepala Viona di bahu Fatir.


"Siap dong masa nggak. Aneh deh sayang." Cuph! mendaratkan kecupan kecil di kening Viona.


"Gimana kalau seandainya? tapi amit-amit gitu. Kalau yang aku kandung ini bukan anak mu?"


Fatir sontak menatap ke arah Viona. "Jangan bercanda. Lagian aku percaya kok kalau janin itu benih ku."


Senyum Viona begitu mengembang. "Kan cuma berandai-andai Mas, jelas lah kalau ini milikmu. Emang benih siapa lagi."


Tangan Viona melingkar di leher Fatir dengan tatapan sayu dan penuh bahagia. "Kamu bobo di sini ya sayang. Aku gak mau bobo sendiri."


Bibir Fatir melukiskan senyuman dan mengangguk pelan. "Siap. Sayang. Aku akan menuruti semua mau mu."


"Benar?" tanya Viona.


"Benar sayang. Masa aku bohong, emangnya kenapa?" Fatir menatap heran.


"Kalau begitu antar aku ke toilet dong." Pinta Viona sambil menegakkan tubuhnya.


Dengan sigap, Fatir menggendong Viona ke kamar mandi. Tubuh Viona melayang dan tangan Viona dengan refleks memeluk leher Fatir, lalu sesampainya di dalam, Viona diturunkan di atas toilet dan dengan setia Fatir menungguinya. walau Viona memintanya keluar namun dengan kekeh Fatir berdiri bersandar ke dinding. Melihat aktifitas Viona ....


****

__ADS_1


Maaf🙏 sekali aku baru bisa up nih. Sebab aku sibuk revisi. Jangan lupa dukungannya.


__ADS_2