
"Vi, pinjemin uang dong 10 juta. Ada yang harus aku bayar." Suara Rumi yang rupanya tetap tak punya malu terus merongrong Viona.
Viona menatap tajam sang kakak yang kalau ada maunya tak pernah mengenal tempat, situasi dan kondisi. "Maaf Kak, aku bukan BANK yang berjalan. Setiap butuh harus ada." Tegas Viona.
"Vi, uang kamu banyak gak akan berkurang kalau cuman segitu." lanjut Rumi dengan nada yang agak tinggi.
"Tapi kali ini gak ada Kak, maaf." Viona menatap tidak suka.
Rumi balik menatap benci ke arah adik tirinya itu.
"Rumi. Buat apa sih? lagian kamu itu gak lihat sikon ya," suara Hendra dari arah belakang.
Semua menoleh ke arah Hendra. Dan Alisa dan Darma juga yang lainnya pulang meninggalkan tempat tersebut.
"Vi, kita pulang ya?" ucap mereka semua.
"Ya hati-hati, makasih ya sudah menyempatkan datang." Viona melambaikan tangan.
Dengan wajah yang di tekuk. Rumi melengos berlalu pergi meninggalkan Viona dan Hendra juga Fatir.
Viona duduk di atas sofa yang berada di ruang tengah bersama keluarga lainnya. Di susul oleh Fatir dan Hendra, Fatir duduk tidak jauh dari Viona sementara Hendra duduk di hadapan Viona membuat leluasa tuk terus memandanginya.
"Oh, di sini ... rupanya reunian nya? ketemuan sama mantan! hebat." Suara seorang wanita yang baru datang.
Hendra terkejut dengan kedatangan nya. "Novi?"
Keluarga Viona yang sedang berkumpul saling bertukar pandangan satu sama lain. Wanita yang tak diundang ini itu tiba-tiba datang di tempat tersebut.
"Kamu menikah. Tapi undang suami orang, gak punya malu banget. Nyadar dong nih laki orang bukan bujangan lagi, punya istri dan anak," rentetan Novi, istrinya Hendra.
Viona terdiam dengan hati hancur. Di sini ia bak ibarat perebut suami orang dan di labrak oleh istri tua.
Hendra berdiri dan menarik tangan Novi menjauh dari sana. "Apa-apaan sih kamu ini? jangan bikin malu di sini."
"Kamu yang apaan? pulang kerja, bukannya pulang malah nemplok di sini. Lupa sudah punya anak dan istri ha?" sergah Novi.
__ADS_1
"Pelan kan suara mu! jangan bikin keributan. Malu!" sambung Hendra. matanya mendelik dan rahangnya mengeras yang terlihat jelas. Kemudian keduanya bertengkar hebat.
Semua terdiam, bingung harus berbuat apa? karena ini ranah rumah tangga, masalah pribadi.
Sita menghampiri dan mencoba melerai. "Maaf Mbak, di sini Mas Hendra itu termasuk keluarga saya adiknya. Dan Ini rumah papah saya, jadi apa salahnya kami berkumpul di sini? toh kami masih keluarga."
"Elahh ... alasan." Hardik Novi sambil melengos pergi.
"Susul Mas, istri mu." Suruh Sita.
Tanpa basa-basi, Hendra menyusul istrinya.
Viona menghela napas panjang. Kemudian menoleh ke arah Fatir yang tampak kebingungan. "Naik yu, Mas." Mah. Oma. Vi capek mau istirahat dulu ya?" mengalihkan pandangan kepada keluarganya.
"Iya sayang, istirahat sana." Sahut bu Asri dan Oma Yani yang mengangguk.
Keduanya menaiki anak tangga. Menuju kamar Viona, Fatir yang berjalan di belakang Viona. Merasa bingung dengan pemandangan kondisi di rumah ini.
Viona duduk di tepi tempat tidur. Sementara Fatir masuk ke kamar mandi tuk membuka pakaian pengantinnya. Tidak lama kemudian Fatir keluar dengan kaos putih dan celana pendek. Membawa gantungan baju bekas barusan.
Viona cuma melirik punggung Fatir yang entah mau salat di mana. Setelah beberapa menit tertegun, ia mau ke depan cermin untuk membersihkan bekas riasannya. Namun ia urung ketika melihat Fatir kembali.
Fatir yang merasa lelah dan ingin segera istirahat. Ia mendekati tempat tidur dan mengambil sebuah bantal, dibawanya menuju sofa.
"Mau ke mana?" tanya Viona ketika melihat Fatir mengambil bantal dan menjauhi tempat tidur.
"Saya cukup tahu diri, kalau saya bukan suami harapan dan tidak layak tuk tidur satu tempat dengan mu," ucap Fatir membalikkan badan menatap Viona yang masih duduk di tepi tempat tidur dan masih menggunakan gaun pengantinnya.
Deg!
Viona kaget mendengar ucapan Fatir barusan. Dan terdengar cukup menyakitkan di tambah lagi hati Viona masih dalam keadaan sensitif seperti ini, padahal Viona hanya ingin menyuruhnya tidur di tempat tidur yang sama dengannya. Walaupun tak ada cinta ataupun rasa sayang di hatinya tapi bagaimanapun status Fatir adalah suami yang seharusnya ia hormati dan tidak mungkin Viona tega membiarkan Fatir tidur di sofa apalagi di lantai itu tidak mungkin banget bagi Viona.
"Apa maksud mu? iya kamu bukan suami harapanku dan mungkin lebih tepatnya suami bayaran! jadi kamu tidak bisa seenaknya melakukan sesuatu tanpa ijin ku bukan?" kelopak mata Viona yang tampak sembab menatap tajam ke arah Fatir dan berkaca-kaca kembali.
Akhirnya hik hik hik Viona menangis pilu lagi dan bahunya bergetar menahan tangis, kedua telapak tangan yang berhias dengan lukisan hena yang indah itu menutupi wajahnya yang basah dengan air mata.
__ADS_1
Fatir tidak menyangka dan menyesali kalau ucapannya akan membuat hati Viona terluka, ia duduk di belakang Viona ingin sekali menyentuh bahu Viona dan menawarkan pundak atau dadanya untuk membenamkan wajah dan menenangkannya. Namun Fatir begitu ragu dan tak berani melakukannya.
Fatir menggaruk pelipisnya yang tak gatal. "Kenapa harus bicara begitu sih, jadinya dia nangis lagi, bodoh sekali sih aku," batin Fatir merutuki dirinya sendiri.
Sungguh Fatir menyesali dengan yang telah ia ucapkan, baru saja dalam hitungan jam setelah akad dilangsungkan ia telah membuat hati Viona terluka. Fatir meraih tisu dan membarikan nya pada Viona untuk menyeka air mata yang tumpah ruah di wajahnya.
Viona sesaat menatap tisu di tangan Fatir, bukan pundak ataupun dada yang Viona dapatkan untuk membuatnya tenang ataupun berhenti menangis. Melainkan hanya beberapa helai tisu saja yang ia dapat dari seorang Fatir Irawan.
Pada akhirnya Viona mengambil dan menyapu seluruh wajahnya yang basah itu. "Dasar tak punya perasaan, istri nangis aja bukannya di bujuk ataupun apa malah di diemin." Gerutu Viona dalam hati dan kemudian berdiri.
"Tidurlah di tempat yang sama," jelas Viona dengan suara yang serak. Ia segera berlalu masuk wardrobe untuk berganti baju.
Fatir hanya menatap punggung Viona tanpa sepatah katapun untuk mengiyakan atau penolakan. Detik kemudian netra matanya bergerak mengarah ke tempat tidur yang bertabur bunga-bunga yang warna-warni. Coba kalau yang menempatinya sepasang pengantin yang saling mencintai pastinya akan terasa sangat romantis sekali, bibir Fatir sedikit menyungging jadi ingat pada sang kekasih.
Fatir merapikan bantal yang tadi ia ambil dan mencoba berbaring di tempat tidur yang empuk dan lumayan besar itu. Lantas menyentuhkan kepalanya di bantal yang juga sangat empuk jauh dari yang ada di rumahnya, segera ia pejamkan mata yang memang sudah terasa lelah.
Viona yang sudah lama di wardrobe sangat kesusahan untuk membuka gaun yang masih melekat di tubuhnya. Sleting di bagian punggung begitu sulit tuk di geser kan. Ia kebingungan harus gimana? minta tolong sama Fatir gengsi.
Namun lama-lama Viona menyerah juga, akhirnya dengan ragu-ragu menghampiri Fatir yang sudah tertidur miring. "Mas, tolong dong?" Mau minta tolong sama orang rumah lainnya gak enak, nanti di bilang buat ada orang di kamar kalau soal kecil aja minta tolong orang lain.
Suara itu terdengar ditelinga Fatir sehingga Fatir membuka kembali matanya. Langsung mendapati Viona berdiri di depannya.
"Hem, ada apa?" terbangun dan duduk.
"Eh, aku kesusahan membuka gaun ku. Tolong bukakan." Viona langsung memunggungi Fatir.
Sejenak Fatir bengong. Menatap punggung Viona. "Huh ..." Fatir membuang napasnya. Lalu turun maju beberapa langkah mendekati Viona yang menunggu.
"Cepetan dong Mas," pinta Viona seakan tak sabar.
Dengan ragu-ragu, tangan Fatir membuka sleting gaun Viona. Tampak punggung Viona yang kuning langsat, bersih mulus. Jelas di depan matanya. Berkali Fatir menelan Saliva nya menatap pemandangan yang ada di depan matanya itu.
Jiwa lelakinya meronta, jemarinya menari-nari di punggung sang istri yang halus dan mulus itu. Wajahnya mendekat menghirup wanginya yang menyegarkan. Perlahan bibirnya mengecup lembut di kulit bagian tubuh Viona itu, membuat Viona memejamkan mata merasakan getaran di tubuhnya. Tak ayal sengatan listrik pun berasa di tubuh keduanya ....
****
__ADS_1
Hi ... aku menyapa lagi nih, menemani waktu santai kalian dengan membaca kisah Viona dan Fatir ini.