Bukan Suami Harapan

Bukan Suami Harapan
Bangga dan kagum


__ADS_3

Namun tiba-tiba Viona menjauh dari tubuh Fatir dan menghentikan aksinya Fatir yang baru setengah jalan itu. Fatir bengong dan menatap kecewa.


Viona berdiri melangkah dan berdiri dibawah shower, bibir Fatir tersungging senyuman lalu segera menyusul, berdiri dan merangkul pinggang Viona mencumbu kembali di bawah kucuran air.


Viona keluar dari kucuran air shower, namun tangan Fatir tak mengijinkannya lalu ia tarik dan kembali mendekapnya.


Namun kini Viona mendorong dada Fatir hingga menjauh. ''Sayang, aku mau itu." Viona seraya mengambil kimono nya.


"Iya, ayo. Aku dah siap nih," ucap Fatir sambil mendekati tubuh sang istri.


"Iih ... aku mau sup buah buatan mu lagi. Berasa sudah ada di lidah nih," ungkap Viona sedikit memohon dan lalu membawa langkahnya ke kamar.


Fatir mematung seiring Viona yang berlalu di lubuk hatinya yang paling dalam ada rasa kecewa yang tak dapat diungkapkan dengan kata-kata.


Kemudian ia menyambar handuknya dan mengayunkan langkah menyusul sang istri. Yang tiba-tiba minta sup buah buatannya sendiri.


Pakaian Fatir sudah disiapkan di atas tempat tidur dan Viona sudah rapi mengenakan piyama motif bunga-bunga. Sudah wangi dan segar.


Setelah berpakaian Fatir menoleh pada Viona yang berdiri di dekat cermin. "Sayang. Besok aja ya bikinnya sekalian ke pasar."


"Ah ... ndak mau, pengen sekarang. Berasa sudah di bibir nih, cuaca panas banget ih ..." keluh Viona.


Fatir menghela napas. "Tapi, kan ndak ada bahannya Vi ...."


"Tapi pengen sekarang, panas banget nih. Kayanya enak banget deh makan itu." Viona berdiri dihadapan Fatir serta mengalungkan tangan ke lehernya. Menatap lekat seakan penuh permohonan.


Fatir gundah. Pergi malas, gak pergi kasihan. "Aku malas buat keluar beli bahannya sayang ...."


Viona memajukan bibirnya ke depan. "Aku pengen sekarang." Mengusap rahangnya lembut.


"Baiklah. Aku mau cari bahannya sebentar." Cuph! mendaratkan kecupan di kedua pipi dan berakhir di bibir sang istri. Sesaat ia menikmati manisnya, benda yang selalu tampak ranum itu.


Kemudian penyatuan itu memudar seiring dengan napas yang memburu. Fatir berusaha meredam hasratnya yang sedari tadi bergejolak demi tak memaksakan kehendak atau napsu semata.


"Tunggu ya? aku keluar sebentar." Fatir berlalu meninggalkan Viona yang berdiri menatap langkahnya.


Viona yang memandangi langkah Fatir menghela napas panjang. Ada sekelumit rasa kasihan, sebab ia tahu keinginan Fatir saat ini yang mendambakan dirinya.


Fatir melarikan mobil Viona tuk mencari buah-buahan. Tidak sulit mencari semuanya itu, dalam sekejap Fatir sudah mendapatkan semuanya dari sebuah swalayan, Fatir menjinjing kantong belanjaannya memasuki mobil. Ketika mau masuk matanya menangkap bayangan bapak mertua yang berada dalam mobil bersama seorang wanita muda.


Beberapa kali Fatir menggosok matanya kali saja penglihatan netra matanya salah. Namun tetap saja yang ia lihat itu adalah pak Rusadi sedang mencumbu wanitanya.

__ADS_1


"Astagfirullah ... papa sama siapa? beneran kok itu papa mertua." Bermonolog sendiri. Namun sebagai pria, Fatir tak mau menanggapi itu sehingga ia melanjutkan niatnya tuk pulang.


Setibanya di unit apartemen. Ia langsung eksekusi belanjaannya dari mulai mengupas sampai menjadi semangkuk sup buah yang segar dan menggugah selera.


"Akhirnya siap juga nih. Semoga istri ku suka." Kemudian Fatir membawa langkahnya ke kamar dimana sang istri ada di sana.


Fatir mendekati Viona yang ketiduran. "Vi, sayang? kok tidur sih? katanya mau makan sup buah. Sudah siap tuh!" mengusap kepalanya lembut.


"Hem, ngantuk ah." Gumam Viona merekatkan pelukannya pada guling.


"Lho, tadi pengen cepat-cepat tapi setelah siap malah bobo!" Fatir sedikit kecewa melihat Viona gak mau bangun.


"Maunya tadi, sekarang dah ndak pengen lagi!" ucap Viona dengan suara parau nya.


"Tapi sayang?" lirih Fatir sambil menggeleng dan turun kembali menyimpan sup buatannya ke dalam lemari pendingin.


Setelah itu, Fatir membaringkan dirinya di sisi sang istri dan memeluknya. Memejamkan mata dengan perasaan yang sedikit dongkol tidak mendapatkan apa yang dia mau.


Pagi-pagi matahari sudah bersinar terang, menghangatkan tubuh dan Viona sudah beres-beres di kamar juga ruang tengah. Fatir sudah pergi dari sebelum subuh juga untuk berjualan dan mengecek yang sudah beberapa hari ini ia tinggalkan.


Hari ini Viona sengaja gak masuk kerja dan kebetulan hari Sabtu. Ia ingin berleha-leha dan menghabiskan waktu di apartemen atau jalan ke rumah bertemu Omanya dan kalau mau, nyusul Fatir.


Selesai sarapan. Perut Viona mendadak mual kemudian ia berlari ke toilet dan membuang semua isi perutnya sampai habis. Oek oek oek pun terasa pahit di lidah, setelah berasa kosong isi perutnya Viona membasuh. Mengelap mulut dan menatap wajahnya yang mendadak pucat dari cermin.


"Kenapa ya? kok aku sering merasa mual dan pusing, kepala terasa berat." Viona bicara sendiri sambil tetap memandangi wajahnya.


Sesaat kemudian membawa langkahnya kembali ke dapur mencari sup buah yang Fatir buatkan semalam. Kemudian memakannya mengganti isi perut yang sudah ia buang barusan.


Tiba-tiba ponsel Viona berbunyi. Viona langsung melihat siapa yang telepon. Ternyata Omanya dan dengan cepat Viona angkat.


^^^Viona: "Halo Oma ... apa kabar? aku kangen deh."^^^


^^^Oma Yani: "Kamu sudah pulang, kan? kesini lah Nduk ... Oma kangen sama kamu. Sama Fatir juga."^^^


^^^Viona: "Iya, Oma. Vi sudah di apartemen, bentar lagi Vi ke sana. Fatir ... dia jualan Oma."^^^


^^^Oma Yani: "Vi, ndak disuruh istirahat dulu suami mu. Kasihan di luar kota sibuk juga di resto pulang langsung turun juga jualan. Lah, orang ada anak buah dan adiknya yang pegang selama ia tak ada atau istirahat toh."^^^


^^^Viona: "Entahlah Oma, maunya kok. Kemarin selama di luar kota pun ada imbalannya kok Oma. ndak cuma-cuma dan langsung ia kasihkan lagi sama Vi. Buat uang belanja."^^^


^^^Oma Yani: "Bertanggung jawabnya suami kamu Nduk, bantu lah dia agar lebih berkembang usahanya, Vi ...."^^^

__ADS_1


^^^Viona: "Ndak mau, Oma ... dia ingin usahanya berkembang itu murni dengan hasil keringatnya sendiri, ndak mau dibantu sama Vi dan menurut aku sih biar aja selama dia mampu. Kecuali dia benar-benar terpuruk baru Vi turun tangan. Kalau dia masih mampu, tak biarkan saja. Cukup ngasih dukungan saja."^^^


Oma Yani: "Hebat suami mu itu, Vi. Oma bangga dan kagum."


^^^Viona: "Sekarang dia sudah tambah roda lho Oma, tambah jualan sup buah dan katanya berencana membuka tempat tuk usahanya itu."^^^


^^^Oma Yani: "Oo ... jadi sekarang tiga roda dan tiga macam jualannya?"^^^


^^^Viona: "Iya Oma, kemarin juga pas di luar kota dia merekomendasikan semua usahanya dan Alhamdulillah di sana semua orang suka sehingga resto tiap hari ludes ndak kebagian semua."^^^


Viona merasa bangga dengan suaminya itu. Yang gigih dan tak mau tergantung sama orang lain. Lebih suka merangkak dari nol ketimbang di bantu oleh sang istri khususnya.


^^^Oma Yani: "Oma bangga sama suami kamu, Vi. Sudah, kamu cepat main ke sini! Oma kangen, dan bawa Oma ke tempat nya Fatir ya?"^^^


^^^Viona: "Iya Oma, nanti Vi ke sana!"^^^


Tutt ....


Tutt ....


Tutt ....


Telepon terputus. Viona segera beberes meja dan membersihkannya, kemudian melangkahkan kakinya ke kamar mau pergi tapi mager, malas nyetir sehingga meminta supir tuk menjemputnya. Lalu ia memilih baringan di atas tempat tidur yang sudah rapi sambil mengecek laporan dari bodyguard nya yang ia suruh mencari tahu kebenaran tentang sang ayah.


"Ya Tuhan ... papa," matanya melotot melihat foto-foto dengan seorang wanita sedang bercumbu dan bahkan lebih dari itu, di sebuah kamar hotel dan di sebuah rumah yang menurut informasi rumah tersebut belum lama ini papanya beli atas nama wanitanya tersebut dan wanita itu statusnya bukan istri melainkan cuma selingkuhan saja.


Viona menutup mulutnya yang menganga dengan kedua tangan, tak percaya dengan yang ia lihat dan informasi yang ia dapat kali ini.


Air matanya meleleh merasakan sakit, terbayang gimana hancurnya hati sang bunda kalau tahu tentang ini. Dia pun sebagai anak merasakan sakit yang tak terhingga seorang ayah yang seharusnya menjadi panutan malah memberi contoh yang buruk pada anak-anak nya, malah di usia yang tak muda lagi.


Akhirnya Viona menangis tersedu dan terdengar sangat pilu hingga terisak-isak sendiri meratapi nasib sang bunda yang dikhianati sang suami. Hatinya hancur dan terluka, dadanya mendadak sesak dan kepalanya juga terasa berat.


Sebagai anak, jelas Viona kecewa dengan kelakuan sang ayah yang menurutnya sungguh keterlaluan. Viona merasa mual melihat sekilas saja yang dilakukan dengan wanitanya yang tak punya malu itu.


"Papa tega sama kami, terutama mama! bagaimana kalau mama tahu?" Viona bergumam di sela tangisnya sambil memeluk guling. "Aku harus menemu papa sekarang juga." Viona bangkit mengusap pipinya yang basah dan merapikan diri.


"Oke, sebelum ke rumah. Aku harus ketemu papa, dia pasti ada di kantor sekarang ini." Viona meraih tas dan ponselnya bergegas meninggalkan unit apartemennya ....


****


Reader ku yang baik hati, jangan lupa like beserta komennya. Juga vote dan hadiahnya agar aku tambah semangat ya! makasih🙏

__ADS_1


__ADS_2