
Pria paru baya tersebut hanya terdiam dengan tatapan tajam seakan ingin menghunus jantungnya Viona. Kemudian pria paru baya itu pergi begitu saja tanpa pamit atau apa.
Viona menghela napas panjang. Dibarengi senyuman sinis dan kemudian menoleh pada manajer hotel. "Saya pergi dulu."
"Baik, Nona. Silakan!" tuan Li mengangguk memandangi punggung Viona.
Fatir yang sedang sibuk dengan tugasnya. Dan menu hari ini masih sama namun membuat cuci mulutnya pisang keju.
Fatir ditemani oleh Wulan sebagai asisten pribadinya. Membuat Wulan merasa diperhatikan oleh Fatir karena kedekatannya.
"Saya pesan Mie ayam satu porsi. Bilang saja pada pembuatnya. Buat saya agar tau ukuran saya." Pinta Viona setelah duduk di kursi.
"Pedas atau sedang?"
''Bilang saja sama Fatir. Dia tau kok selera saya," sambung Viona.
"Baik, Nona." Pelayan mengangguk dan memutar tubuhnya mengambil pesanan Viona.
Viona melamun memandang kosong sesekali memijat pelipisnya. Kepala terasa berat.
Tidak lama menunggu pesanan mie ayam Viona sudah datang dengan jus buah. Dihidangkan di meja tepat depan Viona.
"Makasih," gumam Viona tanpa melihat siapa yang menyuguhkan.
"Selamat menikmati sayang!"
Viona sontak mendongak. "Kamu, Mas." Dibalas dengan anggukan oleh Fatir. "Kamu itu tugasnya di dapur, bukan ke lapangan."
"Emangnya kenapa hem?" Fatur duduk di depan Viona sambil memperlihatkan senyumnya.
"Ndak sih, emang Sasak selesai masaknya?" Viona menatap ke arah Fatir sambil meniup asap dari mie yang masih mengepul.
"Sudah. Kenapa? tampak capek sekali, apa ada masalah?" tanya Fatir yang melihat wajah sang istri tampak lelah.
"Kamu, peka juga ya?" Viona mesem memasukan sendok mie ke mulutnya. Kemudian mengambil tisu untuk mengusap bibirnya. "Tadi ada ayah pemuda yang semalam, meminta ku mencabut laporan di pihak yang berwajib."
"Kamu, cabut?" selidik Fatir.
"Ndak, tapi dia pasti membebaskan putranya dengan uang. Toh dia orang ternama di daerah ini dan dia saingan bisnis Oma waktu silam." Balas Viona sambil menikmati makannya.
"Terus, gimana?" Fatir penasaran.
"Informasi yang aku dapat. Mereka sudah dibebaskan dengan entah dengan jaminan apa?" jawab Viona sembari meneguk minumnya.
"Apa kira-kira mereka akan membahayakan mu?" tanya Fatir semakin gundah. Khawatir kalau mereka akan mengganggu khususnya pada Viona.
"Tenang saja. Nggak bakalan kayanya sih." Viona menyesap juse nya.
"Syukurlah." Kemudian Fatir beranjak dari tempat duduknya. Untuk kembali bekerja.
Viona menatap kepergian Fatir yang berlalu meninggalkan nya. "Aduh, kenapa kepala ku berat sekali sih?" lalu menyeret langkahnya ke kantor.
Kini Fatir tengah berada di kamar hotel. Bersama sang istri yang sedang membersihkan sisa make up nya.
Viona menatap dirinya dari pantulan cermin. Dan juga pantulan gambar sang suami yang tengah asik dengan tontonan televisi, sekilas bibirnya mengulas senyum. Lalu beranjak membawa langkahnya ke dekat Fatir.
"Sayang." Mengalungkan tangan di leher Fatir.
__ADS_1
''Kenapa?" sahut Fatir seraya mengalihkan pandangannya pada sang istri.
"Pengen makan sup buah buatan kamu," ucap Viona sambil mengusap rahang Fatir penuh kasih sayang.
"Emang di sini ada bahannya?" tanya Fatir mengernyitkan keningnya.
"Entah, aku ndak tahu bahannya apa aja!" Viona menggeleng.
"Ya ... buah-buahan." Tangan Fatir merengkuh pinggang Viona yang ramping itu.
"Entah, yang aku tahu makan saja." Viona menatap manja suaminya yang makin lama ia merasa makin sayang aja. Gak rela kalau Fatir dekat wanita lain.
"Tumben. Kenakan piyama. ndak baju kurang bahan lagi?" ucap Fatir heran dan mengalihkan pembicaraan.
"Baju, kurang bahan? tapi suka, kan? suka lihat aku kenakan yang seperti itu! Viona menjepit pipi Fatir gemas.
Suka, kalau di kamar. Tapi kalau di luar gak suka, Nanti dilihat orang. Rugilah aku." Timpal Fatir kembali.
"Kenapa merasa rugi? aku ndak ngerti!" Viona penasaran.
"Rugilah. Tubuh istri cuma hak suami nya saja yang melihat **********, tidak boleh orang lain," sambung Fatir sambil mengelus punggung Viona.
"Em, di kampung. Jualan ndak?" tanya Viona menatap wajah sang suami.
"Jualan, Adam Mie ayam. Deni Pisang+singkong krispi, Sidar sop buah."
"Kenapa ndak buka outlet saja yang luas, terus semua di gabungkan menjadi satu. Atau di pisah gitu?" ungkap Viona dengan masih di posisi yang sama duduk di pangkuan Fatir.
"Maunya sih, seperti itu. Tapi aku butuh waktu dan biar usaha ku merangkak dari awal. Sampai menemukan puncaknya."
"Aku bantu ya? mencari tempat yang strategis, luas dan tentunya tempatnya nyaman buat sekalian nongkrong--"
"Sayang ... ijinkan aku membantu mu ya? lagian aku tinggal nyuruh orang saja kok, bukan aku yang repot." Viona kekeh.
"Ndak usah, aku udah ada gambaran lokasinya. Tinggal tunggu waktu dan rejeki nya saja, lagian aku perlu pikiran yang matang juga. Jangan sampai setelah pindah malah sepi, kan ndak lucu," ujar Fatir kembali sesekali matanya menonton acara televisi.
"Hem ..." dengus Viona lalu mengecup pipi Fatir kanan dan kiri.
"Lagian. Bekas merombak rodanya saja belum bisa aku kembalikan sama kamu. Sebab kemarin uangnya aku pakai beli roda buat sop buah. Mudah-mudahan secepatnya bisa aku kembalikan."
Spontan kepala Viona menggeleng. "Jangan, ndak usah dikembalikan aku ikhlas kok."
"Tapi itu pinjaman yang harus di bayar." Fatir menatap lekat.
"Ndak, udah. Aku ngasih kok. Oya orang yang sudah merusak itu semua, orang yang iri sama kamu. Mungkin mereka merasa tersaingi apa kamu mau tahu? siapa orangnya."
"Ndak, aku ndak mau tahu, nanti aku dendam sama dia dan aku ndak boleh punya hati jelek seperti itu biarlah. Aku ndak tahu apa-apa," ujar Fatir lalu mendekatkan wajahnya ke wajah sang istri yang tampak menggemaskan.
Viona tak menyangka kalau suami ini tak perduli dan tidak mau tahu siapa yang sudah merusak rodanya saat itu untuk menghindari rasa dendam di hatinya.
Bibir Fatir akhirnya mendarat di landasan yang kenyal dan merona. Iya me***** dan m******* lembut. Mereguk manisnya yang tiada tara. Tangan Fatir menyentuh tengkuknya mengunci kepala Viona agar tak bergerak.
Viona memejamkan matanya ketika mendapat yang Fatir berikan saat ini. Rasa merinding menjalar ke sekujur tubuhnya, bergetar memanaskan aliran darah yang lebih deras dari ujung kaki sampai ke ujung kepala.
Fatir semakin melanjutkan aksinya dengan leluasa. Berada di luar kota ini semakin dijadikan sebagai acara bulan madu yang tertunda. Selama ini Viona memang sibuk dengan perusahaan Omanya dengan julukannya CEO muda yang secara mendadak harus memegang semua sendiri.
Viona memang ada rencana bulan madu ke luar Negeri. Namun karena kesibukannya menjadikan mengundur waktu, perusahaan dan cabang-cabang nya membutuhkan tangan dari seorang Viona sebagai ganti omanya. Sang bunda hanya mampu mengelola dalam hal biasa aja, sang ayah tak diberi kepercayaan sama sekali oleh sang Oma selain dirinya
__ADS_1
Napas keduanya memburu. Dan Fatir sama sekali tak melepaskan penyatuan bibirnya. Sehingga Viona susah payah untuk bernapas.
Viona memukul-mukul kan tangannya ke dada Fatir saking pengap nya dan sulit bernapas. Pada akhirnya Fatir melepaskan Viona. Membiarkan dia menghirup oksigen sebanyak-banyaknya.
Lalu kemudian Fatir kembali menyerang tanpa jeda dan semakin mengepakkan sayapnya. Terbang ke mana-mana menikmati alam yang nan indah, perbukitan yang menjulang tinggi. Hutan rimbun yang selalu terawat membuat betah pendaki. Selalu lagi dan lagi ingin kembali menikmati indahnya.
****
Di rumah mewah milik Viona yang dihuni oleh keluarga Viona. Oma Yani tengah duduk santai dan membaca majalah, matanya mengalihkan pandangan akan kedatangan Rusadi.
"Kau dari mana? perasaan semakin ke sini kamu semakin jarang di rumah." Selidik Oma Yani.
"Ada urusan di luar, Bu." jawabnya sambil berlalu begitu saja.
Membuat Oma Yani bermonolog sendiri. "Urusan apa? kerjaan! ndak mungkin."
Asri yang berada di kamarnya segera menoleh ke arah pintu ketika mendengar suara langkah kaki yang mendekati pintu tersebut. Muncullah sang suami yang penampilannya tampak kusut dan berantakan.
"Dari mana kamu? kok pulang kerja jam segini, bukannya pulang dari sore." Sapa sang istri.
"Lembur," sahutnya sambil menghempaskan bokongnya ke sofa.
"Lembur? apa iya? perasaan gak ada lembur hari ini!" menatap heran.
Ndak usah banyak tanya. Siapkan saja air hangat karena saya mau mandi." Tangannya membuka jas dan kemeja.
Asri segera pergi ke kamar mandi. Untuk menyiapkan yang suaminya pinta, dalam hati bertanya-tanya dan mulai curiga dengan suaminya itu. Namun kecurigaannya ia simpan dalam hati dulu.
Beberapa waktu kemudian. Asri muncul kembali dengan handuk di tangan. "Ini handuknya!" lalu mengambil kemeja Rusadi yang bau minyak wangi perempuan.
"Bau apa ini? wangi parfum wanita, kok baunya nempel banget?" Menatap tajam sang suami.
"Ah, Jadi istri jangan bawel." Timpal Rusadi sambil mengayunkan langkahnya ke kamar mandi.
Deg!
"Aku ini istri mu, wajar dong kalau aku bertanya! jangan-jangan kamu bukan habis lembur! Sebab memang tak ada jadwal lembur," ungkapan kecurigaannya.
Rusadi membalikan tubuhnya mendekati sang istri. "Jadi kau mencurigai saya ha?" hardik Rusadi sang istri.
"Heh! kamu pikir saya tidak tahu kelakuan mu di luar sana ha? bilangnya lembur. Padahal ...."
"Padahal apa? apa? sembarangan ngomong. Mau ku sobek tuh mulut?" bentak Rusadi. Membuat Bu Asri menciut ketakutan.
Namun bu Asri diam bukan berarti benar-benar takut. Tapi ia tak ingin kegaduhan ini terdengar oleh sang bunda. Tanpa sadar lelehan air bening mengalir di pipinya.
"Sekali lagi ngomong, saya cerai kamu!" sambil melanjutkan niatnya tuk mandi. Bu Asri makin shock.
Tok ....
Tok ....
Tok ....
Daun pintu di ketuk dari luar. Namun tak sertamerta Bu Asri membukanya ....
****
__ADS_1
Apa kabar reader ku yang baik hati. Terima kasih masih mengikuti! jangan lupa tinggalkan jejaknya.