
Keduanya melonjak terutama Wulan. Ia langsung undur diri setelah melihat kedatangan Viona, wanita itu tampak serius dan berwibawa di mata para pekerjanya.
Manik mata Viona melihat punggung Wulan yang berlalu pergi dan terlihat sungkan, kemudian mengalihkan pandangannya pada Fatir yang kini tampak santai. Memandang ke arah dirinya.
"Kenapa?" tanya Fatir sambil menaikan alisnya. Dibalas dengan gelengan oleh Viona lalu duduk di sofa tidak jauh dari duduknya Fatir.
Fatir yang duduk bersandar ke belakang dengan tatapan mata mengarah pada Viona.
"Akrab banget ya?" perkataan yang lolos dari bibir Viona.
"Hem, biasa aja. Baik deh dan orang nya rajin." Puji Fatir tentang Wulan.
"Benar, cantik pula." Viona mengangguk dengan ekspresi datar.
"Hem, cemburu ya?" Fatir mengulum senyumnya dan menegakkan duduknya.
"Cemburu? ndak! ngapain cemburu sama saudara sendiri," sahut Viona sambil beranjak keluar dari ruangan tersebut. Fatir mengikuti dari belakang, keduanya berjalan menuju hotel tempatnya menginap.
Semua pekerja di resto mengangguk hormat pada ketika Viona melewati mereka.
Fatir sebentar berbincang dengan kepala dapur dan di sana juga ada Wulan yang mengulas senyuman. Dan itu tertangkap manik mata Viona yang langsung melanjutkan langkahnya dengan perasaan yang agak aneh.
"Vi, tunggu? kok cepat-cepat sih jalannya." Dengan langkah yang panjang, Fatir bisa mengsejajar kan langkah mereka berdua.
"Kalau masih betah, ndak pa-pa di sana aja dulu. Meeting dulu butuh perencanaan kan ... buat besok." Gumamnya Viona dingin.
"Gak usah uring-uringan gitu sayang ... nanti di kamar aku cuma milik mu kok!" ucap Fatir sambil menunjukan senyum bahagianya. Bahagia sebab Viona tampak cemburu.
"Ih ... gak lucu!" langkahnya memasuki pintu lift. Fatir berdiri di dekat Viona namun tak ada kata yang terucap di sana sebab ada orang lain yang satu lift dengan mereka berdua.
Setibanya di kamar, Viona melempar tas nya ke sofa dan ia sendiri duduk di depan kaca rias.
Fatir menuangkan air putih ke dalam gelas dan langsung meneguknya. Lek lek lek dalam hitungan detik air itu tandas berpindah ke dalam perut Fatir.
Langkah Fatir mendekati Viona membawa segelas air. "Ini minumnya. Agar wajahnya ndak di tekuk begitu! tau ndak? jadi tambah cantik dan bikin aku geregetan." Memandangi wajah sang istri dari pantulan cermin.
"Awas. Aku mau mandi!" Viona beranjak dari duduknya dan ngeloyor ke kamar mandi.
Bibir Fatir tersenyum sambil menggeleng. Matanya menatap kepergian sang istri.
Viona sudah siap untuk pertemuan dengan rekan bisnisnya di Lobby. Fatir menatap heran. Dengan penampilan Viona yang kembali rapi dan siap pergi.
"Mau ke mana?" tanya Fatir memandangi penampilan sang istri yang mengenakan setelan panjang dan formal.
"Pertemuan, di lobby. Kau harus ikut aku," ucap Viona sambil memasang antingnya.
__ADS_1
Kemudian membawa langkahnya ke dekat lemari mengambil sebuah jas untuk Fatir. "Pakai ini, Mas."
"Harus ya?" mengangkat alisnya.
"Pakai aja kenapa sih ..." sambil membantu memakaikannya.
"Tapi, aku ndak harus duduk bersama, kan? em ... maksud aku duduknya aku di meja yang terpisah--"
"Terserah. Gabung boleh terpisah juga boleh, asal jangan jauh aja buat apa aku bawa kamu ke sini kalau harus bodyguard juga yang menjaga ku?" sambung Viona seraya merapikan kerah kemejanya sang suami.
"Baiklah, ratu ku. Aku akan siap siaga untuk mu." Jarinya mencolek dagu Viona dengan penuh cinta.
Viona mengangguk dan mengambil tas dan ponselnya.
"Tapi ada Wulan gak? ijin ya kalau ada dia, aku mau ngobrol sama dia!" goda Fatir tangannya memasang sebuah jam tangan di tangan kanannya itu.
Viona berbalik manik matanya membulat sempurna pada Fatir. Hatinya memanas. "Ada-ada. Silakan." Ketuanya.
"Ha ha ha ... bercanda sayang ... jangan cemberut ah. Jelek." Menggandeng pinggang Viona.
"Jangan sentuh aku!" tangan Viona menepis tangan Fatir yang merangkul pinggangnya.
"Huuh ... jangan sampai nanti malam ndak dapat jatah." Gumamnya Fatir sambil mengalihkan pandangan ke lain tempat.
Viona tak menghiraukan gumaman Fatir, ia terus saja berjalan meninggalkan kamarnya dan menuju lift yang akan membawanya ke lantai dasar, yaitu lobby.
Mulanya meeting tampak serius, namun lama-lama dibarengi candaan dan sesekali mereka tertawa. Fatir yang duduk ditemani secangkir kopi matanya terus mengawasi ke arah sang istri.
"Kita bersenang-senang kawan. Jangan biarkan malam ini berlalu begitu saja," ucap pemuda yang sebaya dengan Fatir, menggandeng wanitanya. Dia tampak mabuk terlihat dari nada bicara cara berjalannya.
Di belakangnya ada 3 orang pria yang bersama pemuda itu. Dengan ekspresi yang sama.
Keamanan di sana dan juga bodyguard bersiap-siap takutnya para pemuda itu mengacaukan suasana meeting Viona. Pun Fatir ia ikut waspada akan sang istri.
Para pemuda itu di hadang keamanan dan bodyguard Viona, mereka yang terlanjur masuk supaya tak semakin memasuki ke area meeting.
Mereka membuat keributan sebagai rasa berontak yang tak diijinkan masuk. Mereka diijinkan masuk asal langsung ke tempat tujuannya saja tidak perlu belok mengganggu orang yang tengah rapat dan mereka tak menerima.
Karena mencium bau-bau keributan Viona mengakhiri meeting nya dan diakhiri dengan ucapan terima kasih banyak.
Lalu Viona menghampiri para pemuda tersebut yang sedang ngamuk dan berkata yang tidak-tidak. Serta memecahkan barang antik atau pajangan yang ada di lantai dasar hotel tersebut. "Ada apa ini? jangan bikin keributan di sini wo!"
Jeph!
Hening dan semua netra mata Para pemuda itu melihat ke sumber suara yang terdengar merdu dan tegas.
__ADS_1
"Kau, kau Viona yang angkuh dan sombong itu. Yang sesuka hati menolak cinta para pemuja nya dan sekarang tampak lebih cantik nan mempesona."
"Apa kabar sayang? kau masih ingat aku yang dulu memuja mu, namun kau campakkan begitu saja."
Ungkap kedua pemuda tersebut yang mengakui pernah memuja cinta dari Viona.
Sejenak Viona yg terdiam. Mengingat siapa mereka semua yang akhirnya Viona mengingat lagi memori ke masa lalu bahwa mereka itu pernah satu kampus dan mengejar cinta darinya.
"Kalian memang menginap di hotel ini, silakan masuk dan tidak perlu membuat onar atau keributan di lobby ini. Tapi jika kalian cuma mampir dan bikin keributan, silakan pergi!" Jari Viona menunjuk jalan keluar.
"Eh, Nona sombong! saya menginap di sini, dan kami sudah bayar full satu minggu. Jadi tidak ada hak untuk mengusir kami, lagian Nona cantik siapa kamu? mengusir kami dari sini. Manajer di sini sudah kenal kita," ucap pria yang tadi menggandeng wanitanya yang dilepaskan. begitu saja setelah melihat Viona.
Fatir berdiri tepat di samping Viona. Ia melihat sinyak yang kurang baik dari mereka yang kadang tangannya menjulur ingin menyentuh kulit Viona.
Viona menoleh ke arah Su. "Panggil manajer di sini!" pinta Viona.
"Kawan, yu kita masuk sudah gerah nih dan tak sabar ingin segera bersenang-senang. Sambungnya. "Oya, gimana kalau kamu ikut aku? kita bermain-main sampai kita puas hem!" Tangannya mengarah menyentuh pipi Viona.
Sebelum sampai ke tempat yang di tuju. Tangan Fatir dengan cepatnya menangkap tangan yang hendak kurang ajar tersebut. Ia terbawa emosi melihat pria lain bersikap tidak sopan sama sang istri. "Kau jangan kurang ajar ya sama perempuan!" peringatan Fatir, tatapannya begitu tajam lalu menghempaskan tangan tersebut.
Rahang pria tersebut mengeras, matanya melotot sempurna. Memerah penuh api kemarahan, dia mengulang-ulang kan tangan tuk memukul Pelipis Fatir namun lagi-lagi Fatir menangkap tangan itu dan melintir ke belakang membuat sang empu meringis.
Yang lain, melihat kawannya dalam tahanan Fatir, tak menerima dan segera mengeroyok Fatir dengan pukulan membabi buta Sehingga Fatir merasa kewalahan dan dibantu oleh bodyguard Viona tuk memisahkan nya.
Viona yang sedari tadi memekik dan memanggil nama Fatir. Sangat khawatir dan cemas, takut Viona ke napa-napa.
Su, datang bersama manajer ke tempat tersebut. Scurity juga datang menangkap kelima pria itu dan di seretnya keluar.
Viona memegang tangan Fatir yang sedikit meringis, pelipisnya kena pukulan akibat pengeroyokan barusan. Viona pastikan hukuman mereka berkali lipat. Bukan cuma membuat keributan, memecahkan barang antik di sana, tapi juga pengeroyokan.
"Kamu ndak ke napa-napa Mas?" tanya Viona terlihat cemas.
Fatir menggeleng seolah dia baik-baik saja, namun bibirnya meringis. Viona mengalihkan penglihatannya pada manajer di sana. "Tuan Alan. Apa benar mereka pelanggan hotel ini? dan sekarang sudah membayar full satu Minggu."
"Soal itu benar, Nona. Namun memang ulahnya sering meresahkan dengan cara mabuk dan membawa banyak wanita. Mereka baru daftar tadi siang setelah sekian lama mereka tidak datang kemari." Jawabnya.
"Oke, urus mereka!" yang dibalas dengan anggukan.
Kemudian Viona menoleh ke arah Fatir yang masih berdiri di tempat. Netra nya menangkap sudut bibir Fatir yang keluar tetesan darah. Bikin Viona panik dan segera mengajak Fatir ke kamarnya.
Kini Fatir berbaring di atas tempat tidur. Viona menyiapkan mangkuk berisi air dingin dan es batu buat kompres luka-luka Fatir. Pelipis, sudut bibir kiri. Dengan lembut Viona tempelkan es batu. Biar gak bengkak dan tidak mencegah membiru.
"Sakit, jangan kuat-kuat sayang," lirihnya Fatir memegang tangan Viona ....
****
__ADS_1
Salam hangat ku untuk reader semua. Terus dukung aku ya? jangan lupa like. Komen dan vote nya makasih🙏