Bukan Suami Harapan

Bukan Suami Harapan
Cari kesempatan.


__ADS_3

Fatir pulang tuk bikin makan siang. Ia berpapasan dengan Sidar adiknya.


"Mau ke mama?"


"Ini Mas, mau ngantar makan buat Mas Adam." Jawab Sidar sambil menunjuk yang ia bawa.


"Enak tuh kayanya. Oya nanti kalau sudah makan, tungguin dulu jualan Mas," pinta Fatir menatap sang adik.


"Siap Mas," sahut Sidar sambil berjalan menjauhi rumahnya.


Langkah Fatir terus berjalan sambil menggerakkan matanya mengitari isi rumahnya yang tampak berbeda. Terlihat Bu Roro sedang beberes pakaian ke lemari baru. Tempat tidur baru. seprai baru, kemudian meneruskan langkahnya ke arah dapur.


Tampak Viona begitu fokus beberes di dapur. Ia berdiri memperhatikan Wanita yang memakai setelan pendek. Celana selutut dan atasan tanpa lengan, rambut di ikat di atas memperlihatkan lehernya yang jenjang.


Suasana dapur jadi berubah drastis. Tidak lagi berantakan seperti semula dan semua tampak rapi juga rapi.


"Ehem," dehem Fatir mengagetkan Viona dan sontak menoleh.


"Kamu? sejak kapan di situ?" tanya Viona sambil membalikan badan berhadapan dengan Fatir.


"Em ... sekitar 10 menit yang lalu. Gak bilang-bilang mau ke sini?" selidik Fatir. Tangannya mengambil segelas air putih.


"Tadi pagi. Kamu dari mana tadi!" Viona balik bertanya mengingat tadi Fatir gak ada.


"Jualan. Oh tadi sebelum jualan. Ke ... ada urusan."


"Urusan, menemui kekasih ya?" celetuk Viona. Ia berdiri dekat meja.


"I-iya." Fatir jujur. Netra matanya melihat keringat yang bercucuran di kening Viona seolah bermandikan cahaya terkena sinar. Tangan Fatir mengambil tisu dan ia usapkan ke bagian tubuh Viona yang berhias keringat tersebut.


Viona tertegun menerima perlakuan Fatir yang manis. Ia merasa jadi kikuk dan malu, Fatir terus mengusap peluhnya dari pelipis sampai ke leher.


"Em, kamu pasti belum makan? makan dulu." Viona mencoba mengalihkan perhatian Fatir dan menunjuk paket makanan di meja.


"Non, Mbok sudah selesai. Mau permisi dulu." Bu Roro ngeloyor pergi membawa paketan makan.


"Makasih Mbok?" Viona melirik.


"Siap yang suruh Mbok Roro bantu-bantu di sini?" Selidik Fatir sampai duduk membuka paket makan.


"Eh, yang suruh itu Sidar. Dan aku yang nyuruh Sidar, untuk membereskan pakaian ke lemari. Aku dan Sidar sudah capek angkat tempat tidur dan lemari." Gumamnya Viona.


"Siapa suruh beres-beres? gak ada yang menyuruh mu kan!" Fatir menyuapkan makanan ke mulutnya.


"Emang gak ada yang menyuruh ku, tapi rasanya gak enak saja di pandang mata. Rumah mu berantakan, coba lihat sekarang termasuk kamar-kamarnya." Viona menunjuk semua isi rumah ini.


Mata Fatir pun mengikuti yang Viona tunjukkan, Memang semua sudah di sulap menjadi sebuah rumah yang asri. Dari luar memang biasa saja tapi di dalam. Terlihat sangat berubah.


"Apa tak ingin berterima kasih gitu sama saya?" tanya Viona menunjuk hidungnya dengan bangga.

__ADS_1


Kening Fatir mengerut. "Haruskah?"


"Harus lah. Kalau bukan karena aku gak mungkin seperti ini."


"Oh, makasih ya?" Fatir terus menyuap dengan nikmat. Terdengar suara perut yang kelaparan dari dalam perut Viona.


"Up, iya lupa. Saya belum makan." Viona langsung membuka dan lahap.


"Ini Aa ... buka mulutnya?" titah Fatir sambil menyuapi Viona yang langsung membuka mulutnya.


"Em ... enak." Lalu keduanya makan bareng. Sesekali Fatir menyuapi Viona.


Kini Fatir sudah mandi dan Salat dzuhur. Viona masuk dan duduk di tepi tempat tidur milik Fatir.


"Tempat tidur yang tadi sempit banget dan keras. Emang bisa tidur ya?" tanya Viona menatap ke arah Fatir yang melipat sarungnya.


"Bisa lah, tidur itu pake mata bukan tempat tidur. Buktinya biarpun tidur di lantai tetap saja bisa pejamkan mata, berarti tempat tidur yang luas dan empuk belum tentu menjamin bisa tidur nyenyak."


"Huuh ..." mata Viona di putarnya.


Fatir hendak kembali ke tempat jualannya. Menoleh ke arah Viona yang tampak lelah dan lusuh terduduk di sofa sambil bermain dengan ponselnya.


"Sebaiknya kau mandi dulu. Terus istirahat lah, saya mau berjualan lagi." Dengan tatapan datar.


"Ha? mandi. Nggak bawa ganti tapi mau pulang juga malas, di rumah ada kak Sita dan kak Rumi." Melirik sebentar lalu kembali mengarahkan matanya ke ponsel.


"Oh, kaos ku ada. Kemeja mungkin dari pada terlihat lusuh begitu, mentang-mentang suaminya orang miskin. Sehari aja penampilannya berubah drastis." Fatir mendudukkan tubuhnya tidak jauh dari tempat duduknya Viona.


Fatir bergegas mengambil handuk dari kamarnya.


"Ih, bau." Viona mengambil minyak wangi dan di semprotkan ke handuk Fatir. "Oya, jangan pergi dulu ya? aku takut ada orang lain masuk." Viona ngeloyor ke kamar mandi yang tidak seluas di kamarnya. Tak ada bathub di sana yang ada bak saja pakai gayung.


Ketika hendak membuka bajunya. Viona sontak menjerit dan membuat Fatir panik namun tak berani masuk.


"Ada apa?" pekik Fatir terheran-heran.


Viona segera keluar. Dan memeluk tubuh Fatir menyembunyikan wajahnya di dada Pria yang berdiri depan pintu itu. "Itu, aku takut!"


"Ada apa? yang jelas dong?" Ulang Fatir penuh penasaran.


"I-itu, di dalam. Ada ... ada kecoa. Iiyyy ..." bahu Viona bergidik dengan masih menyembunyikan wajahnya di dada Fatir.


Kaki Fatir menggeser ke dalam kamar mandi. Sementara tubuh Viona masih menempel ke tubuh Fatir.


"Mana? gak ada!" mata Fatir melihat mengitari dinding kamar mandi.


"Ada, tadi ada di situ." Telunjuk Viona menunjuk ke suatu tempat namun tanpa sedikitpun merubah posisinya.


"Nggak Ada Nona ..." salah lihat kali.

__ADS_1


"Ada, dua malah, ada di situ tadi," sambungnya Viona. Dengan tetap memeluk tubuh Fatir erat.


Fatir tersenyum mengembang. Dengan ide jahilnya. "Mungkin sudah terbang, atau juga masuk ke dalam baju mu--"


Viona sontak Viona melepas pelukannya. "Tidak, tidak mungkin. Ah ... gak mau pergi-pergi, pergi jauh. Nggak mau." Mengibas-ngibas bajunya.


Di balik senyuman jahilnya. Netra mata Fatir tertuju ke bagian dada Viona yang terbuka lebar. Sebab kancingnya sudah terbuka, mungkin sedari tadi dalam pelukannya. Ia menelan Saliva nya beberapa kali, bagaimanapun jiwa lelakinya yang normal. Matanya tak mau berkedip melihat keindahan tepat di depan mata.


Viona langsung menutup dadanya dengan baju yang masih menempel di tubuhnya ditambah lagi dengan tangan yang ia silangkan. "Kamu lihat apa?" segera membelakangi Fatir, malu.


Fatir menggercapkan matanya dan menghela napas panjang. "Ya sudah, mandi sana. Saya tunggu di depan pintu."


"Tapi, jangan ngintip," sahut Viona.


"Buat apa mengintip? tanpa ngintip pun sudah ku lihat kok." Dengan menyunggingkan senyumnya.


"Awas punya pikiran yang macam-macam," ancam Viona masih membelakangi. "Tapi ... apa benar kecoa nya sudah hilang dan tak akan kembali?" matanya menyapu dinding dan langit-langit.


"Sepertinya sudah tidak ada. Kalau saja kembali berarti mengintip yang sedang mandi."


"Ah ... gak mau, takut." Viona kembali menghambur memeluk punggung Fatir. Dengan mata intens mengitari tempat sekitaran.


Kini Fatir memejamkan matanya. Berasa banget kalau benda kenyal itu menempel di punggungnya, padahal tadi tidak terlalu berasa. "Kenapa sih seneng banget peluk saya?" dengan nada datar.


Sontak Viona menjauh dan mengusap tangan dan tubuh bagian depannya. "Enak saja. Kau yang cari kesempatan, kan? Mana ada mau peluk kamu ih ... GR. Saya takut, dasar jorok, kamar mandi banyak kecoa. Sudahlah pergi saja tapi depan pintu. Jangan jauh-jauh."


"Dasar penakut." Fatir melanjutkan langkahnya keluar dari kamar mandi.


"Bukan penakut, tapi jijik." Timpal Viona sembari memajukan bibir mungilnya.


Fatir menunggu di depan pintu. Sesekali menggelengkan kepalanya tuk membuang pikiran yang sudah mulai traveling jauh.


Sekitar 15 menit. Viona muncul dengan tergesa-gesa dengan hanya memakai handuk.


Melihat Viona cuma memakai handuk menutupi dada dan satu jengakal di atas lutut sehingga setengah dari paha mulusnya terekspos dengan sempurna. Fatir langsung menggiring Viona ke kamarnya. Takut ada Sidat atau siapa masuk.


Viona heran namun menuruti saja, masuk kamar Fatir yang luasnya hanya sebesar kamar mandi di rumahnya.


"Lama amat sih?" gumam Fatir setelah berada di dalam kamar dan menutup gordennya.


"Lama apanya? ini sudah termasuk kilat tahu!" elak Viona, lalu mendekati lemari mau mencari pakaian Fatir yang pas untuk dirinya.


Namun tiba-tiba dari atas lemari, ada yang terbang seperti kecoa dan singgah di bahu Viona. Seketika Viona menjerit dan loncat-loncat ketakutan Sementara kecoa dengan betahnya terdiam di bahu Viona.


Viona kembali memeluk Tubuh Fatir yang masih berdiri. Tak sadar handuk Viona pun merosot hampir tak lagi menutupi kedua bukit miliknya, Viona memeluk erat seperti tadi. Fatir segera melempar binatang kecil itu keluar.


Kali ini dada Fatir berdebar tak karuan. Jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya, bagaimana tidak? Kalau yang sedang memeluknya itu sebuah keindahan yang terlihat nyata, tak ada penghalang. Fatir mematung, mau membalas pelukan takut dianggap cari kesempatan. Tidak ngapa-ngapain juga sayang mubazir ....


****

__ADS_1


Yang sudah membaca. Dukung aku ya🙏 karena dengan dukungan mu! aku tambah semangat menulisnya.


__ADS_2