Bukan Suami Harapan

Bukan Suami Harapan
Lahiran


__ADS_3

Selamat membaca, jangan lupa like dan komen juga vote nya dong.


*


*


"Hem ... kamu juga kuat, kamu sabar dan bertanggung jawab. Apalagi?" Viona meletakkan dagunya di dada Fatir dan menatap wajah Fatir yang mulai memejamkan matanya.


"Ngantuk ah," tangan Fatir semakin mengeratkan pelukannya ke tubuh Viona.


"Sayang ... aku belum ngantuk." Jari Viona menjepit hidung mancung Fatir dan si pemiliknya cuma menjauhkan tangan sang istri dari wajahnya.


"Iih ... aku sendirian nih." Viona kesal dan berusaha memejamkan mata seperti Fatir.


Malam semakin larut dan akhirnya Viona tertidur lelap juga. Walau mulanya sangat sulit dan Viona terjaga sendirian merasakan kontraksi yang kadang-kadang menyapa.


Sampai sekitar pukul 03.00 seperti biasa, Fatir terbangun lantas menjauhkan tubuh sang istri yang masih dalam keadaan memeluk dirinya. Kemudian menapakkan kakinya di lantai mengenakan celana pendek dan langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Viona terbangun dan menggeliatkan tubuhnya yang masih polos cuma di tutupi selimut saja. Terdengar suara air keran dari kamar mandi pan Viona membuka matanya mengintip apa yang di kamar mandi adalah suaminya. Namun di sampingnya memang gak ada, berarti memang dia sedang bersih-bersih.


Tersemat senyuman puas di bibirnya Viona, mengingat kejadian yang semalam bikin ia senyum simpul dimana dia yang merengek-rengek memintanya dari Fatir. Kepala Viona menggeleng lalu bangun mengambil bajunya. Berjalan menuju pintu kamar mandi yang masih ada Fatir di sana.


Mendorong handle pintu yang kebetulan tidak terkunci tersebut.


Fatir yang baru selesai mandi menoleh. "Sayang sudah bangun?"


"Belum, Mas. Masih dalam mimpi, he he he ..." sahut Viona sambil melangkahkan kakinya melintasi pintu.


"Sini aku siapkan air hangat nya." Fatir menyiapkan air di bathub dengan aroma terapinya tak ketinggalan.


Viona duduk di tepinya sambil menunggu airnya penuh.


Fatir melihat ke arah Viona yang tampak melihat air yang berangsur penuh. "Mau aku mandikan sayang?" dengan seringai di bibirnya.


"Em ... ndak ah, nanti kamu tergoda! biar aku sendiri saja." Viona senyum menggoda.

__ADS_1


"Ndak ah, kasian." Fatir keluar dari kamar mandi dan tinggallah Viona sendiri yang mulai masuk ke bathub.


"Hem, berr ... dingin sekali." Gumamnya Viona sambil bermain air. Terus mengusap perutnya yang buncit itu.


"Sayang, kata dokter kamu masih lama keluarnya, yang Solehah ya semoga nanti lahirannya lancar dan selamat juga. Ibu sayang kamu Nak." Viona bicara sendiri.


Kemudian menggosok seluruh tubuhnya dengan body wos yang wanginya semerbak. Lanjut membersihkan nya dibawah air shower yang hangat, menyegarkan. Mengambil kimono handuk yang ada di sana lalu keluar dari kamar mandi.


Netra matanya Viona mendapatkan Fatir sedang membaca doa di atas sajadah, lanjut berzikir.


Viona mendadak merasakan kontraksi yang lumayan hebat. sehingga tubuhnya mematung di tempat merasakan ada yang keluar dari daerah intinya. Seperti air yang mengalir dan rasanya ingin mengeluarkan sesuatu dengan cepat.


"Sayang, Mas?" panggil Viona lirih dan nyaris tak terdengar oleh Fatir yang sedang khusu berzikir.


Tubuh Viona merosot ke lantai rasanya tidak kuat lagi. Dalam pikirannya terlintas, apa ini akibat hubungan semalam dan berisiko atau gimana?


"Mas, aku gak kuat ..." desis Viona.


Fatir menoleh dan alangkah terkesiap nya dia, melihat tubuh Viona sudah berada terduduk di lantai memegangi perutnya. Wajahnya penuh ekspresi kesakitan. "Kenapa sayang? jatuh bukan?" Fatir bergegas beranjak dan menghampiri Viona.


"Gimana dong sayang?" Fatir kelimpungan. Bingung harus bagaimana? sebab kata dokter juga masih lama lahirannya.


Kepala Viona mendongak. "Ndak kuat Mas ... aku pengen lahiran sekarang." Pekik Viona sambil mencengkram tangan Fatir.


"Ooh, ya sudah. Kita pergi sekarang!" Fatir membuka sarungnya lalu mengangkat tubuh Viona keluar dari kamar.


"Bibi. Mana Ibu? Viona mau saya bawa lagi ke rumah sakit," pekik Fatir pada bi Ijah yang sedang memasak.


"Sekarang Tuan?"


"Iya sekarang Bi. Bukakan pintunya?" pinta Fatir supaya pintu utama dibukakan.


"I-iya." bi Ijah setengah berlari untuk membuka pintu.


Bu Asri yang mendengar ribut-ribut segera keluar dari kamarnya. "Ada apa bi?"

__ADS_1


"Non, kontraksi lagi. Aden mau bawa ke Rumah sakit lagi." Jawab bi Ijah tampak cemas.


"Sudah bawa apa? Viona?" selidik Bu Asri malah kelihatan panik.


"Ndak bawa apa-apa Nyonya, Non aja Den Fatir yang gendong," sambung bi Ijah kembali.


"Yo wes. Bereskan semua keperluan untuk lahiran," perintah Bu Asri pada bi Ijah.


"Baik, Nyonya. Lagian semua sudah disiapkan tinggal bawa saja." Jawabnya sambil ngeloyor ke kamar Viona.


"Lihat, ada ponsel gak? kali aja ketinggalan dan bawa ke sini." Tambah Bu Asri.


"Ada apa ini Asri?" Oma Yani keluar dan masih mengenakan mukena.


"Vi, mau lahiran katanya, mereka sudah berangkat ke Rumah sakit," sahut bu Asri menoleh pada Oma Yani.


"Terus kenapa kau diam saja, ayo pergi?" Oma Yani segera membuka mukenanya.


"Kan nunggu Ibu dulu," ucap Bu Asri seraya melirik bi Inah yang bawa koper kecil beserta ponsel milik Viona dan Fatir.


...****...


"Sabar ya sayang. Sebentar lagi sampai di Rumah sakit." Suara lirih Fatir sambil mengusap pinggang Viona yang terasa panas.


"Huuh ... Huuh ...Huuh ... sakit." Viona terus mendesis sakit.


"Iya, sayang ... sabar ini dalam perjalanan." Timpal Fatir. "Hati-hati Pak!" menoleh ke arah supir.


Supir mengangguk, siap laksanakan perintah dari majikannya.


Setibanya di depan Rumah sakit. Suster menyiapkan brangkar pasien untuk membawa tubuh Viona. Ke ruang UGD kembali.


"Yang kuat sayang, yang kuat." Tangan Fatir dan Viona pegangan sangat erat.


Fatir mendampingi Viona di dalam ruangan. Dokter dan suster menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan, kata dokter ini sudah pembukaan terakhir. Dokter heran, padahal semalam serviks Viona masih tertutup dan diperkirakan akan lahiran masih lama hingga Minggu depan, Namun sungguh ini luar biasa ....

__ADS_1


__ADS_2