Bukan Suami Harapan

Bukan Suami Harapan
Pasrah


__ADS_3

Viona menghela napas panjang dan akhirnya mendekati pintu.


Blak!


Tidak ada siapa pun kecuali paket Maman dan sebuah paper bag tergeletak di depan pintu.


Viona kembali dengan membawa kantong makanan dan paper bag yang langsung di berikan pada Fatir. "Nih pakaian mu."


Fatir pun mengambil dan mengintip isinya. "Emang mau berapa hari di sini?"


"Tergantung mood ku saja."Jawab Viona sambil bersiap makan perutnya sudah lapar sekali.


Fatir mengenakan pakaiannya di sana, kebetulan semuanya pas dengan ukuran badan Fatir. Viona menunduk fokus melahap makannya, Fatir ikut makan setelah sebelumnya menyimpan handuk ke kamar mandi.


Sekitar pukul 22.30 Viona sudah terlelap tidur. Sementara Fatir masih terjaga duduk bersandar di bahu tempat tidur, setelah sebelumnya mengabiskan sebatang rokok di balkon sambil melihat pemandangan di malam hari dari gedung tinggi seperti ini.


Sekilas terbayang wajah Soraya yang sudah berapa Minggu tak ia temui. di hubungi lewat telepon juga tidak pernah, kontaknya pun ada di handphone yang lama yang sudah rusak. Kini Fatir memakai handphone baru yang dibelikan Viona, biasanya ia hapal betul no Soraya namun entah kenapa akhir-akhir ini bleng aja gak ingat.


Entah panas atau apa? Viona yang tertidur nyenyak menurunkan selimutnya ke bawah sehingga mengekspos kedua pahanya yang mulus. Fatir menelan saliva nya berkali-kali sambil menghela napas berat. Perlahan tangannya menaikan selimut tuk menutupi anggota tubuh Viona.


Hari ini benar-benar membuat jantungnya terus berpacu dengan cepat, pertemuan dengan Viona kali ini sungguh membuatnya runtuh pertahanan.


"Huuh ..." Helaan napas Fatir terdengar kasar. Matanya memandangi ke arah Viona yang tidur dengan posisi terlentang.


Wajah Fatir mendekat untuk mengecup kening Viona, cuph! bibir Fatir mendarat sempurna di kening yang bening wanita cantik itu. Namun ketika hendak menjauh, entah sadar atau tidak. Tangan Viona memeluk pundaknya erat membuat Fatir terkejut berarti dia tidak tidur.


Kepala Fatir tertahan di tempat dan menggercapkan matanya memandangi pergerakkan Viona selanjutnya tapi tiada pergerakan lagi. "Pasti bermimpi memeluk kekasihnya, eh Non. Aku suami mu. Bukan mantan mu." Dalam hati Fatir sambil menatap intens.


Detik kemudian pandangannya bergerak tertuju pada benda kenyal yang warnanya selalu merona. Seperti rokok bila sekali aja di isap pasti akan ketagihan lagi dan lagi menjadi candu seterusnya. Begitupun menyentuhnya, setelah satu kali melahapnya ingin terus menikmatinya.


Mata Fatir bergerak-gerak melihat kelopak mata yang terpejam dan bibir yang terus menggodanya seakan terus melambai menyuruh untuk menyentuhnya. "Akhh." menggelengkan kepala namun tak ia tetap tak sanggup tuk mengendalikan rasa kecanduan itu.


Sepersekian waktu Fatir menikmati benda ranum itu, dari mulai m****** nya dengan lembut sampai m******* nya. Membuat tubuhnya mendadak bergegas asli panas dingin.


Viona yang tadinya tidur nyenyak terbangun ketika menyadari benda lembab menerobos ke dalam mulutnya. Tanpa membuka mata Viona tak memberi penolakan, walau membayangkan itu Hendra. Tapi dalam hati yang paling dalam yakin kalau ini Fatir pria yang menjadi suaminya, mungkin sebab sudah ketagihan dengan sentuhan Fatir membuat kini ia pasrah dengan apa yang akan Fatir lakukan terhadapnya.


Fatir menjauhkan wajahnya dan memberi jeda. Napas kedua bersahutan dan Viona tak memberi penolakan sedikitpun meski tangan Fatir meraba paha mulus Viona dan bermain di sana.


Dada Viona semakin berdebar jantung pun seakan melompat-lompat dari tempatnya. Sebentar membuka matanya melihat ke arah Fatir yang agak menjauh, di bawah sinar lampu yang temaram membuat suasana semakin syahdu.


Kemudian Fatir mendekat kembali mereguk manisnya benda kenyal nan ranum Viona. Viona pun kembali mengalungkan tangan di leher Pemuda yang kini mengungkung tubuhnya itu. Keduanya merasakan panas yang luar biasa di tubuh, tangan Fatir terus menari-nari di atas lutut Viona yang halus dan lembut.


Perasaan Viona terhanyut dengan suasana, tanpa sadar merenggangkan kedua kakinya. Tubuhnya bergetar hebat, baru mendapat sentuhan di bibir saja Viona sudah tak berdaya. Sebagai wanita dewasa Viona merasakan sebuah dorongan untuk menuntut lebih.


Fatir melanjutkan mengecup kening dan kedua pipi Viona dengan sangat lembut. Berakhir di leher jenjang itu, kedua tangan Viona meremas rambut Fatir, Dia benar-benar terhanyut dan terbawa suasana.


Fatir menjauhkan dirinya dari Viona sungguh dia tak berani untuk melakukan yang lebih dari itu. Untuk mendaki gunung Himalaya saja ia tak berani walau saat ini jiwa lelaki nya meronta-ronta.

__ADS_1


Viona menatap sayu. Terbesit kecewa jelas di matanya, sungguh tak kuasa menahan hasratnya yang menuntut lebih dari Fatir. Dia bangun dan memeluk tubuh pria yang berada di hadapannya.


Fatir terkesiap mendapat pelukan dari Viona yang sangat kuat. Badannya menggigil, sampai Fatir bertanya dengan suara yang nyaris tak terdengar. "Vi kenapa?"


Kepala Viona menggeleng di pundak Fatir. Menggigit bibir bawahnya napas pun tidak teratur dada bergerak naik turun, dia tak kuasa untuk mengutarakan hasratnya.


Apa yang dirasakan Viona tak jauh beda dengan yang dirasakan oleh Viona bahkan lebih besar. Namun ia tak berani dan takut Viona menolak untuk itu. Pada akhirnya Fatir membalas pelukan Viona dan tangannya mengusap punggung Viona.


Viona kecewa. Sangat kecewa Fatir berhenti begitu saja di saat hasrat tengah memuncak.


Putaran jarum jam menunjukkan hampir pukul 02 dini hari. Tangan Fatir terus mengusap punggung Viona dan sesekali membelai rambutnya. Napas keduanya dah mulai normal kembali serta hasrat nya pun mereda. "Istirahatlah. Sudah dini hari nih. Nanti kesiangan." Bisik Fatir.


Namun Fiona enggan beranjak dari pelukan Fatir. Dia malah memposisikan nyamannya menempelkan kepala di bahu Fatir. Akhirnya Fatir yang membaringkan diri sementara Viona masih menempel di tubuh Fatir. Bibir Fatir tersenyum lucu dengan kelakuan Viona yang tidak mau merubah posisinya. lantas Fatir menarik selimut untuk menutupi tubuh keduanya.


Akhirnya mereka tertidur sambil berpelukan. Melewati malam yang semakin dingin menyelinap ke pori-pori dan menusuk sampai terasa ke tulang.


Sekitar pukul 06. pagi Fatir baru terbangun, berusaha membuka matanya yang rasanya sepet banget sulit terbuka. Si atas tubuhnya terasa ada beban yang menindih dan pas buka mata benar saja. Dia tidur dengan posisi yang sama memeluk Viona yang tidak mau tidur di bantalnya, Fatir menunjukan senyumnya dan membelai rambut Viona yang panjang bergelombang.


Namun alangkah terkejutnya Fatir ketika melihat ke arah jam yang sudah menunjukan pukul enam pagi. "Astagfirullah." tubuhnya melonjak bangun otomatis tubuh Viona pun terbawa.


Tubuh Viona bergerak dan mengeratkan pelukannya yang nyaman, menenggelamkan wajah di dada bidang Fatir seraya bergumam. "Em ... masih ngantuk ..." tanpa sedikitpun membuka matanya.


Fatir mesem serta menyingkirkan anak rambut di pipi Viona. "Buka matanya. Pukul berapa nih!" bisik Fatir.


Mendengar suara Fatir yang berbisik. Viona memaksa kelopak matanya terbuka, mendongak memicingkan melihat melihat wajah Fatir yang begitu dekat. Gimana tidak! orang dia peluk.


"Pukul enam." Sambil melempar pandangan dengan ekor matanya.


"Kenapa gak bangunin sih?" menepuk dada Fatir.


"Gimana mau bangunin Non? aku juga baru bangun." Jawab Fatir sambil bergegas turun membawa langkahnya ke kamar mandi.


"Cepetan?" pekik Viona menatap punggung Fatir.


Tidak menunggu lama mandi kilat Fatir pun selesai. Viona bergegas masuk tuk mandi, buru-buru Fatir menjalankan salat yang sudah telat itu.


"Mas gak jualan ya?" tanya Viona setelah keluar dari kamar mandi.


"Kesiangan, paling jualan itu aja. Pisang krispi." Balas Fatir sambil berjalan mendekati jendela membuka-buka gorden.


"Oh, kita cari sarapan sambil jalan aja ya?" Viona bergegas menyiapkan diri untuk pergi ngantor.


Fatir meneguk minumannya sebelum berangkat.


"Mobil kamu aja yang bawa ya? nanti aku pulang ke sana sama Alisa," ucap Viona.


"Hem. Atau nanti aku jemput saja ya!" sahut Fatir menawarkan diri.

__ADS_1


"Em ... kalau sempat si boleh."


Kemudian keduanya keluar dari apartemen. Berjalan mendekati lift.


Fatur membukakan pintu mobil untuk Viona. Viona tersenyum manis ke arahnya. Fatur mengitari mobil lalu duduk di belakang kemudi.


Mata Viona sering mencuri pandang ke arah Fatir yang sedang konsentrasi menyetir.


"Kenapa? nanti jatuh cinta loh Non." seru Fatir sambil mesem.


"GR. Orang melihat ke depan juga ih." Elak Viona.


"Yakin ... ke depan?" sambungnya Fatir lagi.


"Ih, gak usah GR ya? aku tuh gak semudah itu melupakan seseorang!" ungkap Viona. "Berhenti di depan."


"Baik Non," sahut Fatir sambil memajukan mobil ke depan sedikit. Tepat di depan rumah makan.


Keduanya berjalan memasuki rumah makan. Tidak buang waktu mereka langsung memesan buat sarapan.


"Nggak pake lama ya Mas? takut kesiangan nih." Pinta Viona sambil menghela napas kasar.


"Sabar, orang sabar badannya lebar." Sela Fatir sambil mesem.


"Apaan sih? nyebelin deh." Netra mata Viona menemukan seseorang yang ia kenal, ya itu Rumi sama Dewo sedang sarapan berdua.


"Lihat apa?" tanya Fatir ketika melihat Viona memandangi ke suatu tempat.


"Kak Rumi, tapi sama Dewo." Jawab Viona sambil menundukkan kepalanya ke bawah.


Mata Fatir melihat ke arah yang Viona tunjuk. "Oh ... biara saja, apalagi kalau sama-sama singel. Sah-sah aja kan!"


"Nyindir bukan?" menatap tajam.


"Siapa yang nyindir? nggak, biasa aja." Akunya Fatir.


"Oh, iya nyindir juga gak pa-pa sih. Nyindir diri sendiri kali." Ketusnya Viona.


"Ayo makan? katanya takut kesiangan. Aneh!" Fatir langsung melahap makanan yang di hidangkan di depannya.


Begitupun Viona, menyiapkan sendok ke mulutnya dengan mata sesekali melirik ke arah Rumi yang tampak akrab dan dekat itu.


Fatir dan Viona terburu-buru makannya. Sehingga tidak butuh waktu lama untuk menyelesaikan nya, Viona segera keluar, sementara Fatir membayar ke kasir.


Di tempat yang sama ada seorang wanita turun dari sepeda motor. Terburu-buru memasuki rumah makan tersebut sehingga bertabrakan dengan Viona ....


****

__ADS_1


Apa kabar reader ku semua? semoga kabar baik ya. Terus dukung aku ya🙏


__ADS_2