Bukan Suami Harapan

Bukan Suami Harapan
Mantu kesayangan


__ADS_3

Setelah melepas pelukan pada sang istri, Fatir bergegas menyambar handuk lalu pergi ke kamar mandi.


Viona merosot duduk bengong di tepi tempat tidur. Napasnya masih tak beraturan dan entak kenapa merasa tak rela Fatir berhenti di separo jalan. Ada rasa sedih. Sakit, ada bahagia juga. Menggigit bibir bawahnya dan menarik napas panjang ... kemudian mengarahkan pandangan ke arah bagian tubuhnya yang atas dengan kancing terbuka, tampak kusut tak karuan.


Selang beberapa menit. Fatir kembali dengan mengenakan handuk saja. Melihat Viona yang bengong dan memandanginya. "Mandi Non, cepetan. Maghrib."


"Tapi ... malu!" Viona pelan. "Masa harus keramas jam segini?" menatap rambut Fatir yang basah dan wangi shampo.


Fatir menatap datar. "Mau salat, harus bersih kan?"


"Aku malu sama yang lain!" pekik Viona tertahan.


"Kenapa mesti malu? kita suami istri, bukan hubungan kumpul kebo." Jelas Fatir.


"Iih ..." gumam Viona tampak malas dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Masalahnya, kamar mandinya umum. Gak pribadi."


"Apa perlu aku mandikan?" Fatir mendekat. Sementara Viona mundur.


"Ayo, cepetan! mandi kilat aja yang penting bersih."


Dengan berat hati Viona menurut saja, membawa dua handuk dan cepat-cepat ke kamar mandi setengah berlari karena malu.


Benar saja, Viona mandinya kilat. sehingga dengan cepat sudah berada di kamar Fatir kembali seraya bibir bergetar sebab menggigil kedinginan.


Fatir menggeleng. Memberikan sebuah mukena setelah Viona berpakaian lengkap. Mereka menunaikan salat Maghrib berdua, serasa hati ini tenang, sejuk.


Selepas itu Viona mencium punggung tangan Fatir dan Fatir mengecup pucuk kepala Viona. Ini kali pertama mereka menjalankan salat bersama. Viona tampak masih menggigil kedinginan. Duduk di tepi tempat tidur masih menggunakan mukena.


Fatir melipat sajadah bekas berdua. "Sini aku bantu keringkan rambutnya."


Viona segera membuka mukenanya dan Fatir mengeringkan rambut Viona dengan handuk. Tampak tengkuk yang putih bersih terekspos sempurna jelas di depan mata, Fatir mengecup singkat leher belakang Viona. Membuat bulu kuduk Viona meremang.


Kemudian Fatir merak bahu Viona ke dalam rangkulannya. Ia dekap penuh kehangatan, Viona merasa sangat nyaman dan tak ingin terlepaskan. Sesungguhnya Viona merasa kecewa setiap berharap sesuatu terjadi selalu saja tergantung begitu saja. Terkadang Terbesit pikiran jelek, apa mungkin Fatir gak normal? tapi gak mungkin juga kalau gak normal, buktinya dia mampu memberikan foreplay yang dahsyat padanya.


Viona membalas pelukan Fatir dengan erat. Kemudian Viona mengangkat wajahnya melihat Fatir. "Pulang yu?" terus kembali menenggelamkan wajahnya di dada Fatir yang bidang itu.


"Nginep aja di sini ya?" suara Fatir pelan.


"Nggak mau, besok aku ada meeting," balas Viona.


"Besok hari Minggu Non ..." Timpal Fatir kembali seraya membelai rambut Viona yang baru mengering.


"Iya, hari Minggu, siapa yang bilang hari jumat? ada yang harus aku urus di kantor cabang--"


"Luar kota?" selidik Fatir. Di balas dengan anggukan.


"Oma ingin ketemu kita," lanjut Viona.


Fatir melepas Viona lalu membaringkan tubuhnya ke belakang. "Nggak mau ah, takut pedas."


Viona mengerutkan alisnya. "Pedas, maksudnya?"


"Iya, pedasnya omongan mertua."


"Iih ..." bugh! tangan Viona berniat memukul paha paha Fatir yang kena bukan paha melainkan juniornya yang kena pukul.


Fatur memekik dan menangkupkan tangan ke tempat juniornya menggelinding tengkurep sambil kesakitan.


Viona terkejut dan cemas. Belum juga ia rasain sudah kena pukul tangannya sendiri. "Aduh ... kurang ajar nih tangan, gimana kalau juniornya mati? belum juga aku merasakannya!" batin Viona merutuki dirinya.


"Sorry, Fatir. Ma-maaf gak sengaja?" Viona gugup wajahnya tampak cemas.


Fatir membalikkan badannya dengan masih menutupi itunya. "Belum pernah di pake nih, gimana kalau cacat? kita gak bisa merasakannya Vi."


Di balik wajahnya cemasnya Viona terlukis senyuman lucu, mendengar ucapan dari Fatir. "Ia maaf, gak sengaja kan?" tajuk Viona sambil senyum-senyum sendiri.

__ADS_1


"Idih, malah senyum-senyum? sakit nih!" Fatir bangun dan menatap heran.


"Fatir, makan malam sudah siap ajak istrinya makan." Suara bu Afiah dari belakang.


Fatir dan Viona saling pandang, lalu Viona menggeleng. "Pulang yu sekarang?" sambil menarik tangan Fatir.


Kedua netra mata Fatir mengarah pada tangan Viona yang memegang tangannya. "Kalau aku gak mau?" kemudian menoleh ke arah Viona.


"Aku bisa pulang sendiri," lengan Viona menjauh. Mengambil sisir dan merapikan rambutnya, hati Viona merasa kesal. Sedari tadi dibuat kesal mulu.


Tiba-tiba tangan Fatir melingkar di perut Viona dan terasa ada yang lembab di tengkuknya. Rupanya bibir Fatir mengecupnya.


Viona memejamkan matanya. Lalu melepas tangan Fatir, beranjak dari duduknya. Mengambil tas dan berlalu meninggalkan Fatir yang tertegun.


"Bu, Vi pulang dulu ya?" pamit Viona pada bu Afiah.


"Makan dulu Nduk, sudah siap nih." Kata bu Afiah menunjuk hidangan di meja.


"Vi, makan di rumah saja." Sambil melirik ke arah Fatir yang sudah siap dan menenteng jaketnya.


"Mbak cantik gak mau ngenep?" Sya menatap lekat pada Viona.


"Em, lain kali saja ya? malam ini Mbak ada urusan dulu, yang sehat ya," ucap Viona memeluk Sya sebentar. Kemudian berjalan pergi yang sebelumnya mengucap salam.


"Bu, aku pergi dulu." Pamit Fatir kemudian mengikuti langkah Viona yang sudah lebih dulu dan sedikit lebih cepat.


"Sendiri aja cantik?" sapa pemuda yang nongkrong di teras rumah yang Viona lewati.


Viona balas dengan senyuman dan mengangguk hormat.


"Oh Tuhan ... manis sekali senyumnya. Lebih manis dari gula," kata pemuda itu pada temannya.


"Mau dong senyumannya." Goda mereka.


Meskipun merasa kesal, bibir Viona senyum-senyum sendiri sambil melirik tangan Fatir yang berada di pinggangnya.


"Senang jalan sendiri, di godain cowok." Gumamnya Fatir dengan nada yang aneh.


Viona menoleh. "Apaan sih?"


Fatir tak menjawab melainkan membuka mobil untuk Viona. Viona pun memberikan kuncinya.


Sepanjang perjalanan tak ada yang membuka suara kecuali suara mesin mobil dan kendaraan lainnya. Dalam pikiran Viona masih berubel pertanyaan sebenarnya Fatir ini normal gak sih?


Kok setiap bercumbu tak pernah lebih, hanya sebatas itu saja. Membuat geram hatinya saja, entah kenapa juga ia jadi berekspektasi ke situ. "Ah, gila. Kok aku jadi mesum gini." Viona menggelengkan kepalanya.


Setibanya di depan rumah, scurity mengangguk hormat setelah membukakan pintu gerbang. Viona turun di susul oleh Fatir.


"Assalamu'alaikum ... Oma ... Mamah? panggil Viona sambil melintasi pintu.


"Eh ... cucu Oma, sekarang sudah lupa ya sama Oma?" Oma Yani menyambut hangat Viona dan Fatir.


"Sibuk Oma, bukan lupa." Jawab Viona sambil memeluk Omanya.


Oma Yani menoleh ke arah Fatir dengan tatapan tajam. Membuat Fatir menunduk dan jantungnya dag Dig dug.


"Fatir, kamu juga lupa ya sama Oma? ke sini itu bawa mie ayam ke, Oma kangen sama mie ayam buatan mu itu."


Fatir mengangkat kepalanya. "Maaf Oma, aku lupa bawa. Tapi kalau Oma mau, aku bisa bikin kan di sini!" sambil mencium tangan Oma Yani.


"Dengan Mie yang ada bisa?" Oma Yani mengerutkan keningnya.


"Bisa Oma. Aku bikinkan ya?" Fatir langsung ke dapur mau eksekusi mie yang ada di sana.


"Apa kabar, Bi Ijah ..." sapa Fatir pada bi Ijah yang sedang mencuci.

__ADS_1


"Eh, Den Fatir, Baik Den." Jawab bi Ijah.


"Bi, tolong tunjukan tempat Mie dan sayuran. Ada gak?" Fatir menatap punggung bi Ijah.


Bibi pun meninggalkan kerjaannya dan berjalan menunjukan tempat Mie dan sayuran yang ada di lemari pendingin. "Kan di meja masih banyak masakan buat kalian makan malam, nyonya sudah makan kok. Den Fatir dan Non Viona makan saja."


"Oma, mau makan mie ayam, Bi. Aku lupa bawa, lagian gak minta," balas Fatir.


"Oh, tapi sudah makan kok," singkat. Bi Ijah jadi bengong.


"Bibi lanjutkan saja kerjaannya." Lanjut Fatir sambil menyiapkan panci dan Ayam.


Viona yang di ruang tengah bersama Oma, ibunya tengah mengobrol. "Ada apa Oma menyuruh ku ke sini?"


"Emangnya gak boleh? seminggu ini kamu gak pulang ke sini, wajarlah Oma suruh kamu ke sini."


"Mama juga kangen sama putri Mama ini." Bu Asri merangkul bahu Viona.


Viona menggeleng. "Mama juga, di kantor juga ketemu ih. Lebay deh."


"Ih, bukan lebay, memang kangen juga. Bersama di rumah ini. Iya kan Bu?" menoleh sang bunda.


"Iya, nih anak mentang-mentang ada yang jagain ada meluk tiap malam, lupa sama kita." Timpal Oma Yani.


"Aduh ... Oma, Mama aku tuh bukan anak kecil yang suka tidur sama kalian--"


"Emang iya, Vi ini satu bulan sekali ada aja pengen tidur sama Mama atau Oma."


"Bener itu, tapi Asri ... baguslah. Berarti sekarang Viona sudah lebih dewasa, tanggung jawabnya sudah semakin banyak juga.


"Oya, papa mana?" tanya Viona, sengaja mengalihkan pembicaraan.


"Nggak tahu, belum pulang," sahut sang ibunda.


Oma Yani beranjak dari duduknya. Berjalan menuju dapur ingin melihat mantunya memasak mie yang akan menjadi mie ayam rumahan. Viona pun mengikuti Oma nya.


Oma Yani berdiri dekat pintu melihat Fatir yang tengah sibuk memasak mie untuk nya.


Viona mlipir dan mengambil celemek. "Pake ini dulu Mas. Nanti kotor kemejanya."


Fatir menoleh ke belakang. dan sedikit membungkuk pada Viona agar Viona pakaikan. Viona pun pakaikan dan mengikatnya di belakang. Lalu Viona mundur membiarkan Fatir melanjutkan kerjaannya.


Beberapa menit kemudian yang di masak Fatir sudah siap, dua mangkuk mie ayam di tangan Fatir buat Oma dan Bu Asri. "Mie ayam sudah siap ...."


Fatir sajikan di meja makan depan Oma, Bu Asri yang baru muncul pun langsung duduk di samping Oma Yani.


Mereka langsung melahap mie ayam yang Fatir sajikan.


Viona berjalan meninggalkan meja makan. Menaiki anak tangga menuju kamarnya yang sudah beberapa hari ini tak ia huni.


Kedua mata Fatir menatap langkah Viona yang menaiki anak tangga. Kemudian mengalihkan pandangan pada Oma dan ibu mertuanya. "Bagaimana, enak?"


"Enak, bumbunya pas." Oma Yani mengacungkan jempol.


"Punya Nama pedasnya pas. Matap!" timpal Bu Asri sembari menyuap.


Bibir Fatir tertarik tersenyum lebar. Melihat ekspresi kedua wanita yang berada di hadapannya itu.


"Wah-wah, wah ... ada mantu kesayangan rupanya! yang diam-diam punya kekasih dan mengkhianati putri ku. Cuih, menikahi anak kita cuma pancingan agar dapat harta yang banyak." Suara pak Rusadi dari arah belakang Fatir.


Fatir terkejut dan seketika menoleh pada sumber suara yang langsung menghujatnya ....


****


Apa kabar reader ku semua? selamat menunaikan ibadah puasa. Semoga kalian suka dengan karya ku ini, jangan lupa tinggalkan jejaknya🙏

__ADS_1


__ADS_2