Bukan Suami Harapan

Bukan Suami Harapan
Keceurigaan


__ADS_3

"Apa mereka bertemu?" batin Fatir memandangi punggung Hendra, biar bertemu ketika acara menikah kemarin tapi Fatir hapal betul siapa dia.


Melihat Fatir malah tertegun di tempat, Viona menghampiri. "Hi ... kok malah bengong sih? ayo!" tanpa sadar tangan Viona menarik tangan Fatir agar berjalan mengikutinya.


Belum reda rasa herannya terhadap Viona yang mungkin saja bertemu dengan Hendra. Kini jantung Fatir dibuat berdegup lebih kencang dan rasa tersetrum mendapat sentuhan dari Viona yang terus menarik tangannya itu.


Sambil berjalan justru manik mata Fatir tertuju pada sebuah tangan yang menggenggam pergelangan tangannya.


"Heran deh, oma. Mama sudah sampai ke mobil, lah kita masih di sini!" gerutu Viona dengan masih memegangi tangan Fatir.


Perasaan Fatir yang dah Dig dug serr, terus mewarnai langkahnya sampai Viona menjauhkan tangan nya dan memasuk mobil bagian depan samping kemudi.


Brug!


Suara pintu mobil yang Fatir tutup buat Viona. Pun Fatir mengitari mobil tersebut duduk dibelakang kemudi.


"Vi, sudah makan Nak?" selidik sang bunda terlihat menatap ke arah Viona.


"Sudah, tadi di pesawat," sahut Viona. "Jadi kita langsung pulang saja!" Viona menyandarkan punggungnya ke belakang. Sesekali memandangi ke arah Fatir yang fokus menyetir, ada rasa gimana ... gitu ketika menatapnya.


Lain dengan Fatir. Dalam pikirannya berkecamuk kecurigaan kalau Viona dan Hendra melakukan pertemuan. Di sisi lain ah dia kan pilot wajar dong kalau dalam satu pesawat yang sama. "Tapi sama sekali tak menggunakan pakaian tugas?"


Sampai rumah Fatir terus di hantu rasa kecurigaan. Penasaran benarkah mereka bertemu atau mungkin bersama selama di luar kota?


Kini Fatir berada di balkon dengan menikmati sebatang rokok yang menemaninya saat gelisah begini. Membuang asap nya ke udara yang berwarna putih pucat. Detik kemudian membuang kuntung rokok yang jauh, beranjak pergi kembali ke kamar dan mendapati Viona baru beranjak dari meja riasnya dengan mengenakan piyama pendek motif bunga kesukaannya.


Sejenak kedua mata Fatir menatap dengan intens ke arah Viona.


"Sudah malam begini kau belum tidur?" melirik ke arah jam yang putarannya menunjukkan pukul 23.00.


Netra mata Fatir pun mengikuti yang Viona lihat. Membawa langkahnya ke tepi tempat tidur. saat ini ia mengenakan kaos oblong putih dan celana pendek terbuat dari bahan warna krem berhias banyak saku.


"Mau tidur pakai piyama, jangan pakai pakaian santai," sambung Viona sambil naik berlutut dan menarik selimut.


"Ada yang ingin aku bicarakan." gumam Fatir.


"Apa?" Viona duduk bersandar di bahu tempat tidur sambil memeluk guling.


Begitupun Fatir duduk bersila menempelkan punggung ke tempat yang sama. Bantal ia simpan di pangkuan.


"Soal, Biaya Rumah sakit sudah ku bayar pull untuk tiga bulan. Uang masuk kuliah Adam sudah aku lunasi, Spp Sidar juga sudah aku bayar satu tahun. Walau aku di luar kota berada aku juga gak lupa mengirim makanan buat ibu di Rumah sakit," ujar Viona panjang lebar.


Fatir menatap sejenak. "Iya, makasih, makasih banyak anda terlalu perhatian sama keluarga ku. Tapi ad agak lain yang ingin aku bicarakan." Terdengar suara Fatir lirih.

__ADS_1


"Tentang apa lagi? apa kau mau menikahi kekasih mu!" Deg jantung Viona seolah berhenti berdetak. "Kalau benar silahkan saja aku gak akan larang. Hak kamu kok asal ... kamu ada biaya nya sendiri. Sebab aku sih gak ada tanggung jawab buat itu."


Fatir memandangi Viona yang menunduk dan memainkan jari jemarinya yang lentik. Ingin rasanya meremas menggenggamnya mesra, Fatir menggeleng. "Bukan itu."


Viona mengangkat wajah dan mengernyitkan keningnya. Penasaran dan gemas pada pria yang ada di sampingnya ini, susah amat mau ngomong.


Helaan napas Fatir yang kasar sampai terdengar di telinga Viona. "Tadi ... aku lihat Hendradi bandara, mantan sekaligus saudara mu itu. Apa kalian bertemu atau ... selama di sana kalian bersama?" ucap Fatir dengan nada yang hati-hati.


Deg!


Viona menatap datar ke arah Fatir yang menatap penuh kecurigaan. "Kau mencurigai saya? Mentang-mentang kamu lihat dia di sana." Dengan malasnya, Viona membaringkan tubuhnya menempelkan kepala ke bantal.


Fatir terus menatap ke arah wanita itu dengan perasaan yang sulit ia gambarkan.


Berapa detik kemudian, Viona bangun kembali seperti semula. "Iya sih, ketemu. Tapi tidak bersama toh aku punya kesibukan sendiri kok."


"Jadi benar kalian sering bertemu di sana?" entah kenapa dada Fatir terasa sakit.


"Iya, ketemu. Emangnya kenapa? kamu juga selama ini sering bertemu dengan kekasih mu. Terus apa salahnya kalau aku bertemu dia lagian gak ada hubungan lagi kok, Beda dengan mu. Kalian masih hubungan." Sinis Viona tangannya yang terasa dingin meremas selimut.


Fatir menghela napasnya dalam. "Aku gak mau kamu itu di tuduh macan macam nanti sama istrinya. Yang akhirnya jadi pemicu keributan rumah tangga orang."


"Eeh ... perduli amat, selama aku di luar kota apa ada kamu perduli sama aku? gak ada kan!" Viona kesal.


"Suami macam apa? nomor istri aja ndak tahu." Viona menggeser duduknya memunggungi Fatir.


"Eh, Mbak eh Non." Fatir menggaruk tengkuknya yang gak gatal. "Eh ... emangnya kamu punya nomorku?"


"Ada." Viona singkat tanpa menoleh ke arah Fatir.


"Terus kalau ada, kenapa ndak hubungi aku? bilang apa kek!" ucap Fatir balik bertanya.


"Buat apa? saya perempuan. Masa perempuan yang mulai!" bibir Viona sedikit maju ke depan.


"Oh ... kalau begitu boleh lah saya yang mulai, saya kan suami--"


"Eeh. Mulai apa nih?" Viona kembali berhadapan dengan pria yang bikin dia kesal itu.


"Mulai ... saya kan suami. Boleh dong?" Fatir memajukan wajahnya dan tangan mengulur ke depan.


Dengan cepat Viona menjadikan bantal sebagai tameng penghalang wajahnya. Diantara keduanya. "Tidak-tidak. Apaan sih." Viona langsung membaringkan tubuhnya dan berbalut selimut.


Fatir menyeringai, tersenyum merasa lucu. Ia pun membaringkan dirinya di samping Viona, jiwa isengnya mulai kumat. Dan perlahan memindahkan guling yang ada di tengah ke samping serta ia sendiri bergeser mendekat.

__ADS_1


Mendengar pergerakan tubuh Fatir. Viona memutar kepalanya ke belakang dan betapa kagetnya ketika melihat wajah Fatir begitu dekat serta memberi senyuman. Sontak tubuh Viona bergeser menjauh namun kebablasan sehingga hampir saja tubuhnya terguling ke lantai, untung saja tangan Fatir dengan cepat meraih pinggang Viona sehingga Viona tak jadi jatuh melainkan semakin rapat dengan tubuh Fatir khususnya bagian dada dan perut menempel dengan punggung Viona.h


"Huuh ... rasanya mau copot jantung ku." Viona mengelus dada. Lalu terbangun "Jangan macam-macam ya? nanti aku teriak nih."


Tangan Fatir terulur menyibakkan rambut Viona sambil mengulas senyumnya. "Terserah, silahkan aja teriak. Nggak akan ada yang perduli, sebab aku gak mungkin menyiksamu."


Mendengar ucapan Fatir membuat Viona merinding. Lanjut tidur menutupi semua tubuhnya sampai tak ada celah sedikitpun.


Bibir Fatir tersenyum memandangi Viona yang merengkol di bawah selimut. Kemudian memejamkan matanya yang tampak lelah.


****


Tiga bulan sudah usia pernikahan Fatir dan Viona, namun rumah tangga mereka masih dingin dan mereka masih juga bersikap biasa aja, padahal sering kali mereka saling merindukan di kala berjauhan. Viona sering kali pergi keluar kota untuk mengurus perusahan di sana.


Seperti hari ini Viona baru pulang dari Batam dan Fatir berusaha menjemput ke bandara, Fatir berlarian dari mobil menuju bandara karena ia merasa kedatangannya sudah sangat terlambat.


Dan benar saja. Viona sudah menunggu jemputan ia duduk dengan kepala terus celingukan, sebenarnya dia bisa saja pulang dengan asisten ataupun Bodyguard yang menemani dari kejauhan tapi Viona malas karena memang biasanya juga kalau pulang tengah malam sekalipun selalu di jemput oleh Fatir.


"Maaf terlambat?" suara Fatir dari arah belakang Viona.


Viona menatap datar. "Kenapa bisa terlambat?"


"Mengurus kepulangan Sya lebih dulu." Jawab Fatir, tangan nya mengambil pegangan koper Viona.


"Oh," singkat, lalu berdiri. Berjalan duluan.


Fatir pun membawa langkah lebarnya mengikuti wanita yang mengenakan celana panjang hitam dan blazer dengan warna senada. Lagi-lagi matanya menangkap bayangan seseorang yang tidak asing lagi baginya. Pria yang menggunakan t shirt berwarna abu, hatinya terasa sakit. Dan kecurigaannya lagi-lagi menyapa dan menyiksa.


Viona yang sudah jauh menghentikan langkahnya. Menoleh ke belakang melihat Fatir berdiri tertegun. "Iih ... lama amat sih?" kembali menghampiri Fatir dan menarik tangan Fatir. Cepetan!"


Mereka berdua berjalan berbarengan menuju mobil yang terparkir agak jauh.


"Non, bertemu lagi sama dia?" celetuk Fatir tak bisa lagi menahan pertanyaan sampai nanti di rumah.


Langkah Viona terhenti dan perlahan genggamannya memudar. Menoleh ke arah Fatir. "Kenapa?"


Dengan tatapan datar Fatir berkata. "Anda istri ku, apa pantas seorang istri melakukan pertemuan dengan mantan dan itu bukan 1 atau 2 x namun berulang."


Viona menatap tidak suka. "Saya ke luar kota sebab kepentingan kerjaan, bukan sengaja bertemu seseorang! pertemuan kami tidak direncanakan dan itupun selalu ada saksinya bukan cuma berdua atau sembunyi-sembunyi. Kalau aku mau! gak perlu keluar kota di sini juga bisa janjian, ketemuan." Jelas Viona dengan nada yang dongkol ....


****


Apa kabar reader ku yang baik hati semua semoga kabar baik ya? makasih sebanyaknya sudah membaca karya ku yang recehan ini🙏

__ADS_1


__ADS_2