Bukan Suami Harapan

Bukan Suami Harapan
Tidak sudi denganmu


__ADS_3

Soraya dan Bambang akhirnya berangkat juga tuk jalan-jalan. Kemudian mereka pun berpamitan pada orang tua Soraya.


Keduanya berboncengan dengan satu motor yang sama. Menuju sebuah Restoran yang terdekat. Di sepanjang jalan Bambang terus saja mengajak Soraya mengobrol.


Setibanya di tempat yang di tuju. Soraya dipersilakan duduk di kursi yang Bambang tarik. Khusus buat Soraya.


"Silakan tuan putri?" ucap Bambang pada Soraya yang tertegun karena meja yang di hadapannya beda dari meja lainnya.


Ada lilinnya menyala. Sebuket bunga yang indah dan hidangan yang agak berbeda. Ia tertegun melihatnya, perasaan selama ini belum pernah mendapat perlakuan dari Fatir yang seperti ini.


"Ini semua untuk mu!" Bambang memberikan bunga itu pada Soraya.


"Buat aku?" tanya Soraya sambil menunjuk pada dirinya sendiri.


"Tentulah, buat ku cantik." Bambang meyakinkan dengan senyuman yang penuh kebahagiaan.


Soraya mencium wangi bunga yang semerbak itu, yang kini berada di dalam pelukannya. "Makasih?" rona bahagia terpancar dari wajahnya.


"Sama-sama cantik ... kau begitu cantik malam ini, lain dari yang lain." Rayu Bambang sambil melempar senyumannya.


Mereka pun melahap makanan yang kini tersedia di meja. Di sela makannya Soraya beranjak pamit ke toilet. "Aku mau ke toilet sebentar ya?"


"Ya, jangan lama-lama ya? kalau ada tikus ngintip bilang saja sama kang Mas, biar kang Mas yang menghadapinya." Bambang menepuk dadanya. "Ohok-ohok."


Soraya pun menggeleng dan berlalu, meninggalkan Bambang. Menuju toilet, Bambang menatap punggung Soraya dengan senyuman kemenangan.


Soraya terus membawa langkahnya ke toilet. Wanita yang memakai rok span panjang itu sudah tidak sabar tuk segera sampai sehingga ia mempercepat langkahnya dan setelah tiba ia bergegas memasuki dan membuang hajatnya.


''Ahhk. Leganya ..." Lalu Soraya membawa langkahnya keluar dan mendatangi Bambang yang menunggunya.


"Sorry, lama?" seraya mendudukkan bokong nya di kursi.


"Tak apa," sahut Bambang sambil mengulas senyumnya.


Soraya meneguk minumnya. Kemudian melanjutkan makannya yang tadi tertinggal.


"Yu, pulang sekarang?" ajak Soraya sambil berdiri.


"Yu, pulang." Bambang berdiri dan mengeluarkan dompetnya dan menyimpan beberapa lembar di meja.


Detik kemudian mereka berdua berjalan beriringan, Soraya menggelengkan kepalanya yang terasa pusing.


"Aduh, kepalaku kok pusing ya!" ucap Soraya dengan tangannya memijit pelipis.


Bambang menoleh ke belakang dan tangannya menangkap bahu Soraya. "Kenapa?"


"Pusing, kepalaku pusing. Antar aku pulang!" akhirnya Soraya pun di papah Bambang. Berjalan menuju motornya, namun Bambang membawa Soraya bukannya menaiki motornya melainkan ke hotel yang ada di sekitar sana.

__ADS_1


Tubuh Soraya semakin lemas, jalan pun makin sempoyongan dan pusing di kepala semakin memutar. Bambang memboyong Soraya ke dalam kamar hotel setelah mendapatkan kunci dari resepsionis.


Soraya, Bambang dudukkan di atas tempat tidur. Soraya semakin merasa pusing dan tubuhnya kepanasan.


"Aduh panas. Tubuh ku panas, gerah banget." Berlari ke kamar mandi dan tidak membuang waktu lagi membuka semua yang melekat di tubuhnya. Berdiri dibawah air shower dengan suhu yang dingin.


Setelah itu Soraya keluar mengenakan kimono. Tampak Bambang tengah duduk di sofa dengan tatapan tajam pada Soraya dan entah apa yang dia pikir.


Namun Walau pun sudah mengguyur tubuhnya di bawah shower. Tetap saja Soraya kepanasan dan serasa ada yang menjalar di tubuhnya seolah menginginkan sesuatu. Suhu AC yang sejuk aja tidak mampu mendinginkan panasnya tubuh Soraya saat ini.


Tiba-tiba Bambang mendekati Soraya yang gelisah, tak tentu yang di rasakan. Tangan Bambang membelai pipi Soraya dengan lembut dan Soraya menatap sayu dan mengalungkan tangan ke leher Bambang lantas dengan tanpa permisi me-ci-umi wajah Bambang. Pipi, kening dan berakhir di bibir Bambang. Ia melahapnya dengan kasar dan tanpa henti.


Bambang menyeringai melihat ekspresi Soraya yang seperti itu, akibat meminum sesuatu yang membuat libidonya naik.


Sinar matanya tajam seperti elang menemukan mangsanya tuk dijadikan korban. "Hem sebentar lagi kau akan jatuh juga di pelukanku, Soraya. Berkali-kali kamu menolak cinta ku dan sekarang aku lah yang akan menikmati tubuhmu, aku yakin, si Fatir belum pernah ngapa-ngapain kamu cantik, ha ha ha ..." batin Bambang.


Dia membalas perlakuan Soraya yang terus meracau panas-panas. Kimono yang dikenakan pun mulai turun dan ternyata dalamnya tak terbungkus apa pun. Membuat Bambang berkali-kali menelan saliva nya yang tercekat di tenggorokan. Lanjut Bambang menjalankan aksinya tuk menikmati mangsa yang siap santap ini. Soraya pun semakin tak sadar dengan apa yang dia lakukan. Tak mengingat apa pun yang sekarang dia perbuat.


Malam semakin beranjak dan di dalam kamar hotel. Pertemuan antara Soraya dan Bambang semakin memanas sehingga tak ada sehelai benang pun yang menutupi tubuh keduanya. Pergulatan terjadi dan semakin seru, menghabiskan tenaga dan memeras keringat dari tubuh keduanya.


Pagi-pagi buta. Soraya terbangun dan alangkah terkejutnya ia ketika melihat ada seorang pria di sampingnya tidur. Apalagi ketika menyadari tubuhnya hanya tertutup selimut saja dan merasakan ada yang aneh dari tubuhnya.


Buk!


"Kamu?" pekik Soraya saat sadar yang tengah tidur bersamanya dan sama-sama polos itu tiada lain adalah Bambang.


Soraya panik sebab tubuhnya pun terbawa dan menindih tubuh Bambang. Bambang memekik begitupun Soraya kepalanya membentur ujung laci.


Keduanya rebutan selimut yang menggulung tubuh keduanya. Keduanya berdiri dengan selimut masih tarik-tarikan. "Ini selimut ku." Pekik Soraya.


"Aku pinjem!" balas Bambang.


"Nggak bisa." Pekik Soraya lagi. Soraya merasa ada yang perih dari bagian tubuhnya dan melihat di seprei ada bercak darah. Bikin hatinya mencelos. Sedih tubuhnya melemas. Kemudian menoleh pada Bambang yang melepas selimut dan mengenakan celananya. Pandangan Soraya berembun. Tampak menelan saliva nya.


Soraya menunjuk Bambang. "Kamu sudah apakan aku ha? apa yang kamu perbuat padaku?" memukul dada Bambang.


Bambang hanya menyeringai dan menangkap pergelangan tangan Soraya membuat selimutnya melorot dan sontak Soraya menarik tangan yang menggenggam erat tangannya. Lantas mengambil selimut kembali membungkus tubuhnya. Soraya naik dan meringsut ke atas tempat tidur. Menangis menyesali apa yang terjadi sebab dia yakin sudah terjadi sesuatu padanya, sebagai wanita dewasa ia tahu dan sadar.


Bambang duduk di dekatnya. Dengan tenang seraya berucap. "Kita sudah melakukan nya atas dasar sama-sama suka."


"Kamu gila ya? mana ada sama-sama suka ha? yang ada kamu sudah paksa aku. Dasar bi na tang. Cuih. Kamu tahu aku tidak pernah suka sama kamu pria jelek, brengsek." Soraya meludahi wajah Bambang hingga belepotan.


Tangan Bambang mengusap wajahnya dari ludah Soraya. Menatap tajam dan tangannya mengulang di atas angin, niatnya mau menampar wajah Soraya yang sudah berani meludahinya. Namun niat itu ia urung. Mengingat atas semua yang ia lakukan pada wanita ini. "Kau gak perlu menyalahkan ku, sebab kamu duluan yang lebih menikmatinya."


"Tapi kau yang membuat aku lupa diri kan? kamu pasti yang memasukan sesuatu pada makanan atau minuman ku kan? jari Soraya menunjuk hidung Bambang.


Tangis Soraya semakin menjadi dan pilu. Namun tiba-tiba berhenti netra matanya menyapu setiap sudut kamar yang mungkin telah menjadi saksi ia melepas kesuciannya tanpa sadar dan diambil pria yang sama sekali tidak ia cintai.

__ADS_1


"Saya akan bertanggung jawab atas ini." Jelas Bambang.


Soraya menggeleng dan lagi-lagi memukul Bambang secara membabi buta, marah dengan keadaan dan kali ini mencakar tangan Soraya yang ingin menangkap lengan Soraya. "Aku tak sudi bila harus menikah denganmu. Apapun yang terjadi saya tidak sudi, anggap saja kalau kita tidak pernah melakukan apapun. Tidak pernah terjadi sesuatu."


"Kamu harus ingat, seandainya benih itu tumbuh. Dan itu jelas anak ku bukan anak siapa-siapa dan aku siap mengakuinya. Serta menikahi mu."


Soraya berteriak dan menunjuk ke arah pintu. "Pergi ... pergi ... tinggalkan aku sendiri. Pergi ...."


Bambang turun dan meraih bajunya. Dengan mata terus memandangi Soraya tanpa ekspresi dan kemudian mengayunkan langkah lebarnya. Melintasi pintu. Meninggalkan Soraya yang masih meratapi nasibnya.


Soraya bangkit. Mengusap air matanya kasar lalu memungut kimononya berjalan agak gimana gitu, ada rasa sakit di bagian tubuhnya. Namun ia tak perduli dan langkahnya menuju kamar mandi, nyatanya pakai yang semalam ia pakai ada di sana. Lanjut bergegas bersih-bersih. Sekitar 15 menit berlalu Soraya selesai mandi dan mengenakan pakaiannya. Setelah rapi Soraya memutuskan langsung pergi ke Rumah sakit tempatnya bekerja.


Ketika ngecek ponsel ada puluhan panggilan dari nomor ibu dan kakaknya dan juga pesan yang menanyakan keberadaannya apa benar menginap di rumah teman? rupanya ada yang mengirim pesan atas nama dirinya yang mengatakan akan menginap di tempat kawan.


"Sial, brengsek. pria jelek itu menjebak ku, awas sampai kapanpun gak bakalan mau menikah denganmu dasar bi***** keparat. Sudah menghancurkan hidup ku!" gigi Soraya mengerat tampak jelas kebencian di matanya.


Soraya berjalan cepat ke ruangannya dan setibanya langsung mengambil jas kebesarannya yang berwarna putih itu. Lantas keluar lagi mau cari buat sarapan namun bukan di kantin, malas kalau bertemu dengan pria itu.


Ada beberapa kawan yang menanyakan mau ke mana? tidak Soraya hiraukan membuat mereka merasa aneh. Ketika sedang asik berjalan tiba-tiba tabrakan dengan seseorang.


"Heh, jaga tuh mata. Main tabrak saja." Bentak Soraya dengan mata melotot kesal pada wanita itu.


"Loh, yang nabrak siapa Mbak?" tanya wanita itu balik nanya dan membalas tatapan Soraya.


"Kok malah nyolot sih? sudah jelas situ yang nabrak saya." Tambah Soraya menggeleng kasar.


Wanita itu terdiam sejenak memandangi Soraya tanpa ekspresi. "Oke, kalau saya yang salah. Mohon maaf ya? saya buru-buru." Sambil hendak pergi.


"Hei. Main pergi saja?" Tangan Soraya menarik tangan wanita tersebut, wanita yang lumayan cantik tapi lebih cantik Soraya sih pikirnya. Menoleh dan berbalik. "Urusan kita belum selesai. Lihat isi paper bag saya berserakan, gak lihat apa?" Soraya menunjuk lantai.


Terlihat wanita itu menghela napas kasar. Lalu dia berjongkok memungut barang-barang milik Soraya yang berserakan di lantai tersebut. Seperti ponsel dan alat kecantikan yang sebelum ke resto ini. Soraya membelinya.


''Ini Mbak barangnya. Maaf saya buru-buru--"


"Tunggu, kau harus tanggung jawab. Ponsel saya pecah." Soraya mengamati ponselnya di dalam paper bag.


"Mbak. Itu bukan kesalahan saya, dan saya rasa itu ponsel sudah pecah dari sebelumnya. Bukan akibat kejadian barusan kok." Wanita itu kekeh.


"Ada apa nih?" suara pria membuat Soraya dan wanita itu menoleh.


"Wanita i--" kalimatnya wanita itu terputus.


"Sayang, kok ada di sini sih?" Soraya kaget sekaligus bahagia sebab yang mengeluarkan suara itu adalah Fatir. "Ini ponsel ku rusak dan wanita ini tidak mau ganti sayang, malah mau pergi begitu saja." Soraya langsung memeluk tubuh sang kekasih, Fatir.


Ketika Soraya memeluk Fatir, wanita itu pergi begitu saja. Tanpa menoleh ataupun berbicara sepatah katapun ....


****

__ADS_1


Hi ... apa kabar kalian semua reader ku yang baik hati. Selamat menjelang idul Fitri 1443H🙏


__ADS_2