
Viona menghela napas kesal, kepalanya menggeleng pelan, perasaannya saat ini tak bisa di jabarkan. Ia mengangkat kepalanya mendongak ke langit-langit berusaha menahan air matanya yang memaksa ingin keluar.
Tak ingin berdiam diri dan meratapi nasib. Viona beranjak dari tempatnya ia duduk dan mengayunkan langkahnya ke kamar mandi sambil menunggu belanjaan datang.
20 menit kemudian Viona sudah tampak segar. Kemudian berpakaian rapi dan duduk di depan cermin menatap wajahnya, pandangan mengarah pada bibirnya perlahan jemari telunjuk menyentuhnya. Teringat dan ketika Fatir menyentuhnya, netra mata Viona terpejam membayangkan dan mengenang.
Sesaat kemudian ia membuka mata berharap seketika Fatir ada di hadapannya. Namun itu cuma sekedar ekspektasi saja.
Terdengar suara bell dari luar, pasti itu yang ngantar pesanan Viona. Belanjaan keperluan dapur untuk mengisi lemari pendingin, mulai sekarang ia memutuskan untuk belajar memasak sekalipun gak bisa sama sekali.
Benar saja, di pintu tergeletak semua belanjaan nya langsung saja Viona membawanya ke dapur dan dan menatanya di lemari pendingin hanya menyisakan kangkung, tempe dan bawang daun. "Tapi di bikin apa ya? kangkung dan tempe!"
Lantas Viona membuka benda pintarnya berselancar di google mencari resep buat masakan tempe dan kangkung. Setelah itu ia mulai mengeksekusi bahan-bahan dan menyediakan semua bumbu yang di butuhkan.
"Au." Jarinya tergores ujung pisau. Untungnya cuma tergores dan hanya menyisakan setetes darah, buru-buru mencari hansaplast untuk menutup luka.
Kemudian kembali meneruskan memotong kangkung. Lanjut potong bawang dan cabe sehingga membuat ia mengeluarkan air mata, perih.
"Begini nih orang yang gak pernah masak. Potong bawang, nangis, potong kangkung jari luka. Dasar ya! coba dari dulu belajar masak. Ahk ... tapi terlambat kan lebih baik ketimbang tidak sama sekali." Viona bicara sendiri.
Walau pertama kali, Viona benar-benar hati-hati dalam memasak. tidak mau sampai ke asinan atau kebanyakan bumbu. Sambil memperhatikan tutorial nya di ponsel. Mencicipi sampai berulang-ulang hingga ia merasa pas dengan rasa.
"Cah kangkung ala Viona sudah siap ..." disimpannya di meja. "Sekarang waktunya bikin tempe mendoan. Aduh ... takut kena minyak panas, gimana dong? Oh iya. Apinya harus kecil kali ya." Mulailah menggoreng tempe yang sudah di celupkan dengan terigu yang sudah diberi bumbu dan bawang daun juga seledri.
"Tunggu sampai kering Bos ...."
Viona iseng bikin status IG nya, status pertama kalinya tentang memasak. Dalam satu menit pun puluhan komentar berdatangan. Termasuk Hendra yang berkomentar. Enak tuh cah kangkung dan tempe mendoan.
Viona langsung hapus komentar dari Hendra takut ada yang lihat. Terutama yang kenal, takut berakibat fatal dan ia sendiri yang akan jadi bulan-bulanan.
Setelah selesai menggoreng dan di tata di meja. Kini giliran membuat telor mata sapi yang di kasih senyum dengan saus.
"Akhirnya selesai. Masakan sederhana ala Viona siap di santap." Bibir Viona mengembang, bangga dengan dirinya sendiri biarpun baru belajar tapi rasa dan dari segi penampilan pun lumayan.
Ia duduk di sofa menunggu Fatir pulang, ia yakin Fatir pasti pulang ke apartemen.
Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Viona yang sudah berusaha belajar memasak begitu tampak ketar-ketir, gelisah. Padahal dia pun sudah lapar namun berusaha ia tahan biar makan bersama Fatir nanti, namun yang di tunggu belum juga menunjukan batang hidungnya.
__ADS_1
"Kemana sih?" gumamnya Viona. Mau telepon tapi gengsi. Akhirnya menunggu manis di sofa.
Beberapa kali Viona menguap dan membaringkan diri di sofa itu. Sampai akhirnya tertidur nyenyak lupa dengan rasa laparnya.
Sekitar pukul 11 lewat, Fatir baru menginjakan kaki di apartemen. Ia sengaja pulang lebih malam agar Viona tak melihat keadaannya yang kena pukul keluarga Soraya. Malu.
Pas masuk, netra matanya langsung menemukan Viona terbaring di sofa memeluk bantal sofa. Kemudian manik mata Fatir tertuju pada jari Viona yang terbungkus hansaplast.
Dengan sangat pelan Fatir berjalan mendekat. Sebelumnya menyimpan helm di meja. "Jarinya kenapa?" gumam Fatir. Sangat pelan menyentuhnya. Tidak tega bila harus membangunkan. Fatir memutuskan memindahkan tubuhnya ke tempat tidur.
Viona pun merasakan kalau tubuhnya berasa melayang di udara, namun saking kantuknya ia tak mampu membuka mata barang sekejap pun.
Perlahan Fatir baringkan wanita cantik itu ia selimuti. Sejenak tubuh Fatir tertahan di atas tubuh Viona dan menatap intens wajah yang terlelap itu. Cuph! mendaratkan kecupan singkat di kening wanita itu.
Fatir turun dan berjalan menuju dapur, niatnya mau mengambil air minum, haus. Namun melihat di meja ada beberapa menu membuat langkah Fatir membawanya ke meja makan. Menoleh ke arah kamar lanjut ke meja. Dia yakin ini mah masakan di rumah bukan hasil beli terlihat ada beberapa wajan kotor di wastafel yang belum di cuci.
"Apa dia masak sendiri? katanya gak bisa masak! terbukti masak Mie aja gak bisa. Ini kok masak?" Fatir heran dan bicara sendiri.
Lantas ia duduk dan mengambil sendok untuk mencicipi cah kangkung. "Lumayan enak juga." Perutnya mendadak menyerukan bersuara berdemo meminta jatah. Akhirnya Fatir mengambil piring dan menuangkan nasi, telor. Cah kangkung dan tempe, Fatir tidak membuang waktu untuk melahap hidangan di meja.
"Euk." Saking kenyang nya sampai berulang kali bersendawa. Mengakhirinya dengan segelas air putih, Fatir membereskan piring dan gelas bekasnya ia bawa ke wastafel sekalian ia cuci semua.
"Jarinya terluka sebab kena pisau. Kasian anak orang!" batin Fatir lagi.
Kini Fatir berbaring miring menghadap ke arah Viona yang tampak nyenyak sekali. Fatir mengulurkan tangan menyentuh jari Viona yang terluka. "Kasian. karena belajar memasak jarimu terluka. Lain kali hati-hati." Jarinya mengelus luka Viona.
Kemudian Fatir berbaring menutupi tubuhnya dengan selimut yang sama dengan Viona sampai perut. Dan tak butuh waktu yang lama untuk terpejam dan menjemput mimpinya.
Seperti biasa Fatir bangun jam 03.00 sehabis mandi langsung pergi untuk ke pasar, tidak lupa mengambil helm nya. Meninggalkan Viona yang masih tertidur nyenyak.
Malam ini Fatir pulang, Viona sudah tidur. Pergi pun Viona masih sama dengan sebelumnya, sebab memang sekitar pukul segitu lah Fatir berangkat belanja. Sementara waktu segitu orang-orang sedang enak-enaknya tidur.
Fatir berjalan meninggalkan apartemen Viona. Fatir sendiri punya akses pribadi agar bisa masuk kapan saja atau pulang kapan saja.
Ketika terdengar suara adzan, Viona terbangun dan menggeliat nikmat, memicingkan mata mengamati suasana kamar. Ia sadar kalau semalam tertidur di sofa sambil menunggu Fatir pulang. Mengarahkan pandangan ke samping kosong.
Tangan Viona menyibakkan selimut dan bergegas turun sambil memanggil. "Fatir. Mas Fatir?" di ruang tengah tidak ada.
__ADS_1
Ke meja makan, ada bekas makan terlihat masakan cuma ada sedikit tersisa. Menoleh ke wastafel, perabotan yang semalam ia tinggalkan kotor sudah tidak ada dan bersih di tempatnya. Viona tersenyum dan kemudian membawa langkahnya ke kamar mandi kosong juga namun pakaian kotor sudah tergantung dapat nyuci. Viona tertegun sementara waktu.
Lalu ia bersih-bersih, dengan air hangat. 15 menit kemudian Viona buru-buru keluar dan mengenakan pakaian formalnya. Duduk di tempat rias. Merapikan rambut dan mengenakan bedak tipis saja namun tak mengurangi kecantikannya.
Mengambil alat salatnya, bersimpuh di atas sajadah. Usai itu ia membuka gorden dan cahaya matahari pun menyelinap masuk lewat kaca jendela. Berjalan ke balkon untuk menghirup udara pagi yang masih belum di kotori oleh polusi. "Huuh ... dingin nya."
Membawa langkahnya ke dapur. Mau masak, takutnya Fatir gak pulang lagi, kalau malam sih so pasti pulang. Akhirnya viona cuma membuat susu hangat dan roti saja buat sarapan.
Semalaman Viona tak bertemu dengan Fatir. Ada rasa ingin bertemu dan menatap wajahnya, Viona tanggu-tunggu Fatir tidak ada untuk mengantarnya kerja dan akhirnya Fiona berangkat sendiri ke perusahaannya.
Karena sudah resign dari BANK tempatnya bekerja dengan Alisa, kini Viona jadi tak sekantor lagi dengan sahabat dekatnya itu. Kini Viona akan lebih fokus mengurus kantor pusat dan cabang-cabang termasuk BANK yang dia melepas hari-harinya di sana.
Sebab kesibukannya itu. Viona jadi paling siang pulang pukul empat atau Lima sore. Apalagi kalau lembur sampai malam juga bisa.
Sudah beberapa hari ini, Fatir pulang selalu larut malam ketika Viona sudah tidur nyenyak dan pergi sebelum Viona terbangun. Setiap malam pun Viona selalu memasak untuk makan malam dan setiap kali juga ketika pagi masakan itu sudah ludes, membuat Viona merasa senang sebab apa yang ia sediakan Fatir makan. Dan usahanya untuk belajar masak tak sia-sia.
Namun di hati kecilnya ada rasa kecewa kerena tak dalam beberapa hari ini tak bertemu dengan orangnya. Membuat ia merasa sedih, jangankan kehangatan yang pernah dia berikan bertutur sapa pun tidak sempat.
Seperti malam ini Viona selesai memasak ikan tongkol balado dan tumis brokoli hijau. Telor mata sapi dan kali ini Viona makan duluan percuma menunggu juga. Dengan rasa kesal dan sedih ia menyuapkan makannya, sambil membuat status di ig. Sedih makan sendiri, dan Alisa langsung komen. Ayang kemana ayang? jangan sedih nanti juga ada dalam pelukan di akhiri dengan emoticon, love.
Membuat bibir Viona tersenyum dan segera mengakhiri makannya dengan segelas air putih.
Sehabis mencuci bekas makan dan perabotan, menonton televisi sebentar dan membuka laptopnya sejenak menyibukkan diri di layar laptop dan lagi-lagi Viona tertidur di tempat.
Fatir yang menjinjing helmnya. Menggeleng ketika netra matanya mendapati Viona tertidur di sofa. Laptop menyala di atas paha.
Setelah mengunci pintu dan menyimpan helm. Membuka jaket ia simpan di bahu sofa. Lantas duduk dekat kaki jenjang Viona yang menjulur, yang hanya mengenakan setelan piyama pendek kesukaannya. Tangan Fatir mengambil laptop yang masih menyala ia matikan dan ia simpan di atas meja.
"Dasar manja. Selalu tidur di sofa minta aku pindahkan apa? berat tahu ... tubuh mu itu berat." Gerutu Fatir sambil memposisikan tubuhnya untuk menggendong tubuh Viona.
Fatir menahan dirinya setelah mengangkat tubuh Viona ketika Viona bergumam. "Hem." tanpa membuka mata.
"Dasar tidurnya kaya kebo, aku kira akan bangun? mungkin kalau aku paksa juga gak bakalan bangun he he he ..." Fatir mesem-mesem sendiri dan lantas membawa tubuh Viona ke kamar.
Perlahan Fatir baringkan di kasur dan tiba-tiba tangan Viona merangkul pundak Fatir.
"Kamu kemana aja sih? aku kangen kamu. Jangan tinggalkan aku lagi ya," suara Viona memelas dengan suaranya yang serak-serak basah ....
__ADS_1
****
Sudah membaca kan reader ku yang sangat aku sayangi. Jangan lupa like dan komen🙏