Bukan Suami Harapan

Bukan Suami Harapan
Cemburu


__ADS_3

Fatir dan keluarga sangat terkejut dengan kedatangan seorang pria tua yang Fatir kenal sebagai paman dan ayah nya Soraya.


Mereka masuk tanpa permisi dan berdiri menatap tajam orang-orang yang ada di sana.


"Maaf, ada apa Paman, Bapak? malam-malam tanpa permisi juga." Selisih Fatir menatap keduanya.


"Kebetulan kamu ada di sini Fatir." Kata paman nya Soraya.


"Sebaiknya kalian duduk dulu yang tenang. Silakan?" Fatir menunjuk sofa yang kosong.


"Gimana saya bisa tenang ha? ketika ponakan saya berbadan dua," timpal bapaknya Soraya.


Deg!


Semua yang mendengarnya begitu kaget tak percaya. Viona terkesiap mendengarnya, menatap ke arah Fatir yang menggeleng kasar.


Namun Fatir berusaha tidak panik sebab ia yakin tidak pernah melakukan apapun terhadap Soraya sekalipun lama berhubungan. Jangankan yang aneh-aneh menyentuh bibir saja tidak pernah. "Apa maksud Paman? Soraya hamil! apa hubungan dengan saya?"


"Apa hubungannya dengan mu? jelas-jelas kamu yang menghamili Soraya." telunjuknya menunjuk hidung Fatir.


Bu Afiah yang baru saja menyimpan beberapa gelar air minum mendekati Viona yang melongo dan merangkulnya. "Ndak mungkin, ndak mungkin Fatir melakukan yang tidak-tidak pada tempat yang tak seharusnya." Menggeleng kasar.


"Ndak mungkin gimana? itu buktinya, putri saya hamil."


Bu Afiah menatap putranya berharap kalau itu tidak benar. Ia yakin kalau putranya tidak sebejat itu.


Helaan napas Fatir tampak berat namun tetap bersikap tenang. "Jadi maksud kalian Soraya hamil dan saya yang harus bertanggung jawab gitu?"


Kedua manik mata Viona mulai berkaca-kaca, perasaannya hancur tak berkeping. Disaat ia mulai mencintai sosok suaminya bahkan ia rela memberikan haknya, tapi apa dengan yang terjadi sekarang. Fatir mengkhianatinya, padahal dia sudah percaya kalau sosok Fatir seorang yang bertanggung jawab. Saliva nya terasa sulit di telan juga ia keluarkan.


"Tentu saja, kamu yang harus bertanggung jawab. Siapa lagi ha? dasar kamu bajingan, brengsek kamu.'' Jawab bapaknya Soraya dengan nada tinggi.


"Baik, baik saya akan bertanggung jawab--"


"Bagus," sela paman Soraya.


Deg!


Mendengar itu Viona merasa tidak tahan. Ingin rasanya segera pergi, akhirnya Viona memutuskan untuk pergi. Lama di sini hatinya semakin sakit dan ia merasa sudah tidak tahan lagi. Viona memutar badannya dan melangkahkan kakinya, namun tangan Fatir dengan gesit menangkap pergelangan Viona ketika baru satu langkah. Viona menarik paksa tangannya namun genggaman Fatir terlalu kuat.


"Saya akan bertanggung jawab. Tapi jika anak yang Soraya kandung itu terbukti anak saya." Jelas Fatir.


"Keparat kau Fatir, kau pikir anak saya wanita murahan sehingga hamil anak sembarang lelaki. Kamu kekasih putri saya dan itu jelas dari lama." Teriak bapaknya Soraya.

__ADS_1


Hampir saja bogem mentahnya mendarat di hidung Fatir. Kalau saja gak dihalangi adiknya.


"Maaf, saya tak menuduh begitu. Tapi saya tidak pernah melakukannya, terus bagaimana caranya Soraya mengandung benih saya? Coba pikir dengan logika jangan pakai napsu." Suara Fatir begitu tenang dan tak gentar sedikitpun sebab ia tak merasa bersalah.


"Soraya sudah mengakui kalau anak yang di kandungnya itu anak mu, hasil hubungan gelap kalian." Timpal pamannya.


Ret!


Hati Viona terasa di toreh benda tajam. Tak sanggup lagi mendengar argumen ini namun ia bisa pergi sebab tangan Fatir mengunci tangannya. Hanya bisa mendongak menahan air mata supaya tak berjatuhan.


"Dengar dan pikirkan secara jernih, wanita hamil itu haram di dinikahi. Jadi bagaimana pun saya tidak mau menikahinya di saat dia tengah hamil!"


"Keparat, itu sama saja kau tidak mau bertanggung jawab dan mencoreng arang di muka saya," ujar bapaknya dengan nada yang semakin tinggi.


"Pelankan suaranya dong Pak, ini malam dan malu di dengar sama tetangga," sela Sidar yang tidak suka tamunya berteriak.


Kepala bapaknya Soraya menoleh dan melotot dengan sempurna. "Anak masih bau kencur, jangan ikut campur urusan orang tua."


"Bukan niat saya untuk mempermalukan, karena saya sama sekali tidak pernah menyentuhnya. Saya janji, akan menikahi Soraya. Kalau dia sudah melahirkan dan terbukti anak yang dikandungnya itu anak saya." Tegas Fatir. Menatap kedua perwakilan dari Soraya itu.


Viona menatap ke arah Fatir. Ia tidak menyangka kalau Fatir akan memberikan jawaban yang menohok seperti itu. Fatir begitu yakin kalau dirinya tidak merasa bersalah.


"Keparat, bajingan. Kamu anggap putri ku wanita murahan yang gampang di sentuh orang apa ha?" bapaknya hendak menyerang Fatir namun Fatir mundur dan memberi isyarat.


Mendengar ancaman seperti itu. Bapak dan pamannya Soraya hatinya menciut. Mulai ragu, tapi kalau bukan Fatir. Terus siapa yang berani menghamili Soraya.


Keduanya berlalu pergi, tanpa salam dan permisi meninggalkan tempat tersebut. Diantar dengan pandangan yang tajam dari orang-orang yang ada di sana.


Viona menepis genggaman tangan Fatir, kemudian berlari keluar. Hatinya sudah tidak tahan sedari tadi ingin pergi membawa hatinya yang luka, tidak menyangka kalau Fatir tega melukai hatinya.


Fatir terkejut dan segera mengejarnya. "Aku pergi, Bu." Fatir setengah berlari menyusul langkah Viona yang sudah lebih dulu meninggalkannya.


"Non, tunggu?" panggil Fatir sambil mempercepat langkahnya.


Fatir membukakan pintu buat Viona yang berwajah sedih dan masam. Tanpa sepatah katapun yang Viona keluarkan, pandangannya lepas keluar yang tampak gelap itu. Matanya terus saja berair bening pertanda luapan kesedihan hatinya.


Selang beberapa waktu di perjalanan. Tibalah di area parkir apartemen. Viona segera turun dan berjalan cepat memasuki lobby tak memperdulikan Fatir yang menyusulnya dari belakang.


Sesampainya di dalam apartemen. Viona melempar tas nya di atas nakas, Wajahnya tampak marah lalu menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur. Menangis, meluapkan rasa kesal dan sakit hatinya. Ia kecewa ternyata Fatir melakukan itu sama kekasihnya sehingga kini Hamil.


Fatir duduk di tepi tempat tidur di samping Viona yang sedang menangis dan bahunya bergetar. "Itu, tidak benar Non," mencoba menyentuh bahunya Viona.


Namun Viona menolak di sentuh. Lalu bangun. "Kamu tega ya? aku pikir kamu pria baik yang tidak akan menodai wanitanya tanpa ikatan yang suci. Sekarang tinggalkan aku sendiri, aku jijik sama kamu yang sudah membuat wanita lain hamil." Suara Viona agak tinggi.

__ADS_1


Mendengar itu, Fatir menatap lekat. "Sayang, aku ndak pernah melakukannya selain sama kamu. Mana berani aku menyentuh wanita yang bukan hak ku! kamu saja yang hak ku tak semudah itu aku melakukannya. Padahal kalau aku mau bisa aja aku melakukannya kapanpun sekalipun aku paksa kamu. Tapi tidak aku lakukan! apalagi wanita yang hanya sebatas kekasih," ujar Fatir meyakinkan.


Viona menempelkan kedua telapak tangannya menutupi telinganya. "Cukup! aku tak mau mendengar apa pun. Kamu tega, kamu jahat sama aku disaat aku mulai membuka hati untukmu."


"Aku harus mengakui apa Vi ... aku sama sekali tidak pernah menyentuh dia. Percayalah! aku hanya melakukan itu cuma sama kamu. belum pernah sama yang lain," sambung Fatir menatap sayu berharap Viona percaya padanya.


"Bullshit. Aku mau sendiri, keluar?" pinta Viona.


"Oke, aku akan keluar tapi kamu percaya sama aku. Aku tidak menghamili dia Vi ..." tatapan Fatir seakan menghunus jantung Viona yang kini sedang berdebaran.


Kedua netra mata Viona yang berkaca-kaca itu berpaling dari tatapan Fatir. "Kamu nikahin dia, dan lepaskan aku--"


"Vi, jangan bilang seperti itu, sampai kapanpun kamu akan tetap jadi istriku." Fatir menangkupkan kedua tangannya membingkai wajah Viona yang tak mau membalas tatapannya.


Kepala Viona menggeleng. "Dari awal pun kita tidak saling cinta dan tentunya akan berakhir tanpa cinta pula. Keluar ... tinggalkanlah aku sendiri." Pekik Viona sambil mengusap pipinya yang basah.


Fatir bukannya pergi, malahan membungkam mulut Viona dengan bibirnya, ia sentuh dan menyusuri dengan sangat lembut. Viona yang mulanya berontak jadi terdiam pasrah, terhanyut dengan sentuhan pria yang membuat hatinya marah itu.


Ulah Fatir semakin liar. Hasratnya yang tadi belum merasa tuntas ingin sekali menuntaskannya saat ini. Tidak perduli dengan masalahnya, sebab ia tidak merasa bersalah sama sekali.


Viona mendorong dada Fatir yang tak tertutup baju lagi. Pargi, dengan deru napas yang memburu Viona berkata. "Jangan lakukan ini padaku, cukup tadi yang terakhir. Aku jijik sama tubuh kamu, aku jijik kamu sudah menyentuh tubuh wanita lain. Aku jijik." Menggeleng sambil menangis dan masih marah.


"Sayang, dengar aku dan percayalah. Aku cuma melakukan itu dengan mu. Tidak pernah menyentuh wanita selain dirimu. Kau harus percaya itu." Suara Fatir dengan napas yang tersengal-sengal hasratnya yang naik sudah sampai ke puncaknya.


Kepala Viona menggeleng kasar, tangannya berusaha menutupi bagian-bagian intinya yang sudah terekspos dihadapan Fatir.


"Vi, marah, kesal ataupun sakit hati. Karena kamu cemburu dan tak ingin ada yang memiliki aku! begitupun aku tak ingin ada yang memiliki kamu." Tangan Fatir menyingkirkan tangan Viona dari tempatnya.


Viona terus menggeleng. "Cemburu? siapa bilang aku cemburu? aku sudah ndak perduli lagi sama kamu." Berusaha keluar dari kungkungan Fatir yang sudah mengunci tubuhnya itu.


"Aku tahu, kamu cemburu padaku, makanya marah-marah. Aku tidak akan menikahi dia sebab aku yakin yang dia kandung itu bukan benihku, aku cuma menanam benih di dirimu saja," ucap Fatir sambil menancapkan gas nya. Membuat Viona memejamkan matanya dan tanpa berkata-kata lagi.


Bibir Fatir tersenyum penuh kemenangan serta terus gencarkan aksinya, kini keduanya bebas berekspresi dengan suara-suara yang memenuhi ruangan kamar yang besar ini. Beda ketika tadi di rumah Bu Afiah yang segala tertahan. Takut kedengaran dan tentunya akan menimbulkan rasa canggung.


Viona pun kini bebas mengeluarkan suaranya yang menikmati sentuhan Fatir yang perlahan dan lembut. De-sa-han dan rintihan kecil lolos dari bibir Viona.


Fatir pun sesekali meracau tak jelas saking merasa nikmatnya permainan yang sedang berlangsung. Sampai-sampai rasanya tak ingin berakhir. Menikmati malam yang terasa singkat ini.


Malam semakin beranjak, dan waktu pun tak tahu lagi pukul berapa bagi keduanya. Saking asyik dan menikmati indahnya bercinta ....


****


Apa kabar reader ku semua? semoga kabar baik dan bagi yang pada mudik semoga lancar dan selamat sampai tujuan ya🙏

__ADS_1


__ADS_2