
"Ada apa? tumben gak bilang dulu!" gumam Fatir dalam hati. Matanya menatap wanita cantik dengan rambut di kepang dan menyamping itu.
"Assalamu'alaikum ... Nak Fatir sehat?" tutur bu Asri dengan lembut.
Fatir langsung mencium tangan bu Asri dan oma Yani. Sementara Viona duduk di bangku yang tersedia. Biasa sikapnya cuek tapi baik dan perhatian.
Sidar menghampiri Viona menyambut dengan senyuman hangat. "Kok, Mas Fatir gak bilang-bilang Mbak cantik mau datang?"
"Em ... memang gak bilang sih, Adam kemana? di rumah!" tanya Viona sambil menyapukan pandangannya. Sang bunda dan oma, tampak serius berbincang dengan Fatir di sana.
"Wah ... suprise ya ... he he he, mas Adam sedang mengurus pendaftaran atau apalah, soal kuliahnya."
"Oh," Viona membulatkan bibirnya.
Sidar tersenyum penuh makna. "Mbak terlihat lebih cantik deh, dengan penampilan seperti sekarang."
Viona membalas tatapan pria yang masih remaja ini. "Kamu bisa aja. Oya kalau kalian sekolah atau kuliah, siapa yang bantuin dagang pisang krispi nya?"
"Kan, sepulang sekolah atau kuliah Mas adam Mbak. Bergantian." jawab Sidar.
"Kalian sudah lama bantu-bantu dagang?"
"Sekitar dua tiga tahun ini Mbak." Kenang Sidar.
"Oh, emang dulu Mas aja yang jualan?" tanya kembali Viona.
"Iya, dulu Mas sendiri yang jualan. Bergantian gitu, kadang di batu sama kawannya agar gimana caranya dua-duanya berjalan. Tapi lama-lama kami kasian juga kalau semua Mas Fatir yang pegang, jadi kami turun walau bagi-bagi waktu," ujar Sidar.
"Baguslah, jadi kalian pekerja keras. Pernah gak--"
"Mbak ini nanya mulu kaya wartawan lama-lama ya? ha ha ha ..." Sidar terkekeh. "Mau naya apa Mbak?"
"Nggak jadi ah," sahut Viona.
"Ah, jangan marah Mbak, nanti cantiknya kelewatan." Sambil mengedipkan mata.
Fatir yang sampai di sana tertegun mendengar sang adik merayu Viona. Tatapan datar Fatir tertuju pada Sidar. "Buatkan pisang dan singkong yang hangat. Buat cemilan. Jangan ngomong mulu! seperti asap rokok aja gak ada habisnya."
Sidar langsung berdiri. "Baik Bos. Mbak cantik, saya tinggal dulu ya? silakan ngobrol sama Bos, hati-hati, Mas saya ini diam-diam menghanyutkan loh." Sidar menunjuk sang kakak sambil tersenyum.
Viona pun senyum tipis, lalu menoleh ke arah sang ibu dan Omanya yang sedang makan mie ayam.
"Mau saya buatkan?" tanya Fatir pada Viona.
"Nggak, makasih."
Sidar yang belum jauh dan mendengar pembicaraan Fatir dan Viona. Membalikkan badan. "Mau aja Mbak. Di bikinkan dengan cinta, cuman harap di maklum saja kalau cintanya masih hambar. Nanti juga akan berubah kok berganti yang baru, tenang aja."
__ADS_1
Fatir dan Viona bengong, memikirkan omongan Sidar barusan. Orangnya sudah berlalu ke gerobaknya. Fatir duduk di bangku yang sama dengan Viona.
"Kemarin pulang jam berapa dari pantai?" tanya Fatir pada Viona.
"Ha? tahu dari mana?" balik tanya Viona terheran-heran.
"Eh, itu. Dari ..." tangan Fatir menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Viona menatap heran ke arah Fatir. "Kamu dari pantai juga ya, sama kekasihnya ya?"
"Ah, ngapain sih aku tanya tentang itu? jadi senjata makan tuan," gumamnya dalam hati.
"I-iya," Fatir menunduk gak enak.
"Biasa aja kali. Gak usah gugup gitu," ucap Viona dengan santainya.
"Mas, sudah aku suguhkan." Sidar kembali duduk di sana.
"Ya, Makasih." Fatir mengalihkan pandangan ke arah oma dan bu Asri.
Pandangan Sidar mengarah pada Viona. "Mbak cantik. Beneran deh cantik banget dengan tampilan seperti itu, simpel." Goda Sidar pura-pura merayu.
Fatir menatap tajam pada Sidar. "Apa maksudnya anak ini? merayu segala gak punya malu apa. Bagaimanapun wanita ini calon istri aku." Dalam hati, dan akhirnya sedikit mendelik pada sang adik.
Sidar pun tersenyum puas. Melihat ekspresi sang kakak yang tampak aneh.
Lalu datanglah mobil yang membawa motor, dan berhenti tepat di dekat situ. Oma yang sudah selesai makan mie, menghampiri. "Turunkan saja di sini Mas!"
"Nggak tau, dan gak mau tahu," sahut Fatir begitu dingin.
"Ih, si Mas. Gak tergoda apa? dengan bodynya yang bagus. Tampilannya yang menarik begitu." Tatapan Sidar tak lepas dari motor tersebut yang sedang diturunkan.
Viona mesem. "Sidar mau tahu itu punya siapa?"
Sidar beralih pandangan. "Punya siapa, emang tahu itu punya siapa?"
"Itu ... kado dari oma Mbak, untuk Mas nya!" ucap Viona yang mengagetkan Sidar dan Fatir.
Sidar terperangah. Dengan mulut menganga seakan tak percaya dengan yang dikatakan Viona. "Yang benar Mbak? Tapi, Mas gak ulang tahun." Mata Sidar bergantian melihat Viona dan motor yang sudah nangkring di pinggir jalan.
Fatir yang merasa terkesiap kembali nampak tenang. Ia tetap duduk dengan santai. Kedua siku bertumpuk di atas paha.
"Itu, kado pernikahan Mbak nantinya." Timpal Viona.
"Ck ck ck." Sidar berdecak kagum.
"Nak Fatir sini?" panggil oma dan bu Asri. "Vi sini sayang?"
__ADS_1
Fatir pun menghampiri dengan segera. Diikuti oleh Viona dari belakang.
"Oma, hadiahkan motor ini sebagai kado pernikahan kalian. Semoga Fatir khususnya suka." Oma Yani menatap ke arah Fatir.
Fatir terdiam, ada rasa haru di hatinya dan menimbulkan pelupuk matanya berkabut. "Makasih, Oma. Saya jadi gak enak hati. Kalian begitu baik sama saya."
"Sama-sama, semoga bermanfaat untuk Nak Fatir dan adik-adik ya?" sambung oma kembali.
"Sekali lagi makasih Oma," dengan mata yang berkaca-kaca, Fatir memeluk wanita tua yang masih nampak segar itu.
Kemudian Fatir mencium tangan oma Yani dan bu Asri bergantian. sebagai tanda terima kasih. "Makasih Oma, Tante! makasih." Wajahnya tampak senang sekaligus malu.
Kemudian Sidar yang tengah melayani pembeli pun , segera mencoba motor tersebut setelah mendapatkan kuncinya.
"Simpan aja di rumah, Dar. di sini kan ada yang lama," ucap Fatir pada sang adik yang tampak senang mengendarai motor baru.
"Siap, Mas." Sidah mengangguk dan membawa motor baru ke rumahnya
Oma dan bu Asri tampak senang melihat adik Fatir yang terlihat bahagia.
Oma menatap ke arah Fatir. "Nak Fatir ikut aja yu? kami mau belanja, kasian Vi nyetir terus. Padahal ada supir di rumah juga, eh ... ngeyel pengen nyetir sendiri saja. Oma kasian sama cucu Oma ini, bentar lagi kan acara kalian berdua. Jangan kecapean juga."
"Jualannya tinggalin dulu lah, ada adiknya juga." Bu Asri nimbrung.
Jelas Fatir tak bisa menoleh ajakan oma. Sebentar Fatir menoleh ke arah Viona yang malah mengalihkan pandangannya kelainan arah. "Baiklah Oma, tapi tunggu Sidar kembali dulu."
Setelah Sidar kembali, barulah Viona masuk mobil dan di sana sudah ada bu Asri juga oma yang duluan masuk.
"Dar, titip ya. Mas pergi dulu." Fatir mengitari mobil, tangannya memegangi kunci.
"Oke, Mas. Titip juga mbak cantik jangan sampai lecet ya?" jawab Sidar lagi-lagi nyeleneh.
Fatir mengehentikan langkahnya. Dengan menatap ke arah Sidar. "Apa maksud!"
"Hehehe. Nggak ada maksud Mas."
Fatir bergegas masuk dan mengemudikan mobil Viona menuju pusat pembelanjaan.
"Ngomong-ngomong, Nak Fatir kok pintar juga bawa mobil. Punya SIM?" tanya oma pada Fatir yang serius mengemudi.
"Belajar Oma, nggak ah. Lagian kerjaan Fatir paling dorong gerobak dan paling bawa motor aja." Balas Fatir sambil tetap fokus nyetir.
"Nggak ada minat bikin SIM?" tanya oma kembali.
"Sudah, Oma. Sudah punya!" sahut Fatir.
"Loh, barusan bilangnya gak punya SIM?" bu Asri heran ....
__ADS_1
****
Viona dan Fatir hadir lagi nih, semoga kalian suka ya. Dan mohon dukungannya.