Bukan Suami Harapan

Bukan Suami Harapan
Kangen


__ADS_3

"Siapa? kekasihnya ya!" selidik Viona sambil menarik kedua kakinya.


"Hem." Gumam Fatir segera berbaring besok haru bangun pagi-pagi.


Viona pun menutup laptopnya. Setelah melihat jarum jam yang sudah menunjukkan bahwa suasana sudah larut malam.


Sudah seminggu pernikahan Viona dan Fatir, setiap hari Fatir berangkat pagi buta dan pulang paling sore sekitar jam 09 atau 10 malam.


Viona sibuk ngantor dan mengurus perusahaannya. Pergi pagi pulang sore, begitu setiap harinya. Hari minggu ini tadinya mau berleha-leha di rumah saja. Tapi ketika mendengar Rumi dan Sita mau datang. Vi berubah pikiran memilih pergi ke rumah Alisa saja.


Namun ia lupa kalau hari ini Alisa dan suami sedang ke tempat orang tuanya sehingga rumah Alisa sepi. Akhirnya Viona putar haluan dan setelah sekian waktu mengemudi, tiba-tiba sampailah di tempat Fatir jualan. Namun masih sepi dan sepertinya masih beberes. Tampak Adam dan Sidar berada di gerobak singkong keju.


Sementara Fatir tak ada di tempatnya. Mungkin masih di rumahnya.


"Bang, satu porsi ya pisang kejunya?" ucap Viona sambil duduk di bangku yang tersedia.


Kedua pemuda itu menoleh. "Eh, Mbak cantik. Tumben ke sini Mbak kangen ya?" selidik Adam dengan senyum ramahnya.


"Kangennya pasti bukan sama Mas Fatir, toh ketemu tiap hari. Pasti kangen sama aku ya?" Sudah mengerjap-ngerjapkan matanya genit.


"Tentu, aku kangen kalian," balas Viona menarik bibirnya tersenyum.


"Ahay ... senangnya di kangenin." Gurau Sidar dan Adam.


"Satu porsi ya?"


"Siap, Mbak. Oya Mbak, Mas Fatir sedang keluar." Celetuk Sidar.


Adam menatap sang adik. Dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Oya, kemana emang?" selidik Viona, ia kira Fatir masih di rumahnya.


"Eh, kurang tahu Mbak." Adam menyediakan pesanan Viona.


"Oh, di rumah ada siapa?" Viona melirik Sidar sambil menikmati pisang keju.


"Nggak ada siapa-siapa. Mbak mau ke sana?" tanya Adam menatap ke arah Viona.


"Iya, boleh kan?" Viona memandangi kedua pemuda itu.


"Boleh dong, yu sama aku." Sidar mendahului Viona.


Viona pun mengikuti Sidar dari belakang. "Dan, Mbak ke rumah dulu ya?" pamit Viona pada Adam yang membalas dengan anggukan.


Viona dan Sidar berjalan beriringan menuju rumah tinggal Fatir. Beberapa tetangga yang berpapasan tersenyum ramah dan bertanya kalau wanita cantik ini siapa nya Sidar. Sudah beberapa kali melihat datang ke sana.


Sidar langsung menjawab kalau wanita ini adalah istri dari Fatir. Ada yang heran, bukannya kekasih Fatir adalah Soraya?


"Masuk Mbak. Lihat sofa baru dan kursi baru yang mbak kirim waktu itu." Sidar menunjuk ke dalam.


Kedua netra mata Viona mengitari seluruh ruangan Rumah Fatir. Sofa dan kursi makan memang sudah baru namun isi kamar masih belum ada yang berubah. Viona melihat-lihat kamar dan isinya satu persatu.

__ADS_1


Kemudian kembali ke ruang tengah. Dan matanya tertuju pada motor baru Fatir yang nangkring cantik di sudut rumah.


"Loh, kok itu motor ada?" selidik Viona melirik Sidar yang duduk di sofa.


Sidar melirik ke arah motor. "Oh, berarti Mas Fatir bawa yang lama Mbak."


"Emang kemana? oya jangan di jawab. Setidak nya saya tahu kemana," ucap Viona sambil mengambil ponsel dari tasnya.


Setalah selesai berbincang di telepon. Viona melirik lagi Sidar. "Mau gak bantuin Mbak?"


"Maulah. Apaan tuh?" Sidar bangun dari baringnya.


Bereskan kamar. Barang-barang yang lama di keluarin dan kita ganti dengan yang baru."


"Asyik tuh. Tapi kamar ku ada jatah gak?" Selidik Sidar penuh harap.


"Tentu. Tiga kamar kan? semua kita bereskan. Oke?"


"Oke lah kalau begitu." Sudah beranjak dan mulai bergerak membereskan ketiga kamar tersebut.


****


Fatir yang sedang di rumah Soraya sedang asyik mengobrol dengan sang kekasih.


"Mas, aku pernah datang ke Rumah sakit. Niatnya sih mau menjenguk adik mu, tapi di jalan ada yang minta tolong di temenin melahirkan jadinya aku urung deh." Suara Soraya sambil bergelayut pada tangan Fatir.


"Oya, terus yang lahirannya lancar?" tanya Fatir.


Deg!


"Baby! nikah aja belum dan gak tahu ke depannya gimana?" gumamnya Fatir dalam hati.


"Aku kangen sayang kangen segera menimbang baby kita. Pasti tampan seperti kamu." Soraya menusuk hidung Fatir dengan telunjuknya.


Perlahan Fatir menyingkirkan tangan Soraya dari tangannya. Melirik jam tangan yang sudah menunjukkan pukul sepuluh siang dan waktunya ia berdagang.


"Aku pulang dulu ya? kalau ada waktu aku menemui mu lagi, jangan hubungi aku kalau gak penting banget--"


"Kenapa? apa gak kangen sama aku!" Soraya menatap sendu. Hatinya meras sedih makin kesini Fatir kian menjauh, komunikasi lewat telepon aja susah. Nomor ponsel aja sering tak aktif.


"Aku sibuk, tapi pasti ada masanya kita bertemu kok." Fatir menunduk. Rasanya mau bilang sudah menikah saja sulitnya minta ampun, kasian.


"Tapi aku kangen." Tangan Soraya memeluk tangan Fatir sangat erat, wajahnya tampak lesu dan sedih.


Helaan napas Fatir berat, jadi dilema. Ia bingung tak tahu harus berbuat apa? Sementara jujur pun tak mampu. Sedangkan pernikahan ini pun entah mau sampai kapan.


"Sudah ya? Mas mau pulang, sudah siang nih. Mau jualan." Fatir berjalan ke depan dan diikuti oleh Soraya yang terus memegangi pergelangan tangannya.


"Aku ikut ya? nemenin kamu jualan." Rajuk Soraya.


"Jangan. Sudah ada anak-anak yang nemenin Mas." tolak Fatir menatap mesra sang kekasih hati.

__ADS_1


Setelah pamit. Fatir memakai helm dan menaiki motornya namun sebelumnya membuka ponsel terlebih dahulu yang ternyata ada pesan dari Sidar. Katanya ada Viona. Sidar buru-buru melajukan motornya.


"Ada apa datang ke rumah? kok gak bilang mau datang." gumamnya Fatir sambil fokus ke depan.


Selang beberapa waktu, Fatir tiba di tempat mangkalnya dan mobil Viona memang ada di sana. Gerobak Adam sudah tidak ada di tempat.


"Pulang dulu jangan ya?" Fatir berdiri dekat gerobaknya. Namun akhirnya memutuskan untuk tidak pulang dulu. Kebetulan semua bahan dagangan memang sudah tersedia di sana.


Viona dan Sidar berkutat di tiga kamar semua barang yang rusak dan sekiranya tak terpakai dikeluarkan dan dibakar di belakang, digantikan dengan barang-barang baru. Tempat tidur baru, lemari baru.


"Ahok ... aku capek. suruh orang gih, siapa kek. Ibu-ibu tetangga, Mbak bayar kok." Viona terduduk lesu. Melihat kerjaan masih banyak, kalau tempat tidur dan lemari sudah di pasang, tinggal beres-beres pakaian dan merapikan semua.


"Baiklah," Sidar langsung pergi entah kemana.


Viona ke dapur melihat-lihat ada apa aja di sana, gak ada makanan, di lemari pendingin kosong. Cuma ada beberapa telor dan air dingin di sana.


"Huuh ... gak ada makanan. Perutku lapar nih," gumamnya Viona.


Akhirnya Viona pesan makanan lewat gojeg. Tidak lama Sidar datang bersama seorang Ibu-ibu yang dipanggil bu Roro.


"Bu tolong ya? bantuin saya ya!" Pinta Viona dan ini uang buat buruhnya. Viona memberikan dua lembar yang warna merah.


"Makasih Non." Bu Roro mengangguk hormat dan langsung turun tangan untuk merapikan semua pakaian ke lemari masing-masing yang ada kamar di tiga kamar tersebut.


Viona kini membersihkan dapur, menatanya dengan sangat rapi.


"Sidar?" panggil Viona.


"Iya Mbak, ada apa?" Sidar berdiri.


"Tolong tungguin pengantar paket dan belanjaan di luar." Pinta Viona.


"Siap Mbak." Sidar keluar nungguin di depan.


Tidak lama paket pun datang dan langsung Sidar bawa ke dapur dimana Viona berada. "Mbak. Ini belanjaannya."


"Ya, buka aja makanannya. Makan aja pasti Lapar, kan? kasih si ibu itu satu dan sisain buat mas Fatir dan Mas Adam." Timpal Viona.


"Oke Mbak, aku antar buat Mas Adam ya? kalau Mas Fatir pasti pulang kok dari jualannya."


"Loh, tadi ... gak ada kan?" Viona heran.


"Iya sih ... tapi kan langsung dagang Mbak, gak mungkin Mas ku melupakan kewajibannya."


Viona terdiam dekat dinding yang sedang merapikan tempat piring. Kemudian Sidar pergi membawa makannya dan makanan buat Adam. "Wah ... makan enak nih!" gumamnya sambil jalan.


Viona melanjutkan aktifitasnya bersih-bersih dapur yang berantakan maklum yang huni kaki laki semua, Kalau bersih-bersih sih Viona bisa tau masak gak bisa. Kecuali menghangatkan. Saking fokus dengan kerjaannya sampai tidak sadar kalau di belakangnya ada orang yang memperhatikan ....


****


Mohon dukungannya, semoga kalian suka dengan novel ini. Jangan lupa like & komennya.🙏

__ADS_1


__ADS_2