Bukan Suami Harapan

Bukan Suami Harapan
Ponsel baru


__ADS_3

Kini mereka berempat, sedang berada di konter minyak wangi atau parfum. Viona sengaja mengajaknya tuk membeli minyak wangi tuk mereka.


"Maaf, aku gak bisa menemui mu saat ini. Aku sedang ada urusan," ucap Fatir di ujung telepon dan langsung menutupnya.


"Siapa?" tanya Viona menatap datar ke arah Fatir yang menyimpan ponselnya.


"Ha, kawan." Jawab Fatir.


Viona menoleh kedua calon adik iparnya. "Sudah belum. Pilih minyak wanginya?"


"Belum! jawabnya berbarengan.


"Kenapa?"


"Di sini mahal-mahal Mbak." Timpal Sidar yang sikapnya lebih berani.


"Ya ... gak pa-pa, aku yang bayar." Viona meme


ilih minyak wangi dan di cium baunya.


"Harganya di atas Rp 500.000." Adam melihat ke arah adiknya.


"Iya, Mas. Kalau buat bekal. Bisa cukup berapa minggu nih, kan lumayan," balas Sidar.


"Benar, atau bisa buat bayar keperluan sekolah juga." Tambah Adam.


Bibir Viona mengembang, ia tersenyum mendengar obrolan kakak beradik itu.


"Pilih aja yang kalian suka, Mbak yang bayarin kok. Kalau soal bekal harian, itu urusan kalian dan Mas mu." Ekor mata Viona melirik Fatir yang selalu terdiam.


Adam dan Sidar. Masing-masing sudah memegang pilihannya. Dan lagi-lagi yang buat Fatir, Viona yang pilihkan. Sebab Fatir nya diam saja, ditambah Viona gak suka dengan wanginya parfum milik Fatir. Viona pun langsung membayarnya.


Fatir sebenarnya malu, malu pada Viona yang bukan hanya baik atau perhatian pada dirinya saja. Tapi juga perduli, sangat perhatian kepada keluarganya juga.


Terkadang merasa terhina sendiri, bila terus-terusan di belanjakan oleh Viona. Masalah bukan cuma untuk dirinya saja otomatis pengeluaran Viona lebih banyak dan besar. Kini pikirannya gelisah dengan dagangan yang belum habis, tapi minta pulang pun gak enak.


"Mikirin apa Mas?" tanya Viona sambil memasukan dompet ke tas nya.


"Ah, nggak!" Fatir singkat.


"Kalau Mas mau pulang duluan, silahkan, mau terusin jualan kan?" ucapan Viona seolah tahu yang Fatir pikirkan.


Fatir terdiam, tak menjawab iya ataupun tidak. Ia melihat adik-adiknya yang tampak senang jalan-jalan di Mall sebesar ini.


Karena tak mendapat jawaban dari pria yang mengenakan kemeja biru kotak-kotak itu, Viona berjalan maju. Menghampiri Adam dan Sidar.


Fatir segera menyusul langkah Viona. "Mbak, eh Vi. Makasih ya?"


Langkah Viona terhenti dan menoleh. "Buat apa?" sedikit manautkan keningnya.


"Em, sudah baik pada kami." Kata Fatir.

__ADS_1


"Biasa aja. Lagian mereka akan keluarga ku juga, oya. Apakah yakin tak ada yang ingin kau undang?"


"Tidak, Oya. Saya kepikiran jualan yang belum habis, jadi kami mau pulang aja duluan." Fatir sekilas menatap wajah Viona yang cantik dan bermata indah. Mustahil kalau gak ada laki-laki yang suka padanya.


"Boleh, tapi mereka biar bersama aku dulu. Tenang! gak aku culik kok, nanti aku antar pulang dengan selamat." Viona menunjukan senyumnya.


Seketika Fatir tersenyum. "Nggak mungkin juga anda menculik mereka, rugi!"


"Nggak rugi sih, aku bisa menjadikan mereka bekerja di tempat ku apa aja, kan? Ya sudah. Kalau mau jualan lagi." Kata Viona.


"Nggak pa-pa, kan?" Fatir merasa gak enak hati.


"Nggak lah," balas Viona menggeleng.


"Nanti, saya antar kamu pulang." Numun sebelum Viona memberi jawaban, Fatir sudah menjauh, menemui adik-adiknya.


Viona un menyusul namun ketika tiba, Fatir sudah menghilang.


"Kita mau ke mana lagi Mbak?" tanya Sidar, menatap Viona yang baru datang.


"Kalian punya handpone gak?" tatapan Viona pada keduanya bergantian.


"Ada, tapi dah eror kadang-kadang. Padahal lumayan kalau ada yang pesan dagangan," ungkap Adam.


"Sidar?" Viona menatap Sidar dengan Intens.


Sidar menggeleng. "Kemarin sih ada walau jadul juga. Tapi rusak, jatuh."


"Mau apa Mbak?" tanya Adam penasaran.


"Mau beli sembako, Mas! ya pasti berhubungan dengan ponsel Mas." Timpal Sidar nyeleneh.


Viona tersenyum. Lalu menggiring kedua pemuda itu ke konter ponsel, Setelah tiba di sana. Langsung Viona membelikan Adam dan Sidar ponsel dari produk Vivo.


Adam dan Sidar sejenak saling pandang. Rasanya tak percaya kalau mereka akan dibelikan handpohone oleh Viona, sosok wanita yang belum lama ini mereka kenal.


"Saya harap, kedua benda ini akan bermanpaat buat kalian dalam usaha, maupun belajar nantinya. Dan teruslah saling bahu membahu dengan Mas kalian," ujar Viona pada kedua pemuda itu.


"Tapi, Mbak. Kami ... gak bisa membayarnya," ucap Adam menunduk. Ia ragu tuk menerimanya.


"Iya, Mbak cantik. Kami mana ada uang tuk membayarnya," ucap Sidar ikut nimrung.


"Saya gak nyuruh kalian bayar kok," ungkap Viona sambil membayarnya.


"Berapa semuanya?" Viona menoleh sang penjaga.


"Dua unit ini, sebesar 6,555rb. Sudah termasuk kartunya, Bu."


"Oke, saya bayar pake ATM ya." Viona menyodorkan kertunya.


Adam, Sidar bengong. Di balik kebahagian nya, ada rasa heran yang tergurat di wajahnya. Viona begitu baik pada mereka.

__ADS_1


Keduanya saling bertukar pandangan. Sidar mendekat seraya berbisik. "Mas, baik banget mbak cantik itu."


Adam mengangguk pelan. Tangannya memegang ponsel baru miliknya. Ia tatap dan diusapnya.


"Yu, pulang." Ajak Viona. setelah selesai transaksi.


"Mbak, makasih ya?" ucap Adam sambil berjalan.


Sudar pun mengangguk, sambil membawa paper bag parfum dan ponsel miliknya.


"Sama-sama, ingat ya? gunakan ponsel itu dengan baik, yang bermanpaat.


"Mas Fatir gak di belikan Mbak? ponsel punya mas Fatir jadul dan sudah retak layarnya." Sidar dengan berani bilang seperti itu.


Adam menyenggol bahu Sidar. "Malu, kenapa bilang begitu. Seolah meminta aja."


"Nggak apa-apa, Mas. Apalagi mas Fatir kan capon suami Mbak cantik, wajar dong bila membelikannya, masa kita aja yang di belikan yang baru, sementara mas Fatir nggak." Jelas Sidar.


Viona menghentikan langkahnya, ia bengong, bener juga sih. Tapi biar kapan-kapan sajalah, lagian paling di pake teleponan sama ceweknya. "Em ... Mas kalian, lain kali sajalah, yang penting masih bisa di pakai aja yang itu."


"Iya, Mbak. Jangan di dengar omongan Sidar barusan." Adam merasa malu.


"Hi ... cantik, apa kabar?" sapa seorang pria.


Viona menoleh. "Baik."


Netra mata pria itu menatap intens pada Viona dan kedua pemuda itu dengan paper bag beanjaan mahal. "Eeh, sejak kapan kamu jadi Tante berondong Vi? gila. Apa kamu gagal menikah sampai-sampai memilih berondong seperti ini." Menunjuk Adam Dan Sidar.


"Eh, jaga mulut mu ya? mereka keluarga ku," bela Viona dangan nada kesal, di bilang tente berondong oleh pria itu.


"Baru kemarin saya mendengar dengan telinga sendiri. Kalau Nona cantik ini mau menikahi pria miskin, tapi sekarang tiba-tiba menggandeng pria muda seperti ini."


"Cukup, kamu tidak tahu apa-apa." Timpal Viona.


"Kalau kamu prustasi, jangan berondong gini, yang dewasa juga banyak. Termasuk saya yang akan menerima dengan senang hati," ujar Dewo sambil menyeringai puas.


Viona malas. Untuk meladeni omongan Dewo yang sok tahu itu. Viona mengajak Adam dan Sidar berjalan meninggalkan Dewo. Namun tangan Dewo meraih tangan Viona dan menariknya, sehingga dia mundur ke belakang.


"Jangan kurang ajar ya?" ucap Viona menarik tangan dari genggaman Dewo yang tersenyum penuh arti.


"Maaf Mas. Jangan ganggu calon istri kakak saya." Adam mendekat.


Seketika Dewo melepas genggamannya dari tangan Viona.


Khawatir Dewo akan menghina kedua pemuda itu, akhirnya Viona menyuruh keduanya menjauh. "Kalian tunggu saja di mobil, saya mau bicara dengan orang ini sebentar, kalian gak usah khawatir. Sana pergi."


Keduanya tak berani menolak, mereka berdua pergi, tapi bukan ke mobil melainkan melihat dari jauh ....


****


Aku sangat berharap kalau kisah Viona dan Fatir ini bisa menjadi teman di kala kalian gabut.

__ADS_1


__ADS_2