Bukan Suami Harapan

Bukan Suami Harapan
Tuan ratu


__ADS_3

"Siapa yang tega melakukan ini Nak? itu kan alat mencari nafkah kita Nak," keluh bu Afiah tampak sedih.


"Sabar Bu, semuanya bisa diganti kok. Tenang aja dan jangan khawatir." Viona mencoba menenangkan sang ibu mertua yang tampak sedih melihat alat dagangan Fatir rusak.


"Tapi tetap saja orang itu tega banget." Tambahnya sambil mengusap air mata yang membasahi pipi yang dah mulai keriput itu.


"Sudah Bu, nanti biar lapor saja. Dan yang berwajib mengusutnya," balas Viona dengan masih memeluk dan mengusap punggung Bu Afiah.


Fatir terus membereskan dibantu oleh tetangganya itu. Sampai semuanya rapi dan tinggal membetulkan roda dan awaknya yang rusak.


Kemudian mereka pulang ke rumah, Fatir dan Viona menggandeng bu Afiah berjalan.


"Ibu kenapa Mas?" Sya heran melihat sang bunda yang tampak shock.


"Itu, tempat jualan, Mas ada yang rusak." Viona menjawab kan pertanyaan Sya.


"Siapa yang melakukannya Mbak cantik?" Sya tambah penasaran.


"Entah, kami tidak tahu Sya," sambung Viona sambil menggeleng.


"Kok tega sih?" Sya mendekati ibunya.


Fatir kembali dari dapur dengan segelas air putih dan diberikan pada sang ibunda. "Minum dulu, Bu!"


Bu Afiah mengambil dan meneguknya sampai tersisa setengahnya. "Ibu ndak habis pikir, kok tega orang itu berbuat demikian."


"Sudah lah Bu, yang penting tak menyakiti tubuh kita saja. Kalau cuma itu bisa diganti kok, akan mudah tuk diperbaiki." Lirih Viona.


Fatur terdiam dan membatu di tempat duduknya. Ia tak habis pikir akan kejadian itu, siapa yang tega melakukan ini? pikirnya.


Viona menoleh ke arah Fatir yang melamun dan tampak sedih. Viona beranjak dan berpindah duduk ke dekat Fatir yang anteng melamun. "Semuanya akan mudah diperbaiki. Jangan sedih!" tangannya menggenggam tangan Fatir dengan lembut membuat Fatir menoleh.


"Ya, aku gak sedih kok." Menarik kepalanya Viona ke dalam dadanya. Setidaknya bisa menenangkan sang istri yang masih masa berkabung. "Aku ndak apa-apa kok."


Kini Fatir dan Viona berada di kamarnya. Viona berada dalam pelukan Fatir, keduanya melamun. Sibuk dengan pikirannya masing-masing.


Viona menggerakkan kepalanya di dada Fatir mendongak. "Pulang yu?"


"Kenapa pengen pulang? nginep di sini aja ya, besok ku antar ke kantor hem?" Lirih Fatir sambil membelai rambut Viona.


"Em ... pulang aja yu?" dengan nada manja.


"Iya, nanti pulang sayang. Baru pukul tujuh nih." Cuph! mengecup keningnya yang mendongak. Pun Viona memejamkan matanya.


Kemudian Viona menggeser posisinya naik sedikit sehingga wajah keduanya sejajar, Manik mata Viona menatap wajah Fatir yang ia rasa tampan juga bila diperhatikan.

__ADS_1


Begitupun Fatir membalas tatapan Viona dengan lekat. Tangannya masih memeluk punggung Viona. Pandangan matanya mengarah pada benda kecil nan kenyal dan berwarna merah merona itu, tanpa permisi Fatir menyatukan bibir keduanya yang malah disambut hangat dan dengan senang hati oleh pemiliknya.


Fatir m******* dan m****** nya mesra dan tanpa henti seakan menaikan hasratnya yang tersimpan agar dapat melupakan semua masalah yang sedang ia hadapi saat ini. Tangannya tak luput berjalan-jalan ditempat Favoritnya, sehingga Viona men***a* kemudian menggigit bibir bawahnya. Kelepasan sudah mengeluarkan suara padahal ini di rumah Fatir yang mungkin berbisik aja kedengarannya sampai keluar.


Fatir lagi-lagi melahap bibir istrinya dengan rakus. Lalu turun ke leher dan turun lagi ke bawah, jari-jarinya menelusuri dan membuka kancing kemeja Viona sehingga tampak bukit yang indah itu di depan mata meski masih tertutup dengan penutup khusus.


Dengan cepat jemari Fatir membuka kaitannya membuat semua terekspos dengan sempurna. Kemudian Fatir melahap satu-satu. Viona memejamkan matanya dan semakin kuat menggigit bibir bawahnya agar tak sampai mengeluarkan suara nikmatnya. Darah yang panas sudah menjalar di tubuhnya, dengan cepat napsu keduanya sudah sampai ke ubun-ubun dan hasrat tuk melakukan lebih kian bergelora.


Viona membuka matanya dan melepas tangannya yang meremas rambut Fatir. "Pulang yu? jangan di sini, gak enak bila di dengar ibu, malu." Bisik nya.


"Aku sudah ndak tahan sayang." Suaranya Fatir bergetar dan mendorong Viona ke belakang sehingga terbaring di bawah tubuhnya.


Fatir yang sudah tak tahan. Langsung melepas kain terakhir yang melekat di tubuh keduanya. Tadinya Viona ingin melakukannya di apartemen saja. Namun melihat Fatir yang tak bisa lagi mengontrol keinginannya dan Viona tak sanggup menolah karena sama-sama sudah terbakar dengan hasrat yang menggebu akhirnya pasrah saja.


Dalam kungkungan tubuh tegap Fatir Viona hanya bisa sesekali menggeliat kecil mengimbangi gerakkan tubuh Fatir yang terus bermain di atasnya. Seakan bertukar keringat yang bercucuran. Viona bisa melupakan kesedihannya yang baru saja kehilangan sosok kakak sekaligus mantan kekasih. Begitu juga Fatir sejenak masalah tempat usahanya yang di rusak orang itu terlupakan.


Tiba-tiba tubuh Fatir bergelinjang dan bertukar posisi dangan Viona. Sehingga Viona kini berada di atasnya Fatir dan mencoba mengendalikan perannya.


Satu jam sudah mereka menikmati pergulatan yang panas itu. Beberapa kali di panggil bu Afiah tuk makan tak mereka hiraukan, untuk pintu dikunci terlebih dahulu.


Akhirnya Fatir tumbang juga ke tubuh Viona, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher sang istri dan mengakhiri pergulatan itu.


"Gimana dengan mandinya? malu!" gumam Viona.


Wajah Fatir terangkat menatap sang istri. "Jangan mandi dulu saja. Ndak pa-pa!" dengan suara yang masih dibarengi napas memburu.


"Bisa sayang ... nanti saja di apartemen." Fatir duduk dan mengibaskan selimutnya mengambil pakaiannya. Sekarang merasa sedikit plong gak terlalu pusing dan sedikit rileks.


Viona juga bangun dan mengambil pakaian yang Fatir berikan. Entah kenapa sekarang ia menjadi candu untuk melakukan hubungan itu, malah ini pun ia merasa kecewa kenapa harus cepat berakhir.


"Nanti di apartemen kita lanjutkan lagi ya?" bisik Fatir tepat ditelinga nya Viona.


Membuat Viona melongo. Kok Fatir seakan bisa membaca pikirannya yang masih menginginkan itu, ia tersipu malu.


"Hayo ... mikirin apa sayang?" cuph! mengecup keningnya.


Viona menggeleng, sambil mengaitkan tenda penutup bukitnya. Fatur yang melihat Viona kesusahan, Fatir pun yang pasangkan. Namun dasar jiwa lelakinya masih meronta dan dengan nakalnya tangan Fatir menyodok dari belakang, sesaat bermain dengan bukit yang putih itu. Lagi-lagi Viona tersulut geloranya sehingga dengan cepat ia menghentikan tangan Fatir agar tidak berkelanjutan. Bisa-bisa berulang lagi.


"Ayo. Pulang!" melirik Fatir yang tampak marah kesenangannya diganggu.


Di luar terdengar ramai dengan suara televisi dan obrolan Adam dan Sidar yang mengutuk orang yang sudah menghancurkan gerobaknya. Fatir merapikan pakaiannya lalu berjalan mendekati pintu.


"Tunggu?" Viona bergegas menyusul Fatir yang berdiri dekat pintu dan menatap ke arah sang istri.


"Hem ... apa nih?" menunjuk kancing yang di bagian dada Viona terbuka dan langsung Fatir mengancingkan nya. "Sembarangan! nanti dilihat orang nih."

__ADS_1


Bibir Viona tersenyum manis. Dan memeluk tangan Fatir dengan manjanya.


"Istri ku sekarang manja!" bisik Fatir sambil menyeringai.


"Biarin, emang mau aku manja sama suami orang?" ucap Viona sambil menjepit hidung Fatir yang mancung itu.


"Ndak lah, ndak boleh. Sama aku saja manjanya, oya mau makan dulu ndak?" tanya Fatir sebelum menarik handle pintu.


"Em ... ndak ah, malu. Aku malah enak-enakan di kamar, tidak membantu ibu. Jadi malu. Makannya di apartemen aja ya?" menatap sang suami dengan sangat lekat.


"Baiklah tuan ratu di hatiku, lagian di kasih makan dengan dirimu saja malam ini aku sudah cukup." Fatir menyeringai dan bicara sekenanya aja.


"Apaan sih? udah juga." Viona tersipu malu dan mencubit kecil tangan Fatir.


"Tapi suka bukan?" bisik nya Fatir.


Viana tidak menjawab lagi. Ia menunduk dan cukup malu untuk mengakuinya.


"Kalian itu, tadi dipanggil makan bersama. Tapi kalian tak menjawab sama sekali jadi kami makan duluan," ucap Bu Afiah ketika melihat Fatir dan Viona bergandengan keluar kamar.


"Em, kami ketiduran Bu. Tidak pa-pa duluan saja." Alasan Viona sambil melirik sang suami.


Semuanya yang ada di ruang tengah mengarahkan pandangannya pada dua sejoli ini yang tampak tidak habis tidur.


"Oh, ya sudah ... makan sana? nanti keburu dingin lagi masakannya." Tambah Bu Afiah.


"Ndak apa-apa, Bu. Biar kami makan di apartemen saja," mata Viona melirik ke arah sang suami.


"Iya, kami pulang dulu," tambah Fatir berpamitan.


"Mas, gimana dengan gerobak Mas?" Adam menatap cemas. Ia merasa bingung kalau Masnya tak bisa berjualan lagi.


"Besok Mas mau benarkan gerobaknya. Gimana lagi dalam beberapa hari ini Mas libur jualan dulu." Suara Fatir pelan sambil.


"Ndak apa besok Mas nya gak jualan juga sampai menunggu gerobaknya bagus lagi. Sebentar." Viona menurunkan tas nya. Mengambil dompet dan mengeluarkan beberapa lembar uang. "Ini buat kalian berdua bekal sekolah dan yang ini buat Ibu, keperluan sehari-hari dan Dya cek up."


"Oh, makasih Mbak cantik? makasih!" Adam dan Sidar antusias menerima pemberian dari Viona.


"Iya, sama-sama." Viona menunjukan senyumnya yang ramah tersebut.


"Aduh, Non bikin repot saja." Bu Afiah merasa tidak enak hati.


"Ndak pa-pa lah. Ambil saja itu buat kalian." Viona memeluk bu Afiah dan berpamitan. Bergantian dengan Sya.


Fatir pun mencium punggung tangan sang bunda. Lalu menarik tangan Viona untuk pulang. Baru mau menarik handle pintu. Sudah duluan di dorong dari luar ....

__ADS_1


****


Maaf ya reader ku semua. Aku lagi kurang mood nih bawaannya ngantuk Mulu. Menjadi penghambat untuk menulis.🙏


__ADS_2